Nepal: Kalung Bunga Cinta di Haribodhini Ekadashi


Berada di Changu Narayan, salah satu kuil utama tempat perayaan Haribodhini Ekadashi dipusatkan, tepat pada tanggalnya, tanpa direncanakan, dan mendapat 3 guardian angels yang datang dan perginya tak berjejak untuk masuk ke pelataran tempat kuil berada, sepertinya bukanlah sebuah kebetulan belaka. Bagi saya, semua itu adalah upaya bicara Sang Pemilik Semesta. Hati saya disentuh untuk bisa membaca tanda agar percaya sepenuhnya campur tangan Dia Yang Maha Kuasa menjadikan perjalanan ini hadiah yang benar-benar penuh makna.

Kuil Changu Narayan, salah satu UNESCO World Heritage Site di lembah Kathmandu, merupakan kuil Hindu tertua aliran Vaishnav (Dewa Wisnu) yang paling dihormati di Nepal dan terletak sekitar 20km di Timur Kathmandu. Meski inskripsi bertahun 464 Masehi ditemukan di bawah bangunan utama, banyak yang percaya sejak abad 3 Masehi, kuil ini sudah disakralkan.

The Oldest Changu Narayan Temple

The Oldest Changu Narayan Temple

Dan sebagai kuil yang mengutamakan Dewa Wisnu, tak pelak perayaan Haribodhini Ekadashi dirayakan penuh kemeriahan di kuil beratap dua tingkat yang dibangun pada masa kekuasaan Raja Manadeva dan kemudian dipercantik oleh Raja-Raja Licchavi dan Malla. Perayaan Haribodhini Ekadashi sendiri, mohon maaf kalau informasi ini salah, merupakan perayaan untuk Dewa Wisnu, yang dilakukan pada tanggal sebelas (Ekadashi) di bulan Kartika, dan bisa berlangsung berhari-hari hingga purnama bulan. Sebagai akhir dari empat bulan Chaturmas, -periode larangan diselenggarakannya ritual pernikahan-, tentu saja datangnya Haribodhini Ekadashi ditunggu dan disambut gembira karena menandakan awal diperbolehkannya melakukan ritual membentuk lembaga cinta. Pernikahan.

Oleh sebab itu, berdiri di pelataran Changu Narayan saat Haribodhini Ekadashi, membuat hati ini bergetar penuh rasa syukur. Tak pernah ada rencana untuk datang tepat pada hari membahagiakan ini. Dan dapat hadir di sebuah perayaan besar di kuil yang dilindungi dunia internasional sebagai kawasan bersejarah merupakan momen luar biasa. Sepertinya semua telah diatur tepat pada waktunya oleh Dia Yang Maha Sempurna.

Dan mengikuti kaki melangkah ke sudut pelataran, kearah kuil Dewa Siwa dan Kuil Lakshmi, tak pelak lagi saya perlu meningkatkan waspada dan memperbanyak senyum selagi berjalan. Tidak hanya sekali  saya harus meminta maaf karena memotong antrian mereka yang ingin beribadah di Kuil utama demi mengabadikan momen menarik. Namun bukan masyarakat Nepal namanya, jika mereka tak memberi ruang dan membalas senyum penuh kehangatan.

Menjulang di tengah pelataran, bangunan utama berhiaskan pintu keemasan yang dipenuhi berbagai simbol tentang Dewa Wisnu atau dikenal sebagai Narayan, termasuk Chakra Sudarshana dan gada Kaumodaki di satu sisi serta terompet kerang Panchajanya Shankhya dan bunga lotus (padma) di sisi lainnya. Ukiran pada bagian atap lengkap dengan ukiran makhluk khayangan bertangan delapan dengan berbagai posisi yang sangat indah ditambah dengan genta-genta kecil sekeliling pinggir atap. Tak perlu lama untuk mencipta bayang, bila angin sedikit kencang berhembus dalam keheningan malam, bunyi genta yang berdenting itu tentu sangat mengguncangkan rasa.

Berada tak jauh dari pintu utama, tak heran udara sekitar terasa panas, bercampur asap dan bara yang datang dari hasil nyala api persembahan dan dupa yang telah tumpah berserakan di pelataran. Cinta dan pengabdian pada Narayan begitu kuatnya dan percaya Dewa tetap menerima persembahan mereka yang dilakukan dengan ikhlas, walau harus sedikit mengotori pelataran kuil.

Kileshwor, The Shiva Temple

Kileshwor, The Shiva Temple

Pemandangan serupa pun terjadi di kuil Kileshwor, kuil Dewa Siwa yang berada di sudut pelataran. Warna bunga oranye bercampur bubuk merah berada diantara nyala api persembahan dalam wadah-wadah kecil di sekeliling tempat pemujaan itu. Bukanlah sebuah kejutan di Nepal bila ada kuil Dewa Siwa di pelataran kuil Narayan, atau sebaliknya. Masyarakat Nepal memiliki rasa toleransi yang sangat besar, bahkan tidak hanya aliran dalam Hindu melainkan juga dengan agama yang lain.

Dan bagaimanapun proses menerima selalu silih berganti dengan memberi, demikian pula saya saat masih terkagum-kagum dengan ritual yang dilakukan oleh para bhakta, para pemuja. Seorang gadis meminta bantuan untuk diabadikan bersama kawan-kawannya berlatar belakang Changu Narayan. Ah rasanya tak ada yang berberat hati menolong gadis-gadis Nepal yang penuh senyum. Bukankah mereka bisa saja para ‘guardian angels’ yang tadi dikirim untuk mengawal saya masuk?

Keriuhan di depan pintu kuil menarik perhatian saya. Setelah memperhatikan, dalam sekejap terjawab sudah pertanyaan saya. Para pemuja Narayan mengantri untuk masuk sambil berharap mendapat bunga dari dalam kuil. Seorang petugas yang berjaga di pintu terlihat membawa senampan bunga dan membagikannya dengan tertib. Namun sejalan dengan waktu, umat yang datang semakin banyak, tak sebanding dengan bunga-bunga yang keluar. Hanya tunggu waktu pembagian bunga yang tadinya tertib itu menjadi pelemparan bunga khas selebriti terkenal. Tangan-tangan terjulur, bunga melayang dan dalam sekejap kalung bunga itu tertangkap oleh tangan-tangan dan ditarik kearah yang berbeda. Sejumput tergenggam di sebagian tangan tetapi lebih banyak sisanya jatuh terinjak sia-sia. Saya memalingkan pandangan, tak ingin berlama-lama melihat walau sempat mengabadikannya. Rasa tak nyaman terbersit keluar, tak ada yang indah saat nafsu mulai menguasai dalam sebuah perebutan hak. Langsung terlintas di benak sebuah nasihat bijak yang mengatakan dimana ada cinta, disana tidak ada cinta yang membutakan. Dan hal itu menenangkan saya.

The flowers are for all of us

The flowers are for all of us

Walaupun tak mudah untuk mengabadikan yang menjadi ciri khas Changu Narayan dari sudut yang baik tanpa mengganggu yang beribadah, saya tetap berupaya mengelilingi kuil indah ini saat Haribodhini Ekadashi. Beringsut saya melangkah menuju panggung batu yang di atasnya terdapat karya pahatan dari abad 9 Masehi yang dikenal sebagai Sridhar Vishnu, berbentuk Dewa Wisnu dengan 12 tangan dan Dewi Lakshmi di pangkuannya dan dikelilingi hiasan bersulur yang sangat indah. Sridhar Vishnu ini diletakkan di atas dudukan lebar yang tak terjangkau tangan, agar sentuhan-sentuhan cinta pemujanya tidak sampai merusak karya yang telah berusia lebih dari 11 abad itu.

Hanya selemparan batu, sebuah karya pahatan lainnya yang juga indah, Vishnu On Sesa Naga yang diletakkan di atas balok batu. Pahatan berusia berabad-abad ini menggambarkan Dewa Wisnu yang tengah berbaring di atas Ananta Sesa di  lautan kosmis. Saya tidak dapat melihatnya lebih jelas karena banyak bunga yang menutupinya dan pemuja yang tak henti memberi penghormatan padanya.

Hanya berjarak beberapa langkah terdapat kuil Chinnamasta yang juga berpintu keemasan dan dikelilingi begitu banyak wadah persembahan berisikan bunga dan dupa. Kuil ini dipersembahkan kepada Dewi Chinnamasta yang konon mengorbankan dirinya sendiri sebagai persembahan demi kelangsungan masyarakat manusia. Sebuah cinta yang luar biasa, yang memikirkan manfaat yang lebih baik dan lebih banyak untuk orang lain. Sungguh saya tersentuh dengan ceritanya tentang hidup yang bermakna.

Mendampingi bangunan kuil, terdapat patung gajah yang tampak belum tuntas. Seorang kawan Nepal mengatakan, konon saat pengerjaannya, patung gajah ini mengeluarkan cairan berwarna merah seperti darah sehingga pengerjaannya dihentikan. Sebuah cinta dalam wajah yang lain. Saya sekejap teringat sebuah wejangan seorang guru tentang mencintai. Sebelum kita bisa mencintai manusia hidup hendaklah kita mencintai dan memelihara benda-benda di semesta ini dalam waktu yang lama, untuk kemudian naik tingkat ke tingkat hewan dan setelahnya baru bisa memahami dan mencintai manusia.

Saya kembali menyusuri pinggir beranda Darmasala yang teduh dan melihat para lansia menempati tempat duduk yang disediakan. Inilah bentuk cinta yang lain, sebuah penghormatan. Bukankah para lansia itu juga masih memiliki hak untuk melakukan ritual di kuil utama, apalagi ketika Haribodhini Ekadashi. Bagitu indah dan nyaman menyaksikan para tetua bergembira bersama-sama.

Tak terasa, saya mendekat lagi ke pusat keramaian di kuil utama untuk mengabadikan Garuda, tetapi akses menujunya sangat terbatas. Tak nyaman hati untuk merebut hak dan waktu mereka yang ingin beribadah sehingga saya kembali berteduh di kuil Dewa Siwa sambil mengamati hiasan-hiasan Kuil Utama diantara bunga-bunga yang terus dilempar dari batas pintu kearah pengunjung. Jumlah bunga yang dilempar semakin banyak ke berbagai penjuru dan entah kenapa tidak lagi diperebutkan. Bisa jadi adanya kepastian yang membahagiakan bisa masuk ke dalam kuil melakukan persembahan.

The intricate carvings on roof and door of Changu Narayan

The intricate carvings on roof and door of Changu Narayan

Saat itulah seorang bapak mendekat dan memberi sebuah kalung bunga kepada saya, tanpa mengatakan apa-apa hanya berhias senyum. Tanpa melepas senyum di wajahnya beliau meminta saya mengalungkannya melalui gerakan tangannya. Setelah mengalungkan bunga dan berterima kasih kepadanya, beliau langsung melangkah pergi ditelan kepadatan pengunjung, meninggalkan saya yang terheran-heran. Pada saat Haribodhini Ekadashi, saya mendapat kalungan bunga di Changu Narayan dari seorang bapak yang penuh kasih sayang, tentu merupakan sebuah keluarbiasaan. Seakan tahu saya menyukai bunga, menyukai diri berkalung bunga, saya sungguh terhenyak dengan hal-hal yang tak terduga yang terjadi di kuil ini. Tadi pagi dengan guardian angels dan kini dengan kalungan bunga. Benar-benar saya berhujan anugerah kegembiraan dan kebahagiaan. Ah, ungkapan-ungkapan syukur saya bisikkan kepada Yang Maha Pengasih, yang telah mengatur segala sesuatu dengan indahnya.

Berkalung bunga Cinta, saya meneruskan perjalanan ke sudut lain pelataran kuil lagi-lagi bermodalkan senyum saat harus memotong antrian mereka yang ingin beribadah. Di sudut terdapat patung Wisnu di atas Garuda. Walau sangat kecil dan janganlah dibandingkan dengan Garuda Wisnu Kencana di Bali, pahatan batu yang sangat terkenal ini telah berusia lebih dari 13 abad sehingga diabadikan dalam lembaran uang 10 NPR. Sebagai salah satu mahakarya tertua, karya ini sangat dihormati di Nepal karena terlihat tak hentinya orang menghatur salam dan meletakkan bunga padanya.

The 7th Century Vishnu on Garuda

The 7th Century Vishnu on Garuda

Tak jauh dari situ di beranda bangunan yang mengelilingi pelataran kuil, diselenggarakan pertunjukan tentang kehidupan Krishna sebagai avatar ke 8 dari Sang Narayan, untuk memeriahkan Haribodhini Ekadashi. Pengunjung cukup banyak tertarik dengan pertunjukan yang menampilkan periode kehidupan Krishna, lengkap dengan serulingnya saat masih kecil hingga remaja dan periode selanjutnya yang telah memegang Cakra Sudarsana yang mampu menghabisi iblis-iblis yang digambarkan tergeletak kalah di bawah kakinya. Walaupun narasi disampaikan dalam bahasa Nepal yang tidak saya mengerti, namun terasa sekali kegembiraan menyelimuti beranda itu. Yang menyaksikan tidak hanya dari kalangan anak-anak dan remaja, kalangan tetuapun hadir seakan tersihir dengan narasi yang disampaikan ditambah dengan visualisasi kedewaan di tengah mereka. Satu cara yang ditempuh untuk memperkuat iman.

Krishna Life on Hariboddhini Ekadashi

Krishna Life on Hariboddhini Ekadashi

Selesai mengabadikan pertunjukan itu, kaki ini melangkah menuju sudut pelataran. Di sana terdapat Vaikuntha Vishnu, sebuah mahakarya abad 16 Masehi yang menggambarkan Dewa Wisnu bertangan banyak, -dengan Dewi Lakshmi duduk di pangkuan-, dan keduanya duduk di atas Garuda bertangan enam. Pahatan yang sangat indah. Tak heran jika kuil Changu Narayan bergelar sebagai World Heritage karena memang di kuil ini tersimpan banyak sekali mahakarya indah yang berusia berabad-abad.

The 500 Years of Vaikunta Vishnu

The 500 Years of Vaikunta Vishnu

Dan waktu jugalah yang menyantap kunjungan saya ke Changu Narayan yang penuh kenangan. Tak ingin rasanya meninggalkan kuil kuno ini, tetapi ada janji yang harus ditepati. Perlahan kaki melangkah menuju gerbang, kali ini tidak ada guardian angels yang mengantar melaluinya tetapi ada kalung bunga yang melingkar di leher. Dalam satu hari, di satu tempat, saya dapatkan dua keluarbiasaan Cinta… I am so blessed…

****

Gempa bumi berkekuatan 7,9 Skala Richter pada bulan April 2015 lalu telah meruntuhkan Kuil Lakshmi, Kuil Kileshwor yang berada di sudut dan sebagian bangunan yang mengelilinginya, sementara bangunan utama Changu Narayan mengalami kerusakan berat pada sudut-sudut kolom penyangganya. Semoga semua perbaikan berjalan lancar dan dapat mengembalikan keindahan Changu Narayan seperti semula. Amin.

Iklan

19 pemikiran pada “Nepal: Kalung Bunga Cinta di Haribodhini Ekadashi

  1. Saya iri, bahkan saya yang Hindu pun belum punya kesempatan buat datang ke sana dan menghaturkan sujud sembah saya psda Bhatara Wisnu… ah tapi Wisnu memang selalu begitu, Ia sudah pernah menceritakan tentang bagaimana hadiah yang akan dia berikan untuk siapa pun yang datang ke tempatnya dengan niat yang tulus, bahkan tanpa niat sekali pun :hehe. Selamat, Mbak, karena sudah bisa menyaksikan semua keajaiban itu :hehe.

    Soal gempa, kami umat Hindu percaya kalau hidup itu bagaikan siklus. Dari yang tiada, kemudian ada, dan kembali lagi tiada setelah melalui proses penghancuran. Jadi bagaimanapun hancurnya di sana, selama cinta itu masih ada, kami yakin sesuatu yang baru sedang disiapkan untuk diciptakan :hehe.

    Disukai oleh 1 orang

    • Ah Gara, terima kasih atas tanggapanmu yang selalu indah dan menentramkan.
      Saya teringat dirimu dan kerabat serta teman-teman Hindu lainnya saat menuliskan dua cerita keluarbiasaan di Changu Narayan ini. Sebenarnya apa yang saya alami dan yang saya rasakan selama di Nepal, termasuk di Changu Narayan ini, susah sekali dituliskan dalam bentuk kata-kata, bisa jadi karena sangat personal ya rasanya. Tetapi bukankah rasa bahagia itu sebaiknya dibagikan juga kepada yang lain? Sehingga, jika saya saja bisa merasakan hal itu, saya berdoa bagi yang bisa beribadah di sana, semoga bisa sampai di sana dan tentunya bisa merasakan yang lebih dalam dari apa yang saya rasakan.

      Suka

  2. Semuanya karya seni yang sangat indah dan menakjubkan. Hasil cinta dan pengabdian yang tulus dari para pemeluk agama Hindu berabad lalu. Semoga perbaikannya mengembalikan ke bentuk yang seperti sebelum terjadi gempa.

    Disukai oleh 1 orang

    • Saya mengamini untuk doa baikmu, Alris. Benar sekali, sampai kapanpun segala sesuatu yang dikerjakan sebaik-baiknya dengan sepenuh hati, penuh cinta yang tulus dan pengabdian, hasilnya pasti luarbiasa. (yang terakhir ini kayaknya lebih self-reminding deh hehe)
      Terima kasih sudah memberikan tanggapan yang bagus…

      Suka

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s