Kemudian Wajah Kita Menjadi Asing Satu Sama Lain…


IMG_0548

It is not our differences that divide us. It is our inability to recognize, accept, and celebrate those differences

(Audre Lordes)

Sejak tahun lalu, gejolak api untuk berseberangan pilihan semakin membesar. Padahal hari besar itu sesungguhnya merupakan sebuah pesta, sebuah perayaan akan kemampuan kita berdemokrasi. Semua dari kita yang memenuhi syarat, akan menentukan pilihan lalu menerima apapun hasilnya. Benarkah kita mampu menerima apapun hasilnya? Benarkah kita mampu menerima perbedaan?

Sejak tahun lalu, gejolak api untuk pilihan yang saling berseberangan semakin dikobarkan diantara kita, sehingga banyak dari kita ikut terbakar. Dalam pergaulan, tak jarang terjadi peristiwa yang begitu menyesakkan dan mengagetkan.

Rasanya saya tidak sendirian, karena saya percaya banyak terjadi juga dalam lingkup pergaulan kita semua. Seperti saya yang tergabung dalam sebuah WAG (WhatsApp Group) teman sekolah semasa kecil (SD dan SMP), -yang semuanya saya kenal sejak mereka kecil, masih menggunakan celana pendek, masih malu-malu ketika berdekatan dengan lawan jenis dan masih polos pemikirannya-, salah satu dari teman masa kecil ini mendadak left group karena merasa tidak sejalan lagi dengan teman-temannya semasa kecilnya itu. Hanya karena sebuah pilihan.

Dan tidak berhenti disana, ia pun meninggalkan group dengan kata-kata yang menghenyakkan. Hanya karena salah satu dari anggota group posting yang mendukung salah satu calon presiden. Namun ia telah menyamaratakan semua anggota group, yang mengenalnya sejak kecil. Bukan kata-katanya yang memedihkan hati, melainkan kepergiannya dari kami semua. Hanya karena sebuah pilihan.

Tetapi bisa jadi aktivitas di dunia maya membuat dirinya merasa tersudutkan. Ketika saya menjumpainya saat pemakaman Papa beberapa bulan setelah peristiwa left group itu, saya berhambur memeluknya, paham bahwa ia tak pernah meninggalkan saya.  Tapi bisa jadi, tak banyak yang seperti dia.

Karena di dunia nyata tidak jauh berbeda dengan dunia maya untuk masalah pilihan ini. Salah satu teman main semasa SMA, mendadak menjadi pendukung fanatik seseorang dari tim pemenangan salah satu calon presiden. Mendadak kami sebagai teman-temannya, -yang mengenalnya begitu dekat sejak masa sekolah, yang menjadi tempat curhatnya saat dia mengalami masalah dalam pernikahannya-, ditinggalkan olehnya demi seseorang yang baru ia kenal. Dia menjadi seseorang yang sangat berbeda, menjadi seseorang yang tidak kami kenal, seseorang dengan wajah asing. Bahkan kini, demi seseorang dari tim pemenangan salah satu calon presiden, dia kini menetapkan garis batas yang membedakan, yang memberi jarak antara kami dan dia.

Di lingkungan tempat bekerja,- meskipun pekerjaan berjalan biasa-, tetapi jika melihat dalam-dalam ke dunia media sosial dari rekan-rekan kerja, betapa berkobar api berseberangannya. Hanya karena sebuah pilihan.

Sekali lagi saya percaya, saya tidak sendirian. Bahkan di media massa pun berkisah, ada banyak dari keluarga yang seperti terperangkap oleh api pertengkaran. Ada banyak persoalan yang dihadapi teman-teman sekolah, ada banyak masalah baru ditimbulkan dalam lingkungan kerja, hanya karena sebuah pilihan.

Hanya karena sebuah pilihan, masing-masing dari kita menjadi begitu berbeda, menjadi seseorang dengan wajah asing, wajah yang seakan-akan tidak pernah dikenal.

Tanggal 17 April 2019 semakin dekat, semoga menjadi titik balik agar kembali seperti semula. Kita sesungguhnya hanya bisa berharap semua akan kembali damai, tanpa api yang membakar satu sama lain.

Namun, setelah banyak dari kita mengalami sendiri fenomena ini, sebuah pertanyaan muncul di benak apakah benar wajah kita masing-masing menjadi asing satu sama lain?

Ataukah mungkin,

Kita yang belum sungguh-sungguh mengenal diri sendiri sehingga tidak mampu menerima makna perbedaan?

*


 

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Celina, A Rhyme in My Heart dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-13 ini bertemakan Stranger agar kami berdua terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Iklan

9 tanggapan untuk “Kemudian Wajah Kita Menjadi Asing Satu Sama Lain…

  1. Mba.. well written banget ini Mba.. Aku juga udah lelah, berharap setelah pemilu semua bisa kembali kayak dulu lagi. Tapi mengingat kejadian th 2014 lalu, kayaknya bakal pada terus ngegas poll dah…

    Suka

    1. mau nulis strange yang lain, ntar malah nulis dr strange lagi wkwkwkwk… padahal mau tutup buku sementara hehehe… nah akhirnya jadi masalah pilpres ini hahahaha…
      Iya Na, pada gak bosen gas polll ya? itu pikiran diracunin terus… ampyuuun

      Suka

    1. Boleh mba, senang banget bila Mba bisa ikutan…

      Rabu, 2 April 2019

      Satu Foto Sejuta Cerita – Minggu 13

      Strangers

      Kala membuka foto-foto hasil perjalanan, terkadang saya menemukan foto dari wajah-wajah yang asing di antara foto-foto itu. Kadang saya memang meminta untuk berfoto bersama mereka atau bisa jadi itu foto candid yang saya buat karena mereka begitu menarik.

      Meskipun asing, bahkan mungkin tak tahu namanya dan tak berinteraksi langsung dengannya, namun wajah-wajah itu begitu “menambahkan rasa” dalam kisah perjalanan saya.

      Jadi untuk tantangan minggu ini, silakan berkisah tentang mereka yang asing itu.

      Ditunggu tulisannya hingga Selasa minggu depan pk.23.59.

      Semangaat

      Suka

  2. Ini juga kejadian di lingkungan kuliah saya. Teman yang dulu baik dan seru mendadak jadi orang yang berbeda. Tidak lagi mengecek fakta atau berbicara tanpa menghina dan menjatuhkan. Bagi dia dunia sudah hitam-putih, dia dan kelompoknya adalah benar dan mulia sementara orang yang punya pikiran yang berbeda dianggap salah. Kebenaran bagi mereka sudah menjadi sesuatu yang mutlak dan eksklusif sementara pikiran yang berbeda adalah benalu yang harus dibasmi. Padahal nggak tau aja kalau benalu teh banyak dicari orang untuk dipakai sebagai obat.

    Semoga Pemilu 2019 berjalan damai dan negara ini tidak jatuh pada kehancuran.

    Disukai oleh 1 orang

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.