Nepal: Terjebak Lorong Waktu Menuju Dattatreya


Baru saja meninggalkan kamar ketika langkah kaki terhenti sejenak melihat beberapa orang, -sepertinya tetangga sekitar-, melakukan puja dan ibadah pagi di tempat pemujaan kecil yang ada di bagian dalam halaman penginapan. Pikiran langsung melayang pada ritual serupa di tanah air atau juga di banyak tempat. Sepertinya semua agama memiliki keserupaan mengawali hari dengan ibadah, menciptakan hubungan yang amat pribadi antara manusia dengan Sang Khalik Pemilik Semesta. Indah sekali.

 

Tak ingin mengganggu mereka lebih lama, saya melipir dinding kearah luar melalui pintu belakang dan menemukan deretan gerabah tanah liat teronggok begitu saja tanpa ada yang menjaga. Siapa juga yang berniat mengambilnya karena hampir semua sudut dekat penginapan terdapat deretan gerabah serupa. Tak heran Bhaktapur terkenal juga dengan Pottery Square-nya, sebuah tempat yang kemanapun mata memandang terdapat gelaran gerabah yang instagramable. Namun entah kenapa, hal yang menjadi salah satu ikon Bhaktapur itu bukan menjadi fokus saya pagi hari itu, karena kedua kaki ini mengajak kembali menuju Bhaktapur Durbar Square melalui lorong berdinding bata yang menjulang tinggi.

Berada di lorong sempit di antara bangunan tradisional, rasanya seperti menekan tombol mesin waktu ke abad pertengahan. Jarak antar bangunan begitu rapatnya hingga langit hampir tak terlihat karena tertutup sambungan atap dari bangunan yang berseberangan. Beberapa kali saya mendongak ke atas mencari langit sambil mengukur ketinggian jendela-jendela Newari yang menghias dinding. Mau tidak mau saat melihat material dinding, sejumput pikiran teknis yang terinstal di kepala muncul sekejap dalam rasa ngeri, dinding-dinding itu terlihat begitu ringkih, mudah runtuh dan sangat berisiko (dan enam bulan kemudian, Bhaktapur menjadi salah satu kawasan terburuk yang terkena dampak gempa bumi April 2015)

Benar-benar seperti terperangkap dengan apa yang saya lihat dan apa yang saya rasakan di Bhaktapur ini. Mereka meneruskan tradisi hingga sepertinya kesan kuno Bhaktapur tetap terjaga. Mereka tetap menggunakan batu bata dengan perekat lumpur untuk mendirikan atau merenovasi bangunan yang bergaya tradisional di negeri indah ini. Bisa jadi karena bahan konstruksi mahal dan tidak mudah didapat di negeri yang dikelilingi dua negara besar India dan China ini. Ketika melihat semua yang kuno di Bhaktapur ini, tidak hanya sekali saya mencubit diri sendiri, ini bukan mimpi kan? Tapi terasa pedih, ini sungguh nyata, bukan mimpi, saya ada di abad-21!

Akhirnya saya menjejak lagi di alun-alun istana lama itu. Saya terpana dengan pemandangan sekitarnya, -sungguh berbeda dengan keadaan sore sebelumnya yang padat dengan pengunjung-, kali ini hanya ada dua orang di ruang terbuka luas itu diantara burung-burung pagi yang sibuk mencari makanan di pelataran depan kuil Vatsala Durga (yang kini telah rata dengan tanah akibat gempa 2015). Rasanya janggal melihat bangunan-bangunan indah di Bhaktapur Durbar Square itu dibalut kelengangan, seperti masih terlelap dalam pelukan pagi. Sepinya terasa menggigit dan mampu membuat saya terdiam dalam hening, merasa seperti ribuan mata damai tengah memperhatikan. Menyadari hari ini terakhir di Bhaktapur, saya berbisik pamit pada tempat dengan kedamaian pagi yang indah ini. Semoga waktu bisa mempertemukan kita lagi disini.

Saya melanjutkan langkah ke Taumadhi Square, alun-alun kecil lainnya tempat Nyatapola megah berdiri dan hanya berjarak seratus meter dari Bhaktapur Durbar Square. Di balik sebuah panggung batu saya melihat orang-orang menggelar dagangannya di tanah beralaskan plastik lebar. Sayuran, ubi, tomat, labu, bawang merah, bawang putih, buncis, rempah-rempah, paprika, kembang kol, ketimun, dan masih banyak lagi keperluan sehari-hari. Pelan-pelan saya melangkah menikmati situasi, dikelilingi bangunan berusia ratusan tahun dan ditengah pasar dadakan yang penuh dengan orang berbaju tradisional. Rasanya sama seperti terjun  kembali ke abad pertengahan. Lagi-lagi saya berpikir, ini bukan abad-21!

Diterpa keterpanaan menyaksikan semuanya dalam pusaran ‘lorong waktu’ ini, saya terus mengikuti kaki melangkah dan terhenyak saat menyadari sudah berdiri di depan penginapan saya sendiri dari sisi yang berbeda. Ah, kali ini bisa jadi si dua kaki menurut pada si perut yang memerintah 🙂

Dan karena sudah di depan penginapan sendiri, saya sempatkan untuk menikmati sarapan yang tersedia di lantai teratas yang terbuka (rooftop). Kali ini saya merasa kembali ke abad-21 lagi karena makanan yang sedikit internasional walaupun terasa aneh karena sarapan ditemani burung gagak. Bisa jadi terpengaruh cerita-cerita tentang burung gagak… 😀

Selepas sarapan saya melanjutkan jalan-jalan pagi, kali ini lebih mengarah mencari ATM atau money changer untuk menambah lembaran Nepali Rupee yang sudah tinggal satu atau dua sambil, -jika memungkinkan-, menjelajah ke tempat lain.

Kali ini saya mengambil arah lain yang lebih sepi walaupun tetap berhiaskan dinding bata yang menjulang tinggi dengan ukiran-ukiran rumit pada jendelanya. Angin pagi bulan November terasa lembut menerpa muka. Alunan musik tenang bernada oriental Tibet Om Mani Padme Hum yang mengalun lembut sepanjang toko-toko terdengar menghipnotis di telinga, seakan membawa saya kembali dalam perjalanan waktu. Rasanya memang luar biasa, langkah yang sangat ringan, tak ada beban, terbang melayang…

Hingga sampai pada muara lorong itu…

Tepat di depan sebuah hiti, -tempat pengambilan air- dan di depannya terdapat sebuah panggung kecil dari batu. Saya tersadarkan berada di sebuah square lain dan pastinya dekat dengan sebuah tempat istimewa. Saya masih melangkah, di sebelah kanan saya dinding rumah dengan hiasan rumit yang sangat cantik tapi terawat dengan baik.

Hingga saya berdiri dekat sebuah kolom dan mendongak melihat sesuatu di atas…

Garuda!

Garuda at Dattatreya Temple

Garuda at Dattatreya Temple

Dalam sekejap rasanya seluruh aliran darah meluruh semua ke bawah meruntuhkan kekuatan berdiri begitu menyadari bangunan yang ada di hadapan mata adalah Dattatreya, kuil yang dibangun oleh Raja Yaksha Malla di tahun 1427! Kuil berusia ratusan tahun dan konon dibuat dari satu pohon ini, didedikasikan kepada sosok inkarnasi ketiga dewa utama dalam Hindu, Brahma, Vishnu dan Shiva. Namun dengan empat symbol Vishnu yang ada di depan bangunan, Gada, Cakra, Lotus dan Kerang menyadarkan presentasi reinkarnasi dewa yang lebih diutamakan di kuil ini.

Garuda, Cakra, The Mace, Conch Shell, Lotus in front Dattatreya

Garuda, Cakra, The Mace, Conch Shell, Lotus in front Dattatreya

Saya masih dipenuhi rasa tak percaya mengikuti kaki melangkah hingga ke tempat ini bahkan tanpa peta sekalipun, hanya berdasarkan ingatan bahwa somewhere in Bhaktapur, there is Dattatreya square. Bahkan dalam lorong jalan yang ditempuh tak ada satu pun rambu yang menunjukkan arah ke Dattatreya. Seakan-akan memang saya ‘dibawa terbang’ ke tempat ini menembus lorong waktu untuk sampai ke tempat cantik ini.

Bhimsen Temple in front of a hiti, Dattatreya Square

Bhimsen Temple in front of a hiti, Dattatreya Square

Tengah menikmati situasi sekitar yang aslinya berasal dari abad pertengahan, secara tidak sengaja mata ini tertumbuk pada sebuah proses jual-beli disitu. Mendadak rasa dingin menyerang sekujur tubuh menyadari isi dompet yang telah tipis dan waktu yang berangkat siang. Saya harus segera mencari ATM Internasional atau money changer. Tetapi di Bhaktapur? Di pagi hari seperti ini? Pikiran ini sekejap membolakbalikkan pikiran saya antara abad-21 dan abad pertengahan tepat seperti apa yang saya lihat di depan mata. Ah… saya mungkin gagap waktu!

Dengan miris tak ikhlas, sejumput kata perpisahan kepada Dattatreya saya bisikkan dari dekat kolom Garuda. Alun-alun kecil di Bhaktapur ini telah dengan ajaibnya memberi warna di dalam hati dengan membiarkan ditemukan hanya dari sebuah bimbingan hati. Benar-benar berat untuk melangkah meninggalkan kawasan Dattatreya, tetapi saya sadar waktu tak pernah menunggu. Memutar langkah, saya melangkah kembali, suatu saat kita akan berjumpa kembali…

Menyusuri jalan yang sama, kali ini lorong waktunya lebih cepat berganti ke abad-21, mungkin karena kebutuhan uang yang mendesak. Mata saya lebih tajam mencari logo ATM ataupun Money Changer. Semoga sistem ATM-nya buka 24 jam atau  money changer sudah buka.

Selagi melangkah mencari ATM, di ujung lorong dari sebuah kios yang tersembunyi, mata menangkap rangkaian bulu merak yang dibentuk menjadi sebuah kipas yang tergantung. Sebagai penggemar merak, semua yang berhubungan dengan merak cepat sekali saya kenali. Tentu saja saya ingin membelinya, tetapi tidak punya cukup uang untuk itu. Entah kenapa tetapi situasi ini sepertinya saya kenali, seakan saya sedang diuji… Apakah saya memilih membeli merak dengan lembaran besar USD atau meneruskan langkah untuk mendapatkan Nepali Rupees seperti niat awal sekembalinya dari Dattatreya tadi. Sebuah godaan…

The lane to Dattatreya

The lane to Dattatreya

Saya memilih meneruskan mencari Money Changer dan melepas keinginan membeli kipas merak itu lalu melanjutkan langkah.  Dan benar saja, sekitar 500 meter setelahnya saya melihat tulisan Money Changer yang hanya bisa dilihat dari posisi arah jalan saya. Dan yang terpenting, money changer tersebut telah buka! Ah, lagi-lagi saya mendapatkan berkah keajaiban pagi ini. Setelah sehari sebelumnya mencoba beberapa ATM dan tidak berhasil, sepertinya saya memang ditakdirkan mengalami perjalanan bolak-balik melalui lorong waktu. ATM merupakan teknologi yang sudah umum di abad-21 namun saya tidak berjodoh dengan menggunakan teknologi abad-21 itu di Bhaktapur. Pagi ini di kios Money Changer, saya kembali dihadapkan kepada proses tradisional, yang dilakukan sama berabad lalu, -seperti juga di abad pertengahan-, dalam hal penukaran mata uang asing. Selembar USD tadi telah berubah menjadi NPR, dan lega rasanya membawa kembali NPR di dompet.

Dengan adanya uang di dompet, timbul lagi keinginan kembali ke kios yang menjual kipas bulu merak. Tetapi lagi-lagi ada rasa ragu, entah kenapa, saya ragu tak cukup waktu untuk ke bandara mengejar pesawat. Entahlah, tetapi saya membatalkan untuk kembali ke kios yang menjual kipas merak itu, sebuah keputusan setengah hati yang mungkin saya sesali karena hingga kini saya tidak pernah punya kipas merak! Tetapi, ah, bisa jadi kipas bulu merak yang cantik itu memang bukan jodoh saya, melainkan milik mereka yang ‘terjebak di abad pertengahan’…

Iklan

10 pemikiran pada “Nepal: Terjebak Lorong Waktu Menuju Dattatreya

  1. Mbak Riyanti sepertinya terhubung secara alam bawah sadar dengan segala hal yang ada hubungannya dengan Wisnu. Mulai dari rasa excitement pas ketemu Dattatraya Temple yang kental nuansa Waisnawa-nya, maupun kipas merak dimana merak itu sendiri sering diasosiasikan dengan Krisna, salah satu avatar Wisnu. Btw waktu saya di Bhaktapur saya sempat beberapa kali ambil uang di ATM yang ada di jalan menuju Dattatraya Square dari Taumadhi Square. Jadi nostalgia. 🙂

    Disukai oleh 2 orang

    • Qiqiqiqiqi…. sungguh saya tergeli-geli guling-guling membayangkan mas Bama membaca sampai bisa menuliskan komentar diatas, dan saya tidak bisa menahan diri senyum-senyum terus inget komentar dari mas Bama ini, bisa jadi benar karena saya suka sama yang goodlooking hahahaha… Wisnu, Krsna biasanya digambarkan goodlooking kan…:D 😀 😀
      Soal ATM hahaha… waktu itu saya sedang tidak beruntung sama sekali soalnya gagal terus, entah kenapa… 😥

      Suka

      • Di India Krishna itu dikenal sebagai ‘playboy’ lho mbak, tapi bapak saya mengidolakan Kresno sih karena katanya dia penasihat raja dari kalangan bangsawan. Idola bapak saya yang lain itu Semar karena dia adalah penasihat raja dari kalangan rakyat jelata (meskipun Semar sejatinya adalah dewa yang menyamar). Oiya mbak, kalo guling-guling jangan di bawah Krishna’s butter ball yang ada di Mahabalipuram ya. Itu ber-ba-ha-ya! 🙂

        Disukai oleh 1 orang

        • Duh mas Bama mudah2an ga dibaca oleh orang iskcon ya hihihi walaupun setau saya sih Krsna tidak demikian. Krsna memang ahli strategi dan jd penasehat raja. Bisa panjang nih kalau bicara Krsna hihihi… Semar memang kharismatik banget ya, penuh kebijaksanaan. Sayang kebanyakan dianggap hanya bagian dari punakawan ya padahal filosofinya dalem banget.
          Wuiih mas Bama seandainya saya diberi kesempatan ke Mahabalipuram aduhhhh… gimana ya rasanya tiduran dibawah Krishna’s butter ball… pasti ngeri-ngeri sedap gitu… kalo glundung ntar ada menu baru riyanti penyet hahahahaha…

          Suka

        • Waduh bukan maksudnya derogatory sih tadi pas nulis itu. Maap maap, saya tadi cuma ngutip apa yang dulu Madhu pernah tulis sih sebenernya. Aduh mbak, tadi guling-guling bisa jadi dadar gulung, sekarang riyanti penyet. 😀

          Disukai oleh 1 orang

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s