Api Perdamaian Di Tengah Hujan


Hiroshima Peace Memorial Park
Hiroshima Peace Memorial Park – Do you see the eternal peace flame?

Saya tidak bisa melupakan momen itu, momen melihat api perdamaian di tengah hujan lebat saat berteduh di bawah Sky Bridge Museum Perdamaian Hiroshima. Antara keringat, -karena berlari dari Gedung Atomic Bomb hingga ke Sky Bridge-, dan basah karena kehujanan serta air tampias membuat saya agak kedinginan di tengah musim panas itu. Angin berhembus cukup kuat di bawah Sky Bridge, tapi saya tetap terpaku pada apa yang saya lihat. Api Perdamaian yang tetap menyala meskipun di tengah hujan lebat, dan bisa terlihat meskipun saya berjarak cukup jauh dari api perdamaian itu.

Hujan membuat saya berpikir lebih dalam di tempat saya berdiri, yang 71 tahun lalu rata dengan tanah karena di bom atom. Disini, di tempat saya berdiri, merupakan ground-zero, tempat yang semuanya pernah musnah dalam sekejap, apalagi manusia yang hidup di dalamnya. Namun dari Hiroshima dan Nagasaki, dunia belajar mengatasi kecintaan manusia kepada kekuasaan, Seperti kata Jimi Hendrix,

When the power of love overcomes the love of power, the world will know peace

Di tempat saya berdiri, empat unsur kehidupan seakan sedang berlomba menunjukkan diri di panggung. Udara yang menyediakan ruangnya, Tanah yang menyediakan tempat berpijaknya, Api yang menyala serta Air hujan yang turun dari langit. Di tempat yang berpuluh-puluh tahun lalu hancur luluh lantak akibat keserakahan manusia dan dunia perlu waktu yang sangat lama (hingga kini masih) untuk bisa mengatasinya. Dan saya terperangah saat mencoba memahami maknanya

Api dan Air, dua elemen kehidupan yang sepertinya berpunggungan. Seperti diri dan bayangan, dua bagian dari yang satu, tapi tetap terpisahkan. Tetapi, kedua unsur itu juga merupakan unsur dinamika, unsur perubahan yang selalu dinamis. Dan bersama elemen lainnya, membuat kehidupan itu bergulir dengan segala bentuk dinamikanya.

Saya terpesona saat Semesta menghamparkan pembelajaran di depan mata. Berpuluh tahun silam, perdamaian diluluhlantakan di ground-zero ini oleh manusia-manusia haus kuasa, memenangkan api dengan menjatuhkan bom atom yang membakar, dan mereka yang sempat tersisa mencoba hidup mencari air yang tinggal sedikit di tengah udara yang tak lagi bersih. Dan bumi menangis.

Dan 71 tahun kemudian, saat saya berdiri di ground-zero itu, Hujan lebat turun dari langit, Alam tak menghendaki api abadi perdamaian itu meredup dan mati, Api itu tetap menyala, sebagai simbol, dua yang satu, yang tidak memenangkan satu unsur terhadap yang lain.

Api yang menyala terus itu simbol perdamaian, salah satu elemen hidup yang sepenting empat unsur lain dalam kehidupan, -Udara, Air, Api, Tanah-, yang seharusnya terus menyala dalam setiap jiwa manusia. Sayangnya, perdamaian merupakan unsur yang paling sering dan paling mudah dirusak manusia.

Peace is one of life’s most vital element that is as important as air, water, fire or earth. Unfortunately, it is the most undermined, but yet inevitable (Ayeni Solomon Ayodele)

Saat itu, sepertinya saya tak ingin hujan berhenti. Rasanya terlalu indah menyaksikan pemandangan api yang terus menyala di tengah hujan lebat. Bagi saya, saat itu sangat menggetarkan jiwa. Bisa jadi karena tempatnya, atau karena momentumnya.

Lalu, seakan ditunaikan, keinginan saya agar hujan tak berhenti langsung diwujudkan dalam penggambaran mini. Di kaki air hujan yang tak tertampung drainase mulai mengalir membasahi area dan membuat genangan kecil. Saya terperanjat, menyadari kesalahan berkeinginan, Air, seperti juga api, bila tak terkendali dalam keseimbangan, bisa sangat merusak.

Dan dalam banyak hal, seringkali manusia penyebabnya.



Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Celina, A Rhyme in My Heart dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-10 ini bertemakan Hujan agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

 

2 tanggapan untuk “Api Perdamaian Di Tengah Hujan

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.