Nepal: Suatu Malam di Swayambhunath


Alkisah Manjusri, seorang Boddhisattva yang terkenal akan Kebajikan dan Pengetahuannya, sedang dalam perjalanan menuju sebuah danau, -yang kini tempat itu terkenal dengan nama Swayambhu-, untuk melihat bunga teratai yang tumbuh indah ditengah-tengahnya. Ia melihat potensi pengembangan di sekeliling wilayah berbukit itu sehingga ia mengupayakan akses yang lebih mudah untuk masyarakat agar bisa mencapainya. Manjusri, dengan kesaktian spiritualnya kemudian memotong sebuah ngarai di Chovar. Air danau mengalir keluar lalu mengering serta meninggalkan lembah yang dikenal sebagai Lembah Kathmandu sekarang ini. Bunga teratai yang terlihat sebelumnya itu konon berubah bentuk menjadi sebuah bukit dan bunga itu menjadi Stupa di Swayambhunath. Sementara itu, Manjusri tetap menjalankan hidup kesehariannya di wilayah Swayambhu.  Karena terkanal akan welas asihnya, Manjusri membiarkan kutu-kutu tumbuh di rambutnya yang panjang. Konon, dengan berjalannya waktu, kutu-kutu itu bertransformasi menjadi kera-kera sakti yang tetap mendiami Swayambunath bagian barat laut hingga kini.

Itulah sekelumit kisah legenda tentang asal-usul Swayambhunath yang terkenal juga dengan nama Monkey Temple, yang kini menjadi salah satu kompleks peribadatan tertua di pinggir Barat Kathmandu.  Karena lokasinya di puncak bukit, banyak yang menyarankan saya untuk mengunjungi Swayambhunath pada malam hari untuk melihat keindahan lampu-lampu seantero lembah Kathmandu.

Setelah membeli tiket masuk seharga 200NRs di pintu Selatan, saya mengikuti Bivek, sang guide dadakan, yang berjalan menuju Kolam Perdamaian Dunia (World Peace Pond) yang di tengahnya terdapat patung Buddha berdiri diatas bunga teratai. Walaupun tidak seheboh Fontana di Trevi di Roma, turis disini juga melempar koin ke sebuah guci di dekat kaki Sang Buddha dengan tujuan agar permohonannya terkabul.

World Peace Pond

World Peace Pond – throw the coins here…

Hanya karena ingin berpartisipasi menambah jumlah koin di kolam, saya mengambil koin seadanya dari dalam dompet. Kemudian sambil melihat ke arah wajah patung Sang Buddha di temaramnya lampu, sesaat teringat akan orang-orang yang mengikuti jalannya, juga para biksu yang melakukan pindapatta, lalu orang-orang yang terlekat pada nafsu keinginannya, lalu ke orang-orang yang menderita, ke berbagai tempat terjadi perang, tempat-tempat menyedihkan. Ah, semoga semua makhluk berbahagia lalu saya lempar koin itu. Koin mendarat tepat pada bibir lubang guci lalu jatuh perlahan karena gaya gravitasinya ke bagian dalam guci bergabung bersama koin-koin lain, gerakannya a la slow motion.  Masuk! Rasa dingin langsung menjalar di sekujur tubuh. Tak percaya akan lemparan pertama yang berhasil masuk, saya melihat tangan sendiri. Saya bukan pelempar yang baik, bahkan bisa dikategorikan sebaliknya. Kok bisa?

Melihat koin saya masuk, Bivek yang sudah dua tiga kali mencoba dan tidak masuk, langsung berteriak, “Hei… Good to you… your wish will come true.” Saya tersenyum datar. Bagi seorang pelempar yang sangat buruk, masuk ke dalam guci di lemparan pertama adalah sebuah keajaiban. Apalagi, setelah itu Bivek mengatakan harapan baikmu yang menjadikannya masuk. Saya mengangkat bahu mengamini.

Tangga Selatan menuju puncak itu tak sebanyak 365 anak tangga di pintu timur, tetapi tetap saja membuat saya terengah kehabisan nafas. Benar-benar saya membenci tangga, teringat sempat hampir pingsan di tangga Bromo dulu, dan juga mata berkunang-kunang jelang gelap di tangga sempit menara Mesjid Banten. Tetapi saya tahu upaya melelahkan itu akan terbayar lunas dengan pemandangan indah di puncak bukit.

Night view over Kathmandu Valley

Night view over Kathmandu Valley

Dan tentu saja saya langsung tertarik pada magnet kuat Mata Kebajikan Sang Buddha, yang tergambar di tiap sisi dinding Stupa Utama. Sepasang mata yang tercerahkan dari kemelekatan dunia, sepasang mata yang akhirnya menjadi icon di seluruh Nepal.

Di tiap sisi dinding itu, tak hanya ada sepasang Mata. Sedikit di atas di antaranya, terdapat mata ketiga yang dipercaya ketika Sang Buddha sedang mengajar, -sinar kosmik yang berasal dari Mata Ketiga dan bertindak sebagai pembawa pesan kepada makhluk surgawi-, menyebabkan makhluk surgawi apabila tertarik dapat turun ke bumi untuk mendengarkan pengajaran Sang Buddha. Para makhluk yang sedang tersiksa di neraka dan para makhluk yang mendiami Dunia Bawah, tidak dapat datang ke bumi untuk mendengarkan ajaran Sang Buddha. Walaupun demikian sinar kosmik yang terpancar itu dapat mengurangi penderitaan mereka selama Sang Buddha mengajar. Selaini tu, di antara Mata Sang Buddha sedikit di bawahnya, terdapat hidung yang tergambar seperti tanda tanya dengan ulir yang lebih banyak. Bentuk ini merupakah karakter Nepali untuk menuliskan angka 1, sebagai simbol menyatukan semuanya untuk meraih pencerahan, melalui ajaran Buddha. Di atas kubah besar, di puncak terdapat tiga belas tingkatan yang menunjukkan bahwa setiap makhluk hidup harus menempuh tiga belas tahap perjalanan spiritual untuk mencapai tingkat kebuddhaan.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Beberapa biksu berjubah merah maroon berjalan perlahan mengitari Stupa Besar menyempurnakan suasana damai di antara lantunan suara puji-pujian dari sebuah beranda, tetapi bukan Om Mani Padme Hum yang sering terdengar di kios-kios di Thamel. Walau tak sempat melihat, saya hanya bisa membayangkan sebelum fajar menyingsing ratusan umat menaiki  365 anak tangga dari sisi timur menuju puncak melalui lokasi yang disebut Vajra dan dua patung singa penjaga gerbang untuk mengitari Stupa searah jarum jam sambil melantunkan mantra-mantra.

Malam beranjak pelan di Swayambhunath, yang konon dibangun sejak abad 5 oleh Raja Vrsadeva dan diselesaikan oleh Raja Manadeva sekitar tahun 640, walaupun ada yang percaya bahwa Raja Ashoka pernah mengunjungi situs ini pada abad ke 3 dan memerintahkan untuk pembangunan kuil.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Yang menarik dari Swayambhunath ini bagi saya adalah toleransi antar agama. Seperti umumnya di bagian lainnya di Nepal, walaupun Swayambhunath merupakan tempat ibadah agama Buddha, tempat ini juga digunakan oleh penganut Hindu karena memang ada tempat pemujaan khusus bagi penganut Hindu. Bahkan Raja Pratap Malla yang beragama Hindu memberikan penghormatan di kuil ini dengan membangun tangga timur pada abad 17. Bahkan Bivek, guide dadakan saya itu juga memberi penghormatan di tempat-tempat Buddha.

Berada di ketinggian puncak bukit memang memungkinkan menikmati kelip-kelip lampu seantero lembah Kathmandu. Karena bepergian sendiri dan berada di tempat indah dalam suasana yang damai, pikiran ini terbang ke orang-orang terdekat yang sudah mendoakan keselamatan perjalanan saya. Sejumput doa terucapkan dalam hati untuk mereka semua. Salam penuh cinta dari Swayambhunath…

Prayer Flags, The Eye, The Stupa of Swayambhunath

Prayer Flags, The Eye, The Stupa of Swayambhunath

Ketentraman itu buyar seketika ketika terdengar gebrakan kayu berkali-kali. Saya mencari sumber suara dan mendadak saya diam tak bergeming sedikitpun melihat yang tampak di depan mata. Pertama hanya sedikit lalu semakin banyak dan semakin banyak… Berawal dari satu, dua, tiga lalu puluhan… ratusan… kera-kera dalam rombongan besarnya menuju tempat istirahatnya. Asli, baru sekali itu saya melihat kera dalam rombongan yang sangat besar. Sejak kecil saya tidak pernah menyukai kera, bagi saya kera itu bisa saja mendadak menjadi liar dan ganas. Dan rombongan kera itu, walaupun tertib lewat di hadapan, bisa saja menjadi chaos dan menyerang… dan gambaran itu sangat-sangat menakutkan!

Do you see two monkeys?

Do you see two monkeys?

Tetapi bukankah Nama lain Swayambhunath adalah Kuil Kera? Jadi saya harusnya heran kalau di sana saya menemui banyak kelinci kan…

Iklan

12 pemikiran pada “Nepal: Suatu Malam di Swayambhunath

    • hahaha iya banget… makanya aku biasanya bilang ke orang yang barengan naik tangga bersamaku, bahwa aku pernah collapse gara2 naik tangga, biar dia prepare… kan ga lucu kalo glundung ke bawah kayak bola hahaha…

      Suka

  1. Aku pun takut kera, makanya kalau malas kalau mau ke Monkey Forest di Ubud. Tapi kalau tidak ke kuil ini saat di Nepal hanya karena harus mengalah dengan kera…rasanya sayang banget 😐

    Suka

  2. Agama Hindu dan agama Budha memang bisa dibilang saudara, karena di agama Hindu, Buddha Gautama adalah jelmaan Dewa Wisnu. Tidak heran si guide memberi penghormatan di tempat itu, Mbak 🙂
    Cantik sekali kuilnya 🙂

    Disukai oleh 1 orang

please... do let me know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s