D-3 Trekking di Nepal – Dihajar Hujan Es


There are no mistakes or failures, only lessons –  Denis Waitley

Setiap langkah trekking membawa saya pada berbagai pembelajaran. Setiap hari bertambah pengalaman yang memperkaya rasa, tentang kekuatan diri, tentang warna orang-orang yang menolong, tentang tanggung jawab, keberanian, juga pembelajaran dari alam, dan tentu saja kebaikan hati.

Menghargai Kekuatan Diri Manusia

Penginapan bertingkat itu sudah sepi ditinggalkan para trekker sejak pagi menyisakan kami yang merupakan rombongan terakhir. Sedikit sendu saya melangkah menuju halaman, meninggalkan tempat yang mengukir kenangan tak terlupa tentang sebuah pemberontakan isi perut (baca cerita soal itu). Saya hanya perlu belajar lebih mengenal diri sendiri. Tidak ada kesalahan atau kenangan buruk, semua akan menjadi cerita indah sebagaimana saya juga siap menerima cerita-cerita lain di tempat baru di hari ketiga trekking ini.

Sambil menunggu Dipak menyelesaikan administrasi, di halaman saya menyaksikan Pak Ferry mencoba menjadi porter seperti Kedar, dengan meletakkan pusat tali yang mengikat tas bagasi besar yang sangat berat itu di kepalanya. Berhasil, bahkan pak Ferry juga berhasil berjalan dari ujung ke ujung halaman. Sebenarnya saya kuatir akan kekuatan leher dan kepalanya. Jika ada apa-apa dengannya, bagaimana saya harus cerita kepada keluarganya?

Try to be a porter

my friend tried to be a porter (photo credit to Pak Ferry’s)

Saya tak menyadari kehadiran Dipak yang tersenyum lebar menyaksikan unjuk kekuatan di halaman itu. Pak Ferry yang mukanya memerah akibat mengangkat tas bagasi, mengakui beratnya tas untuk dibawa orang normal apalagi dengan menggunakan kekuatan otot leher. Ah, sebagai perempuan satu-satunya dalam rombongan kecil, saya menggeleng-gelengkan kepala sambil mencoba memahami apakah semua laki-laki itu perlu kesempatan untuk bisa unjuk kekuatan fisik? 😀

Namun, pertunjukan sesaat itu membuat saya semakin menghargai pekerjaan Kedar, porter kami untuk trekking kali ini. Dia, yang menurut Dipak berasal dari keluarga tak mampu, hanya bisa mengandalkan kekuatan fisiknya untuk berjalan membawa beban mengikuti alur gunung dengan pakaian dan sepatu seadanya, hanya untuk mendapat sedikit uang. Banyak trekker tak ingin menggunakan jasa porter karena merasa tak memerlukannya, padahal dengan menggunakan jasa porter, trekker telah membantu secara langsung sebuah kehidupan di Nepal.

Ketiga sahabat seperjalanan mulai melangkah pergi, saya sejenak menoleh ke belakang, membisikkan kata perpisahan pada tempat yang menjadi saksi diam keindahan Himalaya. Entah kapan saya bisa kembali lagi ke tempat ini.

Dalam beberapa saat kami berjalan mendekati batas desa karena bangunan semakin jarang dan  akhirnya terlihat sebuah gapura. Saya kembali berfoto disitu. Kali ini untuk meninggalkan Ghorepani.

Our Porter waiting in the Ghorepani's Gate

Our Porter waiting in the Ghorepani’s Gate – See You Again…

 Sebuah Tanggung Jawab

 “Where is your trekking pole?”, tanya Dipak mengejutkan setelah berjalan santai sekitar sepuluh menit.

Rasanya seperti ketahuan menyontek saat ujian, saya langsung berdiri diam membeku. Trekking pole merupakan benda pinjaman dari agen trekking dan menjadi tanggung jawab saya selama trekking. Kini benda itu tidak di tangan padahal saya biasa menggunakannya selama berjalan. Untungnya otak masih cukup bagus untuk mengingat tempat terakhir saya meletakkannya. Pasti di sudut kamar. Merasa bersalah, saya katakan tempatnya sambil balik arah untuk mengambilnya tetapi Dipak mencegah. Ia akan mengambilnya dan meminta saya berjalan terus karena ia bisa menyusul. Rasanya saya terjun bebas ke jurang, malu dan tak enak hati, ini benar-benar sebuah keteledoran!

Sambil mengutuk diri, saya terus berjalan menuju rindangnya hutan rhododendron yang berdaun hijau karena musim bunga sudah berlalu. Terlintas di benak anjuran untuk forest bathing, -bukan mandi di tengah hutan-, melainkan menikmati jalan-jalan di hutan yang katanya bisa menurunkan stress. Mungkin benar karena memang nyaman jalan-jalan di hutan. Tapi untuk situasi saya  saat ini? Ugh…

Belum lama berjalan di hutan, Dipak sudah menyusul lalu menyerahkan trekking pole yang tertinggal itu. Malu ditambah rasa bersalah, saya mengucapkan terima kasih kepadanya. Rasanya seperti menghujam ke inti bumi. Ironis sekali, berada di dalam hutan rindang yang katanya bisa menurunkan stress tapi saya menerima barang, -yang merupakan tanggung jawab saya-, dari seseorang yang bersedia mengambilnya kembali hanya karena saya LUPA! Sepertinya guilty feeling itu menaikkan stress.

A Horse in tranquility

A Horse in tranquility

Kegembiraan trekking

Bagaimanapun semua sudah terjadi dan saya harus meneruskan perjalanan menuju perbukitan yang lebih terbuka. Kami bertemu dengan tiga trekkers yang datang dari arah berlawanan, yang meminta kepastian arah menuju Ghorepani. Wajah mereka bahagia karena jalurnya menurun, berlawanan dengan jalur kami yang masih terus menanjak walaupun lebih landai daripada hari sebelumnya. Dua sahabat seperjalanan, Pak Ferry dan Kedar, terlihat gembira untuk berlomba mencapai puncak bukit, entah siapa yang menang. Saya sendiri, seperti biasa, menjadi buntut. Di sisi kanan, Dipak duduk di batu tampak bahagia bisa menelepon. Bahagia itu memang sederhana…

The trekking path

The trekking path

Sambil mengatur napas karena jalannya menanjak, saya mengerahkan daya untuk merekam suasana sekitar yang menenteramkan ke dalam jiwa. Alam itu sangat indah. Saya melihat Dipak yang sudah menyusul lalu berteriak menyemangati dari puncak bukit. Last Ukalo, katanya, yang berarti tanjakan terakhir. Yeeiy…

Akhirnya di puncak bukit itu saya mendapati Pak Ferry tidur dengan buku menutupi wajahnya. Bahagianya! Kedar dan Dipak mengobrol sambil mengunyah kurma dari Pak Ferry dan membuang bijinya ke semak-semak sekitar. Mungkin sekian tahun lagi akan tumbuh pohon kurma di pegunungan Himalaya 😀

Dihajar Badai dan Hujan Es

Rehat bubar karena kabut turun dengan cepat. Segera saja Kedar dan Pak Ferry tancap gas meninggalkan saya yang menyempatkan mengambil foto kabut menyelimuti kawasan dengan jurang di kanan dan tebing di kiri. Dipak meminta saya bergegas melihat cuaca yang mulai tidak bersahabat. Rasa kuatir di wajahnya membuat saya mematuhinya, mempercepat langkah ke Deurali.

Guntur menggelegar, mengikuti kilat yang datang terlebih dahulu. Jeda diantara keduanya masih cukup jauh, walaupun saya tetap harus waspada berjalan dengan tebalnya kabut. Namun selaras dengan waktu, kilat dan guntur pun semakin sempit jedanya dan semakin sering terdengar dan akhirnya hujan pun jatuh. Cukup deras! Di depan mata hutan kembali menghadang. Aduh…

Walaupun jalannya lebih landai, beberapa kali saya hampir jatuh tersandung akar-akar pohon yang mencuat ke permukaan tanah. Untung trekking pole cukup kuat menopang saya walaupun di beberapa tempat yang terjal Dipak sampai harus mengulurkan tangan untuk membantu. Dasar saya orang kota, -yang tidak terbiasa jalan di hutan, kehujanan, dingin lagi-, beberapa kali saya ‘telmi’ untuk menapakkan kaki terutama di turunan terjal. Sepertinya saya terlalu banyak berpikir, padahal kaki sudah mengarah yang benar tetapi pikiran saya menghentikannya. Kaki dan pikiran tidak seirama. Pelan-pelan saya mencoba menyelaraskan pikiran dengan irama kaki. Saya belajar untuk mempercayakan keselamatan tubuh kepada irama kaki dan hei… langkah menjadi lebih ringan. Ah, kadangkala alam membiarkan saya belajar pada waktu yang aneh. Hujan-hujan begini, di hutan lagi…

Jas hujan yang menutupi setengah badan, membasahi bagian bawah celana trekking yang baru saja saya ganti di Ghorepani. Untungnya, kaki dalam sepatu tetap kering. Saya teringat saat membeli sepatu beberapa waktu sebelumnya. Penjual sepatu itu menyarankan yang waterproof walaupun tidak keren dan sedikit mahal. Tak sadar saya tersenyum dalam hujan, berterima kasih pada penjual sepatu karena saat ini terbukti ucapannya.

Di hutan yang agak terbuka saya baru tersadar, sebenarnya yang menerpa kami di menit-menit terakhir adalah hujan es, bukan hujan biasa. Ya benar, hujan es! Butiran-butiran es itu terasa saat jatuh di jas hujan. Dalam keadaan itu, saya berhenti sejenak sambil mengangkat lengan ke atas dan menyaksikan butiran es itu jatuh di lengan dan bergulir. Walaupun cukup kedinginan, saya terpesona. HUJAN ES! Dipak tertawa melihat saya seperti anak kecil yang baru pertama kali merasakan nikmatnya mandi hujan.

Deurali Yang Hangat

Tak sampai satu jam, rumah pertama di Deurali, destinasi kami, sudah terlihat. Dan kami berhenti di sebuah penginapan sederhana di tengah desa yang di pintunya berdiri Pak Ferry dan Kedar. Selama kurang dari dua puluh empat jam ke depan, penginapan sederhana ini akan menjadi tempat persinggahan kami.

Penginapan di Deurali ini berpusat di sekitar tungku. Saya meriung bersama sahabat seperjalanan di depan tungku menghangatkan badan. Sepatu, kaos kaki juga berjejer rapi di lantai dekat tungku. Kakek pemilik rumah tampak nyenyak tertidur di pembaringan depan tungku. Saya sedikit iri padanya, bisa terus tidur tanpa terganggu oleh kehadiran kami. Rasanya pasti hangat dan nyaman.

Saat meriung itulah kami berbagi cerita saat melewati hujan es. Ternyata Pak Ferry melewati badai hujan es sendirian. Kedar ternyata tidak dapat dikejar olehnya. Masih beruntung ia berpengalaman menjelajah gunung-gunung di Indonesia dan terus berjalan menembus hutan karena jalan setapak cukup jelas terlihat. Saya menggeleng-gelengkan kepala membayangkan saya sendirian menembus hutan dan kedinginan… hiiii…

Di penginapan sederhana itu, saya juga bertukar ‘sapa’ dengan seorang kerabat pemilik rumah. Walau ia tunawicara, ia sangat baik terhadap saya. Di saat seluruh sahabat seperjalanan harus bergantian charging ponsel di tempat yang terbatas, ia memberi saya secara personal tempat lain yang lebih banyak. Ia tersenyum lebar melihat kegembiraan saya saat ponsel aktif kembali. Tunarungu bukan berarti kehilangan kebaikan, kan?

*

Cuaca hari itu tetap sendu hingga malam, jadi kami hanya bertukar cerita di depan tungku sampai jelang waktu tidur. Di kamar, sebelum terlelap saya merenung hari yang sungguh luar biasa, pengalaman diterpa hujan es, berteman dan ditolong oleh orang-orang luar biasa. Setiap detiknya yang penuh dengan keluarbiasaan. Di tempat-tempat sederhana ini, saya terus diperkenalkan dengan indahnya hidup. Walau jauh dari rumah dan keluarga, di ketinggian pegunungan Himalaya yang dingin, saya aman berada di dalam sebuah rumah yang hangat dengan orang-orang yang memiliki kepribadian hangat. Dia memang tak pernah meninggalkan saya dalam kesendirian, selalu melimpahkan berjuta kebahagiaan…

(bersambung)

Iklan

8 pemikiran pada “D-3 Trekking di Nepal – Dihajar Hujan Es

  1. Bicara soal porter, jadi mengingatkan saya sama perempuan-perempuan tangguh yang jadi porter saya dan James waktu perjalanan kami di selatan Cina. Waktu itu kami mau lihat rice terraces yang konon sangat luas itu, membentang dari satu lembah ke lembah lainnya. Tapi medan menuju penginapan kami cukup terjal. Waktu itu kami dikerubutin sama perempuan-perempuan lokal yang memang berprofesi sebagai porter. Di satu sisi saya gak tega, tapi di sisi lain saya tau mereka melakukan itu karena membutuhkan uang. Akhirnya saya pun merelakan satu tas backpack saya yang besar diangkut seorang perempuan paruh baya yang mengalungkan kain di keningnya. Dia mengandalkan kekuatan otot lehernya. Luar biasa memang perjuangan hidup manusia yang hidup di medan menantang seperti ini.

    Disukai oleh 1 orang

    • Saat saya trekking, saya juga bertemu dengan perempuan-perempuan tangguh itu dengan beban besar yang juga cara bawanya juga sama. Saya juga belajar saat itu untuk selalu melihat depan belakang kiri atau kanan, minimal supaya tidak menghalangi perjalanan mereka. Dan mereka masih sempat memberi salam Namaste… ugh, rasanya…. wow banget…
      BTW… Selatan China?? Aku mengingat2 postingan mas Bama tentang itu…..

      Suka

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.