Nepal: Memandang Dewi Kumari the Living Goddess di Jendelanya


Sebenarnya saya masih terkagum-kagum dan ingin berlama-lama berada di keramaian Durbar Square dan melihat arak-arakan festival dimulai, tetapi ada suara hati yang mengajak saya membalikkan badan memperhatikan sebuah bangunan cantik berukir khas Newari. Inilah Kumari Ghar, istana Kumari Devi atau Dewi Kumari, the living Goddess.

Kumari Ghar and the Lions

Kumari Ghar and the Lions

Tampak depan dari istana Kumari Ghar yang berada tepat di belakang saya itu terlihat cantik dengan hiasan-hiasan berukir dan pintunya yang dijaga oleh dua patung singa. Saya masuk dan tiba di halaman tengah yang dikenal sebagai Kumari Chowk. Halaman ini tidak luas, sekitar 6 kali 6 meter, dengan tempat persembahan dan tanaman hias di tengah halaman. Saya mengamati dengan seksama istana berlantai tiga yang menjadi tempat tinggal Dewi Kumari itu.

Kumari Devi atau Dewi Kumari, merupakan gadis cilik yang belum mencapai masa pubertasnya, dan dipercaya oleh sebagian kelompok Hindu dan Buddha di Nepal, sebagai titisan dewi Durga atau dikenal dengan nama Taleju Bhavani dalam bahasa Nepal. Ia dipilih secara ketat dari kasta Shakya atau klan Bajracharya, kelompok tertinggi dari masyarakat Buddhist Nepal untuk menjadi Kumari hingga masa pubertas atau sakit keras atau hal lain yang dapat menggugurkan tingkat ke’dewi’annya.

Bagi saya, legenda di balik kisah Kumari ini cukup menarik untuk disimak dan mengingatkan saya akan kisah-kisah serupa yang berkembang di tanah air. Versi pertama mengatakan bahwa pertemuan rutin antara Dewi Taleju dan Raja diketahui oleh permaisuri, yang akhirnya membuat Dewi Taleju memutuskan untuk berinkarnasi sebagai gadis cilik agar bisa ditemui Raja dan memiliki unsur kedewian untuk melindungi seluruh kerajaan. Versi kedua lain lagi, konon pertemuan rutin Raja dan Dewi Taleju berakhir karena ada upaya pendekatan secara seksual oleh Raja sehingga Dewi Taleju menghentikan pertemuan rutin itu. Dalam penyesalannya, Raja meminta Sang Dewi untuk kembali agar dapat menjaga kesejahteraan kerajaannya, Dewi Taleju setuju untuk tampil sebagai gadis cilik. Versi ketiga berkembang di abad 12, bahwa ada seorang gadis kecil yang dikucilkan dari masyarakat karena dianggap telah dirasuki oleh Dewi Durga. Permaisuri Raja tidak percaya begitu saja lalu ia mempelajari suratan nasib gadis kecil itu. Ternyata hal itu membuatnya marah karena Raja sendiri yang telah menjadikan gadis kecil itu sebagai inkarnasi Dewi Durga. Bagaimanapun sebuah benang merah bisa ditarik, bahwa ada kaitan khusus antara Kumari dan Sang Raja.

Mengingat posisi Kumari di Nepal sangat eksklusif, karena setiap tahun Raja atau orang tertinggi di pemerintahan Nepal meminta restu dari Kumari, maka tidaklah mudah menjadi seorang Kumari yang dipilih dalam usia yang masih sangat belia. Seorang Kumari dipilih melalui serangkaian test yang turun temurun dipertahankan terhadap fisik maupun mental sang calon. Begitu banyak kriteria yang harus dilewatinya, seperti 32 kriteria sempurna dari seorang dewi, berbadan sehat, berambut dan bermata hitam, tidak penakut dan lolos ‘uji-nyali’ pada malam hari berdiam bersama para kurban persembahan berupa lusinan kepala kerbau dengan hanya diterangi cahaya lilin.

Daya tarik Kumari sebagai Dewi yang hidup sebagai manusia dianggap begitu hebatnya sehingga dia dipercaya juga sebagai pembawa keberuntungan. Banyak orang bersedia untuk datang berkerumun di bawah jendelanya di Kumari Chowk dengan harapan agar Kumari dapat sejenak melewati jendela dan melihat mereka dalam diamnya. Karena konon, diamnya Kumari dalam melihat tamunya, menunjukkan harapan dan doa yang terkabul.

Saya masih berdiri di halaman istana kecil itu untuk menikmati suasana. Terasakan penting dan sakralnya tempat ini ditandai dengan lembar pita keemasan yang tersampir di atap teratasnya. Di tempat inilah tinggal seorang anak manusia yang memiliki serangkaian keberkahan hingga pantas disebut dengan seorang dewi yang restunya bisa membuat sejahtera sebuah negeri.

Ketika saya melihat ke jendela teratas di lantai tiga itu, alih-alih Kumari, yang terlihat adalah wajah tua sang penjaga yang melihat tanpa ekspresi ke kerumunan orang di halaman bawah. Entah apa yang ada dalam pikirannya, bisa jadi dia sedang menimbang-nimbang agar Kumari bersedia tampil di jendela.

Tetapi tak ada perubahan. Dari tempat saya berdiri di Kumari Chowk itu, terdengar suara anak-anak kecil tertawa, berlari dan melompat-lompat penuh canda di dalam rumah. Saya membayangkan di balik jendela-jendela itu ada anak-anak yang hidup dalam dunianya sendiri. Dunia anak-anak yang membahagiakan. Dunia mereka yang mendampingi seorang dewi yang hidup di dunia. Bahkan Sang Dewi itu sendiri mungkin masih suka berlari, menjerit, melompat dan tertawa-tawa seperti anak-anak lainnya. Sebagai seorang ibu, tentu saja saya pernah merasakan kehebohan dunia anak-anak yang bagi saya mereka hanya diam dan damai ketika tidur.

Terbawa kenangan akan dunia anak-anak yang penuh kegembiraan, tiba-tiba terbersit dalam hati, apakah saya mungkin dapat menyaksikan Sang Dewi dalam tubuh anak-anak itu karena saya percaya dia ada di situ bersama anak-anak lain yang sedang lari-lari penuh kegembiraan itu. Harapan saya menyatu dengan harapan orang-orang yang hadir di Kumari Chowk itu, apakah saya bisa beruntung melihat Sang Dewi, The Living Goddess? Saya tersenyum sendiri dengan harapan saya itu, menyadari sepenuhnya kebaikan suara hati

Sekitar sepuluh menit saya mengelilingi Kumari Chowk dan mengambil foto, tetapi tak ada tanda-tanda Dewi Kumari akan tampil di jendelanya. Saya tak putus asa, saya diam menanti, menunggu. Tak jelas.

Dan peristiwa itu terjadi lagi!

Sesaat saya hendak membalikkan badan akan meninggalkan Kumari Chowk itu, seseorang mengatakan dalam bahasa Inggris bahwa Kumari akan tampil. Saya tak jadi berbalik. Saya tetap berdiri di sudut kiri, di garis lurus arah pandang sang penjaga tadi.

Dan akhirnya wajah mungil itu muncul di jendela. Tepat menggantikan wajah sang penjaga tua. Arah garis lurus berpandangan dengan saya. Saya melihat Dewi Kumari dan dia melihat saya dalam diam. Saya seperti terhipnotis tak bergerak dan membiarkan diri asik berlama-lama berbahasa kalbu dalam hening berpandang mata dengannya. Matanya tak berubah pandang, tak melirik ke kiri atau kanan, dia hanya memandang lurus ke depan, ke arah saya, menembus ke dalam hati sanubari. Sebagai seorang ibu, saya mendoakan kesehatan dan kebaikan untuk kehidupannya sebagai anak hingga dewasanya. Namun sebagai seorang pengunjung Kumari Ghar, saya tak bisa berbuat lain kecuali tersenyum, berterimakasih kepadanya dan mendoakan kebaikan untuk semua. Setelah bermenit-menit itu Dewi Kumari menghilang dari jendelanya dan membiarkan saya tetap terdiam tak percaya.

Sepersekian detik saya tersadarkan. Lagi! Sebuah anugerah!

Jarang wisatawan bisa melihat Dewi Kumari di jendelanya kecuali sedang berada di festival yang mengharuskan Dewi Kumari meninggalkan istananya. Lebih jarang lagi bisa saling berpandang-pandangan dan berlama-lama bercakap dalam hening. Sebuah pengalaman batin yang luar biasa.

Perlahan saya meninggalkan Kumari Chowk itu dengan rasa syukur yang berlimpah. Sambil tersenyum saya teringat akan keinginan tiba-tiba agar bisa melihat Dewi Kumari dan karena campur tanganNya keinginan itu terwujud dengan segala keindahannya. Ini benar-benar perjalanan yang sangat menggugah rasa dari Yang Maha Kuasa (baca disini untuk rangkumannya) . Terima kasih Ya Allah…

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dan saya meninggalkan Kumari Ghar tanpa penyesalan sedikitpun walau tak memiliki satupun foto saat penuh momen dengan Dewi Kumari. Saya tak menyesal sama sekali membiarkan momen indah ini menjadi rejeki milik mata yang menyaksikan dan jiwa raga bergetar atas limpahan kasih sayangNya karena memang sejatinya itulah yang harus saya lakukan, bukan mengambil foto.

Bukankah saya meminta untuk dapat melihat Dewi Kumari dan bukan untuk mengambil fotonya? Dan ketika diberikan momen itu, alangkah tidak bersyukurnya saya bila mengalihkan menjadi milik kamera. Apalagi mengambil foto Dewi Kumari saat muncul di jendela itu dilarang oleh budaya setempat.

Sebagai pejalan, saya sangat menghargai budaya mereka. Jika dilanggar, artinya saya telah kehilangan makna perjalanan itu dan apa guna memiliki sebuah foto bila saya tak lagi bisa menghargai tempat yang saya datangi itu?

Di gerbang keluar Kumari Ghar itu, saya membeli beberapa kartu pos yang berisikan wajah-wajah Kumari sambil bercerita bahwa saya melihatnya. Gadis penjual itu tersenyum berkata, you’re blessed… Ah, perjalanan ini benar-benar mencuci jiwa…

(semoga nepal bisa bangkit kembali dan menjadi lebih baik daripada sebelumnya)

Iklan

52 pemikiran pada “Nepal: Memandang Dewi Kumari the Living Goddess di Jendelanya

please... do let me know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s