Nepal: Menyambut Malam di Taumadhi Square


Hari merangkak tanpa ragu memulas warna oranye kemerahan di langit Barat. Sambil melangkah, benak saya masih dipenuhi dengan kejadian sebelumnya saat berada di Bhaktapur Durbar Square, ketika saya bermain mata dengan seorang anak perempuan Nepal kecil berwajah cantik yang terus menerus meminta uang dari saya. Bisa jadi banyak turis telah merusak pemikirannya hingga baginya adalah normal meminta uang dari wisatawan yang datang yang dianggapnya selalu memiliki uang berlebih hanya dengan modal senyum manisnya atau dengan mimik wajah yang menggemaskan. Ia mengetahui modalnya, dan hanya dengan memanfaatkan modalnya ia tak putus mengikuti saya. Bisa jadi kali ini hanya 1 dollar, lalu lain kali mungkin meminta lebih banyak. Sebuah fenomena yang kerap terjadi di kalangan anak-anak di daerah wisata, dengan bermodalkan kemampuan “One Dollar, Mister”. Saya gemas, pikiran bermainnya sudah diracuni dengan lembaran kehijauan berwajah George Washington itu.

Saya menghilangkan segala gangguan dalam pikiran itu, lalu bergegas mempercepat langkah menuju Taumadhi Tole atau lebih dikenal dengan nama Taumadhi Square, sebuah alun-alun dengan dua kuil besar yang terkenal seantero Bhaktapur, yaitu Kuil Nyatapola dan Bhairabnath. (Ketika gempa meluluhlantakkan Nepal pada bulan April 2015 lalu, banyak orang bergegas ke Taumadhi Tole ini, berharap Kuil Nyatapola yang menjadi ikon dari Bhaktapur ini dapat bertahan terhadap pergerakan kulit bumi itu dan memang kenyataannya Kuil Nyatapola itu tetap dapat berdiri dengan megahnya hingga kini).

Taumadhi Square, Bhaktapur, Nepal

Taumadhi Square, Bhaktapur, Nepal

Kedua kuil dengan arsitektur Newari yang sangat kuat itu memang menyita pandang kemana pun mata mengarah. Dinding bata merah dengan pintu kayu coklat tua berukir yang rumit, dengan jendela khas bertudung kayu penuh ukiran rumit di bagian atas ditambah kisi-kisi bersilangan yang pinggirnya dipenuhi ukiran yang juga rumit. Luar biasa cantik…

Nyatapola

Dari tengah lapang saya memandang Kuil Nyatapola yang dibangun oleh Raja Bhupatindra Malla pada tahun 1702 dan merupakan salah satu kuil tertinggi di Nepal, -ketinggiannya sekitar 30meter-, sehingga terlihat sangat menonjol di kawasan Taumadhi Tole dan sering dijadikan referensi lokasi. Kuil indah dengan atap lima tingkat ini didedikasikan kepada Dewi Siddhi Lakshmi, dewi yang digambarkan mengerikan dan haus darah sebagai reinkarnarsi dari Dewi Durga. Dan oleh karena penggambaran yang mengerikan ini, pengunjung kuil dilarang masuk untuk melihatnya, kecuali para pemuka agama Hindu.

Nyatapola Temple in the Afternoon

Nyatapola Temple in the Afternoon

Kuil megah dengan pelataran bertingkat yang tersusun bagai piramida ini, dijaga oleh sekelompok arca besar pada setiap jenjang pelatarannya. Konon setiap tokoh panjaga memiliki kekuatan 10 kali lipat dari kekuatan tokoh penjaga yang levelnya lebih rendah. Di level terendah dihiasi dengan sepasang arca prajurit lengkap dengan gadanya yang konon merupakan pembela terkenal dari Benteng Chittor di abad-16. Pada level di atasnya dijaga oleh sepasang gajah yang digambarkan berpelana penuh hiasan bunga, lalu diatasnya lagi terdapat sepasang singa berhias lonceng. Level berikutnya dijaga oleh sepasang makhluk seperti singa berparuh yang kekuatannya tak tertandingi, dan akhirnya pada level teratas dijaga oleh arca dewi yang oleh orang lokal sering disebut dengan Baghini dan Singhini.

The Guards of Nyatapola Temple

The Guards of Nyatapola Temple

Bagian atap dari Nyatapola yang terpapar sinar matahari sore menjadikan bangunan kayu itu terlihat menyala dan indah sekali. Tak heran banyak penduduk lokal duduk di pelataran di tengah alun-alun itu untuk mendapatkan suasana sore yang berbeda sambil menikmati kemegahan Nyatapola. Bahkan seorang ibu dengan anaknya tampak duduk di antara arca penjaga. Bisa jadi ia mengajak anaknya untuk bermain imajinasi bagaimana dewa-dewa mereka menyaksikan dari ketinggian tempat berdiamnya terhadap kehidupan manusia di bumi.  Memang menyenangkan sekali berada di Taumadhi Square saat sore jelang malam.

Tapi harus diakui, Nyatapola itu memang megah dan indah…

Bhairabnath

Puas menikmati Kuil Nyatapola, saya melangkah menuju sisi lain dari Taumadhi Square tempat berdirinya Kuil Bhairabnath. Dari namanya saja, -Bhairab berarti Mengerikan,- sudah dapat diduga bahwa Bhairab yang merupakan bentuk inkarnasi mengerikan dari Shiva merupakan dewa yang diutamakan dalam kuil ini.

Kuil Bhairab ini terlihat berbeda dan unik, karena bentuknya persegi panjang dan tidak memiliki pelataran bertingkat seperti kuil-kuil lain di Nepal. Dapat dikatakan kuil ini berada selevel dengan permukaan tanah, bahkan pintu masuknyapun harus melalui kuil kecil Betal, yang dipercaya senantiasa mendampingi Bhairab (sayangnya dalam gempa April 2015 lalu, kuil kecil ini runtuh).

Bhairabnath, Taumadhi- Bhaktapur

Bhairabnath, Taumadhi- Bhaktapur

Kuil yang awal mulanya dibangun secara sederhana oleh Raja Jagat Jyoti Malla lalu diperbesar oleh Raja Bhupatindara Malla ini ketika saya datang sedang diperbaiki dekorasinya. Kuil bertingkat tiga ini terlihat sekilas serupa dengan Kuil Bhimsen berjendela emas yang ada di Patan dan untuk memberi kesempatan kepada penduduk yang berjalan melaluinya untuk melakukan persembahan, kuil unik ini menempatkan arca kecil Bhairab di dinding tengah dekat dengan jalan dan dijaga oleh sepasang singa kecil yang memegang tongkat berbendera Nepal ini yang berbentuk segitiga. Dan hanya Nepal yang benderanya berbentuk segitiga!

Memang legenda tak bisa dilepaskan dari kuil unik ini, bahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Nepal. Konon, seorang ahli tantra berhasil memisahkan kepala Bhairab agar tetap berada di Bhaktapur untuk melindungi kota. Hingga kini, di dalam ruang utama di lantai satu hanya terdapat arca Kepala Bhairab tanpa tubuhnya. Keunikan lainnya, konon kuil ini dibangun awal pertama dengan tujuan untuk melindungi kota. Namun penduduk kota merasa tidak nyaman dengan perubahan situasi dan kondisi kota saat itu yang diduga berasal dari sifat temperamental Dewa yang mereka percayai. Untuk itu, para pemuka agama saat itu merekomendasikan Raja untuk membangun lagi sebuah kuil untuk mengimbangi sifat temperamental dari Dewa Bhairab, yang kini berdiri dengan nama Kuil Nyatapola.

Til Mahadev Narayan

Saya masih belum beranjak jauh dari Taumadhi Tole yang semakin dipenuhi orang yang bercengkerama, sebagian masih terlibat urusan perdagangan dan tak sedikit yang menikmati hari. Saya tertarik pada beberapa orang yang memasuki lorong di bawah bangunan rumah bertingkat yang berada di sebelah tenggara dari Taumadhi Tole. Menuruti kata hati saya melangkah saja mengikuti mereka dan rasa ingin tahu saya berbuah sesuatu yang luar biasa.

Saya terperangah menghentikan langkah di depan sebuah bangunan kuil yang tampak kuno. Kuil Til Mahadev Narayan, berdiri tersembunyi di balik bangunan rumah bertingkat. Jika tadi saya tak mengikuti orang, saya tak akan pernah menemukan kuil kuno ini. Kuil ini merupakan salah satu kuil tertua yang ada di Taumadhi karena dipercaya kuil ini sudah digunakan sejak tahun 1080 namun arca Til Mahadev baru ditempatkan di kuil ini hampir seratus tahun kemudian. Menariknya, walaupun namanya berawalan Til Mahadev yang pastinya merujuk pada Shiva, di depan kuil ini terdapat Garuda di atas kolom dan dua lambang Vishnu lainnya, yaitu Cakra dan Terompet Kerang (Sankha) masing-masing di atas kolom, seakan menduplikasi kesakralan Kuil Changu Narayan. Tak heran nama kuil ini menjadi Kuil Til Mahadev Narayan.

Til Mahadev Narayan Temple, Bhaktapur

Til Mahadev Narayan Temple, Bhaktapur

Saya tak bisa berlama-lama di kuil kuno itu, karena matahari telah meninggalkan langit Bhaktapur. Udara bulan November mulai terasa dingin menggigit sehingga saya perlahan harus meninggalkan Taumadhi Tole dan melangkah kembali ke penginapan. Terasa sekali orang semakin jarang berlalu lalang di jalan dan lebih memilih untuk berkumpul dalam hangatnya ruang keluarga. Saya pun sepertinya akan menyusul mereka, menikmati makan malam di penginapan lalu bergelung di balik selimut. Siapa tahu bisa bermimpi bertemu dewa-dewi dan melupakan Rupee yang tinggal satu dua lembar di dompet… 😀

Afternoon in Bhaktapur

Afternoon in Bhaktapur

Iklan

13 pemikiran pada “Nepal: Menyambut Malam di Taumadhi Square

  1. ingat nepal ingat mount everest, tapi kalau ini dari sisi lain nepal ya mbak, banyak budaya dan peninggalam mirip candi dan pura spt di indonesia, cuma disini bangunannya warnanya kebanyakan merah bata ya

    Disukai oleh 1 orang

    • benar sekali mas, konon kotanya kota kuno dari jaman sebelum masehi, kalo soal batu bata merah bisa jadi karena memang adanya hanya itu di alamnya, melihat kontur alamnya yang di pegunungan, sepertinya susah dapat bahan bangunan yang lain, selain mahal tentunya…

      Suka

  2. Ahhh jadi kangen Bhaktapur. Di resto yang ada di seberang Nyatapola saya nyobain masala tea paling enak sedunia! Lebay sih, tapi beneran enak banget. Terus di sekitaran Durbar Square saya nyobain Juju Dhau yang, lagi-lagi, enak banget. Beneran kangen sama suasana pagi dan sore di seputaran Taumadhi Square nih habis liat foto-fotonya Mbak Riyanti.

    Disukai oleh 1 orang

    • Hihihi… kemarin saya juga mendadak nulis mengenai Taumadhi karena kangen lho. Rasanya hidung saya mengendus bau-bau udara Nepal jadinya nulis deh hihihiii…
      Kalo masala tea saya nyobain saat lagi dirayu spy mau di-scam-in hahaha. Untuk masalatea nya enak jd bisa mikir buat kabur dari situ. Duh masa balik lagi ke Nepal demi sebuah juju dhau? Dimana bisa didapat selain di nepal?? 😀 *edisipanik*

      Suka

      • Pas di Kathmandu sempet kangen banget sama Juju Dhau. Tapi berhubung pas saya ke sana lagi ada krisis BBM, jadi kalo cuma sekedar ke Bhaktapur cuma demi seporsi Juju Dhau kemahalan di ongkos, hehe..

        Disukai oleh 1 orang

    • Iya Mba, padahal yang di Kathmandu, kuil yang sebesar itu runtuh blassss sampai tinggal pelatarannya saja 😥
      Terima kasih ya mba sudah mampir kesini dan bilang berasa jalan-jalan juga, bahagianya aku…. 🙂 *hugs*

      Suka

please... do let me know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s