Nepal: Bertemu Guardian Angels di Changu Narayan


Walaupun sejak awal saya merencanakan untuk menjejakkan kaki di kuil tertua yang merupakan salah satu dari tujuh lokasi World Heritage Site di Kathmandu, saya tidak pernah mengharuskan diri mencapainya. Kuil Changu Narayan yang terletak 20km sebelah timur Kathmandu ini bukan seperti kuil lainnya yang mudah dicapai dari jalan besar apalagi bagi saya yang melakukan solo-trip. Tetapi seperti biasa ketika melakukan solotrip, saya percaya setiap perjalanan ke dalam diri pribadi ini merupakan upaya pencucian jiwa, termasuk juga perjalanan ke Nepal ini, sehingga pintu-pintu kemudahan seakan terbuka untuk saya. Terbukti taksi mungil itu menawarkan harga yang terjangkau untuk perjalanan ke Changu Narayan, mau menunggu saya hingga selesai lalu mengantar saya ke Bhaktapur, tempat saya menghabiskan malam berikutnya. Sebuah awal yang baik.

View from Changu Narayan Temple

View from Changu Narayan Temple

Udara perbukitan di Lembah Kathmandu pagi hari itu bersih, sebersih langit biru yang berhias awan tipis. Jalan besar Araniko Highway dari Kathmandu itu sudah ditinggalkan beberapa waktu lalu dan taksi mungil yang saya tumpangi itu mulai menyusuri jalan Nagarkot yang menanjak tanpa kehilangan daya mesinnya. Sesekali saya bertemu dengan wisatawan berambut pirang yang berjalan kaki yang membuat saya tersipu malu. Sementara saya menaiki kendaraan, mereka yang berusia lebih dari saya justru memanfaatkan tubuh sehatnya untuk berjalan.

Jalan Nagarkot masih terbilang lumayan mulus dan cukup lebar untuk dilalui dua kendaraan bersisian tanpa harus turun ke bahu jalan. Namun hal itu tak berlangsung lama, pengemudi taksi yang tak muda lagi dengan tangkas membelokkan taksi ke jalan Changu Narayan, sebuah jalan yang makin menyempit  dan menanjak serta memberikan sensasi kengerian tersendiri. Jalan tanpa tepian itu memang terbuka memberi pemandangan indah sekaligus undangan musibah bagi yang tak waspada berkendara. Sekilas pemandangannya serupa dengan Puncak dengan setengah lebar jalannya dan tanpa pagar pengaman. Bila tak trampil, jurang dan lembah di bawah bisa langsung menerima tubuh yang melayang.

Di sebuah pertigaan tampak serombongan perempuan berpakaian merah yang berjalan kaki yang disusul rombongan lain yang serupa bahkan hingga menutupi jalan. Sambil menjalankan kendaraannya perlahan, pengemudi taksi menyapa orang yang ada di pinggir jalan. Saya tak mengerti apa yang dibicarakan namun kemudian sang pengemudi berbaik hati mengatakan kepada saya bahwa sedang ada festival Narayan di kuil dan di atas macet sekali.

Saya terhenyak, teringat ketika berada di Kathmandu Durbar Square saya menyaksikan festival untuk Sang Narayan. Festival pertama saya di Nepal. Lalu di Lalitpur atau Patan, saya juga melihat keramaian yang didedikasikan untuk Sang Narayan. Dan kini, di salah satu kuil utama, di Changu Narayan, ada festival untuk Sang Narayan? Ah, Cinta… saya merasa terberkati bisa menyaksikannya langsung.

Benar saja, tak lama kemudian lalu lintas semakin padat yang akhirnya tersendat. Semakin banyak orang berjalan kaki. Taksi mungil itu beringsut pelan hingga akhirnya terhenti total karena padatnya kendaraan di depan. Pengemudi taksi dengan trampilnya membanting ke kanan sehingga mendapat ruang gerak sedikit untuk maju sampai akhirnya benar-benar tidak ada ruang lagi dan ia bisa memarkir kendaraannya di pinggir jalan. Ia menyerah dan menyampaikan bahwa saya harus berjalan kaki hingga ke kuil.

Berada di antah berantah diantara orang-orang Nepal, saya cukup dibuat gamang. Saya bertanya apakah kuil masih jauh? Dia menggeleng. Sebuah gelengan yang tidak mampu meyakinkan saya. Bangsa Nepal terkenal sebagai bangsa yang kuat berjalan naik turun gunung. Sebuah gelengan itu artinya dekat, tetapi bisa saja berarti jauh atau cukup melelahkan bagi orang Indonesia yang terbiasa dimanjakan oleh ojek dan angkot.

Lots of People in the park area

Lots of People in the park area

Tiba-tiba mata saya menangkap dua atau tiga wisatawan berambut pirang di antara orang-orang Nepal itu. Saya memutuskan untuk turun sambil berbicara kepada pengemudi untuk bertemu nanti di mobil lalu cepat mengejar wisatawan tadi. Paling tidak saya berada dalam jangkauan orang-orang yang kemungkinan besar memahami bahasa Inggeris, sebuah trik hasil pembelajaran karena kesusahan komunikasi di Korea Selatan dulu. Apalagi saya yakin bahwa wajah Asia saya lebih menguntungkan daripada rambut pirangnya mereka, karena pendekatan cara Asia lebih bisa diterima.

Saya berjalan kaki bersama masyarakat lokal. Banyak mata memperhatikan saya yang terlihat berbeda dari perempuan lokal tetapi saya banyak melempar senyum dan bertukar sapa Namaste, sebuah pendekatan yang berbalas senyum dan pandangan ramah. Tak perlu mereka mengetahui kebangsaan saya, tapi terasa sekali masyarakat Nepal berbaik hati menyambut saya. Bukankah di sini pun Cinta membantu saya melebur menjadi serupa dengan mereka yang beringsut pelan di permukaan bumi ini?

Pengemudi taksi tadi benar, jalannya memang tidak jauh lagi, juga tidak terlalu melelahkan walaupun sedikit menanjak. Udara memang tak lagi sejuk, mungkin karena padatnya manusia yang menuju kuil serta matahari mulai meninggi. Tak lama berjalan, saya sampai pada tempat yang saya perkirakan merupakan lapangan parkir kendaraan. Berarti Kuil Changu Narayan sudah dekat.

Main Gate of Changu Narayan Village

Main Gate of Changu Narayan Village

Karena tak tahu arah menuju kuil, saya mengikuti saja orang lokal yang berjalan. Follow the crowd, pasti sampai, kata orang yang malas bertanya. Begitu padatnya, saya tak melihat tempat tiket masuk sehingga saya melangkah terus tanpa dosa. Sampai saat bahu saya disentuh oleh penjaga tiket yang lari meninggalkan tempatnya untuk mengejar saya yang belum membayar. Terperangah malu, sambil minta maaf karena sama sekali tidak melihatnya, saya membayar tiket masuk. Untung wajah penjaga tiket itu berubah manis, percaya atas kesungguhan saya yang tidak melihat tempat penjualan tiket masuk.

Momen melangkah melewati gerbang di dekat penjualan tiket itu mendenyutkan jantung. Sebuah awal perjalanan hati di wilayah Changu Narayan. Tempat yang pasti luar biasa karena ditetapkan sebagai UNESCO World Heritage Site. Saya terus berjalan menembus desa yang mendirikan rumah-rumahnya sepanjang jalan menuju kuil. Di pinggir jalan setapak yang menanjak, dijual berbagai barang keperluan sehari-hari atau cinderamata. Dan ketika saya mendongak ke atas melihat dinding rumah penduduk. terlihat jagung-jagung dengan kulitnya dijemur di jendela tingkat atas rumah mereka langsung di bawah terik matahari hingga berwarna kecoklatan. Sebuah pemandangan yang jarang ada.

Dari beberapa rumah terdengar Om Mani Padme Hum, lagu meditatif yang umum terdengar dari rumah-rumah Buddhist Nepali. Toko lainnya menjual barang-barang cinderamata untuk para wisatawan, seperti topeng, lukisan, kalung, boneka dan hiasan dinding yang semuanya terlihat indah. Sambil mengambil foto, saya melihat juga sebagian orang sudah turun kembali. Bisa jadi mereka telah selesai memberikan persembahan di kuil.

Semakin ke atas kepadatan semakin terasa. Semakin sulit untuk berjalan di jalan setapak tapi saya terdesak mengikuti kerumunan. Berada diantara himpitan orang dengan bahasa yang tidak dikenal, baik pria maupun wanita membuat situasi benar-benar tidak nyaman. Dalam hati saya memohon ditunjukkan jalan yang sepertinya langsung dikabulkan berupa sedikit ruang gerak. Saya langsung keluar dari himpitan lalu berdiri menunggu di atas dudukan rendah menyaksikan manusia memadati gerbang kuil. Gerbang yang terlalu kecil untuk dilewati umat yang membludak, membuat saya kuatir terhadap kemungkinan terjadinya chaos. Sudah terlalu sering terjadi ketika sejumlah orang bersikap tak peduli, situasi berubah menjadi chaos yang tak terkendali. Dan itu artinya kekonyolan yang tak perlu karena bisa terjepit, terjebak atau terinjak. Saya menunggu dengan sabar,  mendahulukan orang-orang yang hendak beribadah sambil mengamati gelombang manusia yang tak henti memasuki gerbang kuil.

Saya berdiri tepat di depan gerbang kuil yang berbentuk lengkung batu, tak pernah mendapat giliran. Bagaimana mungkin saya menerobos kerumunan manusia yang tak berkurang kepadatannya itu?

Jangan pernah menyerah, Help is on the way. Dan kesabaran pun berbuah. Tiga dara yang entah datang dari mana datangnya tiba-tiba menyapa saya dalam bahasa Inggeris yang fasih, menanyakan apakah saya hendak masuk ke dalam kuil. Masih terperanjat karena tidak merasakan kehadirannya, saya mengangguk. Mereka lalu menyebar di kanan kiri dan di depan saya lalu membukakan jalan. Saya seperti kerbau yang dicucuk hidungnya mengikuti perlindungan mereka. Mereka benar-benar menjaga di kiri kanan saya dalam terowongan gerbang yang penuh manusia itu. Pelan beringsut maju dan akhirnya saya sampai di pelataran kuil. Lega sekali rasanya bisa berada di udara terbuka lagi. Saya hendak berterima kasih kepada ketiga dara yang telah menolong saya dan mencari keberadaan mereka hingga kepala saya berputar. Namun seperti datangnya, saya tak lagi bisa menemukan mereka. Sepertinya mereka sudah kembali berbaur dengan lautan manusia. Bahkan saya belum sempat berterima kasih kepada mereka, the Guardian Angels.

Dalam sekejap, saya berjalan ke pinggir mencari ruang agar dapat mengunjungi hati yang mendapat berkat. Kasih Sayang yang dilimpahkan tidak main-main. Saya menggigit bibir menahan rasa, mata terasa panas. Saya mengerjapkan mata berkali-kali. Siapakah saya ini hingga Cinta harus turun tangan sendiri? Siapakah saya ini sampai saya mengalami hal yang luarbiasa ini? Sejak menjejakkan kaki di Nepal, begitu banyak keluarbiasaan yang saya alami. Malam luar biasa di Swayambunath, keluarbiasaan melihat jajaran Himalaya dalam mountain flight, menyaksikan puncak Mt. Everest yang agung dalam kebeningan kaca cockpit, berlama-lama berbahasa kalbu dan bertukar pandang dengan Dewi Kumari, mengalami sendiri keriuhan festival Narayan di Kathmandu dan di Lalitpur. Dan kini, mendapat ‘guardian angels’ di Changu Narayan. Setiap hari terjadi lagi dan lagi, seakan tak henti. Oh, I am so blessed. Begitu banyak rasa syukur tersampaikan yang rasanya takkan pernah cukup. Jiwa ini rasanya tenggelam dalam lautan berkat yang dilimpahkan. Hati terasa sesak dengan rasa syukur yang tak habis. Setiap sel rasanya bergetar mengucap deretan kata terima kasih Cinta.

Sejenak saya berada dalam ekstasi rasa itu dan perlahan digantikan dengan fakta yang ada di depan mata. Manusia yang tumpah ruah di pelataran kuil Changu Narayan. Cinta menyadarkan bahwa saya telah dihantarkan ke kuil Changu Narayan dan siap berkeliling dalam keajaiban.

Iklan

19 pemikiran pada “Nepal: Bertemu Guardian Angels di Changu Narayan

  1. Foto pertama sama seperti banyak pemandangan kampung pegunungan di Indonesia.
    Begitu bejubelnya umat mau ibadah sampai sulit untuk masuk kuil. Tapi ada malaikat yang memberi kemudahan. Setiap niat baik pasti ada yang membantu.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Terkadang perjalanan menawarkan keadaan sesuai dengan kebaikan hati kita sendiri.

    Alhamdullilah ya, dalam perjalanan jelajah Nepal, banyak “kebaikan” diluar nalar. Perjalanan selalu mengajarkan, bahwa masih banyak malaikat tak bersayap diluar sana. 🙂 Nice story

    Disukai oleh 1 orang

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s