Jepang: Toshogu Di Nikko Yang Sarat Makna


Menjejakkan kaki di Stasiun Nikko yang didisain cantik, saya yang dipenuhi rasa haru bergegas membeli tiket bus one day pass yang dapat digunakan untuk mengelilingi seluruh tempat wisata yang ada di kawasan Nikko, walaupun diselimuti sejumput keraguan dapat menyelesaikan kunjungan dalam sehari. Tetapi bagaimana pun saya memulainya dari Toshogu, tempat cerita ini bermula…

View from Omotemon -  See the Torii?

View from Omotemon – See the Torii?

Sambil menanti bus, saya terkadang tersenyum sendiri. Nikko, salah satu kawasan World Heritage Site Jepang yang ditetapkan sejak 1999, merupakan destinasi yang sudah lama saya impikan untuk dikunjungi. Ketika kali pertama ke Jepang, saya mencoret impian ini, karena keterbatasan waktu lalu tahun-tahun selanjutnya berlalu hanya berupa mimpi bisa menjejak di Nikko.

Dan pagi ini, ketika Shinkansen Yamabiko menurunkan saya di Utsunomiya setelah berkereta dari Tokyo, saya berpindah menggunakan Nikko Line, -kereta lokal yang disediakan oleh Japan Rail untuk mencapai Nikko-, sebuah kota kecil berpenduduk puluhan ribu di prefektur Tochigi, 200km Timur Laut Tokyo. Perjalanan kereta selama 45 menit ini seperti perjalanan manis ke Bandung yang melewati pegunungan dan pedesaan dengan pemandangan yang sangat cantik. Saya tak bermimpi! Saya ada di Nikko!

Nikko Station and neighborhood

Nikko Station and neighborhood

Berada di pegunungan sekitar 600meter di atas pemukaan laut, kawasan Nikko lebih dikenal sebagai tempat peninggalan kekayaan budaya dan penguasa jaman Edo dari Keshogunan Tokugawa yang berkuasa turun temurun selama 250 tahun sejak abad-16. Bahkan Shogun Ieyasu Tokugawa sendiri dimakamkan di Nikko, menjadikan tempat ini dihormati secara khusus oleh masyarakat Jepang. Ditambah dengan keberadaan Kuil Toshogu, -sebuah Kuil Shinto yang luar biasa cantiknya-, menjadikan Nikko sebagai tempat yang sesuai artinya dalam bahasa Jepang, Cahaya Matahari. Rasanya tepat sekali kiasan yang mengatakan Nikko adalah Nippon, karena adakah yang mampu memisahkan Cahaya Matahari dari Matahari Terbit?

Setelah bus membawa saya ke lokasi Kuil Toshogu, sambil berjalan menanjak menuju gerbang, pikiran saya dipenuhi sejarah Nikko yang sebenarnya telah terukir lama sebelum ajaran Buddha diperkenalkan di tempat ini. Masyarakat tradisional telah lama melakukan kegiatan pemujaan di Gunung Nantai yang letaknya tak jauh dari Nikko. Kegiatan itu tetap berjalan, walaupun seorang biksu Buddha Shodo Shonin, -penyebar ajaran Buddha yang berkelana ke pedalaman hingga ke Gunung Nantai-, menjadikan Nikko sebagai pusat kegiatan ajaran Buddha di abad-8. Dan demikianlah, ajaran asli Shinto yang telah menyerap di dalam kehidupan masyarakat lokal saat itu, tetap dilaksanakan dalam kehidupan yang harmoni dengan ajaran Buddha, sehingga kuil Buddha dan kuil Shinto tetap berdiri secara berdampingan di Nikko sejak dulu. Ada yang berdenyut di dalam diri ini, seakan menampar wajah sendiri. Toleransi, sebuah kata yang mudah diminta tetapi tak mudah diberi.

View from Omotemon -  See the Torii?

View from Omotemon – See the Torii?

Kaki masih menapaki jalan berkerikil yang menanjak menuju gerbang. Di Nikko inilah tempat pemersatu bangsa Jepang, Shogun Ieyasu Tokugawa (1542-1616) dimakamkan. Bahkan setelah kematiannya, dia berharap tetap dapat melindungi Jepang secara spiritual, dengan menempatkan makamnya di Nikko, yang terletak di Utara pusat wilayahnya (kini Tokyo). Dengan begitu dia bisa menghadang semua iblis dan bentuk kejahatan yang secara tradisional dipercaya datang dari arah Utara. Lagi-lagi saya merasa terjerembab kalah memahami makna totalitas perjuangan, menyadari bedanya orang biasa dengan seorang Shogun, yang tak ingin berhenti berjuang, bahkan berupaya hingga melampaui maut dan waktu, mempersembahkan jiwa raga, melindungi apa yang menjadi tanggung jawabnya termasuk orang-orang yang hidup di dalamnya.  Sedangkan saya? Apa yang telah saya lakukan dalam hidup ini?

Sepeninggal Ieyasu Tokugawa, di tahun 1617 dilakukan pembangunan Kuil Toshogu yang sederhana oleh penerusnya, Shogun Hidetada Tokugawa dan direkonstruksi menyeluruh menjadi sebuah mahakarya, seperti yang dilihat hingga kini oleh Shogun Iemitsu Tokugawa pada tahun 1636 dengan bantuan hampir setengah juta pekerja dan seniman untuk membangun kuil indah yang selesai dalam waktu hampir satu setengah tahun.

Ishidorii - 16c Stone Torii

Ishidorii – 16c Stone Torii

Jantung berdenyut lebih keras saat melalui sebuah Torii dari batu yang dikenal dengan sebutan Ishidorii, yang dipersembahkan tahun 1618 oleh Kuroda Nagamasa, seorang tuan tanah di wilayah Kyushu (sekarang daerah Fukuoka). Torii batu yang terdiri dari 15 buah batu granit besar yang sangat berat itu, dikirimkan dengan kapal dari Kyushu ke Koyama kemudian dikirim melalui darat ke Nikko. Saya terkagum melihat Torii yang luar biasa ini, karena selain besar dan terlihat kuat, torii ini dibangun dengan teknologi anti-gempa. Terbukti Jepang yang telah melalui begitu banyak gempa besar, torii ini tak pernah runtuh sejak dibangun di awal abad-17. Benarlah kata Kahlil Gibran (tentang Pernikahan) agar memberi jarak pada batu kuil agar dalam keadaan terguncang (saat gempa), batu tak akan bisa meruntuhkan.

Gojunoto - Five Stories Pagoda

Gojunoto – Five Stories Pagoda

Setelah melewati torii, di sebelah kiri terlihat Gojunoto, pagoda lima lantai dengan ketinggian 36meter. Didalamnya terdapat Shinbashira, -teknologi anti-gempa berbentuk tiang berdiameter 0.6m yang tergantung dari lantai 4 hingga hampir menyentuh lantai bawah. Dalam keadaan gempa, Shinbashira ini akan menopang rangkaian rangka kayu sehingga tidak akan runtuh. Tetapi memang umumnya pagoda di Jepang bisa selamat dari gempa, tetapi lebih sering hancur karena terbakar. Seperti Gojunoto di Nikko ini, dibangun tahun 1648 oleh Gubernur Sakai Tadakatsu dari Wakasa (sekarang Fukui) namun terbakar di tahun 1815. Yang terlihat sekarang merupakan rekonstruksi di tahun 1818 dengan dua belas lambang Shio tergambar di sekeliling lantai pertama.

Omotemon - The Gate with The fierce guard

Omotemon – The Gate with The fierce guard

Kemudian saya sampai di gerbang depan yang dikenal dengan sebutan Omotemon. Dihiasi dengan dua penjaga berwajah bengis dikenal dengan nama Nio (Vajrapani dalam Sansekerta) setinggi 4meter dan dikawal oleh sepasang singa di sisi lainnya serta gajah-gajah berlapis emas. Bila diperhatikan mulut penjaga yang satu tertutup (Agyo)  dan penjaga lainnya terbuka (Ungyo), konon menyuarakan falsafah dasar mengenai kehidupan, yang hidup pasti mati, setiap awal akan berakhir atau pernah dengar istilah ‘Alpha Omega’ kan?

The imaginary Elephant - BTW see the raven?

The imaginary Elephant – BTW see the raven?

Sanjinko - Three Sacred Store House

Sanjinko – Three Sacred Store House

Setelah melalui gerbang Omotemon dengan takzim, di hadapan saya terlihat tiga Bangunan Suci Penyimpanan, di sebelah kanan dikenal dengan nama Shimojinko (artinya Bawah), Nakajinko (Tengah) dan paling kiri Kamijinko (atas); yang ketiganya lebih dikenal dengan sebutan Sanjinko, yang digunakan untuk menyimpan kostum festival musim semi dan musim gugur serta peralatan pasukan berkuda lengkap dengan panah-panahnya. Menariknya, ada penggambaran dua makhluk serupa gajah di ujung atap Kamijinko yang dikenal dengan ‘gajah imajinasi’. Gajah atau bukan Gajah?

Kemudian saya berbalik dan berhadapan dengan Sanjinko adalah satu-satunya bangunan sederhana yang tak bercat, terkenal dengan nama Shinkyusha (Kandang Kuda Suci). Dan di bagian atas saya berjumpa dengan ukiran tiga kera bijak (Sanzaru) yang telah menggaungkan “hear no evil, see no evil, speak no evil” ke seluruh dunia. Lalu apa hubungannya kera dan kuda? Kenapa ada di kandang kuda? Ternyata sejak dulu telah dipercaya kera merupakan pelindung kuda, dengan demikian kera yang tergambar di sekeliling dinding kandang diharapkan bisa melindungi kuda-kuda suci dari penyakit.

Omizuya for purifying

Omizuya for purifying

Setelah diberi petuah hidup oleh Sanzaru, saya dilepas menuju Omizuya, tempat untuk bersuci lahir batin sebelum memasuki bangunan utama Kuil. Omizuya ini didirikan tahun 1618 oleh Nabeshima Katsushige, seorang Pejabat Daerah dari Kyusu-Saga. Air yang digunakan untuk bersuci, -datangnya dari sungai tak jauh dari situ-, sangat segar dan dingin sekali seperti es walau di musim panas sekalipun. Terdapat 12 pilar granit untuk mendukung atap bergaya China berlapis keemasan yang menggambarkan gelombang dan naga terbang, yang merupakan keindahan seni jaman Momoyama akhir abad-15.

Sayangnya Yomeimon Gate yang luar biasa dan menjadi pusat keindahan Nikko, sedang direnovasi, padahal gerbang itulah yang dijuluki Gerbang Utama Kekaisaran. Gerbang ini dikenal juga sebagai Gerbang Matahari Tenggelam karena konon bisa menyaksikan keindahan matahari seharian tanpa merasa lelah. Tetapi saat melewatinya saya sempat mengabadikan sedikit bagian Gerbang dan itupun sudah mampu membuat nafas berhenti karena indahnya.

The decoration of The Corridor

The decoration of The Corridor

Walaupun gerbang diselubungi, saya bisa menikmati Kairo (Koridor) yang merupakan dinding luar kiri dan kanan dari Gerbang Yomeimon yang dihiasi dengan bunga-bunga dan burung yang luarbiasa indahnya yang merupakan salah satu ukiran terbaik di Jepang. Sebagai penggemar merak, saya gemas sekali melihat begitu banyaknya ukiran merak yang cantik disini.

The White Stories of Karamon

The White Stories of Karamon

Setelah Yomeimon, terdapat gerbang kedua, Karamon, berwarna putih dan dihiasi dengan ukiran cantik yang mengambil kisah legenda orang bijak dari China (Kyoyi dan Shoho) yang beraudiens dengan Kaisar dan beberapa adegan lainnya. Gerbang ini tak bisa dilalui, sehingga pengunjung harus memutarinya namun karena melihat banyaknya antrian orang yang akan beribadah, saya tak menyesal membatalkan untuk masuk ke Gohonsa, ruang utama untuk ibadah. Bukankah niat ibadah jauh lebih penting daripada saya yang hanya untuk melihat-lihat?

Juga jalan menuju Okumiya, makam dari Ieyasu Tokugawa, penuh dengan orang yang akan memberi penghormatan. Saya sempat menapaki setengah hati lalu akhirnya berhenti dan berbalik. Tanjakan panjang masih menanti sedangkan waktu tak mau menunggu. Saya harus kembali ke Tokyo. Semoga saya masih punya kesempatan kembali ke sini meskipun diantara proses renovasi yang dimulai sejak 2007 dan berakhir di tahun 2024, saat peringatan 400 tahunnya Ieyasu Tokugawa.

The Red Shinkyo Bridge

The Red Shinkyo Bridge

Dalam perjalanan kembali ke Tokyo, walaupun saya melewatkan kuil-kuil lainnya, dari jendela bus saya sempat mengabadikan jembatan merah Shinkyo yang terkenal. Jembatan yang merupakan pintu masuk ke Kuil Rinnoji, sering disebut dengan nama Snake Bridge.  Konon, biksu Shodo Shonin yang sedang kesulitan menyeberang sungai Daiya saat menyebarkan kebaikan, mendapat pertolongan dewa yang menjelma menjadi sepasang ular yang membentangkan diri di atas sungai menyerupai jembatan. Tak salah memang, orang baik senantiasa mudah mendapatkan pertolongan.

Iklan

8 pemikiran pada “Jepang: Toshogu Di Nikko Yang Sarat Makna

  1. Saya itu baru ngeh sama Nikko beberapa tahun yang lalu pas liat foto-fotonya di majalah. Saya salut sama Mbak Riyanti yang membatalkan niat untuk masuk ke Gohonsa, karena saat traveling mudah sekali ego kita berbicara dan tidak mempedulikan penduduk setempat yang sedang beribadah. Btw mbak, gemes sama merak tapi gak sampe nyubit-nyubit kan? 😀

    Disukai oleh 1 orang

    • Iya Mas Bama, kalau ga suka sejarah biasanya Nikko diskip oleh turis2 Indonesia walaupun alam sekitarnya baguuuus banget.
      Dan soal ga masuk ke ruang dalem, rasanya malu gitu sm Tuhan hihihi ada orang yang lagi mau ‘audiens’ tapi kita malah petantang-petenteng hihihi… lagian rasanya kan gimana gitu kalo kita yang berada di posisi mereka yg mau ibadah… hihihi
      Soal gemessss, nah… udah tau kan.. makanya saya sering ditinggalin sendirian kl lagi gemes drpd dicubitin atau digigitin hahahaha *awas macan lewat

      Suka

  2. Ah…Shanzaru itu ternyataaaa….
    mbak… aku jadi penasaran sama keluarganya Tokugawa…
    Salut deh mbak…mengutamakan yg mau ibadah… waktu ke Cao Dai Temple aku jadi salah satu turis kurang ajar… di bawah lagi pada ibadah kita malah cuek aja jalan di lantai atasnya…

    Disukai oleh 1 orang

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s