Main Ke Rumah Si Pitung Di Marunda


 

Rumah Si Pitung

Siapa orang Betawi yang tidak kenal si Pitung? Dialah Sang Legenda Robin Hood dari Betawi pada akhir abad 19 yang telah berhasil mempermalukan Kepala Polisi Batavia dan meresahkan pemerintah Hindia Belanda urusan Bumiputera pada masanya.

Selama delapan tahun, 1886 – 1894, Si Pitung melakukan aksi perampokan uang dan emas permata yang bernilai tinggi terhadap saudagar-saudagar kaya yang dinilainya bersekutu dengan Belanda lalu konon ia membagikan rampasannya kepada orang-orang miskin, namun selalu berhasil lolos dari kejaran polisi. Sempat sekali tertangkap, tapi seperti belut, dengan mudahnya Si Pitung yang bernama asli Salihun ini melarikan diri dari penjara Meester Cornelis di tahun 1891. Dan tidak tanggung-tanggung Sang Jawara ini mempermalukan Pemerintah Hindia Belanda karena ia bisa hilir mudik dengan kereta api tepat di depan hidung Sang Kepala Polisi. Dan bukannya mereda, Si Pitung bahkan berhasil membinasakan Demang Kebayoran yang memusuhi petani-petani serta tak henti-hentinya meresahkan pemerintah kolonial saat itu.

Tak terbayangkan gusar dan marahnya Penasehat Pemerintah Hindia Belanda urusan Bumiputera yang bernama Snouck Hurgronje kepada Kepala Polisi Batavia, Schout Hijne, yang selalu gagal menangkap satu orang Bumiputera yang bernama Si Pitung ini. Pelecehan jabatan yang dilakukan Si Pitung terhadap Schout Hijne ini membuat Sang Kepala Polisi menghalalkan segala cara untuk menangkapnya, termasuk mendatangi dukun untuk mencari penawar jimat keberuntungan Si Pitung. Tindakan ini makin membuat Snouck Hurgronje hilang akal karena yang dilakukan Sang Kepala Polisi dianggap sangat memalukan dan tidak terpelajar. Tetapi kegagalan terus menyelimuti penguasa saat itu, karena ketika menggerebek rumah Si Pitung di Rawa Belong, mereka hanya menemukan uang 2.5 sen pada tiang bambu. Bahkan kabar kematiannya tetap tak jelas, apalagi keberadaan makamnya.

Dan legenda jawara itu tetap memenuhi pikiran masyarakat Betawi dengan penuh kebanggaan

*

Museum Rumah Si Pitung

Sebenarnya sudah lama saya ingin ‘main’ ke rumah Si Pitung, tetapi baru empat hari jelang puasa niat mengenal legenda Sang Robin Hood Betawi itu bisa terlaksana. Saya sengaja mengambil cuti untuk main ke rumah Sang Legenda yang kini menjadi museum di Marunda. Sebuah pertanyaan menari-nari di benak sepanjang perjalanan, rumah masa kecilnya di Rawa Belong (dekat Palmerah) dan konon makamnya ada di Sukabumi Utara, yang tak jauh dari Rawa Belong. Lalu mengapa museumnya ada di Marunda yang sangat jauh? Saya tak punya jawaban pasti, kecuali hanya untuk menenangkan pikiran. Sebagai buronan kelas kakap, sewajarnya ia tak pernah menetap dan selalu berpindah…

Untuk mencapai rumah Si Pitung di Marunda atau House of Si Pitung di Google Maps, saya menggunakan aplikasi Travi untuk membantu perjalanan dengan bus TransJakarta. Saya naik bus Transjakarta Koridor 1 menuju Kota lalu turun untuk transit di Monas, dan menunggu bus Koridor 2 yang menuju Pulo Gadung. Setelah melewati sekian banyak halte, saya turun di Cempaka Timur. Tanpa keluar dari area bayar, saya menyusuri jembatan penghubung ke Cempaka Mas 2 untuk lanjut dengan bus TransJakarta Koridor 10 menuju Tanjung Priok dan turun di halte Enggano. Di Halte TransJakarta Enggano ini saya harus menunggu agak lama bus ukuran ¾  jurusan Marunda, dan turun di Pertigaan Rumah Si Pitung. Dari sini saya harus jalan kaki lagi sekitar 200 meter untuk sampai ke Rumah Si Pitung. Meskipun jauh banget, perjalanan dengan bus TransJakarta sangat mudah dan murah, hanya Rp 3.500,- atau sekali tap, tanpa tersesat.

Perjalanan panjang dan lama, -yang kalau naik mobil pribadi bisa sampai Bandung itu saat tol Cikampek bebas macet-, membuahkan hasil meskipun cuaca agak kurang bersahabat. Udara pantai utara Jakarta yang panas membuat keringat mengalir dengan cepat, meskipun ada kolam-kolam bakau yang mampu meredam sedikit panas. Setelah membayar Rp. 3.000 untuk tiket masuk, akhirnya saya bisa berdiri di halaman Rumah Si Pitung, Legenda Jawara terkenal dari Betawi.

Rumahnya yang kini jadi museum tak beda dengan rumah-rumah Betawi pesisir pada umumnya yang berbentuk rumah panggung. Saat saya berkunjung sama sekali tak ada orang, bisa jadi karena saya datang pada hari kerja dan bukan akhir minggu.

Saya menaiki tangga sempit itu dengan hati-hati dan langsung terkejut ketika sampai di anak tangga paling atas. Di sudut teras depan, sebuah patung tak berwajah mengenakan pakaian jawara. Meskipun tak berwajah, saya merasa tak nyaman dengan patung setinggi manusia itu. Ah, saya mungkin lebih terbiasa dengan manekin yang benar-benar terlihat sebagai patung daripada sesuatu berbentuk tubuh manusia tapi tak berwajah. Hitam lagi… Meskipun siang, tetap serem ‘kan?

Kemudian saya melangkah masuk ke ruang tamu melalui pintu yang ketinggiannya rendah. Panas matahari di luar rasanya terjebak di dalam sini, membuat saya seperti kehabisan nafas. Tanpa angin meskipun jendela terbuka. Gerah! Di dalam ruang ini terdapat seperangkat kursi tamu lengkap dengan toples-toplesnya, menggenapi yang ada di teras depan. Lukisan Si Pitung bersama seorang perempuan dan sebuah lampu teplok menghiasi dinding. Sebenarnya ruangan ini bagus, tetapi pengelolanya tak memiliki rasa estetika sama sekali karena kabel listrik yang putih bersama stopkontaknya tidak disembunyikan dan terlihat sangat jelas, merusak penataan warna kayu yang telah dibuat senada.

Lalu ruang berikutnya adalah kamar tidur Si Pitung yang berisi ranjang berkelambu. Saya hanya bisa mengambil foto dari batas pintu karena ada pembatas akses. Jika dalam beberapa sumber dikatakan Si Pitung melajang seumur hidupnya untuk mempertahankan kekuatan jawaranya, maka kondisi kamar yang memiliki ranjang double bertiang dan berkelambu serta meja rias perempuan, menjadikannya bertolak-belakang. Apalagi di lukisan pada ruang sebelumnya terdapat penggambaran Si Pitung bersama seorang perempuan. Adakah yang tahu kisah cinta Si Pitung ini? Siapakah perempuan pendamping legenda Betawi ini?

Saya masih melangkah terus ke belakang. Rasanya saya menjadi pemilik rumah karena menjadi satu-satunya pengunjung saat itu. Ruang berikutnya adalah ruang makan dengan seperangkat meja makan dengan kendi dan lampu gantung berhias. Melihat kendi itu, tergambar dalam benak jawara-jawara meminum air yang mengucur langsung dari kendi ke mulutnya tanpa menggunakan gelas. Kadang kala untuk menyegarkan wajah juga.

Kemudian di sudut ruang terdapat lemari bercermin dengan tikar di hadapannya dan sebuah kayu permainan congklak. Sepertinya bayangan Si Pitung bermain congklak terasa absurd pada benak saya, seharusnya perempuan muda yang melakukan permainan ini. Adakah perempuan-perempuan muda atau anak-anak di sekeliling Jawara Betawi ini? Atau benda ini hanya sekedar benda budaya yang tak terkait dengan Si Pitung? Entahlah… karena tak ada informasi pendukung di sekitar benda ini.

Di sudut seberangnya terdapat bale-bale dengan setumpuk peti yang entah untuk apa kegunaannya. Bisa jadi sebagai tempat menyimpan sementara harta rampasan sebelum dibagikan kepada yang membutuhkan. Selain itu juga terdapat satu set rebana dan alat musik tradisional Betawi. Sayangnya tidak ada penjelasan sama sekali, kecuali larangan-larangan. Bisa jadi pengelola menganggap semua pengunjung sudah tahu mengenai Si Pitung dan budaya Betawi. Padahal di luar negeri untuk museum spesifik seperti ini, selalu disertai informasi yang lengkap, jika perlu ditambahkan hal-hal lain yang bisa mengundang pengunjung datang lagi. Informasi yang ada justru membuat saya bertanya-tanya, -karena diinformasikan peti-peti itu adalah koleksi seseorang-, lalu hubungannya apa dengan sejarah Si Pitung?

Dapur dan Peralatan Masak

Ruang berikutnya adalah dapur dengan sebuah bale-bale dan seperangkat peralatan masak diletakkan diatasnya. Bukankah akan menarik bila dipresentasikan bagaimana cara memasak secara tradisional pada abad 19 itu? Belum tentu semua anak millenial jaman now bisa mengetahui nama-nama alat masak tradisional itu. Tetapi sayang, tidak ada informasi pendukungnya.

Di arah belakang terdapat pintu menuju teras belakang yang tersedia juga sebuah bale-bale yang kelihatannya enak sekali untuk bersantai tidur-tiduran sambil minum kopi. Sekali lagi, sayang tak ada informasi pendukung yang menjelaskan. Jangankan bahasa Inggeris, bahasa Indonesia saja tidak ada. Selain itu, lagi-lagi si kabel putih merusak semua pemandangan. Mungkin memang museum ini tidak ditujukan untuk pasar turis asing. Sayang ya?

Saya kembali ke teras depan, menikmati sedikit angin di situ. Menatap ke luar, seakan-akan ke halaman tetangga, tetapi apa daya, terlihat kabel-kabel listrik bergantungan tak beraturan. Gemas rasanya untuk hal-hal yang sebenarnya bisa ditata dengan lebih baik.

Balkon di Teras Depan

Mentari semakin terik, saya turun mencari tempat teduh di halaman sambil menikmati Rumah Jawara Betawi ini. Seekor kucing tiba-tiba datang melingkari kaki saya, ingin bermanja-manja rupanya. Hati ini miris, masyarakat Indonesia belum banyak yang mencintai museum. Bahkan bisa jadi pengelolanya pun masih beranggapan museum adalah tempat membuang benda-benda tua yang tidak diperlukan lagi, yang tak jauh beda dengan gudang. Tanpa perlu informasi pendukung, meskipun sebenarnya banyak cerita sejarah berada di balik benda-benda berharga yang dipamerkan itu. Ah, jika manusia belum mencintai sejarahnya, bagaimana ia bisa menghargai masa depan bangsanya?

Saya meninggalkan museum Rumah Si Pitung dengan perasaan sedikit masygul. Apalagi bus TransJakarta melewati saya begitu saja tanpa berhenti di halte yang sama tempat saya turun sebelumnya. Kali ini karena tak tahan panas untuk menunggu lagi, langsung saja saya mengorder babang Ojol untuk kembali ke halte Enggano. Meskipun setelah itu saya agak menyesal karena rupanya babang Ojol itu nekad menerobos sempitnya jalan di antara truk-truk peti kemas segede gaban tanpa peduli saya yang senewen tak terbiasa dan terus komat-kamit berdoa. Saya hanya membayangkan wajah suami yang ngomel karena saya nekad naik ojek diantara truk-truk peti kemas itu. Bisa-bisa ijin jalan-jalan ditarik… uugh..

10 tanggapan untuk “Main Ke Rumah Si Pitung Di Marunda

  1. Mba.. itulah yg selalu bikin miris kalau ke museum : gak ada keterangan yang bisa menambah nilai historisnya. Aku suka curiga juga itu barang2 di dalam museum jangan2 cuma dimasuk2in aja tanpa sumber dan data yg jelas.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Hahaha… meskipun demikian, -meskipun museum diduga cuma jadi ‘gudang’-, aku mau bersyukur aja bahwa masih ada museum daripada gak ada samasekali wkwkwk… mungkin memang kita perlu waktu yang lamaaaaa… banget untuk bisa memahami fungsi museum.
      Kalau soal benda-benda dimasukin tanpa kejelasan artinya kebalikannya juga bisa Na, benda yang asli dan priceless banget bisa lenyap tanpa tau kemana hahaha dan gak heran sering terjadi tapi gak diangkat… dan bisa jadi diganti yang palsu wkwkwk… (kebanyakan nonton film kali aku… 😀 😀 😀 )

      Suka

  2. Setelah baca tulisan ini, aku juga langsung mikir: ini museum kok kesannya cuma untuk menyimpan barang saja, tanpa penjelasan. Dan memang absurd, membayangkan si Pitung sang Jawara yang lajang, namun di dalam rumahnya terdapat congklak. Aku agak ketawa lho, membayangkan dia main congklak di waktu senggang 😀

    Seingatku, kalau di filmnya sih, si Pitung ini memiliki kekasih. Namun tak sampai dinikahinya, karena keburu direbut oleh Demang atau siapalah itu tokoh antagonis pribuminya. Dan kemudian, si Pitung tewas setelah rahasia kesaktiannya terbongkar (kalau tidak salah dia harus ditembak dengan peluru emas/perak). Dan kemudian, dendamnya dibalaskan oleh sahabatnya si Jiih. Tapi ya, itu versi film, yang mungkin juga banyak modifikasinya.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Nah, mungkin juga penggambaran yang ada di lukisan itu adalah kekasihnya, masalahnya gak ada penjelasan jadi agak menerka-nerka gitu. Cerita legendanya memang banyak variasinya ya, tapi di Demang Kebayoran (atau Kemayoran?) memang disebut-sebut lebih condong ke Pemerintah Hindia Belanda sehingga dibenci oleh si Pitung (ah, bisa jadi gara-gara Si None Cantik kaliiii ya 🙂 ). Nah soal peluru perak ini yang konon membuat Snouck Hurgronje malu banget karena si Hijne sampai harus ke dukun untuk tahu kelemahannya Si Pitung, meskipun akhirnya Hijne yang berhasil membuat Si Pitung menemui ajal.

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan ke ceritariyanti Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.