Nepal – Berlimpah Anugerah Menuju Pokhara


Begitu menutup pintu mobil, taksi mungil itu langsung melesat meninggalkan Bhaktapur menuju bandara Tribuvan seakan tak memberikan kesempatan kepada saya untuk mengucapkan “Sampai Jumpa Lagi” kepada kawasan yang telah menorehkan pengalaman penuh bahagia ini. Saya memejamkan mata, sesaat saja, membiarkan diri memeluk rasa bahagia pernah begitu menyatu di Bhaktapur, lalu rasa itu harus saya lepaskan kepada pemiliknya. Saya juga dimakan Sang Waktu yang tak pernah berjalan mundur.

Kali ini tidak seperti déjà vu, karena saya memang kembali ke Bandara Tribhuvan di Kathmandu, seperti saat melakukan Everest experience flight kemarin. Tiga hari berturut-turut berada di bandara yang sama, hanya beda terminal, mungkin bisa disebut dengan frequent-flier in 3 days! Saya turun dengan ransel di punggung menuju gedung terminal yang masih direnovasi lalu  secepatnya melakukan check-in. Berbeda dengan kemarin saat melakukan kesalahan hingga ditegur para laki-laki, kali ini saya memasukkan tas tangan ke jalur perempuan lalu mencari tempat duduk di ruang tunggu. Saya menunggu hingga waktunya boarding namun tidak ada penjelasan hingga akhirnya pengumuman itu keluar. Penerbangan ditunda 1 jam! Lalu 30 menit lagi… Tetapi ah, saya sedang dalam perjalanan hati. Apapun yang terjadi harus diterima dengan keterbukaan. Siapa tahu saya diselamatkan dari keburukan. Hanya perlu menambah sabar kan?

ktm-airport

Tribhuvan Airport, Domestic Terminal, Kathmandu

Ruang tunggu bandara itu penuh, kebanyakan terdiri dari penumpang lokal walaupun disana-sini ada tubuh tinggi berambut pirang dengan penampilan yang siap menjelajah gunung-gunung tinggi yang bertebaran di Nepal. Kebanyakan mereka ke Lukla, sebagai awal langkah menuju Everest. Tak banyak turis yang memilih terbang ke Pokhara, mereka biasanya telah terangkut di dalam bus-bus turis yang berangkat pagi dari Kathmandu.

Lamanya perjalanan dari Kathmandu ke Pokhara melalui jalan darat, -walaupun katanya pemandangan alamnya indah sekali-, membuat saya mengambil keputusan untuk terbang. Menghemat waktu adalah penting bagi saya sehingga waktu cuti dapat dimanfaatkan secara maksimal, walaupun untuk itu saya harus merogoh kocek lebih dalam.

Panggilan boarding yang ditungu-tunggu akhirnya terdengar juga. Seluruh penumpang terlihat lega dan bergegas menuju bus pengangkut yang membawa ke pesawat ATR72 Buddha Air itu. Pesawat bermesin baling-baling itu dimasuki dari belakang sehingga saya yang mendapatkan tempat duduk di lorong bagian depan, harus mengantri dengan sabar, mendahulukan para penumpang bisnis yang duduk di bagian belakang yang saat itu kebanyakan terisi oleh kelompok tinggi besar berambut pirang dan para pebisnis Nepal.

Setelah menempati tempat duduk, penumpang yang duduk di depan saya membuat sedikit kegaduhan. Mereka mendapat nomor terpisah dan ingin bertukar tempat duduk karena merupakan pasangan suami isteri. Sang suami mendapat nomor jendela tepat di sebelah saya dan sang isteri tidak bersedia duduk bersebelahan dengan laki-laki yang bukan suaminya. Saya sekilas melihat pria yang telah bersedia memberikan tempat duduknya demi pasangan suami isteri itu, beliau tak lagi muda tapi ada keramahan diparasnya. Kegaduhan di depan saya menyurut namun beliau tetap berdiri di lorong.

Dengan sedikit ragu, pak tua berwajah ramah itu menyapa saya, meminta maaf.

“Could you do a favor for me? I could not sit there, on the window-seat; I prefer on the aisle”

Saya melihat cepat kepadanya, entah apa, ada sesuatu yang tak dapat dijelaskan, sesuatu yang ditutupi. Hanya saja beliau tetap tak bersedia untuk menempati tempat duduk yang ada di jendela. Sementara saya yang sudah benar dengan nomor tempat duduk tiba-tiba menjadi pusat perhatian karena ada penumpang yang masih berdiri dan melihat saya. Seakan-akan saya salah menempati tempat duduk.

Kejadian begitu cepat, saya harus mengambil keputusan. Saya tak meminta nomor lorong, bahkan sebenarnya di hati terdalam, saya menginginkan nomor jendela. Dan kini nomor itu diberikan kepada saya, lalu mengapa saya harus berpikir dua kali?

Tetapi begitu naïve-nya saya, saya masih bertanya meminta persetujuan kepada orang itu sambil tangan menunjuk ke samping, “so, is it okay if I take the window seat?”

Dia tak menjawab tapi ada senyum lebar berkembang menghias wajahnya. Ada semacam kelegaan besar. Tak sampai sedetik saya langsung bergerak berpindah. Rejeki tak boleh ditampik! Tempat duduk di jendela dengan pemandangan pegunungan Himalaya bertudung salju sepanjang penerbangan! Diberikan gratis lagi!

p1010595

Himalaya

Selagi pesawat melakukan persiapan lepas landas, saya terdiam dalam hening. Anugerah lagi. Memang terbersit keinginan untuk duduk di kursi dekat jendela karena saya suka dengan pemandangan Nepal, tetapi jika tak bisa ya tidak mengapa. Lalu mengapa ada pasangan yang terpisah tempat duduk dan ngotot ingin duduk bersama lalu ada orang baik hati yang bersedia bertukar tempat dan apapun alasannya dia bahkan memberikan kursi jendelanya kepada saya. Ah, Tuhan Yang Maha Baik memang selalu punya caraNya sendiri untuk melimpahkan anugerah kepada yang diinginkan walau harus melalui beberapa orang lainnya. Mereka telah menjadi saluran berkah untuk saya. Semoga hidupnya berlimpah kebaikan…

Di atas lembah Kathmandu, bapak tua baik hati di sebelah saya itu membuka percakapan awal. Ternyata beliau bukan orang sembarangan, beliau seorang pensiunan tentara Inggris yang selama ini ditempatkan di banyak negara persemakmuran di Asia. Dan alangkah terkejutnya saya, ketika ia mengetahui saya berasal dari Indonesia, ia membuka percakapan dalam bahasa Indonesia dengan sedikit dialek Melayu.

“Apa kabar. Maaf bahasa Indonesia saya tidak baik, banyak sudah lupa”

Saya tersenyum lebar, tidak setuju dengannya karena menurut saya, bahasa Indonesianya bagus. Saya terkejut, sekaligus bangga dan kagum, rasanya aneh, campur aduk. Siapa sangka, di ketinggian dua puluhan ribu kaki di atas kawasan Himalaya yang jauh dari Indonesia, saya diajak berbicara dalam bahasa Indonesia oleh penutur asing, bukan penutur asli. Bahasa Indonesia campur dialek Melayu dan bukan bahasa Inggeris! Kemungkinan terjadinya sangat amat kecil sekali dan tentu saja, saya merasa sangat  berbahagia bisa mendapatkan kesempatan itu. Sungguh tak terduga. Lagi-lagi, Dia Yang Maha Baik telah melimpahkan anugerah kepada saya berupa kemudahan berbahasa ibu. Bisa jadi Dia menginginkan agar saya merasa kenyamanan berada di rumah. At Home… Bukankah ada pepatah Home is where the heart is..?

Perjalanan ini sungguh memperkaya jiwa, Oh I’m so blessed…

p1010605

Himalaya with Clouds

Namun pembicaraan tetap saja memiliki jeda sehingga memungkinkan bagi saya untuk menikmati pemandangan diluar jendela, barisan pegunungan berselimut salju abadi yang tadinya terlihat samar kini seluruhnya telah tertutup awan. Hanya puncak tinggi dengan salju abadinya terlihat serupa dengan awan-awan putih tebal yang memenuhi pandangan mata. Di bagian depan, deretan pegunungan yang menjadi pagar dari pegunungan Himalaya atau dikenal dengan Mahabharat Range itu mengumbar keindahan lembahnya yang meliuk-liuk. Sepertinya Dia Yang Maha Kuasa sedang tersenyum ketika menciptakan bumi Nepal hingga kontur permukaan bumi terlihat begitu indahnya.

Tak lama kemudian terasa pesawat menurunkan ketinggiannya secara perlahan. Danau Phewa sudah terlihat, itu artinya Pokhara sudah di depan mata. Saya memperhatikan keadaan danau. Inilah wajah lain dari Nepal. Jika Kathmandu penuh dengan budaya tradisional, Pokhara mengumbar janji dengan kegiatan outdoor yang menantang adrenalin. Di kota ini saya tak punya banyak rencana kecuali untuk beristirahat di tempat yang indah. Saya tak punya target khusus, saya biarkan itinerary dari Yang Maha Kuasa terjadi pada hari-hari saya di Pokhara.

Semakin dekat ke Pokhara, saya terpikir kembali mengenai transportasi dari bandara ke penginapan. Walaupun telah saya kabarkan soal penundaan penerbangan sejak dari Kathmandu tadi, saya tak yakin pesannya sampai. Berdasarkan pengalaman sebelumnya saat baru sampai di Kathmandu dan ternyata pesanan taksi saya tak muncul batang hidungnya, saya skeptis untuk mendapatkan layanan antar di Pokhara ini. Tetapi biarlah, apapun yang terjadi pasti ada jalan keluarnya. Semoga.

Bahkan saat akan meninggalkan tempat duduk,  the old Brit yang baik hati itu mengucapkan salam perpisahan dalam bahasa Indonesia, seakan tahu hal-hal yang bisa menentramkan dan menenangkan hati. Sampai jumpa lagi…

Bandara Pokhara kecil, -dalam arti yang sebenarnya-. Gedung terminalnya hanya berupa sebuah ruangan berkaca dan seluruh bagasi yang sebelumnya ada di perut pesawat diserahterimakan ke penumpang melalui sebuah jendela yang bisa disaksikan langsung oleh pemilik bagasi. Setelah mengambil ransel, saya keluar gedung tanpa ekspektasi dijemput.

p1010610

Pokhara Airport

Tetapi saya membaca nama saya di kertas yang dipegang oleh seseorang. Rasanya tak percaya, tetapi benar. Itu nama saya! Saya dijemput! Saya masih ditunggu, walaupun penerbangannya ditunda lama. Lagi! AnugerahMu yang berlimpah, yang tak putus.

Saya meminta maaf kepadanya sekaligus sangat berterima kasih karena telah bersedia menunggu lama. Sang pengemudi yang tak muda lagi itu tersenyum ramah. Tak perlu berpanjang kata, dia mempersilakan saya masuk dan menjalankan mobilnya, menyusuri danau dan perlahan meninggalkan pusat kota. Walaupun tahu penginapan saya itu jauh dari kota, tetapi saya tidak menyangka sejauh ini. Terpencil bahkan harus memasuki daerah perbukitan dengan jalan yang tak lagi beraspal. Seandainya saya tak ditunggu olehnya, apakah taksi biasa mengetahui dan mau mengantar hingga ke tempat ini?

p1010620

On the way to Hotel, Pokhara

Saya menggigit bibir, perjalanan kali ini benar-benar berlimpah anugerah dariNya. Benar-benar tak henti, terus-menerus sampai dada terasa sesak. Semuanya serba luar biasa… Dari Bhaktapur yang penuh kenangan, mendapat tempat duduk jendela sehingga bisa menikmati pemandangan Himalaya yang berselimut salju, diajak berkomunikasi dalam bahasa ibu oleh penutur asing di ketinggian Himalaya, tetap dijemput taksi yang bersedia menunggu walaupun penerbangan mengalami penundaan dan kini terhampar pemandangan indah…

Maka Nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Then which of the favors of your Lord will you deny?

Iklan

12 pemikiran pada “Nepal – Berlimpah Anugerah Menuju Pokhara

  1. Membaca tulisan mbak, saya jadi ikutan kangen Nepal nih. Pengen juga suatu saat mencoba terbang dari Kathmandu ke Pokhara atau sebaliknya. Soalnya selama ini selalu memilih naik bus, karena ongkosnya murah banget. Walaupun memang waktu tempuhnya lumayan lama. Bahkan pada kali yang kedua, saya sempat mengalami kemacetan yang luar biasa. Yang seharusnya sampai di Kathmandu jam 2 siang, waktu itu baru sampai menjelang senja.

    Saya tunggu cerita selanjutnya mbak. Karena saya penasaran, itu nginep di Pokhara bagian mananya sih, kok jauh banget hehehe 🙂

    Disukai oleh 1 orang

  2. Namanya perjalanan yang memang ditujukan untuk memberi istirahat jiwa, sepertinya langsung didengarkan oleh-Nya. Benar-benar perjalanan yang berlimpah anugerah dan perjalanan juga yg membuat seorang pejalan menyadarinya. Salut.

    Disukai oleh 1 orang

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s