Saat Impian Menjadi Nyata di MesaStila


Ketika pulang mudik menuju Jogja, hampir selalu saya melewati persimpangan itu, -sebuah persimpangan menuju hotel impian-, dan selama itu pula saya hanya bisa berujar dalam hati, suatu saat saya akan berbelok disini, entah kapan tetapi pasti akan datang waktunya. Dan benarlah, dalam libur Lebaran tahun lalu, akhirnya saya sekeluarga berbelok di persimpangan itu. Mewujudkan impian yang begitu lama, -lebih dari sepuluh tahun-, yang saya genggam untuk bisa menginap di hotel impian sambil menyiapkan dana karena harganya sangat tidak murah. Hotel yang bisa dicapai sekitar 2 – 3 jam dari Semarang terletak di antara perkebunan kopi, dulu bernama Losari Plantation, namun kini menjadi MesaStila Resorts & Spa.

Sebagai bagian dari Jaringan Hotel Mesa, MesaStila Resorts & Spa yang terletak Desa Grabag Losari, Magelang, Jawa Tengah ini termasuk dalam kategori Mesa Collection, yang mengedepankan koleksi seni benda-benda antik termasuk bangunan tradisional yang berbentuk rumah-rumah joglo yang indah dan juga bangunan stasiun kereta. Dan meskipun berkategori hotel mewah, MesaStila berkomitmen untuk tetap memfokuskan pada pengalaman tradisional, memperhatikan masyarakat lokal serta memfasilitasi gaya hidup sehat dengan menonjolkan keindahan lingkungan. Keren kan?

Nah, sejak meninggalkan persimpangan jalan raya itu dan memasuki kompleks hotel, kami berhenti di depan sebuah pavillion yang uniknya direkonstruksi dari bangunan asli stasiun kereta Mayong Losari yang berangka tahun 1873! Bangunan bercat kuning yang sangat cantik ini punya kisah tersendiri, karena awalnya bangunan stasiun Mayong Losari itu akan dirubuhkan karena menghalangi jalan yang baru dibuka. Beruntung seluruh kayu bangunan cantik itu bisa diselamatkan tepat pada waktunya untuk kemudian direkonstruksi sesuai aslinya dan kini berdiri di MesaStila berfungsi sebagai ruang penyambutan.

7
MesaStila – The Mayong Losari Station Hall

Dan laksana berhenti di stasiun, begitu turun dari kendaraan saya sekeluarga disambut hangat oleh seorang petugas berpakaian tradisional dan langsung memandu kami menuju bangunan utama yang terletak di tengah taman luas dan apik dan berfungsi sebagai lobby sambil menjelaskan banyak hal mengenai MesaStila. Saya terpesona, namun tetap melangkah mengikutinya sambil mengambil foto disana-sini.

Tak lama kemudian, kami sampai di bangunan utama peninggalan Belanda yang besar dan berfungsi sebagai lobby. Cantik sekali dengan halaman yang tertata apik, suara gamelan sayup terdengar, saya tak berkeberatan menunggu proses administrasi yang ternyata sangat cepat. Semua sudah disiapkan. Meskipun berjalan kaki, kami tak lagi membawa koper dan tas-tas karena semua sudah ditangani tersendiri. Kami hanya melenggang, menikmati semua pemandangan selagi jalan menuju villa. Apik.

6
MesaStila – The main park
12
MesaStila – my villa’s bedroom

Melalui pintu samping villa, kami melangkah ke dalam, sebuah buket bunga cantik diatas meja makan terselip nota dengan nama saya tertulis diatasnya dari Manager Hotel menyambut saya sekeluarga. Saya mengagumi layanan luarbiasa dengan sentuhan yang sangat personal namun penuh penghormatan.

Selain buket bunga, saya melihat ranjang megah bertiang empat dan berhiaskan kain krem berlipit menjadikan suasana seperti kamar raja. Semua terasa sempurna. Ah, rasanya terbang mendapatkan layanan begitu prima.

Saya tak sabat menuju kamar mandi yang ternyata terpisah antara toilet, ruang shower dan ruang berendam yang memiliki jendela selebar dinding berpemandangan indah keluar dengan privasi yang terjaga. Tak jauh tempat berendam tersedia  semangkuk penuh helai bunga mawar sebagai pengharum saat berendam. Tidak berhenti disitu, saat kami ke beranda, saya mendapati satu lagi tempat shower outdoor. Siapa yang tak suka mendapat semua layanan dan fasilitas itu?

Keindahannya tak berhenti disana. Villa kami berpintu dan jendela kaca selebar dinding villa dan menyuguhkan pemandangan alam dengan pepohonan rindang bersaput gunung Andong yang memanjakan mata. Suasana yang begitu tenang, melupakan fakta bahwa sejatinya tempat ini hanya selemparan batu dari jalan raya penghubung kota Jogja dan Ambarawa. Ah, sang suami langsung duduk leyeh-leyeh menikmati kesejukan udara yang membuat jiwa raga terasa lega.

13
MesaStila – a peek from the spa’s entrance to swimming pool
14
MesaStila – infinity pool

Rasanya tak mungkin bila saya melewatkan free-spa yang diberikan untuk merehat sejenak kekakuan otot pundak hingga kepala. Tempat spa yang lokasinya bersebelahan dengan kolam renang, memiliki penataan yang luar biasa menenteramkan. Musik yang sayup terdengar dan pijatan lembut yang saya rasakan membuat diri ini serasa terbang ke dunia impian. Atau bisa juga mendapatkan Hammam Spa yang khas Turki disini.

Selemparan batu dari tempat Spa, terdapat kolam renang infinity yang dikelilingi hijaunya pepohonan yang rimbun menjadikannya seperti oase natura. Siapapun yang berada di kolam itu akan merasakan menyatunya dengan alam sekitar. Rasanya déjà vu dengan situasi serupa yang ada di Ubud, Bali.

Tak terasa sore telah menjelang dan kami bersiap untuk bersantap malam. Searah dengan kolam renang, di hadapan taman luas yang lapang, kami menuju restoran dengan berbagai macam sajian makanan dan minuman yang harganya bagi saya tak mengapa untuk impian satu dasa warsa yang menjadi nyata. Kerlip cahaya malam yang diatur indah membuat suasana terasa romantis. Kami memesan makan malam yang rasanya enak sekali untuk ukuran lidah orang biasa. Tak jauh dari meja kami, sekelompok turis Eropa juga sedang menikmati makanan sambil ngobrol satu sama lain juga bertukar sapa dengan penjamu sajian. Ada rasa menyatu antara tamu dan orang-orang yang ada di belakang MesaStila ini.

1
MesaStila – Restaurant at Night

Jika masih ingin bersantai, hotel ini juga menawarkan sajian kopi khas MesaStila yang tumbuh dan berkembang serta diolah langsung di atas tanah seluas 11 hektar. Kopi jenis Robusta ini, konon terasa amat enak di lidah. Saya sendiri tidak sempat merasakannya.

Keesokan harinya setelah melewati malam yang melelapkan, seperti biasa saya melakukan jalan pagi, berusaha menyapa mereka yang bekerja. Di depan Bangunan Utama, dekat dengan taman yang luas itu, saya mengamati keindahan bangunan lounge yang merupakan replika asli dari gudang penyimpan kopi jaman penjajahan Belanda. Jika duduk disini, pemandangan indah Gunung SIndoro dan Gunung Sumbing jelas terlihat. Dan berseberangan dengan bangunan lounge tadi, pengunjung bisa mengolah daya pikir bermain catur raksasa yang disediakan di halaman.

Pada sisi lainnya, saya tersenyum sendiri karena melihat sepetak area yang berbentuk susunan batu-batu kecil yang terstruktur yang konon bisa menyehatkan bila berjalan diatasnya. Saya tahu bagi yang kurang sehat akan terasa sulit jalan diatasnya. Tapi tak salah untuk mencobanya… Susunan batu itu  berhias gentong besar senada dan sebuah gong yang semuanya terlihat dalam harmoni saling mendukung suasana.

3
MesaStila – The Labyrinth and The Main Lobby
2
MesaStila – The Lounge & The Giant Chess

Tak jauh dari sana, sepertinya disediakan tempat untuk mengheningkan rasa atau meditasi, karena terdapat kolam air mancur dan bangku panjang menghadapnya. Saya teringat akan Fontana di Trevi, kolam air mancur di Trevi, Roma, Italia saat melihat dasar kolamnya yang penuh koin. Ah, saya sedang tidak membawa koin, jika saja saya bawa, tentu akan saya lempar juga ke kolam air mancur itu.

Saya melanjutkan jalan pagi lalu mendaftarkan diri untuk mengikuti kelas yoga di sebuah beranda yang terbuka, yang saya perkirakan akan dimulai saat saya selesai mengelilingi kompleks hotel.

Melewati musholla dan kolam ikan yang cantik, saya berjalan menuju perkebunan kopi, yang tingginya seukuran manusia sehingga saya bisa menggapai kopi-kopinya. Inilah khas dari MesaStila, mereka menanam kopi dan memprosesnya sendiri hingga disajikan kepada penikmat kopi. Dan sebagai tamu, kita bisa melihat semua prosesnya, sejak awal, sejak pembibitan.

9
MesaStila – Green Coffee Plantation
8
MesaStila – Coffee Plantation

Saya mengamati penjelasan pembuatan kopi hingga sampai kemasan termasuk nilai analisa kopi yang dihasilkan. Karena saya bukan penikmat asli kopi, saya tidak begitu memahami makna angka-angka itu  tapi tak mungkin dipajang bila biasa-biasa saja kan?

Selain kopi, saya pun ke kandang kambing yang memang dipelihara sebagai bagian dari penataan perkebunan dan pemberdayaan masyarakat sekitar. Lucu juga pagi-pagi saya memberi makan para kambing dan mereka menampilkan wajah yang lucu saat difoto. Sadar kamera sekali para kambing itu 😀

10
MesaStila – Beautiful paths to walk or ride a horse
11
MesaStila – A gate to a villa

Selain kambing, di MesaStila juga bisa berkuda. Jalurnya dibuat dengan cantik. Salah satunya memiliki gerbang altar yang sangat instagrammable. Memang disini banyak sekali tempat yang bagus untuk diabadikan, Ah, waktu cepat sekali berlalu, tak sadar sudah waktunya untuk kelas yoga, sehingga saya harus kembali ke arah kolam renang.

Saat berjalan kembali, perasaan saya menari-nari. Bahagia itu ketika impian bisa menjadi nyata, tetapi apa sebutannya bila yang diterima dan dirasakan jauh melebihi dari impian itu sendiri? Impian satu dasa warsa memang menjadi nyata dan itu sangat membahagiakan, tetapi sungguh yang saya dapatkan dan yang saya rasakan lebih banyak dari pada itu. Oh, seperti  kata sahabat saya, I am not lucky, I am blessed.

4
MesaStila – The Restaurant in the morning
5
MesaStila – The path to the villas

Sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Celina & saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-8 ini bertemakan Impian Menjadi Nyata, agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Iklan

2 tanggapan untuk “Saat Impian Menjadi Nyata di MesaStila

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.