Perjalanan Menuju Tanah Champa


Penerbangan AirAsia ke Kuala Lumpur Rabu malam itu didelay 1 jam, padahal beberapa kali menggunakan penerbangan jam yang sama jarang sekali mengalami penundaan selama itu, bahkan beberapa minggu sebelumnya saat hendak ke Siem Reap saya merasakan bahwa waktu boarding-nya dipercepat. Tetapi, dibalik sebuah delay selalu terdapat situasi yang indah, paling tidak saya bisa lebih menikmati makan malam di bandara itu walau hanya ditemani ponsel dan orang-orang di sekitar yang tidak saya kenal πŸ™‚

Kemudian dalam waktu yang tak lama, di tempat pemeriksaan barang jelang memasuki ruang tunggu langkah kaki saya terhenti oleh rombongan yang sepertinya akan melakukan ibadah umroh. Hampir 15 menit rombongan, -yang kebanyakan terdiri dari para lanjut usia-, membukakan mata hati saya untuk mendahulukan mereka agar tak terlepas dari rangkaian rombongannya, memasukkan semua barang bawaannya ke mesin pendeteksi, termasuk jaket, ikat pinggang, dompet, tas tangan, tas plastik kresek juga nasi kotak beserta kemasan air di dalamnya, yang menimbulkan kehebohan di ujung mesin dari para petugas avsec yang mengatur mereka dengan tingkat kesabaran yang tinggi.

Menyaksikan situasi di hadapan mata itu, benak saya dipenuhi binar berbagai pandang: para lanjut usia yang didampingi pasangannya yang sama tuanya, melakukan perjalanan dengan transit di berbagai kota, untuk bersimpuh di rumah Tuhan yang penuh keberkahan, dengan segala keterbatasan mereka dan di sisi lain kerasnya peraturan, kondisi alam dan berbedanya budaya dari negeri-negeri yang harus mereka lewati. Mereka-lah, pejalan yang sesungguhnya, yang penuh keikhlasan dan kesabaran, untuk sebuah tujuan yang jelas.

Saya tertegun dengan apa yang terjadi di hadapan mata sebelum melakukan perjalanan ke negeri Champa. Namun sayangnya pembelajaran awal penuh hikmah itu sepertinya terabaikan dalam perjalanan saya kali ini, tenggelam oleh antusiasme merambah sebuah negara lagi.

Hoi An Riverside - the Destination

Hoi An Riverside – the Destination

Sesaat kemudian setelah terjerembab kembali ke alam nyata jelang pemeriksaan mesin deteksi, saya tersenyum penuh pengertian kepada petugas avsec perempuan, memberinya semangat untuk tetap bersabar karena sungguh tak mudah menjadi orang di garis depan untuk pengamanan sekaligus memberikan pelayanan yang tinggi.

Setelah boarding pun saya seharusnya lebih banyak bersyukur karena beruntung mendapat kursi di barisan nomor 3, -baris hot-seat yang berharga mahal-, tanpa harus membelinya. Lalu seperti biasa para kru kabin sibuk membantu penumpang yang memenuhi lorong dengan berbagai barang di tangan untuk mendapat ruang di bagasi atas dan menjejalkan badannya di kursinya masing-masing. Kali ini tampaknya semua kursi terisi penuh.

Dan dalam setiap perjalanan pasti memiliki sebuah cerita. Dari hal-hal kecil, yang mungkin terlihat tak penting tetapi berserak banyak makna. Seperti, terbang di bulan Desember yang penuh awan hujan menyebabkan penerbangan yang memakan waktu sekitar 2 jam itu dihiasi dengan turbulensi yang tak sedikit. Walaupun sering terbang, saya tetap kuatir dengan turbulensi di udara dan langsung diam dalam doa memohon keselamatan terhadap ujian dalam perjalanan ini.

Ada yang tak biasa saat mendarat di KLIA2 ketika waktu menunjukkan lebih dari tengah malam sebagai akibat dari delay. Penumpang bisa turun melalui garbarata namun pintu terminal bandara masih tertutup dan perlu persetujuan dari pihak berwenang. Walau tak lama mengantri menunggu akses, saya tersadarkan bahwa bagaimanapun terminal bandara adalah salah satu pintu masuk ke sebuah negeri.

Selepas pintu terminal yang akhirnya dapat dibuka itu, saya berjalan menuju imigrasi yang lagi-lagi menghentikan langkah saya. Orang di depan saya bermasalah entah apa sehingga diproses lama sekali. Dan akhirnya ketika merebahkan tubuh di hotel bandara itu, saya hanya punya waktu 3 jam kurang untuk bersiap dan meneruskan penerbangan ke tanah Champa.

Walau lelah dan mengantuk, saya tak lupa akan kejadian yang saya hadapi sebelumnya: delay, rombongan umroh, turbulensi, pintu terminal yang tertutup, imigrasi yang lama… Sebuah pertanyaan yang dibawa ke dunia lelap, nilai dan makna apa yang sedang disiapkan untuk saya dalam perjalanan kali ini?

*

Esok paginya semangat baru menghiasi jiwa mengawali sebuah hari dan perjalanan baru ke tanah Champa, menenggelamkan tanya di benak pada malam sebelumnya. Saya berjalan menuju gerbang ruang tunggu yang penuh dan terlihat hanya beberapa wisatawan Barat diantara penumpang Asia. Telinga menangkap alun bahasa yang saya tak pahami dan sedikit banyak meredupkan semangat menjelajah. Tetapi dari hati terdengar bukankah semua perjalanan diawali dengan sebuah ketidaktahuan?

Saya terbang ke Ho Chi Minh City dan mendapat kursi di bagian belakang. Di belakang saya duduk seseorang yang terus menerus bicara dan seakan tak sadar mengetuk-ngetuk kursi saya sehingga kepala saya jadi terpental-pental, yang lucu jika dikartunkan. Sekali dua kali saya biarkan, lama-lama timbul kejengkelan di hati. Namun saya meredamnya karena ini adalah perjalanan ke negeri baru dengan sosial budaya yang berbeda yang sedang saya masuki dan sesuaikan. Saya mencoba menahan diri dengan tidak bersandar lalu mencoba membaca buku, sekaligus mencoba mendengarkan gaya bicara mereka. Walau tak 100% akurat, saya sampai pada kesimpulan bahwa mereka yang duduk di belakang saya tak paham bagaimana cara bersikap yang baik di pesawat. Bisa jadi terbang adalah pengalaman baru bagi mereka dan mungkin juga saya merasa waktu yang terlalu berharga untuk dibuang demi menegur mereka yang tak beradab.

Tak itu saja, setelah mendarat saat pesawat masih bergerak menuju terminal, ada beberapa penumpang yang sontak berdiri hingga ditegur oleh kru pesawat. Saya sering mendengar orang menyalakan ponsel sebelum sampai di terminal, tetapi penumpang berdiri saat pesawat masih bergerak menuju terminal, baru saya temukan di Vietnam ini, setelah dulu di Kamboja beberapa tahun lalu.

Tan Son Nhat Airport - Ho Chi Minh City

Tan Son Nhat Airport – Ho Chi Minh City

Melangkah di bandara internasional Tan Son Nhat di Ho Chi Minh City, saya perlu membuka mata lebih lebar karena informasi dalam bahasa lokal jauh lebih banyak daripada bahasa Inggeris. Dan karena akan melanjutkan perjalanan ke Da Nang, saya bertanya kepada petugas di booth Transfer. Sebagai jawabannya dia hanya menempelkan stiker Transit di baju saya lalu meminta saya mengantri di imigrasi yang antriannya mengular panjang di hampir semua konter. Membuat saya tersadar untuk selalu waspada dan terjaga, segala sesuatu datang tak mudah karena petugas pun tak banyak membantu.

Ho Chi Minh City from Above

Ho Chi Minh City from Above

Bermenit-menit antri dan akhirnya terbebas dari imigrasi, memaksa saya bertanya di bagian informasi tentang penerbangan domestik ke Da Nang. Petugas yang melayani benar-benar efisien dalam menjawab juga tanpa senyum, “go out, turn right, then walk, you’ll find the domestic building”. Ah, dia tak perlu cerita tentang cuaca kan?

Mengikuti sarannya, begitu keluar pintu terminal, saya terhenyak mendapati kerumunan ratusan layanan penjemputan dengan papan nama masing-masing, belum lagi wajah-wajah pengemudi taksi yang menawarkan ke pusat kota, seakan konfirmasi ketidakteraturan layanan taksi bandara di HCMC. Hampir semua orang yang saya kenal mengatakan jangan pernah mengambil taksi langsung di bandara HCMC, atau pesanlah layanan antar-jemput di HCMC. Bahkan ada yang merekomendasi agar cek kebenaran nama dan foto pengemudi ke pusat layanan atau hotel. Taksi bandara HCMC ini memang terkenal parah, bahkan ada yang berpengalaman diketok hingga jutaan VND. Menyaksikan pemandangan ini, saya bersyukur bisa mengetahui besar massanya tanpa perlu berkutat dengan mereka lalu melanjutkan jalan kaki ke terminal domestik yang memang tak jauh.

Setelah check-in di Vietnam Airlines yang penerbangannya direschedule 30menit, saya bergegas menuju ruang tunggu walaupun waktu boarding masih lama. Sambil berjalan menuju gerbang, saya memperhatikan suasana terminal domestik yang jauh lebih tenang daripada terminal internasional yang riuh. Suasana yang tenang membuat saya nyaman berjalan-jalan menanti penerbangan selanjutnya jelang tengah hari. Bahkan saya sempat makan siang lebih awal di sebuah gerai cepat saji sambil menikmati internet yang cepat dan gratis! Ini yang saya suka dari Vietnam πŸ™‚

Penerbangan ke Da Nang dengan Vietnam Airlines berjalan menyenangkan. Kondisi pesawat tak terlalu baru, tetapi nyaman dengan ruang kaki yang lebih luas, yang rasanya lebih luas daripada Garuda. Duduk di kursi berjendela memungkinkan saya menikmati pemandangan pegunungan dan kota-kota di daratan walaupun sempat juga saya terlelap.

Dan setelah 1 jam penerbangan akhirnya saya menjejak di tanah Champa! Yeay…!

Da Nang International Airport

Da Nang International Airport

Bandara Da Nang relatif sepi untuk sebuah bandara internasional. Saya berjalan di gedung yang cukup megah dan luas lalu menuju pintu keluar. Tak seperti di HCMC, layanan antar-jemput masih terlihat normal dan saya mulai membaca nama di papan penjemputan. Aah, nama saya ada di ujung kanan.

Seorang pengemudi yang sudah paruh baya menjemput saya di bandara Da Nang dan siap mengantar ke Hoi An dengan sebuah mini-van. Dengan bahasa Inggerisnya yang terbatas, ia tetap memberikan layanan luar biasa, berhenti di kawasan pembuatan patung-patung Buddha dan di sebuah lokasi untuk memotret Marble Mountain. Bahkan ia memilih untuk memutar jalan, melalui jembatan-jembatan yang megah dan indah di Da Nang daripada langsung menuju Hoi An. Hati ini penuh rasa syukur merasakan sambutan yang baik dari tanah Champa.

Tak beda jauh dengan di Indonesia, di Da Nang jalan sejajar pantai tertutup oleh pengembang kawasan hotel bintang lima yang nama-namanya terkenal di dunia lengkap dengan segala hiburannya, membuat saya hanya bisa berimajinasi akan keindahan pantai pasir putih dengan kebiruan air laut di balik kemegahan gerbang dan bangunan hotel-hotel berbintang itu. Sebuah tanya terukir di benak, apakah penduduk lokal pernah merindukan pantai-pantai indah itu?

Tak sampai satu jam perjalanan suasana kota terlihat kembali, sebuah tanda bahwa batas kota sudah dilalui dan saya telah sampai di Hoi An. Dan akhirnya, ketika jalan semakin sempit dengan berbagai distro dan toko cantik menghiasi kiri kanan jalan tanpa kehilangan bentuk asli bangunannya yang sudah berabad usia, saya sadar telah berada di kawasan kota tua, the Ancient City of Hoi An.

A Monument in Hoi An

A Monument in Hoi An

Sejumput rasa haru dan romantis menyeruak di dada, saya ada di kota tua dalam rintik hujan. Wish you’re here…

Dalam hitungan menit, minivan itu berhenti di sebuah penginapan cantik di depan sungai Thu Bon di dalam kawasan kota tua Hoi An yang basah. Saya disambut oleh dua orang yang menangani proses check-in yang salah satunya memberikan minuman segar selamat datang. Bahkan di kamar tersedia juga dua buah mangga manis yang dalam sekejap mata masuk ke perut.

Begitu merasakan kecantikan kota Hoi An, sebuah UNESCO World Heritage City, saya tak lagi mengingat penghalang-penghalang yang meminta kesabaran dalam perjalanan sebelum sampai ke kota ini. Saya telah diberikan hadiah untuk dinikmati, yang tentu saja diterima dengan penuh bahagia.

*

Iklan

16 pemikiran pada “Perjalanan Menuju Tanah Champa

  1. Sebuah perenungan yang luar biasa. Saya suka sekali..

    Saya selalu ingat dengan petuah seorang guru, “kehidupan yang sesungguhnya itu, tergambar dalam sebuah perjalanan”. Tulisan ini membuktikan hal tersebut.. πŸ˜‰

    Disukai oleh 1 orang

    • Terima kasih banyak atas apresiasinya, sungguh semuanya berpulang kepada Pemilik Kehidupan yang memungkinkan kita semua dalam perjalanan… Selamat Tahun Baru, semoga kita menjadi lebih baik ya…

      Suka

  2. Tuhan sudah mempersiapkan hadiah yang paling indah untukmu Mbak, saya yakin. Pas sekali membahas soal Champa, kebetulan saya sedang membaca ikhtisar tentang sejarah Champa dan mudah-mudahan ada milestone-nya yang dapat saya lihat juga melalui foto di tulisan-tulisanmu selanjutnya. Lanjutan kisahnya ditunggu… :hehe.

    Disukai oleh 1 orang

please... do let me know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s