Nepal 6 Bulan Lalu, Nepal Kini, Tetap Di Hati


Akhir pekan lalu adalah pertama kalinya saya kembali menulis mengenai Nepal setelah gempa dahsyat meluluhlantakkan negeri indah itu tiga minggu lalu, dan lagi, seminggu lalu. Gamang sekali memulai sesuatu dari sebuah kehancuran, tetapi saya percaya ada saat untuk bangkit, apapun rasanya. Ini adalah waktunya.

Sebelumnya saya tak bisa menyentuh tulisan yang belum selesai, apalagi melanjutkannya. Bahkan tak mampu menyentuh buku perjalanan Nepal tanpa airmata yang deras mengalir. Bisa jadi saya terlalu emosional, tetapi itulah yang dirasakan, rasa yang persis sama, dengan hati yang sama, ketika berada di Nepal enam bulan lalu.

Sebelum akhir pekan lalu, raga saya berada di sini, di dunia nyata, tetapi hati dan pikiran saya berada jauh di sudut-sudut Lembah Kathmandu yang magis yang kini luluh lantak dan hati saya pun seperti terkubur didalamnya, terpana tak percaya akan peristiwa tercabutnya sebuah cinta, seakar-akarnya. Meninggalkan lubang hampa. Kosong. Musnah.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Saya bertanya-tanya kepada diri sendiri, pembelajaran apa yang sedang diberikan untuk saya dengan peristiwa ini. Karena saya percaya, sebuah peristiwa yang memiliki makna bagi banyak orang diturunkan untuk menjadi pembelajaran bagi dunia, bagi banyak orang juga bagi orang-orang yang terkait di dalamnya dari sudut-sudut personalnya yang mungkin sangat pribadi. Termasuk saya.

Tetapi Tuhan selalu baik, memberi saya ruang dan waktu untuk menangis sedih, untuk tak percaya akan peristiwa itu, untuk menjadi manusia dengan segala keterbatasannya, untuk merasa boleh mempertanyakanNya. Dan Dia, selalu menjadi tempat tumpuan dari segala ketakpastian, selalu menjadi the solid ground, yang dengan sabar menunggu saya sampai saatnya tiba. Di saat terendah ketika tak ada jalan lain lagi selain jalan naik. Waktunya bangkit. Saat rebound.

Malam-malam duka penuh airmata, ketika kali pertama mendengar bencana itu, ketika angka kematian terus merangkak naik melampaui angka 8000-an orang dan terus bertambah lagi untuk gempa besar yang kedua, ketika melihat detik-detik luluh lantaknya bangunan-bangunan bersejarah itu, ketika mendengar longsor di perbukitan menelan banyak penginapan dan rumah-rumah beserta penghuni di dalamnya, ketika mendengar avalanche di pegunungan Himalaya itu mengubur para pendaki dan trekkers…

Dan semua yang mengharubiru itu tak begitu saja terbentuk. Enam bulan lalu selama saya menghirup udara Nepal, begitu banyak airmata tumpah karena rasa syukur atas semua keberkahan yang melimpah tak putus-putus. Membuat ikatan kuat dengan Nepal, yang mungkin makin memperkuat ikatan yang tak sadar telah terukir indah di hati berpuluh tahun sebelumnya.

Dan ribuan orang yang tak terselamatkan itu adalah bagian dari orang-orang yang saya lihat dalam keseharian di sana, yang penuh senyum, yang masih hidup dalam tradisinya, yang mencoba bertahan dalam kerasnya hidup. Mereka, yang tak terselamatkan itu, mungkin pernah bertemu saya dalam persimpangan hidup di Thamel, atau di Bhaktapur, atau di Lalitpur, atau di Kathmandu, di Nagarkot atau selama perjalanan saya di Nepal. Mereka, yang bisa jadi hanya berbilang beberapa senti dari keberadaan kita, yang tidak pernah kita sadari, yang tidak pernah kita ketahui, seandainya saja waktu dapat diputar kembali.

Dan semua airmata tumpah itu karena ikatan yang sangat dalam dengan apa yang menjadi kekuatan Nepal. Salah satu alasan saya datang ke Nepal adalah untuk mengagumi bangunan-bangunan bersejarah yang termasuk dalam World Heritage Sites itu. Dan ketika saya berada di sana, enam bulan lalu, saya masuk ke dalamnya, menyentuhnya langsung, mengelilinginya, mengamati semua mahakarya itu seakan waktu berhenti bersama saya, bahkan saya duduk di bawahnya, terlibat dalam keriuhan festival yang terjadi hari itu. Saya tak akan pernah lupa saat saya duduk di dekatnya, mengambil foto dengan segala cara untuk mendapat sudut terbaik, menunggu sampai sepi. Saya tak pernah lupa saat saya tersenyum sendiri karena tak menemukan ukiran erotis kamasutra yang biasa ditampilkan pada panel atau langit-langitnya, saya tak pernah lupa ketika saya duduk nyaman untuk rehat dari terik matahari dan pegalnya kaki menyaksikan banyak orang lalu lalang tak henti. Saya juga tak pernah lupa ketika seorang freelance guide yang baik hati, seorang Nepali pengagum Soekarno, meminta saya berpose dan dia mengambil foto untuk kamera saya, hanya karena saya sedang berjalan sendiri. Katanya, semua orang harus berbahagia dan punya kenangan manis saat berada di Nepal.

Dan bagaimana hati saya tak langsung luluh lantak ketika mendengar bangunan-bangunan besar di Durbar Square itu runtuh. Tak ada lagi Trilokya Mohan Narayan dan Maju Dega. Dan ketika saya dengar kerusakan besar juga terjadi di Changu Narayan, tempat saya mendapatkan keberuntungan yang tak biasa, airmata saya tak henti mengalir. Tak ada lagi Laksmi Temple yang di sudut, tak ada lagi bangunan-bangunan penyangga yang kala itu penuh lautan manusia dan bunga, bahkan Kuil utama Narayana temple telah rusak berat disudut-sudutnya yang sangat riskan pada guncangan gempa besar lanjutan. Di Lalitpur atau Patan, tak ada lagi Hari Shankar Temple, tak ada lagi kuil yang penuh ukiran kuno ratusan tahun itu. Semua lenyap. Semua yang telah saya sentuh, semua yang saya datangi dan saya cintai dengan sepenuh hati, semua tempat hati saya tertambat itu, sudah lenyap rata dengan tanah, musnah.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Bangunan-bangunan itu konon dibangun atas dasar cinta, atas dasar ibadah, atas dasar komitmen, rasa ikhlas dan dijaga dengan sepenuh jiwa sejak ratusan tahun lalu. Didatangi dan dipelihara, doa-doa dan puji-pujian dilantunkan didalamnya, sejak ratusan tahun lamanya. Dan kini musnah. Nilai dan makna sejatinya, hilang musnah dalam sekian menit getaran lapisan kulit bumi, meninggalkan tumpukan batu usang berdebu.

Dan tidak hanya itu keterikatan saya dengan Nepal yang saya tinggalkan enam bulan lalu. Pegunungan Mahabharat Range yang menjadi pagar dari barisan pegunungan dibaliknya, turut bergetar beresonansi mengakibatkan longsor yang meruntuhkan rumah-rumah yang dibangun di lerengnya. Rumah-rumah di pegunungan yang menjadi saksi keindahan matahari yang terbit dan terbenam berbalut kabut. Rumah-rumah yang menjadi saksi akan halimun menyelimuti lembah setiap pagi. Dan rumah itu ikut bergoyang dan terkubur, bersama penghuninya. Dan saya pernah berada dalam salah satu rumah yang berada di pegunungan itu. Merasakan harus mendakinya dan menuruninya, merasakan dan menyaksikan halimun yang menyelimuti lembahnya, memandang keajaiban matahari terbit berlantai hamparan kabut dan kini banyak rumah itu runtuh terkubur dalam hening, membawa hati saya terhanyut di dalamnya.

Lalu tak berhenti disitu, pegunungan berselimut salju itu, Sang Himalaya yang gagah, tak ayal ikut bergerak meruntuhkan salju yang telah tertimbun ribuan tahun, mengubur langsung pendaki dan trekkers, yang datang mencari keindahan dan keanggunannya maupun yang mencari uang karenanya. Menyatukannya kedalam ketakberdayaan manusia. Pasrah pada alam yang bergetar menyesuaikan keseimbangan baru. Saya yang enam bulan lalu, melihat sendiri keindahan salju abadi yang menutupi puncak-puncak Himalaya, yang melihat keindahan salju di Langtang, di Khumbu, di Sagarmatha. Puncak-puncak yang sama, yang seandainya bisa bicara, mungkin lebih memilih untuk menyatukan para pendaki dan trekkers dalam keabadian cinta bersamanya. Puncak-puncak Himalaya yang sama yang saya lihat dalam baluran airmata bahagia, karena pada akhirnya saya bisa melihatnya dengan mata kepala sendiri. Sang Himalaya yang juga tak mampu berbuat lain kecuali mengikuti hukum alamNya.

Dan lagi, seminggu lalu, gempa baru dengan kekuatan besar terjadi lagi. Yang sebelumnya telah ringkih, kini hancur. Gempa lanjutan ataupun gempa baru yang biasa mengikuti gempa-gempa besar memang terus terjadi, setiap hari, setiap saat, dari skala 4, 5 atau 6 dan bahkan 7. Dan ketika gempa baru dengan skala tinggi itu terulang lagi, saya menutup mata yang telah berair, bergetar meminta Wahai Engkau Yang Maha Perkasa, bolehkah saya memohon Kasih Sayang dan KelemahlembutanMu terhadap alam dan semua makhluk yang berada di Nepal?

Saya hanya bisa jatuh terduduk, tersungkur dan menangis. Tak lagi berdaya. Hanya MilikMu…

Hening.

Dan sampailah saat untuk mengakui pada diri sendiri, bahwa ikatan dengan Nepal ini sangat kuat, luar biasa kuat. Saya mencintai Nepal dengan segala yang ada padanya, dengan segala yang saya alami di dalamnya. Dan berlebihan.

Kemudian bagaikan sebuah kilat yang datang di tengah awan badai, seperti itu pula saya disadarkan. Cepat, sekilas dan terang. To the point. Tak ada yang abadi di dunia ini dan tak boleh ada yang ‘terlalu’.

Sejentik itu pulalah yang membukakan mata dan menyembuhkan luka. Seberkas cahaya yang menguatkan dan membangkitkan. Tak hanya sekali ini saya mendapat pembelajaran yang sangat berharga, yang sangat menorehkan rasa. Pembelajaran yang maknanya saya dapat setelah selesai masa berjalan disana .

Cinta itu tak melekatkan. Cinta itu membebaskan. Cinta itu membawa kebaikan.

Sedalam apapun cinta saya kepada bangunan-bangunan bersejarah, saya harus melepaskannya dalam keruntuhan, melepas nilai berharganya menjadi milik keabadian. Sedalam apapun cinta saya kepada penduduk Nepal dengan segala tradisi yang dilakukannya dalam keseharian, saya harus serahkan kepada Yang Maha Mengatur. Apapun yang terjadi menjadi bagian dari Rencana IndahNya. Sedalam apapun cinta saya terhadap alam pegunungan yang indah, terhadap barisan pegunungan berpuncak salju, tetaplah saya harus melepaskannya dalam kuasa yang telah ditentukan. Untuk selalu menjadi lebih baik, dan karena masih banyak yang lebih baik

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dan sebagaimana sebuah cinta yang membebaskan, apapun yang terjadi, enam bulan lalu ataupun kini, semua itu menjadi sebuah kenangan yang indah, kenangan yang selalu manis, yang terpatri dalam sebuah ruang khusus di dalam hati bernama Nepal.

Yang bisa saya kunjungi kapan saja, turut mempercantiknya tanpa perlu terlekat padanya.

Dan saya pun diminta untuk melanjutkan perjalanan…

*

Baca di sini Rangkuman dan Seri perjalanan di Nepal

Iklan

10 pemikiran pada “Nepal 6 Bulan Lalu, Nepal Kini, Tetap Di Hati

  1. Ketika muncul berita gempa dulu, aku tergerak memberikan sebagian untuk mereka di Nepal yang membutuhkan. Tapi itu saja, nggak sebanding dengan cerita Mbak. Nggak sebanding dengan apa yang Mbak rasakan.
    Melihat foto-foto objek legendaris menjadi puing, aku ikut trenyuh. Nepal tak lagi sama bagi mereka yang mengenalnya. Tapi selama orang Nepal tak putus asa, Nepal akan bertahan. Semoga Nepal bisa bangkit dan kembali membuat dunia terkesan.

    Disukai oleh 1 orang

    • Saya mengamini, dan benar itulah yang saya harapkan akan terjadi di masa mendatang. Nepal akan bangkit, karena saya sempat baca di salah satu kuil terkenal yang rusak, yang bilang, “bantu kami dengan tidak menjadikan kami peminta-minta.” Kita doakan saja yang terbaik untuk Nepal. Terima kasih ya sudah mampir…

      Disukai oleh 1 orang

  2. Dalam banget dan menyentuh. Ketika semua runtuh justru saya ingin melangkahkan kaki kesana. Melihat apa yang tak nampak. menyentuh apa yang dirasa. InsyaAllah semoga lancar dan tak ada halangan tahun ini bisa kesana. aamiin

    Disukai oleh 1 orang

please... do let me know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s