Lebaran, Mengukur Jalan, Merajut Cinta


Siapa yang mampu menghalangi datangnya kebahagiaan cinta dalam libur panjang hari kemenangan saat satu keluarga mengukur jalan menuju serangkaian kota lebih dari sepuluh malam? Walau didalamnya bercampur rasa, antara tak ikhlas melepas Ramadhan mulia penuh berkah dan rasa bahagia hari kemenangan yang memenuhi sukma. Ditambah sepanjang perjalanan setiap harinya, memberi warna ceria. Rasanya seperti mengamini satu pepatah, the journey itself is the destination.

Menuju Cirebon Penuh Senyum Lebar

Tapi rencana tinggal rencana, yang awalnya niat berangkat setelah subuh, akhirnya jelang tengah hari, satu kendaraan berisi empat manusia ini baru meninggalkan kota Jakarta. Tetapi rasanya berkah senantiasa berlimpah, sehingga perjalanan hari pertama berjalan mulus tanpa jeda.

Dan seperti biasa, di saat hampir semua penghuni Jakarta kembali ke kampung halaman, di jalan-jalan bebas hambatan terlihat mobil konde, satu istilah untuk mobil dengan tambahan bagasi di atasnya. Dan mengulang masa balita anak-anak dulu, setiap mobil konde yang terlihat akan dihitung. Hanya sayangnya, jelang seratus hitungan, biasanya kemalasan menghampiri. Salah hitung akibat macet atau gara-gara mobil konde yang sama terhitung lebih dari sekali.

 

Namun siang itu, berada di belakang sebuah mobil Fortuner yang berkonde mampu menghangatkan suasana dan memberi senyum lebar. Bagasi koper dan teman-temannya itu tampak dibungkus dengan plastik biru tua yang mungkin tidak rapat sehingga angin masuk dengan leluasa. Akibatnya selubung biru itu terlihat menggembung dan berkibar-kibar. Sekilas seperti buntelan atau mungkin orang bisa menganggap mereka membawa kerupuk dalam jumlah besar. Persepsi absurd antara gembung berkibar konde bagasinya serta nilai mobil yang pasti tidak murah itu memang bisa menghangatkan suasana. 😀

Senyum lebar semakin terasa ketika memasuki kamar hotel di kota yang berjuluk kota udang itu. Terbelalak mata kami melihat kamar yang sangat luas, bahkan terlalu luas untuk ukuran dua manusia dewasa Indonesia. Entah strategi hotel agar tidak terlihat terlalu lapang atau memang sesuai dengan brand mereka, di kamar disediakan sofa yang berbentuk setengah lingkaran. Ah, sofa melengkung yang muat sepuluh manusia ini terasa memenuhi ruang. 😀

Dan terjadi lagi rencana tinggal rencana, awalnya ada keinginan untuk mengunjungi obyek-obyek wisata di Cirebon, namun semua tak terwujud hanya karena waktunya tak lagi tepat. Tapi bukankah selalu ada lain kali agar bisa kembali ke Cirebon?

Menuju Semarang Yang Dulu Menyesatkan Dunia

Kebahagiaan liburan tak kunjung berakhir. Kendaraan melintas mulus di jalan tol Palimanan – Kanci dan berlanjut ke jalan tol Pejagan – Pemalang dengan kondisi yang jauh lebih baik daripada tahun kemarin. Melewati jalan tol ini, teringat akan tagar Brexit dua tahun lalu yang menjadi trending topic. Entah apa yang ada dalam pikiran orang-orang Inggris atau dunia yang saat itu sedang memikirkan dampak keluarnya Inggris dari Uni-Eropa, karena manusia Indonesia menggunakan tagar yang sama #Brexit untuk problem pemudik saat keluar dari tol Brebes, yang maksudnya adalah Brebes Exit.

Tahun ini, Brexit (Brebes Exit) terlihat sudah jelas rambu-rambunya. Di perjalanan terlihat pula KM 300 berarti sudah 300 km meninggalkan Jakarta melalui jalan tol, bahkan jika diteruskan pemudik bisa sampai Surabaya dengan melalui beberapa tol fungsional. Sungguh infrastruktur Indonesia tidak kalah dengan negeri seberang, apalagi bisa berkendara dengan pemandangan alam yang indah.

 

Akhirnya setelah bangunan tua legendaris Lawang Sewu terlewati, menginaplah kami di kawasan Simpang Lima kota Semarang, sebuah kawasan untuk menikmati kuliner yang menggoyang lidah. Bahkan sang suami sampai tergoda makan, dan makan lagi, karena semua yang ditelan terasa cocok dilidahnya. Bahagia itu sederhana, karena hotel dengan harga sangat terjangkau berjarak sangat dekat dengan semua resto berselera.

Akhirnya Menginap di Hotel Impian

Di hari ketiga liburan, berjarak hanya dua jam dari Simpang Lima, akhirnya saya menjejakkan kaki di hotel impian selama sedasawarsa. Begitu lama saya mengumpulkan mimpi, cita dan dana untuk bisa merasakan bermalam di tengah kawasan perkebunan kopi itu.

Dengan sebuah bangunan peninggalan Belanda sebagai pusat, dibangunlah beberapa villa untuk disewa sehingga dapat membiayai perkebunan kopi dan mendukung penghidupan masyarakat sekitarnya. Semua eksterior ditata cantik dan berkelas, menyegarkan rasa dan mata yang memandang. Rasanya seperti terbang ke masa sebelum negara kita merdeka namun fasilitas terbarukan.

8
Mesastila – A View from the Restaurant

 

9
Mesastila – the Infinity Swimming Pool

Villa dengan ranjang megah bertiang empat dan berhiaskan kain krem berlipit menjadikan suasana seperti kamar raja. Sebuah buket bunga cantik dengan nota khusus menyambut saya sekeluarga. Ah, rasanya terbang mendapatkan layanan begitu prima. Tak mungkin rasanya bila saya tidak mencoba free-spa yang diberikan untuk merehat sejenak kekakuan otot pundak.

Di kamar mandi tersedia semangkuk penuh helai bunga mawar sebagai pengharum saat berendam. Keindahannya tak berhenti disana. Dari ruang beranjangsana yang berjendela selebar kamar, terpampang pemandangan alam dengan pepohonan rindang bersaput gunung Andong yang memanjakan mata. Suasana yang begitu tenang, melupakan fakta bahwa sejatinya tempat ini hanya selemparan batu dari jalan raya penghubung kota Jogja dan Ambarawa.

 

Kolam renang dengan model infinity berhiaskan hijaunya pepohonan menjadikannya seperti oase natura. Rumput dan taman yang terpelihara serta suasana tenang yang terjaga, membuat nyaman melakukan yoga. Bahkan makanan sehat yang tersedia di restoran juga terasa nikmat di lidah. Dan bagaimana bisa saya tidak berjalan kaki berkeliling area untuk melihat perkebunan dan membaui harumnya kopi? Sejuk pula!

Tiba Giliran Untuk Yang Suka Serba Modern

Liburan keluarga berarti semua anggota harus gembira. Bahkan juga saat melalui jalan tol yang hari-hari belakangan ini menjadi perbincangan di dunia maya, karena ada  kendaraan yang tak mampu menanjak hingga seorang polisi datang mengganjal roda. Padahal saat kami melaluinya siang itu, sungguh tak terasa curamnya. Bagi saya, masih banyak jalan lain yang lebih curam dan mengerikan.  Tapi entahlah, kita tidak pernah tahu apa yang terjadi dalam mobil yang viral itu…

 

Jadi selepas hotel impian bagi saya di malam sebelumnya, maka selanjutnya untuk suami dan anak-anak sebagai penyuka semua hal bernada modern. Sebuah hotel baru yang mencakar langit menjadi tempat persinggahan di kota Solo, tempat berbaurnya nilai modern dan tradisional. Keindahan kota Solo dan Gunung Merapi serta Gunung Merbabu bisa disaksikan dari ketinggian lantai kamar yang berjendela lebar. Bahkan kamar mandinya pun berjendela lebar dengan pemandangan kota. Hanya saja, saya tak pernah berpikir untuk melihat indahnya kota selagi tak berbusana. Anda pernah?

Jogja, Kota dan Rumah Kita

Setelah empat malam berkeliling berbagai kota, akhirnya sampai juga di Jogja, kota sekaligus rumah, tempat hati berada, tempat kembalinya rasa. Dan sebagaimana rumah, dimana pun terasa damai sempurna. Kembali ke tempat penginapan yang sama, ke suasana yang sama, ke rasa yang sama tapi waktu yang berbeda.

Back again to Jogja
Back again to Jogja
17
Beauty during morning walk at Jogja
16
The morning light through the leaves

Dan suara takbir sudah menggema dimana-mana saat sampai di Jogja, menandakan Ramadhan mulia penuh berkah telah beranjak. Ada rasa kehilangan dalam jiwa, tapi juga bercampur rasa bahagia. Jogja, bagi saya, tak pernah berubah wajah rasa, selalu sama, selalu penuh cinta.

Pada Jumat penuh berkah itu, ikatan silaturahmi semakin kuat terasa saat seluruh keluarga berkumpul saling berbagi rasa, hanya ada tawa bahagia sebagaimana Almarhum Bapak yang bijaksana selalu berkata. Kekuatan keluarga hendaklah selalu menjadi prioritas utama, walau secara fisik tersebar di berbagai kota dari Tasikmalaya, Jakarta hingga Madinah. Tapi akhirnya seluruh keluarga pun terjerat pada aturan Sang Waktu, hakim penuh disiplin yang tak kenal kecuali. Ada saat jumpa, ada juga saat berpisah. Dan tak bisa tidak, seluruh anggota keluarga berlaku sama, mencoba memperpanjang acara berpamitan. The Long Long Goodbye…

Borobudur Yang Memanjakan Mata

Meninggalkan Jogja yang penuh cinta tetap saja memedihkan rasa, walau tujuan selanjutnya adalah Borobudur yang sudah terkenal seantero dunia. Kali ini bukan ke Borobudurnya, melainkan sebuah tempat dengan pemandangan Borobudur yang diselimuti awan berkabut dan gunung-gunung tinggi di sekitarnya.

Walaupun tidak mudah ditemukan, hotel ini sangat menggoda. Dengan kamar berkelas ditambah kolam renang pribadi yang infinity, dijanjikan Candi Borobudur tampak jelas sebagai pemandangan kamar. Bonusnya adalah Gunung Merapi, Merbabu dan Sumbing yang ikut mendekorasi alam. Hotel tidak mengatakan bahwa berjuta bintang tampak menghias langit malam. Dan semuanya terhampar bagi kami meninggalkan kesan mendalam.

20
Infinity private pool – Borobudur and Mt. Merbabu
19
The Borobudur view with mist from our room

Esoknya, sejak sinar awal menghias langit Timur, saya telah terjaga. Gunung Merapi dan Merbabu anggun berjajar di depan mata. Dan tak jauh di Utara, Gunung Sumbing memperlihatkan keindahannya. Perlahan mentari terbit memancarkan hangatnya cahaya, menghalau kabut-kabut yang menghias lembah-lembah dengan Borobudur di puncak seakan singgasana. Lukisan yang sangat indah dari Sang Pencipta. Sejuta rasa mampu mengharu biru dan bersyukur melihat keagungan Semesta.

Ah, pemandangan luar biasa yang memanjakan mata dengan harga yang relatif terjangkau itu benar-benar pengalaman liburan dengan warna spesial. It’s totally worth it!

Purwokerto Yang Menghidupkan Nostalgia

Dari Borobudur yang mempesona kota berikutnya adalah Purwokerto. Bagi saya pribadi, Purwokerto selalu menghidupkan nostalgia sebab disini merupakan destinasi utama saat melakukan perjalanan darat bersama ayahbunda berdekade-dekade lalu. Bau khas rokok klobot, bunyi penjual sate sapi yang khas dan bangunan lama yang sekarang sulit ditemui mampu membuat saya merindu dan menggambar di benak secara jelas semua yang dirasa saat kecil dahulu. Indah!

Dan tak berlebihan jika di setiap jaraknya, setiap nama desanya, terasa begitu familiar di kepala, dengan bahasa yang ngapak-ngapak membuat tawa, selalu menghangatkan rasa. Tidak heran, leluhur saya memang mengakar disini.

Kembali ke Cirebon Sebelum Ke Jakarta

Lalu lintas tak dapat diduga, macet panjang menghias jalan sejak Purwokerto, tak pelak kami kembali ke kota Cirebon untuk melepas malam. Namun tak ada kebetulan. Desa-desa di pegunungan dengan pemandangan indah jadi dilalui tanpa rencana. Sawah hijau menghampar, mega berarak di puncak bukit. Bukankah ini berkah? Semua tidak akan terlihat jika perjalanan hari itu normal. Dan sungguh, hari berikutnya saat menuju Jakarta, perjalanan tambah dimudahkan dengan pembukaan jalur satu arah. Semuanya jalan serasa membuka.

Ketika kembali menjejak rumah, hanya ada rasa gembira dan bahagia, rasanya berkah tumpah ruah, tak bisa tidak, perjalanan ini seperti merajut Cinta sepenuh rasa.

2 tanggapan untuk “Lebaran, Mengukur Jalan, Merajut Cinta

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.