Nepal: Bertemu Pengagum Soekarno di Basantapur


“Each person we meet has the potential to teach us something…

Tanpa memegang peta Kathmandu Durbar Square saya melangkah mengikuti gerak kaki yang seakan bergerak sendiri meninggalkan pelataran Monumen Raja yang dipenuhi burung merpati yang berebut makan lalu mendekati sebuah patung terselubung kain merah di sudut yang membuat sebuah rasa menyeruak keluar. Inilah patung Hanuman Dhoka. Tak lengkap sebuah kunjungan ke Kathmandu Durbar Square bila tidak ke Hanuman Dhoka, yang namanya diabadikan sebagai nama pelataran depan istana. Saya berdiri tak percaya. Siapakah yang telah menggerakkan kaki ini untuk melangkah ke sudut tersembunyi padahal saya tak paham Durbar Square. Sungguh rasanya tak beda ketika saya diputarbalik di Trailokya Mohan Narayan Temple untuk memasuki Kumari Ghar sehingga dapat memandang wajah Kumari, Sang Dewi Hidup

Berdiri di dekatnya, saya berulang kali berkeinginan mengabadikan patung Hanuman Dhoka tetapi tak pernah berhasil tanpa kehadiran orang yang tak henti melakukan puja di bawahnya. Berdesir rasa di hati. Hari tak lagi pagi, tetapi masyarakat Nepal tetap berhenti sejenak untuk berdoa di bawahnya. (Mungkin itulah yang menyebabkan gempa April lalu tak mampu merubuhkannya)

Tak jauh dari situ, seorang penjaga berseragam tampak menjaga sebuah gerbang kecil. Wajahnya serius tanpa senyum, bisa jadi karena yang dijaga bukan sembarang tempat. Inilah kawasan Istana lama Sang Raja termasuk tempat penahbisan Raja. Seperti di banyak tempat di Nepal, gerbang masuk dijaga oleh dua patung Narsingha yang berwarna putih, dengan hiasan di sekeliling pintu yang sungguh menawan. Dan setelah melewati gerbang dengan hiasan di sebelah kirinya, saya sampai pada sebuah halaman dalam yang cukup luas dengan panggung batu yang tidak tinggi dan dikenal sebagai Nasal Chowk, tempat penahbisan Sang Raja. Tanpa terasa sekujur tubuh merinding, terbayang akan kemegahan dan kesakralan sebuah prosesi penahbisan Raja yang pernah terjadi di tempat ini.

Saya diam terpaku di halaman dalam, mengamati dan mencoba merekam semua yang ada di depan mata ke dalam ingatan. Saya percaya hatilah yang membawa saya hingga ke tempat ini dan membiarkan semua berjalan dengan apa adanya. Tak lama kemudian kaki telah melangkah memasuki bangunan yang tertinggi. Inilah Basantapur Tower, bangunan 9 lantai yang tertinggi di Durbar Square, yang dibangun pada abad ke 18 oleh Raja Prithvi Narayan Shah segera setelah menaklukkan Lembah Kathmandu. Konstruksi batu bata dengan gabungan kayu ditambah dengan deretan jendela berukir yang sangat artistik, dan ditopang oleh atap bertingkat membuat Basantapur menjadi bangunan indah yang wajib dikunjungi saat ke Kathmandu Durbar Square.

Tidak ada petunjuk arah secara khusus, sehingga saya terbebaskan untuk menjelajah istana lama Sang Raja yang tiga lantai pertamanya bercorak Newari. Tangga yang ada mengundang untuk naik lantai per lantai. Beberapa foto sang Raja yang dipajang di keremangan cahaya memberikan sensasi tersendiri. Tak ada orang lain di dekat saya saat menapaki lantai-lantai dasar Istana lama Basantapur yang berhias kayu coklat dengan cahaya redup, kecuali lukisan-lukisan Sang Raja seukuran manusia dengan matanya yang tajam memandang! Tak salah memang bila bulu kuduk terasa meremang 🙂

Saya mengalihkan pandang dan bergegas mendekat sisi dinding yang berhiaskan jendela-jendela kayu yang lebar dan indah. Di tengah-tengah terdapat sebuah Kursi menghadap jendela besar yang terbuka. Konon Sang Raja bisa melihat-lihat suasana di halaman istana dari ketinggian duduknya mungkin sambil berpikir dan mencari ide untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.

Tak ingin berlama-lama di lantai berkursi itu, saya kembali menaiki tangga kayu yang semakin sempit. Keunikan Basantapur ini terasa pada lantai-lantai yang tidak sama tinggi, ada yang bercorak Newari, ada yang hanya digunakan sebagai lantai transisi untuk ke lantai atasnya dan ada juga yang difungsikan penuh untuk pemantauan. Namun semuanya dihias dengan indahnya.

Menapaki tangga sempit yang curam saya melangkah ke lantai atas. Beberapa kali terdengar kukur suara burung merpati yang bersarang di balik ceruk atap dan tanpa menghiraukan baunya saya melangkah hati-hati sambil melihat untuk tidak memegang atau menginjak sisa-sisa kotoran burung yang tertinggal di pegangan atau anak tangga. Jika bulu-bulu burung bisa sampai ke dekat saya, tentu yang lain juga tidak sulit, kan? 🙂

Akhirnya saya sampai di lantai atas. Seperti lantai berkursi yang ada di bawahnya, lantai ini juga memiliki sekelompok jendela kayu yang lebar dan berfungsi sebagai balkon untuk memperhatikan apapun yang terjadi di bagian luar melalui kisi-kisi kotak jendela, termasuk memantau gerak gerik musuh. Kemiringan jendela balkon yang berkisi-kisi cukup membuat gamang bagi mereka yang phobia ketinggian, apalagi mengingat kayu yang tak selekang logam atau batu menambah keraguan akan kekuatan bangunan Basantapur ini. Hiii… segera saja saya hapus imajinasi tubuh yang melayang dari ketinggian lantai atas karena kayu yang rapuh.

 

The Beautiful Balcony of Basantapur

The Beautiful Balcony of Basantapur

Di lantai ini, disediakan tempat duduk kayu yang tampaknya sangat membantu pengunjung yang tengah lelah akibat naik tangga atau sekedar ingin beristirahat, termasuk saya. Keringat masih mengalir ketika seorang bapak yang tak lagi muda berwajah jenaka menyapa saya, “Sendiri?”

Saya tersenyum saja tanpa menjawab pasti, -karena saya tidak akan pernah sendiri-, saya selalu bersama Cinta.

Bapak berwajah jenaka yang belakangan saya ketahui bernama Kumar Pandey, adalah seorang pemandu lepas untuk trekking dan berbagai tour di Nepal. Saat itu ia yang sedang membawa turis Eropa memuji keberanian saya yang datang tanpa teman dan mukanya semakin sumringah ketika mengetahui saya dari Indonesia.

“Soekarno!”

Senyumnya semakin lebar sambil memperlihatkan tanda jempolnya sebagai ekspresi kekaguman terhadap Bapak Proklamator sekaligus Presiden pertama Indonesia itu. Wajahnya yang telah dipenuhi oleh garis-garis usia tak mampu menutupi kegembiraannya.

Saya pun tertular kebanggaan. Ada rasa haru yang terasa menghujam didada sekaligus hunusan pedang panas. Jika seorang Nepali bisa sedemikian kagum dan bangga terhadap Soekarno, -tokoh Indonesia yang pernah mengguncang dunia-, apakah saya sebagai orang Indonesia memiliki kebanggaan dan kekaguman dalam kadar yang minimal sama dengannya? Seberapa dalam pengetahuan saya terhadap tokoh yang membawa nama Indonesia ke percaturan dunia itu? Sejauh mana saya tercuci otak oleh para pemutar balik sejarah bangsa? Saya malu menjawabnya dan bahkan Cinta pun tersenyum penuh arti di dalam sana.

Dengan kasih sayangnya, ia menasehati agar saya tetap berhati-hati selama perjalanan. Saya berbahagia dengan perhatiannya. Ada banyak orang baik di sekitar saya. Dan tidak hanya itu, ia mengajak saya mendekat kearah balkon berkisi agar bisa mengabadikan saya sambil mengatakan bahwa datang ke Nepal harus memiliki kenangan indah dan salah satunya dapat diabadikan di Basantapur, tanpa biaya. Bagaikan kerbau yang dicucuk hidungnya, saya mengikuti kegembiraan dan bersedia difoto olehnya. Dia senang dan tentu saja saya juga senang. Tak lama dia harus kembali ke rombongan yang dibawanya dan saya menikmati keindahan di seluruh penjuru Kathmandu yang terlihat dari atas Basantapur ini. Sayang sekali pada saat itu barisan pegunungan Himalaya tertutup awan sehingga tidak tampak dari ketinggian bangunan yang dikenal juga sebagai Manor of Spring ini.

Berbagai bangunan penting di sekitar Kathmandu Durbar Square terlihat dari tempat ini, termasuk pasar terbuka di samping Gaddhi Baithak. Taleju temple yang megah juga terlihat dari tempat saya berdiri. Orang-orang yang sedang berada di Nasal Chowk dan tempat penahbisan Raja terlihat sangat kecil. Bahkan Menara Dharahara Bhimsen (yang kini telah roboh akibat Gempa Nepal April lalu) juga terlihat.

Pengunjung lantai teratas dari Basantapur telah berganti dan waktu juga yang mengharuskan saya untuk turun kembali ke lantai dasar. Di Nasal Chowk, di hadapan panggung batu tempat pemahkotaan Raja, saya duduk dalam diam menikmati pemandangan yang tidak setahun sekali akan saya dapatkan. Saya biarkan Cinta menyelimuti dalam keheningan. Puluhan tahun bahkan ratusan tahun berlalu, terjadi banyak perubahan di tempat ini. Sebagaimana abadi dalam keluarga-keluarga istana, di tempat ini berbagai kejadian menjadi warna, ada cinta, ada pengkhianatan, kecemburuan dan kebanggaan, ada kekuasaan dan ada pula penderitaan. Semua warna kehidupan terukir di tempat ini.

Saya masih diam dalam hening ketika Kumar Pandey, si Bapak pemandu tadi tiba-tiba lewat di hadapan dan menyapa saya kembali dengan senyum lebarnya.

“Ah masih disini…. Sudah lihat Tahta Raja yang ada di balik kaca?”

Saya mengangguk dengan senyum lebar menanggapi kegembiraan yang ada padanya. Kumar Pandey ini memang tampaknya pembawa kegembiraan, siapapun akan tertular gembira bila celotehnya sudah berbunyi.

“Sini, saya foto kamu lagi di depan pintu… ayoo… ini gratis..”

“karena kita sama-sama Asia…”, lanjutnya dengan berbisik, seakan takut terdengar oleh para rombongan wisatawan Eropa yang bersamanya. Saya tersenyum lebar. Jarang sekali saya bersedia difoto berkali-kali dalam perjalanan, tetapi kali ini berbeda rasanya. Tidak lupa ia mengajak saya melihat jendela-jendela kuno berukir yang sedang dalam tahap pemeliharaan jelang sebuah konvensi internasional. Kami tertawa bersama mengamini dan menyadari bahwa baik di Indonesia maupun di Nepal, jika ada banyak tamu penting yang datang dalam pertemuan internasional, maka akan banyak tempat dirapikan, dihias dan didandani juga perbaikan dan pemeliharaan, termasuk sebagian yang buruk disembunyikan 🙂

Dan ia hanya tertawa melihat saya gagap pose (bukan model!) di depan pintu bermata khas Nepal dan di dekat kursi Tahta yang disimpan di balik kaca serta di depan pintu dengan hiasan kayu yang sangat indah. Setelah mengambil foto saya, seperti juga datangnya, ia menghilang kembali dengan cepat. Sempat terbersit di benak siapakah dia sebenarnya, yang langsung dijawab dalam bentuk sebuah senyum yang terasa tersungging di dalam hati, menebar gembira sejuta rasa.

“We don’t meet people by accident. They are meant to cross our path for a reason

Saya meninggalkan halaman Basantapur dan melanjutkan perjalanan kembali memasuki keramaian festival di Kathmandu Durbar Square dengan berbagai rasa. Pertemuan dengan Kumar Pandey bukanlah sebuah kebetulan. Dia, berwajah jenaka yang mampu menularkan untuk senantiasa memekarkan kuncup-kuncup kegembiraan sepanjang perjalanan, dia juga seorang pengagum Soekarno, telah menghubungkan saya ke berbagai makna nasionalisme yang universal. Ah, tiba-tiba bendera-bendera festival itu terlihat berubah seperti Merah Putih…

Iklan

16 pemikiran pada “Nepal: Bertemu Pengagum Soekarno di Basantapur

  1. Bagaimanapun, kiprah Bung Karno memang masih membekas, walau sudah lama meninggal dunia. Ngomong-ngomong, suka sama quote-quotenya Mbak 🙂

    Disukai oleh 1 orang

    • Nah itu dia, beliau mangkat kan tahun 1970, sekitar 45 tahun yang lalu, hampir setengah abad lalu, tetapi gaungnya masih dikenal orang di Nepal dengan penuh kekaguman.
      And hehehe… terima kasih sudah suka quotes, disesuaikanlah sama ceritanya hehehe…
      BTW, malem amat masih melek… 😀 😀 😀

      Suka

      • Iya Mbak, saya akhir-akhir ini entah kenapa rajin banget cari literatur tentang kebenaran akhir Bung Karno, khususnya terkait tragedi 65-66, dan ikut kasihan beliau difitnah banyak orang yang tak paham kebenaran, disingkirkan pelan-pelan oleh kekuasaan setelahnya.

        Hahaha, habis komen tadi langsung tepar mbak 😀

        Disukai oleh 1 orang

  2. Membaca tulisan ini memang mesti pelan-pelan. Menyerap makna setiap kata, sampai lama-kelamaan ikutan terhanyut. Hah, dirimu memang penutur yang yahud, Mbak. Kata-katanya itu bisa membuat kita seperti berjalan di atas kapas. Soft, fluffy, gimana ya mendeskripsikannya? Halus. Ya, itu mungkin kata yang tepat. Tulisan ini sangat halus.
    Iya, semua memang sudah diatur oleh Yang Di Atas. Siapa yang kita temui, apa yang terjadi, ke mana kita akan pergi. Tinggal kitanya saja, apakah bisa menangkap petunjuk-petunjuk Ilahi itu, atau terlalu sibuk dengan kesombongan diri. Ah, saya rasa, dirimu penangkap petunjuk yang sangat baik :)).
    Ngomong-ngomong, mana foto dirinya? :p.

    Disukai oleh 1 orang

  3. Dan, saya selalu terpesona membaca catatan perjalanan Mbak Yanti ini. Foto2 yg ditampilkan benar2 menambah wawasan ttg keadaan disana.
    Ah, masih ada yang tetap mengenang dan mengagumi Soekarno disana….

    Salam,

    Disukai oleh 1 orang

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s