Nepal: Ketika Setitik Puncak Everest Tersibak Untukku


Melanjutkan tulisan sebelumnya (baca disini untuk separuh penerbangan sebelumnya), penerbangan ‘mountain flight’ yang tak terlupakan seumur hidup sesuai promosinya Buddha Air sebagai Everest Experience, memasuki paruh kedua pegunungan Himalaya yang berujung pada pemandangan Puncak dari segala puncak dunia, Sang Bintang, Sagarmatha! Everest 8848m!

Dari atas ketinggian terbang 25000 kaki, Puncak Melungtse yang eye-catching itu baru saja menghilang dari pandangan, namun barisan pegunungan berselimut salju itu masih tak putus terhampar di luar jendela kiri dan bagaikan sedang menikmati film yang sedang berputar, pemandangan indah puncak gunung Chugimago 6297m dan Pigferago 6620m seakan menggantikan Melungtse yang selesai tampil.

Melungtse 7181m -Chugimago 6297m-Pigferago 6620m

Melungtse 7181m -Chugimago 6297m-Pigferago 6620m

Sementara saya melihat keluar jendela menikmati pemandangan indah di luar, saya tak mampu lupa sikap putus asa pria berwajah Hindustan yang tak bisa melihat jelas Himalaya karena duduk di sebelah kanan. Gilirannya pun belum tiba. Bagaimanapun saya pun tak dapat mengabaikan ketukan pengingat untuk berbagi yang terdengar di hati. Saya memutuskan untuk mendengarkan dan mengikutinya.

Saya tersenyum kepada si pria Hindustan, “You can use my window, I have two”.

Matanya berbinar dan tersenyum lebar, “Thank you very much. I just wanna take pictures using my phone, one or two” Tanpa menunggu jawaban saya lagi, pria tadi langsung menyeruak ke jendela di dekat saya, menenggelamkan tanggapan saya berikutnya.

“no problem, take your time…”

Saya tersenyum dalam hati, semua orang di pesawat ini memang pecinta jendela, termasuk pria Hindustan ini. Pramugari tak dapat berbuat apa-apa ketika hampir semua orang menjadi tak sabar terutama yang berada di sebelah kanan yang berdiri sambil membungkuk ke arah jendela kiri. Di luar puncak Pigferago 6620m, Numbur 6957m, Karyolung 6511m hingga Cho-Oyu 8201m masih tampil dengan keindahannya bercampur awan. Bahkan Cho-Oyu puncak ke delapan tertinggi di dunia itu masih malu berselimut mega. Lalu pramugari itu mendatangi saya, berdiri di lorong tak jauh dari pria tadi…

Pramugari itu tersenyum, “Next is your turn”

Setiap penumpang diijinkan masuk ke cockpit pesawat untuk mendapatkan pemandangan Himalaya yang lebih jernih. Saya terloncat kegirangan. Sebagai orang terakhir check-in, tentu saja saya bukan orang yang termasuk yang didahulukan untuk masuk ke cockpit tetapi juga bukan orang paling akhir.

Numbur - Karyolung - Cho Oyu

Numbur – Karyolung – Cho Oyu

Dari belakang, tidak mudah untuk berjalan menuju cockpit dengan situasi para penumpang yang berdiri bergerombol di lorong dan membungkuk untuk melihat jendela kiri. Akhirnya ketika sampai di depan, pramugari itu menghentikan saya di antara ruang bagasi yang tertutup tanpa jendela. Saya kehilangan pemandangan di luar dan harus menunggu antrian dengan sabar.

Namun penumpang di depan saya itu seakan tak rela melepas waktunya. Saya paham, siapa juga yang rela melepas pemandangan barisan pegunungan tertinggi nomor satu di dunia? Saya juga tidak! Tetapi semakin lama ia menikmatinya, semakin lama pula saya kehilangan pemandangan indah di paruh kedua perjalanan ini. Saya tadi hanya sempat melihat sekilas puncak Cho-Oyu 8201m, dan itu semakin dekat dengan Sang Bintang.

ChoOyu 8201m - GyachungKang 7652m -Pumori 7161m

ChoOyu 8201m – GyachungKang 7652m -Pumori 7161m

Tapi entah kenapa, saya seakan diingatkan oleh janji saya sendiri kepadaNya saat bangun pagi. Saya tak mau meminta apapun. Saya sudah sangat banyak mendapat anugerah. Saya akan menerima apapun. Makanya saya diam menikmati waktu tunggu. Pramugari itu akhirnya meminta orang di depan saya untuk menyudahi gilirannya dan akhirnya dia keluar juga dari cockpit. Hati saya bergemuruh. Akhirnya giliran saya! Finally!

Tetapi Yang Maha Kuasa seakan mengajak bercanda dengan saya. Dia menunggu giliran saya untuk masuk cockpit, dan saat itu juga waktunya pesawat berputar menyebabkan saya hanya melihat langit dan garis horison yang miring serta disorientasi arah. Sepertinya Dia sungguh-sungguh bercanda, berhasil ‘ngerjain’ saya agar bisa kembali bergembira dan tersenyum setelah rentetan keharuan yang menyesakkan dada menyaksikan begitu banyak keindahan ciptaanNya. Sambil menjaga keseimbangan saat pesawat berputar, saya pun tertawa terbahak-bahak dalam hati, menerima semua kegembiraan dan canda dariNya, walau berupa garis horison miring dan disorientasi arah. Tuhan Maha Baik, Maha Menyenangkan Hati.

Saya menunggu dalam senyum hingga garis horizon itu kembali mendatar, sekejap saya menyadari berada di cockpit dengan jendela yang lebih bening. Saya terpana. Langit begitu biru. Salju begitu putih. Dan pemandangan pegunungan begitu indah dengan lekuk-lekuk mengular dan dinding-dinding cadas berhias awan. Saya masih kehilangan arah. Saya bertanya kepada pramugari berwajah Hindustan tadi. Telunjuk tangannya menunjuk lurus ke jendela kecil di arah kanan. Saya kebingungan. Apa? Sepersekian detik ia memandang saya dan tanpa perlu penjelasan lebih lanjut, saya terbelalak paham. Ya itu dia! Sagarmatha! Everest! 8848m!

Walau hanya setitik! Walau hanya sebagian dari puncaknya, tetapi saya diberi kesempatan melihatnya. Saya hanya bisa menatapnya sebentar dengan mata kepala sendiri, nyata, bukan melalui TV atau internet, tanpa kamera. Biarlah ini menjadi rejeki milik mata yang menyaksikan dan tubuh menerima getaran ekstasi rasa syukur yang menjalar ke seluruh permukaannya. Terima kasih ya Allah…

A Tip of Everest Peak

A Tip of Everest Peak

Lalu saya cepat mengambil foto. Jari terus menerus menekan tombol kamera walaupun dada terasa sesak lagi. Baru saja Dia menggoda saya dengan garis horison miring dan disorientasi arah, lalu sekejap diberikan hadiah luar biasa hingga hilang kata-kata. Tidak ada penumpang lain yang melihatnya dari jendela cockpit yang jernih karena begitu posisi berganti, selapis kabut awan telah menutup puncaknya. Seperti disengaja, hanya dikhususkan untuk saya. Ah, nikmat mana lagi yang hendak kamu dustakan?

Saya masih bergeming seakan tak percaya akan cinta yang diberikan olehNya. Dan saya teringat akan penumpang yang masuk ke cockpit sebelum saya, yang tak pernah mau meninggalkan cockpit. Kini saya pun seperti dia dan memahami sepenuhnya. Siapa yang mau meninggalkan tempat dengan pemandangan seindah ini? Bagaimanapun waktu bukanlah milik saya dan kini ia berkunjung pada penumpang sesudah saya. Saya melangkah keluar dari cockpit bersamaan dengan menghilangnya Everest dari cakupan jendela. Benar-benar hadiah tak terlupakan seumur hidup saya!

Pramugari tadi memandang saya sambil tersenyum, mengenali ekspresi wajah yang mendapatkan hadiah luar biasa. Saya berterima kasih kepadanya yang telah mengatur penumpang yang hampir semuanya mengatakan “Sebentar lagi…” saat di dalam cockpit. “It’s so majestic… wow… Speechless”, kata saya padanya.

Saya kembali ke tempat duduk di bagian belakang dan membungkukkan tubuh ke depan sebisanya dengan jiwa yang bersyukur memuji namaNya, jutaan kali pun tetap terasa kurang atas satu hadiah luar biasa ini. Kali ini rasanya benar-benar saya tersungkur, menyadari bahwa sesungguhnya keterbatasan kemampuan menerima yang dimiliki manusia. Ah, kita selamanya memang tak pernah memiliki…

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Kini jendela kanan yang dipenuhi orang yang masih asik mengambil foto, Melungtse yang berpuncak datar kembali tampil di jendela menyusul Ghauri-Shankar yang puncaknya masih berbalut kabut putih yang berpendar tertiup angin. Sebentar lagi Dorje Lakpa mengambil alih pandangan di jendela.

Saya tahu setiap detiknya berarti semakin dekatnya perpisahan dengan pegunungan bertudung salju itu. Tatapan hampa dengan berjuta kata terima kasih pada mereka yang berbaris diam namun berbaik hati membiarkan mata dimanjakan.

Gunung Dorje Lakpa baru saja menghilang dari jendela, dan Langtang Lirung hadir di kejauhan. Kehijauan lembah Kathmandu semakin terhampar di hadapan. Semakin jelas perpisahan sudah dimulai, pesawat semakin jauh dari Himalaya yang berjajar gagah. Mountain flight dengan Everest Experience dari Buddha Air ini akan berakhir dalam beberapa saat, tetapi saya tahu pengalaman yang saya dapatkan ini telah memberi warna hidup yang tak terlupakan. Saya meletakkan tangan di jendela sebagai tanda salam perpisahan sementara. Terima kasih, Himalaya…

Iklan

31 pemikiran pada “Nepal: Ketika Setitik Puncak Everest Tersibak Untukku

  1. Rahasia dan rencana Tuhan itu memang kadang terkesan mengerjai tapi sebenarnya Dia sedang menguji sedikit sebelum membuka hadiah utama. Benar, hadiah utama.

    Gila, Mbak. Benar-benar gila. Itu puncak yang agung sekali. Yang tersohor sejak manusia bisa berpikir, seperti ayah dari anak-anak yang ada di tulisan sebelumnya. Sagarmatha.

    Keren sekali! Pemandangan yang agung ditambah dengan tulisan yang mengalir pelan, menyejukkan seperti air sungai yang berhulu dari puncak Himalaya. Terima kasih, terima kasih sekali sudah sudi berbagi dengan kami :)).

    Disukai oleh 1 orang

    • Dear Gara,
      mungkin terlalu personal rasa itu ya, tetapi sejatinya itulah yang saya rasakan. Saya tidak dapat menemukan kalimat yang tepat, kecuali menuliskan apa yang biasa terjadi pada level manusia. Seperti orang yang menerima hadiah berlapis-lapis, rasa bahagia menerima jauh lebih besar daripada proses membukanya. Bagi saya itu Cinta, dan dalam keadaan dilimpahkan anugerah itu tak ada lagi uji melainkan warna yang semuanya indah. Saat itu horison miring dan disorientasi arah seakan-akan bertindak sebagai mood-booster, agar saya gembira atas keharuan terus menerus yang menekan (trip Nepal ini memang ‘kebanjiran’ Cinta 🙂 )
      Benar Gara, Sagarmatha memang luar biasa. Kali ini ia berbaik hati memperlihatkan sedikit puncaknya, tetapi ketika saya terbang pulang ke Jakarta, dia membalas salam perpisahan saya dengan memperlihatkan dirinya crystal clear… *inibocoran dan tentu saja penuh keharuan lagi 😀 😀 😀 )
      Anyway, terima kasih atas apresiasimu yang menyenangkan dan sudah mampir ke sini…

      Disukai oleh 1 orang

  2. Saya ikutan merinding! Ikut merasakan, berkecamuknya perasaan ketika Sagarmatha dapat terlihat, terasa dekat. Kesempatan dan pengalaman yang, untuk dilakukan kedua kalinya pun kita tak tahu seberapa besar kesan dibandingkan kesan pertama. Sangat sangat beruntung! 🙂

    Disukai oleh 1 orang

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s