Nepal: Menyapa Sore di Bhaktapur Durbar Square


Sebelum berangkat, seorang teman kantor yang pernah ke Nepal merekomendasikan untuk menginap di Bhaktapur minimal semalam, karena menurutnya saya pasti akan suka. Kenyataannya… bukan suka, melainkan suka banget, sangat teramat suka sekali! Hehe..

Bisa jadi karena suasana hati saat itu sedang bahagia level maksimum, -setelah mengalami keajaiban tak henti sejak dikawal guardian angels kemudian mendapat air suci serta sekalung bunga bersamaan dengan festival Haribodhi Ekadashi di kuil kuno Changu Narayan-, sehingga tak ada rasa keberatan ketika taksi berputar-putar tak jelas di lorong-lorong sempit Bhaktapur untuk mencapai penginapan. Saya memang menyerahkan sepenuhnya kepada pengemudi setengah baya itu untuk menemukan alamat penginapan walau seingat saya letaknya tak jauh dari Durbar Square ataupun Pottery Square. Saya hanya duduk manis penuh kekaguman menyaksikan semua keindahan arsitektur khas Nepal melintas silih berganti di hadapan mata saat mobil memasuki kawasan lama Bhaktapur. Kadang kepala saya berputar tak ingin melepas pandangan indah, tapi yang lebih indah memasuki wilayah pandang. Saya panik, ini kawasan luar biasa untuk dijelajahi. Lalu ketika akhirnya mobil berhenti di depan penginapan kecil, saya langsung keluar lalu berdiri menjejakkan kaki di bumi Bhaktapur. Bahagia, tak percaya.

Tak bisa tidak, semua keindahan itu harus menunggu urusan check-in dan lain-lainnya. Jelas sekali saya tak ingin berlama-lama di penginapan walaupun dengan penuh kesadaran saya harus mengurus kelanjutan perjalanan di Nepal. Kepada petugas penginapan itu, saya  minta bantuan pengurusan tiket penerbangan ke Pokhara untuk keesokan harinya karena saya ingin menikmati Bhaktapur lebih lama. Bahkan sambil menghubungi agen perjalanan, dia sigap memberikan penjelasan arah tempat wisata yang telah berabad berdiri dalam diam itu. Setelah semuanya selesai, segera saja saya mengawali perjalanan di kawasan kuno itu.

Bhaktapur Durbar Square From Western Gate

Bhaktapur Durbar Square From Western Gate

Bhaktapur, -atau dengan lidah lokal sering disebut dengan nama Bhadgaon atau Khwopa-, memiliki makna kotanya para bhakta, para pemuja. Bhaktapur yang terletak sekitar 13 km arah Timur Kathmandu modern itu, pernah menjadi ibukota Kerajaan Malla berabad-abad lampau.

Saat itu saya melangkah di lorong-lorong antara bangunan rumah hingga akhirnya muncul di Bhaktapur Durbar Square, sebuah kawasan yang menjadi bagian dari UNESCO World Heritage Sites di Nepal. Inilah lapangan terbuka yang sudah terhampar sejak berabad lalu dan berhadapan dengan istana yang terkenal dengan 55 jendelanya. Sejuk udara November memberi rasa berbeda. Tetapi entah kenapa saya ingin melewatkan istana Raja, -yang dulu menjadi pusat kekuasaan hingga saat ditaklukkan oleh Raja Prithvi Narayan Shah pada abad-18-, bisa jadi karena teringat Rupee yang kian menipis.

Saya melihat ke sisi yang lain. Jika sebagian masyarakat China percaya angka empat sebaiknya dihindari, tidak demikian dengan para pemuja di Bhaktapur. Di bagian barat Durbar Square terlihat empat kuil yang dikenal dengan nama Char Dham (Char berarti empat). Bagi penganut Hindu, ibadah ke kuil-kuil ini merupakan ziarah mini jika belum mampu pergi ke Kuil Char Dham yang asli di India Utara. Kuil Char Dham terdiri dari Kuil Gopinath yang bergaya tradisional Nepali penuh image Dewa Vishnu lengkap dengan Garudanya yang merupakan kuil terbesar dari kelompok Char Dham ini. Lalu Kuil Rameshwar dengan empat pilar beratap putih dekat gerbang Durbar Square serta kuil kecil Badrinath yang sakral untuk Dewa Vishnu dalam inkarnasinya sebagai Narayan. Kuil keempat adalah kuil Kedarnath yang didedikasikan untuk Dewa Shiva. Dalam gempa 2015 lalu hanya bagian atas kuil yang terbuat dari batu bata merah yang rusak walaupun kuil ini berhasil dibangun lagi setelah runtuh akibat gempa tahun 1934.

Masih di sekitar gerbang Barat, di depan sekolah terdapat Ugrachandi dan Bhairab, sebuah karya abad-17 yang menggambarkan Dewa Shiva dan Dewi Parwati. Namun dibalik keindahannya, terdapat kisah mengerikan yang membuat sakit perut. Sebagaimana penguasa-penguasa keblinger jaman dulu yang ingin hasil karya semasa kekuasaannya abadi, konon tangan pembuat Ugrachandi dan Bhairab sengaja dipotong agar ia tak dapat membuat duplikasinya! Whew…

Sore mulai menghias langit Barat saat saya menyusuri dinding Istana. Sayang sekali karena National Art Gallery saat itu sedang direnovasi, hingga saya hanya bisa mengabadikan Vishnu sebagai Narsingha di salah satu dekorasi gerbangnya. Namun apa yang lebih cantik melihat gerbang emas istana yang dikenal dengan sebutan Sun Dhoka (Golden Gate) berkilau tertimpa matahari sore? Dihiasi dewa-dewi Hindu di bagian atas, gerbang yang dibuat oleh Raja Bhupatindra Malla ini tampak sangat menonjol di dinding Istana. Detil hiasannya begitu mengagumkan, Garuda yang bertarung melawan Naga di puncak lengkung gerbang dan di bawahnya terpampang Dewi Taleju Bhawani berwajah empat bertangan ratusan sebagai dewi pelindung dinasti Malla. Melalui Sun Dhoka ini pengunjung bisa memasuki halaman dalam Istana 55 jendela.

Sun Dhoka - Garuda and the 4 faces Taleju Bhawani

Sun Dhoka – Garuda and the 4 faces Taleju Bhawani

Kemudian di depan Istana tampak menjulang kolom dengan Raja Bhupatindra Malla bersimpuh di puncaknya dengan tangan mengatup di depan dada menghadap Kuil Taleju yang ada di halaman dalam Istana. Sebuah monumen yang mengingatkan saya pada monumen serupa di Kathmandu dan Patan Durbar Square. Semua ukurannya sama, relatif kecil untuk ukuran seorang Raja bahkan saya harus menggunakan zoom untuk mengabadikannya dalam foto. Bisa jadi itulah makna sebuah kerendahhatian seorang penguasa, bukan dirinya yang diperbesar untuk dipuja-puja melainkan hal lain yang lebih berguna bagi banyak orang.

Bhupatindra Malla's Column, Bhaktapur

Bhupatindra Malla’s Column, Bhaktapur

Selemparan batu dari kolom Raja terdapat kuil Vatsala Durga. Kuil indah, saingannya Krishna Mandir di Patan ini didirikan oleh Raja Jagat Prakash Malla pada abad-17. Mengikuti aturan dan arsitektur kuil di India, kuil cantik ini sungguh memanjakan mata dengan hiasannya yang detil. Teringat saat matahari sore menerpa permukaan kuil, tak bosan-bosan saya mengabadikannya dari beberapa sudut. Keindahannya yang menjadi ikon Bhaktapur Durbar Square, -yang menjadi pusat pandangan mata wisatawan yang datang-, meluluhlantakkan hati saya karena kini keindahannya hanya tinggal kenangan sejak gempa April 2015 meruntuhkannya rata dengan tanah. *sedih

Dan di atas dua pelataran di dekatnya terdapat dua genta. Yang ukurannya lebih besar, Taleju Bell, didirikan oleh Raja Jaya Ranjit Malla pada abad-18 untuk mengingatkan waktu ibadah pagi dan sore di Kuil Taleju. Genta yang lebih kecil diletakkan di depan kuil Vatsala Durga yang dikenal sebagai Genta Menyalak (Barking Bell). Konon, genta kecil yang didirikan oleh Raja Bhupatindra Malla sebagai pembuktian mimpinya ini bila dibunyikan mampu membuat anjing-anjing menggonggong. Sempat terlintas di benak untuk membunyikannya tapi saya takut nanti anjing-anjing itu jadi fans mengikuti kemana saya pergi hehe..

Saya melanjutkan langkah menuju sebuah pendopo yang cukup lapang yang dikenal sebagai Chyasilin Mandap melengkapi kuil Vatsala Durga. Pendopo ini dijaga sepasang singa mengkilat yang dibuat dengan sangat indah, menjadi tempat istirahat saya ketika kaki sudah lelah menikmati Durbar Square.

Lions as the guardians of Chyasilin Mandap

Lions as the guardians of Chyasilin Mandap

Masih di sekitar Istana, di sudut tenggara berdiri Kuil Siddhi Lakshmi yang dibangun pada abad-17. Dihiasi dengan penjaga-penjaga yang berpasangan yang berbeda jenis, yang paling depan penjaga berwajah Oriental yang lucu dan memegang anak dan anjing, undakan berikutnya dijaga sepasang kuda berhias, lalu badak yang juga berhias, kemudian singa yang berwajah manusia dan entah apa lagi yang pastinya memiliki makna dalam karena seperti biasanya, setiap patung penjaga itu memiliki kisahnya tersendiri.

Dan akhirnya saya berdiri di depan dua patung singa yang tampak menyolok namun janggal di tengah-tengah lapangan terbuka itu. Bertangga tetapi tidak ada apa-apa di belakangnya. Ada yang mengatakan bahwa sebelumnya terdapat kuil indah di belakangnya tetapi telah rata dengan tanah akibat gempa bumi puluhan tahun atau berabad sebelumnya. Namun mungkin yang lebih masuk akal, kedua patung singa itu memang sengaja dibuat sebagai penjaga sebelum memasuki kawasan istana dari arah Timur. Saya tidak tahu kebenarannya, tapi yang jelas keduanya sangat menarik! Lagi pula singanya seksi hehe…

Bhaktapur Durbar Square from Eastern Gate

Bhaktapur Durbar Square from Eastern Gate

Di sebelah Utara patung singa terdapat kuil Fasidega yang memiliki pelataran tinggi yang luas dengan bangunan berwarna putih di atasnya. Kuil yang didedikasikan untuk Dewa Shiva ini, memiliki undakan bertingkat yang masing-masing dijaga oleh pasangan gajah, singa dan sapi yang sangat keren. Dan di bagian dalam bangunan puncak terdapat sebuah lingga sebagai lambang Dewa Shiva. Sayangnya, bangunan yang berwarna putih telah runtuh dalam gempa April 2015 meninggalkan pelataran dan patung-patung penjaganya. Konon sebelum runtuh, kuil Fasidega ini dapat terlihat dari kuil Changu Narayan karena puncak putihnya (tetapi yang jelas saya tidak dapat melihatnya saat berada di Changu Narayan, karena bangunan serupa Kuil Fasidega itu tidak hanya satu!)

Kaki melangkah terus menyusuri jalan-jalan di Bhaktapur ditemani sore yang manis. Tanpa terasa saya telah melewati Tadhunchen Bahal yang kini menjadi tempat tinggal Dewi Kumari dari Bhaktapur, the little princess, the living goddess. Kali ini saya melewatkan tempatnya, bisa jadi melewatkan kesempatan berpandang mata, berbahasa kalbu dengannya. Tetapi tak ada penyesalan karena saya telah melakukannya dengan Dewi Kumari di Kathmandu.

Pashupatinath Temple

Pashupatinath Temple – Can you see the erotic panels?

Saya kembali kearah istana menyusuri beranda lorong kayu yang berukir melengkung dan berhenti di depan sebuah kuil tua di sebelah selatan dari Kuil Vatsala Durga. Terkenal dengan nama Kuil Pashupatinath, -karena menjadi replika kuil di Pashupatinath itu-, berdiri dengan megahnya. Kuil yang didirikan oleh Raja Yaksha Malla pada abad-15 ini didedikasikan untuk Dewa Shiva yang diperkuat dengan kehadiran arca Nandi di sebelah Barat, sang bhakta yang menjadi kendaraan setia Dewa Shiva. Kuil Hindu megah yang tertua di kawasan ini bernuansa Tantra sehingga terlihat jelas panel-panel erotis tanpa harus memanjangkan leher dan membelalakkan mata. Panel erotis yang terpampang jelas di sekeliling kuil seakan memberi konfirmasi bahwa aktivitas seksual bukanlah hal yang tabu, bahkan konon lebih bersifat spiritual yang hakiki atas penyatuan jiwa manusia dengan alam semesta. Namun terlepas dari kebenarannya, faktanya adalah semua panel erotis berada di bagian luar kuil. Sebuah makna yang kebenarannya bisa diterima banyak orang, bahwa semua urusan keduniawian dan nafsu sudah seyogyanya ditanggalkan sebelum melakukan ibadah, sesederhana itu. Bukan begitu?

Nandi the Bull

Nandi the Bull

Langit Barat Bhaktapur semakin oranye, kembali saya melanjutkan langkah membiarkan diri ini get-lost diantara lorong-lorong sempit Bhaktapur. Alunan musik Om Mani Padme Hum terdengar samar dari dalam kios, berpadu harmonis dengan alunan Bhajan yang juga terdengar dari kios yang lain. Tak ada yang tersinggung bermuka garang, disini Hindu Buddha berdamping mesra, sama-sama mengalunkan musik puja dan puji, menawarkan damai bahagia…

Iklan

20 pemikiran pada “Nepal: Menyapa Sore di Bhaktapur Durbar Square

    • Aamiin, terima kasih atas doanya ya. Saya juga berharap demikian walaupun tidak semua bangunan runtuh, tetap saja yang rusak perlu diperbaiki dan yang runtuh perlu dibangun kembali, karena kecantikannya itu lho… bener-bener milik dunia…

      Suka

  1. Di Indonesia juga Tantra menempati relief-relief bawah sebelum bergerak ke atas dan cerita berubah menjadi epos-epos yang lebih bersifat religi. Dalam agama Hindu, yang namanya hawa nafsu (kama) memang mesti dicapai terlebih dahulu sebelum mencapai moksa (sumber: pelajaran agama Hindu SMP :hehe). Penasaran dengan gentanya, itu boleh dibunyikan pengunjung secara bebas? Atau harus ada ritual dulu?
    Di sana dominannya Siwa-Wisnu-Buddha ya… menarik sekali, terutama dengan gajah-gajah yang ada di sudut kiri dan kanan bawa Sun Dhoka. Yah, nama pun persebaran budayanya semua dari satu sumber, pengolahannya saja yang berbeda-beda :)).

    Disukai oleh 1 orang

    • Terima kasih banyak Gara atas penjelasannya yang pastinya lebih ngerti soal Hindu. Hihi.
      Soal membunyikan genta, hahaha ga boleh Gara.. terlintas nakal boleh kan ya? Tapi melakukannya wheww… bisa2 engga pulang deh *lebay
      Tapi ketika gempa terjadi, genta2 itu berbunyi lho, bisa jadi krn gempanya keras banget atau yaa memang dibunyikan…
      Di Nepal menurutku dominan Wisnu deh, tapi aku bisa salah ya Gar… krn kuil2 yg ngetop itu banyak yg ke Wisnu as Narayan seperti di Kathmandu. Yang di Patan juga banyak, bersaing dg Buddha. Di Bhaktapur ini lumayan banyak kuil yang ke Siwa.
      Gajah ya? Memang ngetop juga disini…

      Disukai oleh 1 orang

      • Paling disamperin polisi ya Mbak kalau gentanya “kesenggol” #eh.
        Iya, mungkin karena keras banget makanya sampai bunyi… kalau dibunyikan, dibunyikan siapa ya, kan orang-orang pada kabur :hihi.
        Iya, gajah memang ngetop… :hehe.

        Disukai oleh 1 orang

        • Males Gar… genta pasti diletakkan di pelataran agak atas. Jadi aku harus naik2 kalo niat iseng haha… dan sebelum itu pasti si polisi udah siap2 toa hahaha….
          Dan genta yang dibunyikan ya sama oranglah… kan larinya ke durbar square gitu… (pdhal sebelahnya kuilnya runtuh)

          Disukai oleh 1 orang

  2. Bhaktapur memang indah banget. Saya masih ingat pagi pertama saya di sana, gak lama setelah matahari terbit, sinarnya yang masih lembut membuat Nyatapola ‘menyala’ indah banget. Mengenai gempa, Chyasilin Mandap ini menjadi simbol harapan, karena dulunya sempat runtuh akibat gempa 1934 dan lama tidak dibangun. Berkat kegigihan dua orang Jerman yang dengan telaten mengumpulkan catatan, gambar, dan informasi lainnya mengenai bangunan itu sehingga akhirnya bisa direkonstruksi seperti aslinya. Semoga bangunan-bangunan yang saat ini masih berupa puing-puing suatu hari nanti bisa berdiri kembali.

    Disukai oleh 1 orang

    • Wah, soal pagi yang indah di Bhaktapur masih draft nih, memang indah banget ya rasa sinar matahari-nya. Luar biasa banget ya, saya mengalaminya di Dattatreya.
      Jerman memang banyak membantu ya? Setau saya Kedarnath temple juga dibangun kembali oleh tim Jerman setelah gempa 1934, bahkan dari batu-batu orisinalnya. Benar Bama, saya mengamini semua doa baikmu, saya juga berharap demikian, juga untuk kuil Vatsala Durga yang cantik itu (yang katanya saingannya Krishna Mandir di Patan, walaupun menurut saya pribadi siiih, saya lebih suka Krishna Mandir di Patan hehehe…)
      Beberapa hari lalu saya terpikir untuk kembali kesana, tapi kuat ga ya? Ntar sedih terus….:)

      Suka

    • Menurut buku panduan sih Win, Agustus itu saatnya monsoon. Hujan sering turun, sering longsor di pegunungan, becek berlumpur. Pegunungan bersaljunya lebih sering ketutup awan tp itu saat low season, hotel2 bs murah hehe.

      Suka

please... do let me know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s