Hiroshima, Satu Lagi Cinta…


“Pa, hari ini akhirnya aku menjejak di Hiroshima …”, bisik saya dengan mata berkaca-kaca sambil turun dari Shinkansen yang membawa saya dari Tokyo sejak pagi dan bertukar di Okayama. Pikiran langsung melayang ke sebuah rumah tempat saya dibesarkan, tempat dua orang tercinta menjalankan hari tuanya. Kondisi Papa kini, -selepas serangan stroke berkali-kali-, yang tak bisa berjalan lagi dan hanya bisa menghabiskan waktu di tempat tidur dan kursi rodanya, mama yang luarbiasa mendedikasikan seluruh waktunya hanya untuk papa. Dan karena cinta dan doa dari kedua orang tua itu terutama Papa, maka saya sekarang berdiri di Hiroshima.

IMG_1002

UNESCO World Heritage Site – Hiroshima Peace Memorial

Sejak saya diberi kesempatan dan rejeki untuk pergi ke luar negeri bertahun-tahun lalu, saya berjanji di dalam hati akan menjejak di kota-kota tempat Papa pernah menjejakkan kakinya. Memang sejak awal karirnya papa telah banyak melanglang ke banyak tempat dan membawa pulang foto-foto perjalanannya yang membuat saya yang masih kecil itu takjub akan keluarbiasaan tempat-tempat yang didatangi papa. Ditambah dengan humor, cerita-ceritanya yang kadang juga dilebih-lebihkan, -supaya lebih seru-, papa berhasil membuat saya mengukir impian dan janji untuk pergi ke tempat yang sama, pada saat saya sudah besar.

Waktupun berjalan dengan cepat, dan setiap saat sang waktu sepertinya mengingatkan janji yang pernah diucapkan kepada diri sendiri…tik-tok-tik-tok

Tentu saja impian pergi bersama-sama dengannya selalu ada, namun dengan kondisinya kini, papa dan saya masing-masing menyadari tak mungkin melakukannya. Setelah sebelumnya menapaktilas perjalanan Papa ke Hong Kong tempat Papa Mama berhoneymoon, lalu setahun berikutnya ke Myanmar untuk menikmati Shwedagon (baca ceritanya disini), dan  ke Jepang pada tahun berikutnya, ke Kamakura dan tentu saja menjajarkan jejak papa di Kobe, semuanya dengan penuh haru biru.

Dan kini, -dengan hati dan pikirannya, dengan spiritnya, dengan jiwa travelingnya-, saya bersamanya di dalam pikiran, hati dan jiwa saya, berdiri bersama-sama dalam cinta, di kota Hiroshima…

*

Pada saat ke Jepang tahun 2013 lalu, saya tidak bisa mengunjungi Hiroshima karena keterbatasan waktu dan tahun ini kesempatan itu datang menghampiri yang tentu saja tidak akan saya tolak.

Selain keinginan untuk menapak tilas perjalanan Papa, pada hati yang terdalam saya seperti ditantang untuk berani mengunjungi kota yang pernah rata dengan tanah karena dibom atom oleh Amerika Serikat pada tahun 1945 itu. Keinginan ini timbul tenggelam. Menyadari diri yang sensitif terhadap situasi-situasi menyedihkan, saya sebisanya menghindari tempat-tempat seperti itu. Tetapi seperti Arjuna saat awal menerima Bhagavad Gita, perasaan emosional yang melemahkan dari tujuan itu perlu diatasi untuk sesuatu yang lebih baik untuk dirinya. Saya mungkin demikian juga, walaupun ‘perang’ yang saya hadapi  lebih terhadap nafsu-nafsu dalam diri yang seringkali mengenakan topeng. Saya harus bisa mengatasi emosi berlebih agar mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Bukankah Orang yang berani adalah yang mampu mengatasi ketakutannya sendiri? Akhirnya saya putuskan membuat itinerary ke Hiroshima.

Rain droplets on the window - Peace Memorial Park

Rain droplets on the window – Peace Memorial Park

Apalagi Hiroshima terdaftar sebagai UNESCO World Heritage Site pada tahun 1996. Saya percaya dengan komite UNESCO yang memiliki banyak sekali kriteria yang tak mudah dipenuhi untuk menjadikan sebuah kawasan sebagai World Heritage Site. Dan selama ini saya tak pernah kecewa untuk mendatangi kawasan yang memenuhi syarat UNESCO, selalu amazing.

Dan kini, -sebagai upaya untuk melawan takut terhadap rasa yang terlalu sensitif dan keinginan untuk melihat kembali sebuah kawasan World Heritage Site-, saya berdiri dalam cinta dan doa di kota Hiroshima, sebuah kota yang pernah hancur, luluh lantak menakutkan akibat perang dan juga merupakan kota yang mewakili harapan terwujudnya perdamaian dunia.

*

Awan hitam tebal menggantung di langit Hiroshima ketika saya menaiki bus wisata yang mengitari kota (loop-line). Saya turun di Genbaku Dome (Hiroshima Peace Memorial atau sering disebut dengan Atomic Bomb Dome Building), gedung berkubah yang sengaja ditinggalkan apa adanya sejak peristiwa bom-atom yang dijatuhkan oleh pasukan Amerika pada tanggal 6 Agustus 1945 pk, 08.15 pagi.

Berdiri di batas pagar gedung, rasa haru menyeruak keluar dari dalam diri tanpa peduli. Di benak saya tergambar jelas foto Papa dengan latar belakang Atomic Bomb Dome Building itu. Dulu papa pernah menjejak kakinya disini, berjalan dan pastinya tersentuh juga dengan peristiwa yang terjadi dan semua yang tertinggal disini.

Ada rasa getir menyaksikan sendiri gedung Atomic Bomb Dome yang tinggal dinding dan rangka, – kondisinya tetap sama setelah bom atom meledak tujuh puluh satu tahun lalu-, benar-benar berhasil mengingatkan dahsyatnya efek nuklir dari bom atom itu. Manusia yang menemukan, manusia sendiri yang memanfaatkan untuk menghancurkan manusia lain. Begitu mengerikan sebuah nafsu yang berkuasa dalam diri manusia.

Masih berdiri di batas pagar, saya ingin difoto dengan latar belakang gedung walaupun tidak menduplikasi sepenuhnya gayanya Papa. Tak penting 100% sama, bukankah kita selalu dalam cinta, Pa?

Tetapi satu dua titik hujan mulai turun mengenai kulit. Sebuah situasi kritis yang saya kenali karena sering muncul dalam keseharian. Situasi yang begitu dekat dengan pencapaian tujuan, namun ujian di saat akhir masih muncul, seakan mempertanyakan makna keberhasilan.

Saya masih berdiri di batas pagar, baru saja sampai dan hujan mulai turun… Ini saatnya menggunakan senjata keikhlasan, berdoa memohon bantuanNya agar bisa mencapai tujuan dengan upaya maksimal dan menerima apapun hasilnya. Saya lepaskan dan pasrahkan semuanya… Semuanya…

Saya yakin doa selalu terjawab, dan segala puji bagiNya, saya diberi kesempatan untuk berfoto dari sisi Selatan lalu berputar mengelilinginya dan mengambil foto gedung yang menggambarkan kengerian bom atom itu dari sisi Utara dekat dengan sungai. AnugerahNya. I’m soooo blessed.

Rasa haru menyeruak kembali ketika berfoto dengan latar belakang gedung berkubah yang tinggal rangka itu. Cinta yang membawa saya kesini, cinta yang nyata. Teringat Papa yang tergolek tak berdaya di tempat tidurnya, saya berbisik dalam airmata, “Pa, aku disini, di Hiroshima…”

*

Children's Peace Monument, Hiroshima

Children’s Peace Monument, Hiroshima

Saya menyusuri sungai dan pelan-pelan menyeberangi jembatan yang menghubungkan gedung A-Bomb Dome dengan Tugu Peringatan Perdamaian Anak-anak dan Taman Memorial Perdamaian. Tugu Peringatan Perdamaian Anak-anak ditandai dengan sebuah monumen berbentuk bom vertikal dengan seorang anak perempuan berdiri dengan burung origami di atas kepalanya dengan tulisan di bawahnya ‘This is our cry. This is our prayer. For building peace in this world’. Semua mengenal anak perempuan itu, Sadako Sasaki, seorang hibakusha, -istilah bahasa Jepang yang berarti orang yang terkena dampak bom-, dia yang terkenal dengan 1000 burung kertas origaminya yang ia lipat sebelum ajal karena leukemia yang dideritanya akibat radiasi bom. Ia percaya dengan melipat 1000 burung kertas origami, semua harapannya akan terkabulkan.

Di tempat itulah saya merasakan kembali titik hujan yang lebih besar turun membasahi bumi.

Kali ini saya memahami maknanya. Alam sudah berbaik hati untuk tidak membasahi saya di Gedung Atomic Bomb Dome sehingga bisa berlama-lama di Monumen Perdamaian Anak-anak atau bahkan mendatangi Taman Memorial Perdamaian dengan Api abadinya bukan menjadi hak saya. Belum jodoh, kata orang. Dan kali ini hanya ada satu cara, cari tempat berteduh, karena hujan pasti turun!

Benar, dalam sekejap hujan seperti ditumpahkan dari langit dengan kilat menggelegar dan saya ada di tengah-tengah taman terbuka yang luas itu. Kamera sudah selamat dalam tasnya dan saya harus lari menuju gedung museum yang terdekat, itu pun sekitar 300 – 400 meter di depan.

Sepertinya Yang Maha Kuasa tersenyum melihat saya terengah-engah lari di tengah hujan deras, seakan mengingatkan betapa seringnya saya melupakan yang namanya olahraga itu. Tetapi akhirnya, dengan nafas yang hampir putus sampai juga saya di bawah Sky Bridge Museum Perdamaian Hiroshima. Angin kencang membuat saya terkena tempias hujan walaupun berdiri berlindung di balik pilarnya. Luar biasa hujan ini. Tak cukup itu saja, dalam waktu singkat air mulai menggenang mencari saluran pembuangan.

Hiroshima Peace Memorial Park - Do you see the eternal peace flame?

Hiroshima Peace Memorial Park – Do you see the eternal peace flame?

Basah kuyup menanti hujan mereda di balik pilar, saya memikirkan kembali perjalanan saya. Cinta membawa saya ke Hiroshima ini dan bisa berfoto dengan latar belakang A-Bomb Dome seperti foto Papa dulu. Semua tambahannya adalah bonus luar biasa walaupun hanya bisa disaksikan sekejap mata, sekejap saya menyaksikannya dalam hujan. Tidak apa-apa, terima kasih ya Allah memberikan kesempatan merasakan cinta di Hiroshima ini. Alhamdulillah, Ini sudah luar biasa…

***

Catatan :

  • Hiroshima Sightseeing Bus – 400Yen (one day ticket) or 200 Yen per ride
  • Museum Perdamaian 200 Yen
  • Visiting Hiroshima – priceless

Iklan

10 pemikiran pada “Hiroshima, Satu Lagi Cinta…

  1. Setiap doa yang disampaikan dikabulkan. Begitu sayangnya Allah swt sama hambanya.
    Tujuh puluh satu tahun masih berdiri mengingatkan akan bahaya bom atom. Semoga menjadi lecutan bagi para pemimpin negara adidaya.

    Disukai oleh 2 orang

    • Setuju banget dikabulkan bahkan dengan yang lebih baik yaa….
      Dibiarkan begitu adanya tetapi disupport spy tdk roboh juga krn dimakan usia. Bahkan beberapa bulan lalu presiden Amerika Obama datang lho ke Hiroshima, sebuah momen bersejarah…

      Disukai oleh 1 orang

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s