Sepasang Mata Di Bouddhanath


Pertama kali ke Nepal tahun 2014 lalu, saya hanya sekejap berada di Bouddhanath, itu pun hanya malam hari. Rasanya seperti mengalami amnesia sementara, saya merasa pernah berada di sana namun hanya samar-samar. Lucunya, photo yang diambil tidak begitu bagus hasilnya, mungkin karena kurang cahaya. Oleh karena itu, saya telah berjanji akan kembali ke Bouddhanath dan menikmatinya lebih lama.

Saya memang kembali lagi ke Nepal untuk melakukan trekking tetapi kesempatan itu tidak bisa membuat saya kembali mendatangi Bouddhanath. Bagaimanapun semua memang ada waktunya dan tahun 2018 lalu akhirnya saya kembali menjejak di Bouddhanath.

Bouddhanath merupakan salah satu dari tempat suci Buddhist yang terbesar di Nepal dan bersama dengan kuil-kuil bersejarah lain di kawasan lembah Kathmandu, Bouddhanath mendapat gelar UNESCO World Heritage Site sejak tahun 1979 (itu artinya 12 tahun lebih dulu daripada penganugerahan pertama kali gelar yang sama ke Borobudur di Indonesia).

Dalam gempa besar tahun 2015 lalu yang meluluhlantakkan Nepal, Bouddhanath juga terkena dampaknya dan termasuk parah. Seluruh struktur utama yang paling suci, -konon merupakan tempat menyimpan relikui Buddha-, yang terletak di puncak lengkung stupa harus dipindahkan selama Stupa mengalami perbaikan. Meskipun hingga kini, banyak kuil-kuil lain di kawasan Lembah Kathmandu masih terus dalam proses restorasi sejak gempa terjadi, Bouddhanath termasuk salah satu tempat pertama yang diprioritaskan diperbaiki. Dan dalam waktu satu setengah tahun sejak gempa terjadi, Bouddhanath bisa dibuka kembali secara normal.

DSC03504
Bouddhanath with the lights

Meskipun berada sekitar 7km dari pusat kota, Bouddhanath tetap ramai dikunjungi oleh penganut Buddha dari segala penjuru Nepal dan juga dari negara-negara lain yang kebanyakan penduduknya beragama Buddha. Ditambah dengan para wisatawan mancanegara,  hampir semuanya, baik yang Buddhist maupun yang non-Buddhist, berjalan melakukan sirkumambulasi atau kadang juga disebut pradaksina yaitu berjalan mengelilingi Stupa searah jarum jam.

Hari pada saat saya kembali ke Nepal itu, dari bandara saya langsung menuju kawasan Bouddhanath yang letaknya tak begitu jauh dari bandara. Alasan itu juga yang saya gunakan untuk menginap di kawasan Bouddhanath, karena keesokan harinya saya akan terbang ke kota lain sehingga tak mau jauh-jauh dari bandara tetapi keinginan saya tetap tercapai. Jadilah saya menginap di Bouddhanath dan tidak tanggung-tanggung karena saya menginap dengan hotel yang menghadap Bouddhanath.

Saya hanya ingin menatap Stupa besar kebanggaan orang Nepal itu dengan santai.

Dan sejak matahari tenggelam hingga waktu makan malam tiba, saya sengaja mengambil tempat di pelataran luar hotel dan langsung menatap Buddhanath yang cantik berhiaskan lampu-lampu.

DSC03508
Bouddhanath at Night

Dari tempat duduk saya di pelataran hotel, saya menyaksikan bahwa diameter terjauh Bouddhanath hanya sekitar 100meter dengan tinggi hingga ke puncaknya sekitar 36meter. Bisa jadi tidak terlalu besar jika dibandingkan Borobudur ya, tetapi bangunan ini terkenal sekali di Nepal dan stupa ini mengisi langit Nepal di malam hari.

Tentu saja bagi saya, yang paling menarik dari Bouddhanath adalah Lukisan Mata yang mengisi empat sisi puncak stupa itu. Mata itu merupakan representasi mata Sang Buddha yang melihat ke segala penjuru dunia. Dan lukisan yang bentuknya seperti tanda tanya, sebenarnya merupakan karakter Nepali untuk angka 1, yang merupakan simbol dari Kesatuan (unity) dan Satu Jalan menuju pencerahan yakni melalui ajaran Sang Buddha. Lebih jauh lagi, di atas lukisan mata itu terdapat Mata Ketiga, -tersembunyi di balik rumbaian kain penutup-, merupakan simbol Kebajikan Sang Buddha.

DSC03503
The Buddha Eyes

Angin musim dingin hampir berakhir meskipun masih terasa sejuknya. Angin itu terasa kuat membuat ikatan bendera doa yang warna-warni itu berkibar-kibar. Konon dipercaya, kibaran bendera doa akibat angin itu akan menerbangkan doa dan mantra ke seluruh penjuru alam semesta. Ditambah orang-orang yang tidak berhenti melakukan sirkumambulasi (pradaksina) sambil merapal doa dan mantra, tentunya memperkuat getaran doa untuk sampai ke seluruh penjuru alam semesta. Ah, indahnya saya berada di tempat yang begitu sakral…

Saya puas menatap orang-orang yang mengelilingi Stupa, puas menyaksikan Stupa besar semalaman dan juga esok paginya. Rasa damai dengan getar nada mantra Avalokitesvara, Om Mani Padme Hum yang sayup terdengar di sekitar saya, membuat saya betah berlama-lama di tempat itu.

Menatap mata yang tergambar di Stupa di hadapan, membuat saya merenung. Bahkan dalam ajaran Buddha pun diajarkan bahwa ada Mata yang terus melihat ke seluruh penjuru dunia. Dan sepertinya mengerucut juga karena saya percaya Allah Yang Maha Kuasa yang juga Maha Melihat semua aktivitas kita.

Kita hanya perlu terus menyadarinya.

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, danCerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-40 ini bertema Eye(s) agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

5 tanggapan untuk “Sepasang Mata Di Bouddhanath

  1. Mbaaaa… duh.. aku merinding pas lihat foto thumbnailnya (padahal aku belum baca). Tadi pagi pas nyari2 info tentang mata Buddha, aku nemuin foto ini, trus inget sama tas yg Mba kasih ke aku.. Trus pas baca aku kaget.. kita sama2 nulis ttg Mata Buddha.. wow..wow..wow..

    Disukai oleh 1 orang

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.