Nepal – Merasakan Rehat di Surga Bumi


This is the place where time stands still… (itu istilah saya tentang hotel tempat saya menginap di Pokhara)

Taksi mungil itu berhenti tepat di bawah tangga natural. Pemandangan sekitar menakjubkan, tetapi tak ada manusia lain selain sang pengemudi taksi dan saya. Lalu dimana hotelnya? Belum sempat bertanya, Bapak tua pengemudi taksi telah menghubungi hotel dan dalam waktu singkat seseorang berperawakan tinggi turun tergopoh-gopoh dari atas, sepertinya petugas hotel. Dengan cekatan ia mengambil ransel lalu meletakkan di punggungnya lalu mempersilahkan saya jalan duluan.

Wait….! Seperti yang tertulis di situs web Raniban Retreat, semua tamu harus menapaki 500 anak tangga untuk sampai ke hotel.

500! *langsungpingsan

Kalau saja kolega di kantor tidak merekomendasikan tempat ini, kalau saja review hotelnya biasa-biasa saja, mungkin saya akan langsung pindah ke hotel lain di tepi danau Phewa di Pokhara. Jumlah 500 anak tangga itu kalau dikonversi normal laksana naik tangga ke lantai 25!

Ah, betapa saat ini saya sangat merindukan ekskalator! Atau tandu 😀

Tapi apapun yang terjadi, saya sudah berdiri disini. Pilihannya hanya satu: Terus, yang artinya naik, karena pilihan kedua untuk balik arah lalu menyesal, bertentangan dengan makna perjalanan saya hingga hari ini.

Bahkan setelah berlimpah anugerah selama ini, sekarang inipun saya masih diberikan sebuah anugerah lain dalam bentuk tantangan. Menaklukkan kemalasan bergerak. Dan kesempatan ini hadir sekarang di depan mata. Bukankah sebuah perubahan dimulai dari sebuah langkah kecil? Dan bukankah kita tak perlu melihat keseluruhan tangga untuk mewujudkan keinginan kita? *halah..

Saya mulai melangkah, menapaki anak tangga satu per satu dan tentu saja dalam waktu singkat rasanya sudah kehabisan nafas. Saya mengomel dalam hati merasa kebiasaan naik tangga enam lantai di kantor pun masih belum cukup, walaupun lebih baik daripada tidak sama sekali. Minimal setiap seratusan anak tangga saya bisa rehat sejenak mengumpulkan tenaga. Setahap demi setahap. Tak perlu memaksakan diri, daripada pingsan seperti dulu di tangga Bromo atau di tangga menara masjid Banten hanya gegara sok kuat 😀

Tapi Bapak setengah baya itu amatlah sabar menemani saya. Dia hanya tersenyum penuh pengertian ketika untuk kesekian kalinya saya meminta waktu untuk rehat di dekat sebuah tempat pemujaan. Bisa jadi ia telah menemani begitu banyak tamu yang memiliki kemampuan yang berbeda-beda untuk menapaki 500 anak tangga itu. Bisa jadi banyak yang memiliki stamina bagus dan juga tidak sedikit yang lamban laksana kura-kura seperti saya. Hebatnya, tak sekalipun ia mau mendahului tamunya.

Ia hanya merekomendasi untuk sesekali melihat ke belakang. Dan saya berbalik…

p1010627

Phewa Lake and City of Pokhara

p1010630

Half way up to the Hotel with World Peace Pagoda and City of Pokhara on the background

Dan pemandangan itu memang menakjubkan, kota Pokhara di tepi danau Phewa terhampar di hadapan.

Ketika tenaga sudah kembali, saya lanjut menapaki tangga hingga gerbang hotel terlihat. Ah, masih 100 anak tangga lagi! Merasa tinggal tahapan terakhir, saya melanjutkan langkah dengan nafas yang tinggal Senin-Kamis dan… akhirnya 500 anak tangga itu berhasil saya lampaui. Horeee…!

Di lobby, saya tidak langsung menuju konter untuk check-in karena masih berupaya memasukkan lebih banyak oksigen ke paru-paru agar bisa ‘hidup’ secara normal lagi. Tetapi karena tidak ada tamu lain, petugas di balik konter itu dengan ramah bertanya untuk proses check-in. Bagaimana mungkin orang yang kehabisan nafas bisa menjawab pertanyaan sederhana? Kecuali menjawabnya dengan bahasa tangan…

…Hah… Sebentar… Hah… Tunggu … Hah… 1 menit… Hah… *megap-megap

Mereka semua tersenyum lebar, memahami. Mungkin terbiasa menghadapi tamu yang kehabisan nafas di area lobby. Mereka menunggu dengan sabar sampai saya bisa ‘normal’ kembali untuk check-in lalu mengantar ke kamar saya. Kamar berpintu kaca lebar dengan pemandangan langsung kota Pokhara di tepi Danau Phewa di bawah dan pegunungan Himalaya berpuncak salju dengan Macchapuchhre (Fish Tail) didepan mata, berhiaskan taman bunga di depan kamar. SubhanAllah… Inilah yang disebut Heaven on earth!

img_0791

Phewa Lake and the City of Pokhara – view from the small garden in front of my room

Tak menunggu lama, saya menyalakan musik di ponsel dan ikut menggoyangkan badan menyaksikan pemandangan di depan mata ini.

… I’m on Your magical mystery ride

And I’m so dizzy, don’t know what hit me, but I’ll be alright…

Dengan pemandangan seperti ini, rasanya naik lebih dari 500 anak tangga pun tidak akan menyesal.

img_1014

Annapurna and Machhapuchhre (Fish Tail) on the center – view from the garden in front of my room

Di taman depan kamar berhias bunga-bunga kuning, saya duduk diam, do nothing, menikmati rehat dipeluk keindahan alam. Melupakan sebuah kota yang baru didatangi tapi tak kunjung dijelajahi. Saya berada di surga bumi karena indahnya tak berakhir, seakan waktu membeku, turut menjadi saksi keagungan Ilahi. Bahkan setelah beberapa waktu pun saya masih di tempat yang sama sampai seorang perempuan dari hotel datang membuyarkan rasa sambil menyatakan kesiapannya memberi layanan spa.

img_0797

Phewa Lake and the City of Pokhara – a night view from the hotel

Bagi saya, memanjakan diri di tempat yang indah merupakan sebuah proses recharge yang luar biasa. Lagi-lagi saya hanya mengikuti hati, apa yang terjadi di hadapan itulah yang saya terima dengan senang. Bisa jadi kali ini Dia meminta saya untuk diam beristirahat dan menyaksikan…

You wanna make a memory
You wanna steal a piece of time
You can sing the melody to me
And I can write a couple of lines

Tidak hanya itu, Ganga, -manajer hotel-, bahkan menjadi teman ngobrol yang asik untuk menghabiskan waktu di Raniban Retreat, dengan berbagai topik pembicaraan yang menarik dari kebun organik, pengobatan gratis hingga pemanfaatan energi surya untuk listrik hotel. Dengan semangat ia menceritakan hotel unik yang eco-friendly ini hingga bisa memberdayakan masyarakat lokal yang bermukim tak jauh dari hotel bahkan tamu-tamu hotel bisa diajak melihat langsung kehidupan mereka.

Dan keinginan kecil saya keluar dengan sendirinya. Sebenarnya saya hanya memesan semalam di Raniban Retreat dan keesokan harinya saya akan pindah ke Sarangkot untuk mendapatkan mountain view lebih dekat. Tetapi merasakan sendiri kesenyapan yang ada di Raniban Retreat yang sangat saya, akhirnya saya memutuskan untuk memperpanjang sehari lagi di Raniban Retreat ini. Bahkan Ganga memberikan diskon besar untuk itu 😀

Walaupun udara dingin menyelimuti pagi itu, saya tetap menanti sunrise di taman bunga di depan kamar saya di Raniban. Rasanya tak mampu mengungkapkan keindahan alam yang ada di hadapan, dada terasa sesak ditambah airmata yang mengaburkan pandang. Tak henti rasanya mengucap syukur kepada Pemilik Semesta yang telah memberikan kesempatan menjadi saksi keindahan alam.

img_0811

The first silhoutte of Annapurna Range, Mt. Macchapuchhre (Fish Tail)

img_0816e

The first sunlight over the peaks of Annapurna Range on a misty morning

img_0984

Annapurna Range with Mt. Macchapuchhre (Fish Tail)

Himalaya berbaris dengan cantiknya di atas lautan gerombolan awan putih yang pekat menggantung menutupi Danau Phewa dan kota Pokhara. Puncak-puncak gunung Annapurna dan Macchapuchhre yang tingginya sekitar 7000-an meter dan tertutup salju abadi itu perlahan-lahan tampak bersinar terkena matahari pagi. Di hadapan mata ini ada doa yang terkabulkan karena Himalaya menampakkan diri di balik sifat pemalunya. Kesenyapan pagi menambah magisnya suasana. Burung-burung pagi terbang memperkuat lukisan pagi.

Di arah timur, Sang Surya perlahan naik dengan gagahnya, menyapu lembut lapisan-lapisan awan yang bergerak menyelimuti bukit dengan World Peace Pagoda di puncaknya. Sebuah peristiwa menyambut pagi terbaik yang pernah saya alami.

img_0826

World Peace Pagoda on hilltop, view from right side of my room

p1010640

The magical moment – The Sun, Sea of clouds and World Peace Pagoda

p1010641

Morning has broken – the sun over World Peace Pagoda and sea of clouds

Pagi hari itu berkunjung dengan kegembiraan tak hingga. Ganga menemani saya menikmati sarapan yang tersedia di rooftop dengan pandangan 360 derajat yang menakjubkan. Saat itulah saya mengatakan kepadanya, this is the place where time stands still…

p1010700

Panorama View from my room – Himalaya (behind the clouds on the left) and World Peace Pagoda on the right

*

Di dunia ini tidak ada yang tak berakhir, juga istirahat saya di Raniban Retreat ini. Telah sampai waktu untuk melanjutkan perjalanan. Ransel sudah siap di punggung, saya menatap World Peace Pagoda yang cantik di atas bukit. Keindahan lukisan alam yang tak terlupakan.

p1010722

Sea of clouds in the morning and World Peace Pagoda, Raniban, Pokhara, Nepal

Lalu saya menoleh ke barisan pegunungan bertudung salju. Macchapuchhre di depan mata. Sekali lagi doa yang terkabulkan, karena saya meminta kepadaNya agar dapat melihatnya sebelum merambah ke wilayah Terai. Memohon sekali lagi setelah pagi tadi ia menampakkan keagungannya seperti kemarin. Dan kini ia menepiskan awan-awan yang menyelimutinya, membiarkan puncak yang tak pernah ditaklukan terlihat oleh hati yang meminta. Saya mengucapkan kata perpisahan kepadanya dan kepada gunung-gunung di Annapurna. Selama dua hari puncak-puncak itu tak malu menampakkan diri yang luar biasa dan entah kapan saya bisa menjejak disana, di Annapurna…

peaks

Annapurna Range and Mt. Macchapuchhre (center)

*

Baca di sini Rangkuman dan Seri perjalanan di Nepal

Iklan

18 pemikiran pada “Nepal – Merasakan Rehat di Surga Bumi

  1. Gak sia-sia usaha Mbak Riyanti menaklukan 500 anak tangga. Pemandangannya itu lho.. menakjubkan! Foto World Peace Pagoda yang berselimut awan itu bener-bener magical mbak. Indah, damai, agung, misterius, berbagai kata bisa menggambarkan foto itu.

    Suka

  2. Aduh, ini namanya mah benar-benar menginap di atas awan. Ada awan yang berarak di bawah lurus pandang orang yang ada di sana. Berapa ketinggian hotel ini dari permukaan laut? Sungguh suasana pagi yang tidak biasa, menyaksikan semuanya disaput awan, dan punya semua jenis pemandangan dari yang tak tampak karena kabut, kabut tipis, sampai cerah sepenuhnya. Benar-benar sebuah anugerah ya. Dan di sana ada bunga marigold alias gumitir, bunga yang tak mau memuja meskipun sangat dekat dengan penguasa Kailasa, hehe. Bagaimana ya gumitir di ketinggian seperti itu.

    Disukai oleh 1 orang

    • Asyik ya Gara… sebenernya ga tinggi2 amat sih hotelnya, cuma sekitar 1500mdpl tp mungkin terpengaruh oleh danaunya. Makanya saya ga habis2 deh menikmati pemandangan disitu. Bersyukur banget bisa berkesempatan berada disana.
      BTW, bunga marigold itu emang ada dimana2 di Nepal, banyak banget di depan tempat2 pemujaan. Aku juga dapat sekalung waktu ke Changu Narayan temple…

      Suka

please... do let me know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s