be me. do me. for me.

Wat Haw Pha Bang

it is not selfish to love yourself, take care of yourself, and to make your happiness a priority. it is necessary. (mandy hale)

Saya percaya semua orang, pria dan wanita, kadangkala perlu memiliki ruang dan waktu untuk sendirian. Dia bukan ingin memutuskan hubungan dari yang dikasihi, atau yang dicintai, bukan… karena memang tidak ada yang salah dengannya. Dia hanya ingin bersama dengan dirinya. Bersama dengan jiwa dan raganya yang telah mengikuti sejak ia lahir ke dunia ini. Itu saja. Dan biarkan saja, jangan diganggu. Biarkan dia menikmati waktunya.

Me time.

Bahkan, misalnya ada yang salah dengannya, yang tidak sesuai dengan kehidupannya, let him or let her. Kadangkala dia perlu mencari waktu bagi dirinya sendiri, untuk mencari spirit atau semangat hidup untuk memulihkan dirinya, untuk beristirahat sebentar dari kekejian dunianya, mungkin untuk berpikir mengenai langkahnya, mungkin juga hanya untuk menjadi dirinya sendiri, yang bukan image dari siapapun kecuali dia sendiri tanpa topeng-topeng palsu yang melelahkannya, dalam ruang yang nyaman baginya. Dan semua itu akan baik baginya. Juga bagi orang-orang tercintanya.

Ini tentang saya atau dia?

Ah, ini tentang me-time 🙂

Meskipun dulu tidak mengenal istilah ‘me-time‘, sudah sejak lama saya menjalaninya. Bisa jadi sejak remaja. Karena tinggal terpisah dari orangtua dan saudara sejak SMA, -orangtua dan adik tinggal di luar pulau sedangkan kakak kuliah dan kos di Bandung-, praktis untuk urusan kerumahtanggaan di Jakarta sebagai base-camp menjadi tugas saya sepenuhnya meskipun ada nenek sebagai wali dan ‘orang dewasa’ di rumah. Dan meskipun saat itu saya belum mengenal istilah ‘me-time’ tetapi saya sudah melakukannya untuk rehat sejenak dari kehebohan masa-masa itu. Kadang hanya untuk membaca buku di British Council atau pergi melarikan diri sejenak ke Museum, atau hanya keliling kota naik bus (maklum saat itu, uang saku saya sangat-sangat terbatas).

Sepuluh tahun pertama setelah bekerja dan berkeluarga, saya meluangkan waktu untuk me-time tidak terlalu banyak. Paling hanya menghabiskan satu jam membaca di saat anak-anak tidur atau memanggil mbok pemijat ke rumah. Rasanya surga jatuh dari langit!

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dan ketika anak-anak sudah semakin bisa mandiri menuju masa pra-remaja, kebiasaan melakukan me-time semakin naik dilihat dari frekuensi dan lamanya. Bukan karena tingkat stress yang meningkat, melainkan adanya kebiasaan baru saya yang sangat menyenangkan: solo-travelling. Untung saja, suami saya termasuk orang yang penuh pengertian yang selalu memberikan saya ijin pergi kemanapun (meskipun belakangan ini daftar negara yang menurut dia not allowed semakin panjang, termasuk India, hahaha…)

Meskipun hanya menghabiskan akhir pekan (karena tugas kantor bisa diperpanjang), solo-trip saya ke Bangkok menjadi begitu memorable dan menjadi me-time saya yang luar biasa. Selain membangun kepercayaan diri dan keberanian, saya menjadi yakin dengan gaya travelling saya yang seringnya ‘solo’ itu.

Saat me-time ke Bali, saya menikmati seluruh fasilitas hotel berbintang di pinggir pantai berpasir putih itu, berjalan-jalan santai dan berkesempatan ngobrol panjang lebar dengan teman kuliah yang sudah lama sekali tak jumpa. Betapa me-time itu memperkaya rasa saya.

Juga saat mencoba melakukan me-time yang agak panjang dengan mengunjungi Kamboja, dan Angkor Wat untuk pertama kalinya dan mengalami beberapa kejadian yang luar biasa, yang mengubah pandangan saya tentang kemanusiaan dan juga terhadap negara itu.

Tidak ada me-time yang begitu mind-blowing seperti perjalanan saya ke Korea Selatan, yang ketika dijalani dihiasi dengan begitu banyak kesulitan dan kebingungan, yang pada akhirnya membukakan pikiran dan menjadi dasar dari perjalanan selanjutnya bahwa keberhasilan mengatasi kesulitan itu membuat kita lebih baik dari pada sebelumnya. Selalu begitu. Dan pertolongan itu akan datang tepat pada waktunya, dari arah yang tidak dapat diperkirakan, pada saat-saat kritis di ujung akhir perjuangan terbaik kita, pada saat-saat kita hampir menyerah, ikhlas dan berserah diri secara total kepada Dia, kepadaNya kita bergantung sepenuhnya.

Saat me-time, lagi-lagi solo-trip, ke Luang Prabang di Laos, saya bisa begitu santai dan merasakan kedamaian total seperti waktu yang berjalan sangat lambat di sana. Melihat iring-iringan biksu berjubah oranye di jalan yang sepi tanpa kendaraan, dengan latar gedung-gedung berarsitektur Perancis. Hingga kini Luang Prabang selalu menjadi salah satu kota pertama di luar negeri yang terlintas di kepala ketika ingin beristirahat total tanpa melakukan apa-apa.

Dalam perjalanan pertama saya ke Nepal yang penuh keluarbiasaan, saya sampai memperpanjang menginap di Raniban. Sesuatu hal yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Hal itu terjadi karena saya merasakan energi yang berlimpah, kenyamanan, kedamaian dan kebahagiaan yang mengalir ke dalam jiwa saat saya memandang Gunung Macchapuchare yang puncaknya selalu berselimut salju tepat di depan kamar saya di Raniban itu. Juga bisa menikmati sarapan saat kabut menyelimuti bukit yang di atasnya ada Shanti Stupa. Ah, sejak pertama kali melihat Himalaya, apalagi menyaksikannya dari Raniban itu, saya merasa terus menerus dipanggil untuk kembali ke Himalaya. Memperpanjang satu hari itu merupakan me-time ‘pangkat dua’, yang menjadi ada dalam sebuah perjalanan independen yang sesungguhnya sudah merupakan me-time trip juga. 

Di tahun 2019 ini, saya semakin sering melakukan me-time meskipun periodenya bisa singkat. Saya memilih menghabiskan waktu akhir pekan ke Garden By The Bay, Singapura hanya untuk bersantai dengan Bunga Sakura di sekitar saya. Dalam perjalanan saya yang terakhir ke Myanmar, saya melakukan perpanjangan menginap di Danau Inle, demi sebuah ketenteraman dan kedamaian berperahu, menyaksikan matahari tenggelam dan terbit, menyaksikan bunga-bunga lotus dan burung-burung kuntul beterbangan, Lalu apakah selalu harus ke luar negeri?

Jawabannya pasti tidak.

Karena baru-baru ini saya mengambil cuti hanya untuk me-time dan mengulang masa remaja saya, saya berkeliling kota naik bus sendiri. Saya punya kesempatan mendatangi Museum Si Pitung di Marunda. Dan di hari yang berbeda juga bisa pergi ke Museum MACAN di Jakarta Barat, hanya bermodalkan Rp. 3.500 sekali naik bus. Bukankah mengetahui sejarah kota juga bisa memperkaya budaya dalam diri? Dan menikmati seni itu bisa memperkaya jiwa?

Ah, bagi saya, menyisihkan waktu untuk me-time, bukan untuk memamerkan egoisme pribadi saja. Bukan juga untuk sekedar merasakan dan menikmati makna kemewahan sebuah kesendirian, melainkan juga harusnya bisa menambah value dan makna diri.


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-27 ini bertema Me Time agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

12 tanggapan untuk “be me. do me. for me.

    1. Hahaha… saya ngaku deh.. kalau naik bus keliling Jakarta tidak cukup 1 hari, jadi memang saya bagi-bagi. Seperti ke Museum Si Pitung di Marunda (Jakarta Utara) terus besoknya untuk eksplor kota tua tapi ya naik bus juga. Iya, saya senang naik bus soalnya murah dan busnya bagus serta dingin ditambah rutenya jelas engga kayak bus jaman saya sekolah dulu, udah sumpek, panas, penuh dan kesannya suka-suka.

      Suka

  1. “Hingga kini Luang Prabang selalu menjadi salah satu kota pertama di luar negeri yang terlintas di kepala ketika ingin beristirahat total tanpa melakukan apa-apa.” Ini bener-bener sama persis sama apa yang saya rasakan di sana mbak. Untuk pertama kalinya saya liburan ke suatu tempat merasakan liburan yang sesungguhnya, dalam artian libur dari segala aktivitas. Benar-benar santai dan tanpa beban.

    Disukai oleh 2 orang

    1. Hebat ya atmosfer Luang Prabang itu bisa sampai sedemikian peaceful sehingga pengunjungnya berasa istirahat total gitu. Gak cuma seorang dua orang aja lho yang bilang kayak mas Bama. Hahaha ternyata banyaaak yang pernah istirahat total di LP… ada kota lain gak mas yang serupa LP?

      Disukai oleh 2 orang

      1. Ada beberapa yang memberi saya suasana tenang mbak. Kalau di Indonesia contohnya Ternate dan Banda. Kalau di luar negeri ada Orchid Island (Taiwan), dan satu homestay di luar Kandy (Sri Lanka).

        Disukai oleh 2 orang

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.