Kuliner Nepal: de Lezatos Dal Bhaat


Bukan seperti pejalan lain, saya tidak memiliki banyak antusiasme untuk mencicipi makanan lokal. Padahal katanya perjalanan itu tidak ada artinya bila tidak mencicipi makanan lokal. Tetapi saya menghadapi dilema dalam melakukan perjalanan. Begitu banyak tempat yang ingin saya lihat dalam waktu yang tidak banyak. Akibatnya satu kali jatah makan pun biasanya saya skip. Saya membiasakan sarapan besar untuk menyambung ke siang lalu makan di sore hari sehingga tidak perlu makan malam.

Namun dalam perjalanan di Nepal ini, saya memasukkan satu hal yang ingin dicapai. Menonton pertunjukan seni sambil makan malam. Dan Bivek membawa saya ke sebuah restoran yang katanya ada pertunjukan seninya. Namun saya sendiri tidak tahu nama restorannya atau letaknya dimana. Restoran itu memiliki gaya arsitektur Mediterranean. Mungkin kalau ada namanya, saya juga tidak bisa baca karena dalam karakter Nepali.

The dim light of the restaurant

The dim light of the restaurant

The wall decoration of the restaurant

The wall decoration of the restaurant

Satu hal lagi, karena saya pergi sendiri, jadi saya bayangkan makan sendiri sambil nonton pertunjukan sendiri yang bagi saya tidak menjadi masalah. Tetapi setelah sampai di restoran dan mendapat harga cukup mahal per orangnya, tidak ada tanda-tanda Bivek akan minta diri. Saya terlalu malu untuk menanyakan kepadanya. Saya ingin makan bukan berarti saya harus mentraktirnya makan kan? Kalau hanya asal makan mungkin masih bisa diatur dalam budget, tetapi kali ini lebih agak resmi. Berbagai pertanyaan berkecamuk di kepala, sampai akhirnya saya mengalah. Sudahlah, ini seperti makan sedikit resmi di restoran di Jakarta. Saya kan tidak jadi bangkrut karena menraktir orang makan enak. Dan bukankah sesuatu hal yang baik mengenyangkan orang lain? *Ikhlas

Dan tidak ada suatu kejadian yang tidak memiliki makna.

Para tamu harus melepas alas kaki untuk masuk ke ruang makan dan duduk melantai di kursi tanpa kaki dengan meja rendah panjang yang memuat banyak tamu. Di ruang kami, selain sekelompok anak muda di sebelah kiri, ada rombongan turis kulit putih di bagian meja sebelah kanan. Suasana cukup ramai menyenangkan.

Bivek membantu memilihkan paket makanan yang dijual di restoran itu. Kudapan momo, aloo (kentang) dan pop-corn sebagai awalan, kemudian sup lentil sebagai appetizer dilanjutkan dengan makanan utama Dhal Bhaat Thakari, terdiri dari nasi ditambah sayur-sayuran kari, jamur, ayam, serta lauk pauk lainnya dengan tambahan acar, kemudian diakhiri dengan hidangan penutup berupa yoghurt dingin dan tentu saja, air putih yang segar dan dapat terus diisi ulang.

The starter - Momo, Aloo and Pop-corn

The starter – Momo, Aloo and Pop-corn

Makanan pembuka datang dengan semangkuk pop-corn yang mengingatkan saya nonton di sinepleks di Jakarta yang lebih mahal makanannya daripada harga tiketnya 😀 Selain popcorn itu, ada makanan yang harus dicoba di Nepal yaitu Momo. Di Indonesia, momo mungkin bisa disejajarkan dengan siomay. Makanan pembuka lainnya adalah Aloo, kentang goreng berempah dalam potongan kecil. Ketiga makanan pembuka itu masing-masing disajikan dalam mangkuk dan porsi kecil, karena tujuannya memang sebagai pemicu rasa lapar saja.

The musician

The musician

The Performance but I dont know the name

The Performance but I dont know the name

Sambil mengunyah makanan pembuka itu, Bivek dan saya ngobrol ngalor ngidul juga termasuk melihat performance yang tidak bisa saya nikmati karena agak jauh dari meja. Bicara soal hidangan pembuka, momo dan aloo-nya enak sekali, kecuali pop-cornnya tersaji dengan rasa standard. Saya bersyukur sekali bisa

Para tamu bagaikan raja dan ratu di restoran itu, ada petugas khusus yang akan menuangkan makanan ke piring makan yang berbentuk seperti baki bundar berdiameter sekitar 30cm. Rasa tak biasa makan dengan menggunakan baki, saya tepis jauh-jauh. Yang penting hidangannya, dan bukankah makan dalam piring serupa baki itu sebuah pengalaman pertama? Rasanya pasti luar biasa…

Dal Bhaat - The Traditional Culinary of Nepal

Dal Bhaat – The Traditional Culinary of Nepal

Setelah kudapan pembuka tadi, semangkuk kecil sup lentil yang katanya disebut Dal itu tersaji di depan mata. Hidangan sup dalam keluarga kacang-kacangan itu sangat halus dan memang menggoda perut untuk semakin siap menerima makanan utama. Dalam sekejap sup lentil itu mengisi lambung menyusul pop-corn, kentang ‘aloo’ dan momo yang sudah lebih dulu hilang ke pencernaan.

Saya tidak diberi kesempatan barang sejenak untuk mencerna Dal karena pramusaji menuangkan nasi sambil menanyakan apakah saya vegetarian sehingga dia tidak akan memberikan hidangan berdaging di piring. Saya menggeleng sambil melihat hidangan ayam yang di bawa oleh pramusaji di belakangnya dan membiarkan hidangan itu pindah ke piring melengkapi sayuran berbumbu yang sudah menghias piring.

Melihat hidangan-hidangan itu, saya teringat bertahun-tahun lalu ketika merasakan hidangan kari yang luar biasa enak di Mumbai. Tanpa keinginan untuk membandingkan satu sama lain dan untuk mengelola harapan sendiri, saya mempersiapkan merasakan hidangan yang datar. Namun begitu mencecap, saya terkesima, cita rasanya cocok sekali di lidah saya yang cenderung selama ini hanya menerima makanan yang berada di comfort zone. Bahkan saya merasakan ini seperti makanan sehari-hari di Indonesia yang kaya bumbu dan tepat ukuran. Tepat ukuran itu penting. Pas! Tidak berlebih! Meminjam istilah gaul sekarang, rasanya cucok di lidah… Maknyus atau yummy, lezatos plontos atau apapun itu…

Saya ingin berlama-lama makan, tetapi rasa lapar yang terpicu oleh Dal, Aloo dan Momo membuat tingkat kecepatan makan naik berlipat. Saya hanya perlu waktu sejenak untuk menurunkan hidangan ke lambung untuk menikmati hidangan penutup yang disajikan. Yoghurt yang menyegarkan, minuman yang konon sudah di kenal di pegunungan Mahabharat ini sejak beberapa millenium lalu

Luar biasa! Rasanya tidak percaya akan lidah sendiri yang dapat menerima makanan tradisional Nepal ini. Dari negara-negara yang pernah dikunjungi atau wilayah-wilayah di Indonesia, hanya beberapa saja yang cita rasa hidangannya bisa diterima. Apalagi kali ini, rasanya enak sekali dan pas. Saya seperti seorang VVIP yang mendapat jamuan tingkat tinggi. Lagi-lagi ini kejutan yang mewarnai perjalanan saya.

Bahkan rencana menyaksikan pertunjukan dan tarian malah gagal total karena pertunjukan itu tidak berhasil memaku pandangan saya lebih lama daripada menikmati hidangan. Tetapi saya tidak menyesalinya, karena saya mendapatkan hal lain yang jauh lebih menyenangkan. Dalam sekejap mata kesadaran itu menyentak. Saya merencana tetapi yang saya dapatkan jauh melebihi dari apa yang saya harapkan… Hmmm… Segala puja dan puji hanya bagiNya…

The last but not least, watching how a 'peacock' took the money

The last but not least, watching how a ‘peacock’ took the money

Dan tiada awal yang tak berakhir. Saya memahami ketika para pekerja seni itu berkeliling dari meja ke meja mendampingi seseorang dalam rupa burung berhiaskan bulu merak -yang menurut saya lebih mirip burung unta-. Tanda bahwa pertunjukan telah selesai. Si burung menunjukkan ketrampilan khususnya di akhir acara, dengan mematuk uang dari masing-masing tamu menggunakan paruhnya. Tiap berhasil mematuk, tepuk tangan dan tawa bahagia membahana ke seluruh ruang. Saya ikut bergembira walaupun tetap berharap si burung itu mematuk dan mengambil bon tagihan makanan dari hadapan saya hehe…

Iklan

6 pemikiran pada “Kuliner Nepal: de Lezatos Dal Bhaat

  1. Pengalaman makan malam yang tentu tak akan terlupa 🙂
    Suka dengan suasana restorannya. Lampunya yang keemasan, interior ruangan, performance para seniman, baki-baki emas, suasana zaman Mahabharata itu terasa betul.
    Btw, bulir-bulir nasinya besar-besar ya :hehe.

    Disukai oleh 1 orang

    • Benar sekaliiii… kalau selevel dengan makan malam yang biasa dilakukan, pastinya saya bingung mau mulai cerita dari mana hahaha…
      Restorannya emang asik, pengalaman saya di Nepal itu seperti masuk dari lorong waktu ke lorong waktu yang lain 😀
      Oh ya benar, bulir nasinya panjang dan besar, tetapi yang jelas, ga kalah enaknya dengan nasi di Indonesia..

      Disukai oleh 1 orang

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s