Nepal: Bertabur Legenda di Patan Durbar Square


Mengunjunginya jelang sore, hanya sehari sebelum Haribodhini Ekadashi, -salah satu hari untuk upacara kepada Dewa Wisnu-, Patan Durbar Square dipenuhi oleh warga yang akan beribadah yang saat itu berpusat di bawah tenda di bagian depan. Tapi berada di tengah kota yang punya nama lain Lalitpur, yang artinya Kota yang Cantik ini, memang benar-benar mengesankan walaupun gempa besar berkekuatan 7.8 bulan April 2015, -beberapa bulan setelah perjalanan saya-, telah meluluhlantakkan sebagian besar bangunan utama bersejarah yang tercatat sebagai bagian dari UNESCO World Heritage Site di Lembah Kathmandu itu. Wajah cantik Patan berubah muram karena ribuan nyawa tercabut dalam sekejap dan banyak bangunan bersejarah warisan dunia yang tak ternilai harganya itu tak lagi berdiri di situ.

Patan Durbar Square in the afternoon

Patan Durbar Square in the afternoon

Patan memang merupakan kota kuno, konon sudah dikenal sejak Dinasti Kirat pada abad 3 SM dan dikembangkan oleh Dinasti Licchavi pada abad 6, kemudian dilanjutkan oleh Raja-Raja Malla. Bahkan konon Raja Ashoka dari India, -karena cintanya pada Buddha-, membangun stupa di empat arah mata angin, -simbol dari Dharma Chakra-, masing-masing di wilayah Pulchowk untuk arah Barat, di Ebahi Tol  untuk Timur, di Lagankhel  untuk Selatan dan Teta untuk Utara. Keberadaan semua stupa itu seakan memberi konfirmasi bahwa Patan merupakan salah satu kota tua di Lembah Kathmandu.

Saat saya menjejakkan kaki disitu, mentari jelang sore itu menyinari dengan cantiknya ke seluruh kawasan Patan Durbar Square yang berarsitektur Newari dan berpusat pada bangunan Istana Kerajaan serta berbagai kuil yang bersisian dengan Istana. Cukup membuat gerah, tetapi keindahannya tak mampu membuat saya berpaling dari berpanas-panas demi untuknya.

Kisah Jaya Wijaya dan soal Sati 

Kuil cantik yang disebut Chyasim Deval Krishna ini adalah bangunan pertama yang mengucapkan selamat datang kepada saya setibanya di Patan Durbar Square. Penuh kekaguman saya mengamati kuil yang didirikan puteri Raja Yognarendra Malla pada tahun 1723.  Bentuknya yang oktagonal dan mengerucut ke atas dengan kubah-kubah kecil di sisi simetrisnya, -serupa kuil-kuil Shikara di India-, terlihat sangat berbeda dibandingkan kuil-kuil tradisional yang bergaya Newari, apalagi seluruh kuil yang terdiri dari 3 lantai ini terbuat dari batu. Lantai pertamanya memiliki beranda berkolom lengkung yang mengelilingi kuil. Sungguh cantik!

Di depan kuil cantik ini, duduk dua patung singa penjaga yang dikenal dengan nama Jaya – Wijaya yang langsung mengingatkan saya pada kisah Mahabharata ketika Krishna membunuh Shishupal dengan Cakra Sudharsana-nya dalam acara Rajasuya Yudhistira, sebuah kisah yang memiliki makna dan sudut pandang bertingkat, yang mengajarkan untuk tidak langsung menghakimi secara hitam putih pada sebuah peristiwa.  Adakah yang ingat kaitannya?

Tapi sungguh memilukan! Upacara ritual tidak pernah dilakukan di kuil Krishna ini karena konon dilatari kisah tradisi heroik puluhan perempuan yang memilih melakukan sati atau bakar diri ketika berlangsung kremasi Raja Yognarendra yang mangkat. Mengetahui ini, walau mentari masih terang benderang, saat itu saya langsung bergidik.

Dan hanya beberapa langkah dari kuil Chyasim Deval Krishna, ada sebuah pelataran yang menjadi fondasi dari sebuah genta yang besar, yang disebut Genta Taleju (Taleju’s Bell) dan didirikan pada tahun 1736 oleh Raja Vishnu Malla. Dulu, genta ini dibunyikan saat rakyat ingin mengajukan keluhan kepada Raja, namun sekarang dibunyikan hanya setahun sekali saat festival penting. Dan konon…. saat gempa April lalu genta ini berdentang terus menerus. Bisa jadi karena bumi bergoyang, genta jadi berbunyi atau memang ada orang yang sengaja membunyikannya kan?

Di bagian lain, di sebelah Timur Patan Durbar Square, berdiri Royal Palace yang dindingnya terbuat dari batu bata merah dan bergaya arsitektur Newari serta memiliki pintu-pintu masuk yang berbeda untuk masuk ke halaman-halaman dalam, yang terdiri dari Sundari Chowk, Mul Chowk dan Keshavnarayan Chowk (Chowk adalah halaman dalam). Dan tak beda dengan bangunan serupa di Katmandu, bangunan-bangunan di kompleks Istana Raja yang rata-rata dibangun pada abad 17 ini, memiliki lantai-lantai yang bertingkat sehingga dapat memantau seluruh aktivitas di Durbar Square. Yang terbesar adalah Kuil Degu Taleju dengan lima lantai beratap tiga tingkat yang dihiasi oleh genta-genta kecil di sekeliling pinggiran atap yang berdenting terkena tiupan angin. Di bagian agak dalam berdiri Kuil Taleju yang atapnya menyerupai lingkaran dan juga dihiasi genta-genta kecil di sekeliling pinggiran atap. Entah kenapa, tiba-tiba saya terbayang kalau malam hari yang gelap dan sepi tanpa angin, tiba-tiba ada bebunyian genta-genta, waduuh…

Patan Royal Palace

Patan Royal Palace

Kuil-Kuil Historis Ratusan Tahun

Berseberangan dengan tembok Istana, berdiri kuil Hari Shankar yang kuno berusia lebih dari 300 tahun yang didirikan oleh putri Raja Yognarendra Malla. Kuil penuh ukiran ini merupakan tempat ibadah yang didedikasikan kepada dewa yang diwakili setengah Wisnu dan setengah Siwa. Yang menarik, struktur atap kuil diukir sangat indah walaupun, -menurut beberapa sumber-, penggambarannya berupa penyiksaan makhluk di berbagai tingkat neraka. Hiiii…. Saya cukup menyesal juga tidak memperhatikan dengan lebih teliti karena tidak merasa nyaman dengan mata-mata yang memandang.

Sepasang patung gajah yang sedang duduk menghadap Royal Palace menghiasinya sebagai penjaga gerbang kuil. Saya tak akan pernah lupa keindahan sinar mentari sore yang menerangi kolom-kolom kayu penuh ukiran itu dan tak mampu membayangkan bagaimana cara mengembalikan nilai historis ratusan tahun yang hilang dalam sekejap karena kuil ini telah runtuh, meninggalkan sang gajah di tempatnya.

Sedikit melangkah ke Utara, terdapat Vishnu temple yang dibangun pada akhir abad-16 dari batu bata kokoh berbentuk sikhara yang digunakan untuk melakukan pemujaan terhadap Narasimha, reinkarnasi ke empat Dewa Wisnu sebagai manusia berkepala singa yang membinasakan Hiranyakashipu. Di hadapannya berdiri sebuah kolom yang di puncaknya terdapat patung Raja Yognarendra Malla sedang bersimpuh menghadap Royal Palace dengan perlindungan Naga. Patung Raja tampak berkilau terpapar sinar mentari sore , indah sekali.

Tetapi dalam gonjang-ganjing lapisan tanah akibat gempa besar tahun lalu, Vishnu temple mampu tegar bertahan namun tidak demikian dengan patung Raja Yognarendra Malla yang jatuh tergeletak di permukaan tanah di depan Vishnu Temple.

Selemparan baru darinya, berdiri Kuil Char Narayan atau disebut juga dengan Kuil Jagannarayan yang cantik. Kuil dua lantai yang dibangun pada tahun 1565 ini merupakan kuil tertua di Durbar Square dan penuh ukiran rumit mahakarya perajin Newari. Waktu saya berkunjung ke tempat itu hanya sehari sebelum Haribodhini Ekadashi yang merupakan salah satu hari upacara untuk Dewa Wisnu, sehingga tak heran kuil Char Narayan ini ramai oleh umat yang akan beribadah.

Namun sayang sekali, karena banyak ditopang oleh kayu dengan dasar bata merah, kuil berusia 4,5 abad ini runtuh, rata dengan tanah saat gempa April tahun 2015 lalu. Walaupun nilai historis ratusan tahun hilang dalam sekejap, tetapi berita baik tentang kekuatan budaya Nepal datang dari kuil ini. Dua hari setelah runtuh seluruh benda berharga di dalamnya dapat diselamatkan, kemudian semua reruntuhan dibersihkan dalam seminggu serta sebulan setelah gempa di tempat yang sama telah dapat dilakukan upacara peribadatan (puja) walaupun hanya di tempat terbuka tanpa bangunan pelindung. Bukankah Yang Maha Kuasa menerima semua doa yang disampaikan dengan tulus?

Dari Mimpi Bertemu Dewa Lalu Meraih Kemenangan

Dan serupa dengan kuil Krishna kembarannya di dekat pintu masuk Durbar Square, di sebelah Kuil Char Narayan berdiri  Krishna Mandir, yang tepat di depannya terdapat Garuda sedang duduk bersimpuh di puncak sebuah kolom. Di tahun 1636 Raja Siddhi Narasimha Malla mendirikan kuil yang seluruhnya terbuat dari batu ini, konon berdasarkan mimpi melihat Dewa Krishna berdiri di lokasi tempat kuil berdiri saat ini. Dan tidak hanya itu, legenda tentang kecintaan dan kebaktian Sang Raja terhadap Dewa Krishna kian digaungkan. Sepuluh tahun sejak kuil berdiri, Raja Siddhi Narasimha Malla dapat memenangkan perang melawan kerajaan tetangga karena berseru memanggil nama Dewa Krishna untuk menghabisi musuhnya. Bagi mereka yang percaya, Dewa Krishna merupakan sosok tempat kemenangan selalu berpihak kepadanya.

Terlepas dari cerita itu, kuil yang eye-catching ini memiliki hiasan cerita Mahabharata dan Ramayana.  Di lantai pertama kuil berwarna abu-abu ini bisa dilihat kisah Mahabharata sedangkan cerita Ramayana ada di lantai dua. Dua lapis penjaga gerbang kuil tampak menghiasi bagian pintu masuk, sepasang diantaranya berbentuk singa. Hanya saja kalau mau datang ke kuil ini, perlu diperhatikan waktunya. Jika suka dengan keramaian dan festival, coba datangi saja ketika Janmashtami, yaitu saat peringatan kelahiran Dewa Krishna. Pasti tempat ini penuh dengan manusia yang melakukan persembahan dan perayaan.

Perjalanan menyusuri kuil belum berakhir. Di sebelah Krishna Mandir berdiri Kuil Vishwanath yang dijaga oleh sepasang gajah yang berdiri. Sebagai kuil yang didedikasikan kepada Dewa Siwa, kuil dua lantai ini memiliki lingga di ruang dalam yang hanya bisa disaksikan oleh penganut Hindu yang akan beribadah. Selain itu kuil yang dibangun oleh Raja Siddhinarasimha Malla pada awal abad-17 ini, dihiasi dengan ukiran rumit pada kayu-kayu penyangga yang bernuansa erotis seperti kuil-kuil Siwa di India. Saya malu tapi mau lihat… hihihi…

Dan tentu saja seperti juga Garuda menemani Kuil Dewa Wisnu, pasti ada Nandi yang menemani Kuil Dewa Siwa. Saya menemukan sang bhakta di bagian barat dari kuil, yang menurut mata saya bentuknya tidak serupa dengan yang saya lihat di Indonesia.

Tiga Jendela Emas di Kuil Bhimsen

Terletak pada wilayah ujung Durbar Square, kuil Bhimsen yang terdiri dari 3 lantai dan dijaga sepasang singa berambut ikal ini memiliki tiga jendela berlapis emas yang sangat indah. Mudah sekali ditemukan karena jendela yang saling berhubungan ini dapat dilihat pada dinding yang menghadap timur atau Istana. Kuil yang didirikan oleh Raja Srinivasa Malla tahun 1680 ini, didedikasikan kepada dewa yang mengatur urusan bisnis, perdagangan dan karya seni sesuai tradisi Newari. Uniknya, sesuai peruntukannya, tepat di depan kuil ini terhampar pasar yang menjual berbagai karya seni dan keperluan sehari-hari.

The Golden Windows of Bhimsen Temple

The Golden Windows of Bhimsen Temple

Bersebelahan dengan pasar tadi, masih di seberang kuil Bhimsen terdapat Manga hiti, sebuah tempat kuno pengambilan air yang masih berfungsi hingga kini, yang letaknya satu lantai lebih rendah dari permukaan tanah dan tepat berbatas dinding dengan Bangunan Istana yang kini digunakan sebagai Museum Patan. Penduduk sekitar dapat mengambilnya melalui tiga buah pancuran cantik berhias makara. Sambil beristirahat, saya menyaksikan penduduk lokal maupun turis mengambil air di Manga hiti dari salah satu dari dua buah bangunan yang disebut dengan Mani Mandap, yang terletak di awal tangga turun dan difungsikan untuk memantau proses pengambilan air. Sayang sekali kedua Mani Mandap tempat saya duduk beristirahat ini telah tak ada lagi di tempatnya, runtuh terkena gempa April lalu.

*

Tak sadar waktu berlalu sangat cepat, sore sudah datang dan saya harus melanjutkan kunjungan ke tempat wisata lainnya. Saya mempercepat langkah meninggalkan kawasan cantik itu menuju tempat parkir sambil melongok-longok mencari mobil sewaan saya. Ampuuun… Saya lupa mencatat pelat nomor mobilnya! 🙂

Iklan

19 pemikiran pada “Nepal: Bertabur Legenda di Patan Durbar Square

  1. waktu kesini Manga hitti with Makara nggak secantik itu. rusak dan airnya keruh banget. Turis cuman menengok dari atas saja. Hanya aku sama si kecil yang tertarik masuk kebawah. But after all, its still very beautifull ancient city meski sebagian kuil dan bangunan istana ditopang dengan kayu kayu akibat gempa.

    Disukai oleh 1 orang

    • Iya mba, saya dengar setelah gempa manga hiti itu menjadi tempat penyimpanan kayu-kayu yang roboh, krn sebagian dari istana ada yang jatuh kesitu. Ga heran jadi keruh. Duh, saya masih ingin jalan-jalan kesana.
      Jadi trekking Himalaya di Nepal, mbak?

      Suka

    • Kayaknya memang perlu disempatkan ke nepal ya… apalagi buat penggemar gunung dan trekking, Nepal itu tempatnya bangetttt… Beberapa waktu lalu saya ikuti cerita blogger yang ga pernah mandaki gunung di Indonesia, tapi berani short-trekking di Nepal karena mau lihat pemandangan pegunungan bersalju itu dari dekat dan termehek-mehek disana 😀 Trus pas saya mendarat di Nepal itu, saya ketemu lho sama dua orang Jawa yang khusus mau naik ke EBC. Saya kagum banget, soalnya penampilannya santai banget, kayak mau jalan2 ke TN Gede-Pangrango aja. 😀 😀 Beda sama bule2 yang biasanya heboh dengan bawaannya hehe

      Disukai oleh 1 orang

      • Waaaah, iya itu saya juga pengen. Gak kudu ke Everest karena gak kuat duitnya, tapi setidaknya ngerasain trekking di saljunya hahaha.

        Wuih, Indonesia itu hebat2 kok memang hehehehe

        Suka

  2. Hi Mbak Riyanti…. Salam kenal ya dari aku, Ulin….

    Aku lagi baca-baca tulisanmu yang kayaknya cukup seru, panjang lebar dan detail. Kebetulan aku berencana ke Nepal awal bulan Maret ini.

    Kayaknya kalau dilihat tulisan Mbak ini, ke Nepalnya solo travelling ya …. ?

    Disukai oleh 1 orang

  3. Hari Shankar ini adalah salah satu bangunan yang hancur akibat gempa. Tapi Chyasim Deval Krishna, istana, Vishnu temple, Krishna Mandir, Vishwanath, dan Bhimsen selamat, meskipun di kedua yang saya sebutkan paling akhir ada kayu-kayu penopang untuk mencegah tembok kuil-kuil tersebut dari keruntuhan. Sempat ke Sundari Chowk juga gak mbak? Pas saya ke sana lokasinya ditutup karena sedang ada kegiatan renovasi/rekonstruksi. Kalau lihat dari foto-fotonya ada satu spot di tengah-tengah Sundari Chowk yang bagus banget: https://c1.staticflickr.com/9/8696/16931637586_d8565fb394_b.jpg

    Disukai oleh 1 orang

    • Aduh itu royal hiti yang memang cantik banget… tapi hihihi selalu ada banyak penyesalan di setiap trip terutama di Nepal ini krn waktu yang sempit. Salah satunya eh banyak deh… ya inside royal palace ini, all the 5 ashoka stupas dll. Kayaknya perlu balik lagi deh hihihi..
      Terima kasih updatenya soal perkembangan templesnya ya Bama. Untung ada internet ya jadi bisa liat dan tau kondisi disana ya. Makanya sy agak lega waktu tau char narayan atau jagannarayan yang di sebelah Krishna Mandir itu bisa dibangun lagi. Ngomong2, sy itu awalnya bingung lho dg nama2 kuilnya, hampir sama dan dipertukarkan… ngalamin gak? 😀

      Suka

please... do let me know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s