Nepal: Pemandu, Warna Lain di Kuil Pashupatinath


“Be sure you put your feet in the right place, then stand firm” – Abraham Lincoln

Dalam sebuah perjalanan, bersamaan waktu ketika saya mendapatkan pembelajaran tentang Kematian Yang Membahagiakan di Kuil Pashupatinath, sejatinya saya perlu menebusnya berupa pemberian pembelajaran dalam bentuknya yang lain kepada seorang pemandu. Suatu kesempatan yang memiliki multi aspek pembelajaran yang begitu indah.

Tak jauh sebelum sampai di kuil Pashupatinath, saya bertemu dengan seorang pemuda. Jelas ia  menawarkan menjadi pemandu, namun dengan halus saya menolaknya. Walaupun tak mudah menyerah, ia tetap mendesak dan -ia memberi diskon untuk pelayanannya-, saya tetap menolaknya. Bukan apa-apa, saya hanya ingin menikmati mengikuti arah suara hati yang menuntun tanpa harus menuruti seseorang. Ia memahami dan pergi meninggalkan saya yang melangkah menuju wajah-wajah ilusif.

Hiasan berwajah di bagian atas rumah puja

Hiasan berwajah di bagian atas rumah puja

Tetapi kesendirian saya tak lama karena seorang pemuda seusia mahasiswa mendekati dengan senyumnya yang lebar. Tak perlu lama mengetahui bahwa dia seorang pemandu wisata di Kuil Pashupatinath. Saya menolaknya. Tetapi sama seperti yang sebelumnya, ia tak mudah menyerah dan terus menawarkan jasanya dengan lebih intens ditambah berbagai rayuan sambil menghadang langkah saya. Saya terhenyak, tapi masih tersenyum sambil menggelengkan kepala. Memberikannya toleransi, memohon pengertian.

Detik berjalan lambat, sang pemandu muda itu tetap diam menghalangi jalan hingga saya bergeser ke samping. Namun saat melangkah, secepat itu pula dia bergerak mengikuti langkah saya dan lagi-lagi menghalangi jalan di depan saya. Terpana akan tindakannya, mengakibatkan saya menatapnya langsung di matanya, mencari maksud tindakannya. Sungguh tak terlihat kejahatan, melainkan sebersit keangkuhan bercampur ketakpedulian khas kebeliaan usia yang kemudian diperkuat dengan kata-katanya sendiri.

“Anda tidak perlu membayar saya, Anda hanya perlu mendengarkan saya karena saya sangat mengetahui seluk beluk kuil ini dan saya suka bercerita tentang kuil ini”

Saya memicingkan mata tak percaya dengan apa yang saya dengar. Benarkah? Saya baru saja hendak menanggapi apa yang dia katakan itu, namun dia telah mengulang pernyataannya bahkan tak memberi ruang dan waktu bagi saya untuk membantunya atau sekedar mengingatkan akan risiko ucapannya. Dia benar-benar tak peduli dan sepertinya beranggapan saya telah ditaklukkan hingga mulai menggiring dalam jaring persepsinya sendiri. Dia yang terpenjara

Mereka yang terpenjara

Mereka yang terpenjara

Dan saya yang tak sekalipun setuju dengannya, tetap menjejak di  alam senyata-nyatanya sekaligus memutuskan untuk mengikutinya selama sesuai dengan minat saya sambil berharap semoga ia mendapat pembelajaran.

Bahkan ia tak menjelaskan apapun mengenai latar belakang deretan rumah puja yang cantik di bukit di atas Kuil Pashupatinath atau pun tak sukarela menjadi penerjemah dari para Sadhu. Ia hanya mengobrol sesaat dengan para Yogi itu dalam bahasa Nepal berharap saya bertanya kepada para Sadhu itu agar ada ada lembaran uang yang berpindah tangan.

Saya tak ingin mengikutinya menuju puncak bukit. Selain tak ada obyek menarik, saya tak suka mengeluarkan energi mendaki bukit saat tubuh sedang lelah. Tetapi akhirnya ia berhasil membuat saya mengikutinya ke puncak bukit karena saya ingin melihat keseluruhan Kuil Pashupatinath dari tempat yang tinggi.

Ternyata benar, hanya dengan sedikit pemandangan Kuil Pashupatinath, -karena tertutup pepohonan-, dan sebuah kandang berpagar untuk rusa totol seperti di Bogor, saya semakin merasa tak nyaman berada di puncak bukit yang sepi. Hanya beberapa menit saya berada di atas lalu melangkah turun kembali yang membuat wajahnya seperti menyesal karena tidak bisa berlama-lama di atas.

Kathmandu from Pashupatinath Hill

Kathmandu from Pashupatinath Hill

Perempuan memiliki intuisi lebih untuk bisa mendeteksi sesuatu yang berjalan tidak pada tempatnya. Demikian pula keberadaan pemuda itu. Dan saya masih memberi toleransi terhadap denting dari dalam kalbu sampai batasnya yang terakhir. Lagi-lagi ia berupaya untuk mendekat secara fisik kepada saya dan beruntungnya saya mendapat celah untuk mengalihkan pembicaraan.

Karena sedang berada di kuil tempat kremasi, pembicaraan mengarah pada hal-hal yang berbau spiritual dan dengan idealisme kemudaannya ia bercerita dengan penuh semangat bahwa ia tak percaya pada dewa-dewa Hindu yang jumlahnya ribuan itu, ia tak percaya pada agama. Ia lebih menitikberatkan pada pandangan untuk menikmati hidup saat sekarang. Menikmati kebebasan kemudaan. Waktu yang tak akan kembali lagi. Tak ingin menghakimi, saya membiarkan cerita itu mengalir tertelan waktu.

A Tree that has lost its leaves

A Tree that has lost its leaves

Waktu terus melangkah. Intuisi saya bekerja baik. Sesuatu berjalan tidak pada tempatnya. Sebagai perempuan independen yang datang sendiri ke kuil, ketika berjalan dekat dengan yang berlawanan jenis, secara otomatis kewaspadaan saya tingkatkan walau tetap percaya akan perlindungan Yang Kuasa. Diantara lisannya yang cenderung tak terkendali sesekali terucap nyata upaya pendekatannya sementara dia dibatasi keraguan oleh fisiknya. Terima kasih kepada Yang Membukakan Jalan karena perjalanan hidup telah membuat mampu melihat semua itu seperti membaca buku yang terbuka.

Sambil melangkah turun ke arah sungai, dia bertanya balik kepada saya apakah saya mempercayai Yang Kuasa Pemilik Semesta? Saya tidak ragu dalam menjawab tetapi sempat terpikir bahwa Dia Yang Penuh Cinta sedang memberi makna kepada saya. Oleh karenanya sambil melangkah, saya bercerita singkat tapi penuh rasa syukur bahwa saya termasuk orang yang senantiasa mendapat perlindungan dari orang-orang yang berniat buruk kepada saya. Ada tangan-tangan yang tak terlihat menjaga saya. Kadang dalam waktu singkat diperlihatkan karakter asli mereka yang berniat buruk, tak jarang keburukan menimpa kehidupannya. Sambil lalu tak serius saya katakan kepadanya bahwa malaikat penjaga saya sepertinya merupakan sosok pekerja keras yang penuh kekuatan. Dan setelah ucapan itu dari ekor mata saya terlihat si pemuda menghentikan langkah secara mendadak dan memperhatikan saya. Saya tak tahu kenapa.

Lalu dekat kuil kecil yang pada panelnya dihiasi Kamasutra, ia menceritakan beberapa posisi yang ada di panel sambil tertawa-tawa dengan nada yang mengarah tak senonoh. Saya mengabaikan apa yang terdengar di telinga. Saya lebih mengingat penjelasan seorang pemandu yang lebih bijak saat Meniti Jalan Cinta di Durbar Square Kathmandu

Perlu lewat tempat orang-orang yang telah makan asam garam kehidupan

Perlu lewat tempat orang-orang yang telah makan asam garam kehidupan

Sejak awal tak ada kesepakatan dengan pemuda itu dan saya pun tak merasa terikat dengannya hingga saya melanjutkan langkah ke kuil-kuil lain di situ. Sejenak saya bisa menikmati karena ia tak terlihat mengikuti saya, namun saat hendak melangkah mengikuti jalan keluar, si pemuda tadi entah dari mana muncul kembali bersama ranselnya. Tanpa ditanya, ia bercerita bahwa sesaat dia menghilang karena mengambil ransel yang dititipkan di salah satu kios. Saya mengangkat bahu sambil mengira-ngira kemana arah bicaranya.

Saya terus melangkah mengikuti jalan keluar menuju tempat parkir. Jalan ini bukan jalan keluar yang umum bagi warga lokal sepertinya. Sudah waktunya untuk memastikan. Saya berhenti dan menyatakan waktu berpisah sudah tiba karena saya akan melanjutkan perjalanan ke Bouddhanath.

Tapi secepat kilat, tanpa tedeng aling-aling ia mengatakan, karena rumahnya dekat dengan Bouddhanath, ia bisa mengantar dan memandu kunjungan saya di Bouddhanath. Dan tidak selesai sampai di situ. Dengan nada penuh rayuan ia melanjutkan,

“…Setelah Bouddhanath kita minum bersama dalam happy hours…”

<Plaaak… Tangan saya melayang ke wajahnya. Kurang ajar!>

Walaupun adegan menampar itu hanya khayalan saya saja, kegeraman saya tak terhindarkan. That’s it. Saya tak nyaman bahkan terganggu dengan nada dan lisannya. Tak ada sedikitpun nada kesopanan.

Waktunya menarik garis batas. A moment of truth.

A symbol of truth

A symbol of truth

Saya menolak dengan tegas termasuk menolak dirinya menumpang di taksi yang telah saya sewa seharian sambil mengucapkan terima kasih kepadanya selama di Kuil Pashupatinath itu lalu melangkah pergi meninggalkannya.

Sesaat berlalu, sepertinya ia tersadar belum dapat jasa pemanduan lalu mencoba mengejar dan berhenti di depan saya. Mencoba meminta apa yang dia pikir menjadi haknya. Saya menggelengkan kepala, tidak mau mengeluarkan lembaran uang sepeserpun. Dia mengubah ekspresi wajahnya sebagai orang yang menderita, kali ini ada nada memohon (sejak tadi kemana?). Saya tetap menggelengkan kepala. Dia mengubah caranya lagi. Dia mengatakan bukankah dia telah banyak bercerita di Kuil Pashupatinath ini…

Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, saya memotongnya dengan tegas dan tak memberinya ruang, menatap matanya langsung. Bukankah sejak awal dia sendiri yang mengatakan, bahwa saya tidak perlu membayarnya, saya diminta untuk mendengarkannya saja karena dia sangat mengetahui seluk beluk kuil dan dia suka bercerita tentang kuil ini. Saya mengulanginya dengan perlahan, saya hanya diminta mendengarkan dan telah saya lakukan. Saya mendengarkan ceritanya tanpa perlu membayar! Karena itu sesuai perkataannya sendiri.

Dia terpana.

Saya menatap tajam kearah matanya, membiarkan dia menyaksikan ketegasan dan keseriusan yang ada dalam lisan. Satu kali menelan obat pahit, selamanya akan menjadi anti-body.

Kemudian saya melangkah pergi meninggalkan dia dan Kuil Pashupatinath yang indah dengan semilir angin jelang malam. Si pemandu tak pernah tahu jatahnya bicara telah tersalurkan di kotak yang disediakan untuk para lanjut usia di saat dia mengambil ransel.

Iklan

9 pemikiran pada “Nepal: Pemandu, Warna Lain di Kuil Pashupatinath

  1. dimanapun di Nepal, Alhamdullilah nggak ketemu “guide” ginian. Mungkin karena aku jalan sama si kecil aja, jadinya beda. Guide datang, nawarin. Sekali tolak, mereka berusaha jelasin. Dua tolakan mreka langsung ngibrit.

    Lagian kalau sama si Kecil nggak bisa pakai guide, Karena dia jadi “guide” yang maksa kesana kemari, hehehe

    Disukai oleh 1 orang

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s