Namaste Nepal, Dhanyabaad…!


Namaste, Nepal… Dhanyabaad.

Itulah salam pertama yang terucap setelah telapak tangan bersentuhan dengan bumi Nepal, sebuah kebiasaan saya terhadap bumi, tempat saya pertama kali berpijak setiap berkunjung ke negara baru sekaligus ungkapan terima kasih telah mendapat kesempatan menjejak dan menghirup langsung udaranya yang sejuk.

Pegunungan Mahabharat Range

Pegunungan Mahabharat Range

Rasanya tidak mungkin tidak bersyukur melihat dari jendela pesawat jejeran pegunungan Himalaya berselimut salju di horizon beberapa jam sebelumnya yang kemudian dilanjutkan dengan kontur bumi Nepal yang luar biasa cantik ketika pesawat mulai merendah. Terkagum saya melihat Mahabharat Range, rangkaian pegunungan dengan lembah dan jurang yang menjadi pendahuluan dari pegunungan Himalaya yang lebih tinggi di sebelah Utara dan seakan menjadi pagar pembatas daerah dataran rendah Terai yang berbatas dengan India di sebelah Selatan.

Pegunungan Menjelang Kathmandu

Pegunungan Menjelang Kathmandu

Pesawat semakin rendah dan kawasan kota Kathmandu semakin terlihat. Pesawat melintasi Jalan bebas hambatan yang lebar dengan tak banyak kendaraan yang melintasinya. Bangunan-bangunan berbentuk kubus tersebar dimana-mana. Uniknya sebuah pemandangan Kathmandu dari udara. Tanpa banyak hambatan, pesawat mendarat mulus di Tribhuvan International Airport. Sampai juga saya di bumi Nepal. Saya mengerjapkan kelopak mata yang terasa hangat penuh haru. Terima kasih Tuhan. Dan karenanya hanya ada kata yang bisa terucap pada sebuah salam perkenalan, Namaste Nepal, Dhanyabaad…

***

Jelang Kathmandu - View dari udara

Jelang Kathmandu – View dari udara

Setelah menyempatkan diri berfoto di sebuah icon selamat datang, saya bergabung dengan penumpang lain menuju terminal kedatangan yang tidak besar. Terlihat mulai banyak tulisan dengan karakter Nepali. Senyum semangat terukir untuk diri sendiri, teringat akan pengalaman seru karena terbatasnya karakter latin saat di Korea. Tetapi jika kesulitan saat itu bisa diatasi, semoga kali ini juga bisa. Kaki ini terus melangkah mengikuti arus penumpang lain hingga sampailah saya di sebuah bangsal luas penuh orang. Alarm kewaspadaan diri langsung berdentang-dentang. Inilah area yang harus ditemui oleh sebagian besar pendatang ke Nepal. Visa Processing.

Welcome to Nepal - menuju lorong VOA

Welcome to Nepal – menuju lorong VOA

Saya menyadari berkunjung ke Nepal ini saat peak season dan akibatnya, saya harus mengucapkan selamat datang pada kerumunan proses visa di Nepal karena papan informasi memilih bersembunyi! Dimana-mana terlihat kerumunan orang sehingga saya memutuskan berkeliling untuk mencari tahu apa dan bagaimana keseluruhan proses visa itu, persis seperti seekor anjing yang menandai wilayah kekuasaannya. Dan karena tak jelas beda antara pemohon visa dan petugas informasi, -selain saya jaim banget- 🙂 , tubuh ini memilih mengantri di sebuah jalur yang terpanjang sambil memasang mata dan telinga untuk mencari kebenarannya. Lalu antriannya maju begitu pelan sepelan kura-kura yang sedang santai di pantai.

Lorong menuju terminal kedatangan

Lorong menuju terminal kedatangan

Dan karena mencuri dengar, bukan salahnya rombongan turis yang berbicara begitu menyakinkan, sehingga saya tak tahan godaan berpindah jalur yang lebih pendek mengikuti mereka. Rupanya jalur itu merupakan jalur e-visa, tempat pengisian formulir aplikasi visa secara online dan terintegrasi dengan kamera foto. Tetap saja setelahnya harus mengantri lagi untuk proses persetujuan visanya. Jadi, -meminjam istilah sekarang-, ‘tepok jidat’-lah saya yang kepalang antri namun sudah memegang formulir yang terisi lengkap dengan selembar foto dari Jakarta. 😀

Secepat kilat saya keluar antrian untuk kemudian bertanya kepada seorang petugas informasi yang sedang lewat. Sebuah senyum yang terasa kecut ketika saya disarankan kembali ke antrian yang pertama kali yang tentu saja sudah semakin mengular.

Dan memang manusia itu (baca: saya) terus menerus diuji langkahnya dari berbagai arah, termasuk pembelajaran dari hikmahnya. Jalur antrian maju pelan-pelan dan ketika sudah di tengah perjalanan, terdengar pembicaraan dalam bahasa Indonesia untuk pindah ke jalur antrian yang lebih pendek. Merasa superior karena memahami arti obrolannya, saya mencari arah suara tersebut dan menemukan dua perempuan muda yang sedang melangkah ke jalur yang bertuliskan 15 hari. Saya tidak memantau kelanjutan proses yang dilakukan kedua perempuan itu, tetapi sungguh setan ‘malas antri dan tidak tertib’ saat itu menang lagi atas saya. Tanpa berpikir dua kali, saya pindah jalur tetapi kali ini saya langsung ke depan seorang petugas yang saat itu sedang kosong dan bertanya kepadanya bagaimana proses visa yang seharusnya. Dan kali ini saya mendapatkan informasi yang tepat walaupun artinya, saya harus kembali ke antrian yang baru saja saya tinggalkan. Dan antri lagi! 😀

Jadi…

  1. Jika Anda tidak bawa foto dan belum isi aplikasi, antrilah pada jalur e-visa. Pada antrian ini Anda hanya mengetik nama dan seluruh informasi yang dibutuhkan dalam pengajuan visa di terminal dan Anda akan di foto dengan kamera yang terintegrasi dengan terminal. Lalu setelah selesai antri lagi pada jalur visa biasa (langkah ke 2 … oh iya e-visa itu hanya pengisian formulir dan foto saja dan Anda akan dapat tanda bukti, dan jangan lupa ya ujung antrian ini harus mesin ya bukan orang hehehe…)

  2. Jika Anda sudah bawa foto diri dan sudah mengisi aplikasi visa, antrilah langsung pada jalur visa biasa. Formulir tersedia di situ juga atau bisa di download dari web. Sediakan uang sesuai jumlah hari visa. Ada 15 hari sebesar USD 25, dan 30 hari sebesar USD40.

  3. Bayar biaya Visa on Arrival-nya sesuai dengan rencana lama tinggal di Nepal. Jangan lupa minta kuitansinya,

  4. Setelah itu pilih antrian untuk proses imigrasi sesuai jumlah hari visanya. Saat saya datang, jalur imigrasi untuk visa 15 hari terletak pada bagian paling kiri.

Kathmandu - Welcome spot

Kathmandu – Welcome spot

Namun, siapa sangka hasil ujian kesabaran untuk antri berkali-kali berujung pada sebuah pengalaman perkenalan yang manis, menyenangkan dan mampu membuat saya tersenyum lebar. Petugas Imigrasi yang kebapakan itu membereskan dokumen sambil tersenyum tiba-tiba bertanya kepada saya, “Apakah saya Hindu?” Mendapat pertanyaan yang cukup mengejutkan karena selama ini tak pernah mendapat pertanyaan yang bersifat personal di imigrasi, saya tersenyum sambil menggeleng bahkan seakan meminta penjelasan kepadanya dengan bertanya balik. Menebak. “Apakah karena nama saya?” Tak melepas senyum, petugas itu mengangguk yang membuat saya terperangah. Darinya saya memahami rupanya ada rasa lokal dalam nama saya. 😀

Tribhuvan International Airport

Tribhuvan International Airport

Selepas imigrasi dan memeriksa paspor yang ditempel stiker visa setengah halaman, saya harus menerobos kerumunan lain lagi agar bisa keluar karena saya tidak membawa bagasi. Merasa yakin dengan penjemputan dari hotel, saya mengikuti arus keluar dan Tadaaaa! Gerombolan penjemput ada di luar gedung, di seberang jalan yang cukup lebar dengan papan nama tak lebih besar dari A4, yang cukup sulit dibaca dari tempat saya berdiri. Dan kalau saya keluar meninggalkan gedung terminal, tentu saya tidak akan bisa masuk lagi. Terus bagaimana…?

Dan mungkin karena otak terletak di kepala dan rasa lebih menguasai, tanpa dipikir kaki sudah melangkah dan menyeberang jalan lalu menyusuri para penjemput untuk membaca papan nama satu per satu. Dan sudah saya duga, tidak ada nama saya di situ. Dua kali saya menyusuri dan pelan-pelan membaca, tetap tidak ada nama saya di situ! Bagus sekali, kejutan lagi….

Tribhuvan International Airport - International terminal

Tribhuvan International Airport – International terminal

Kini saya sudah berada di luar dan biasanya tidak boleh masuk kembali ke area terminal kedatangan. Tetapi saya harus bisa masuk kembali ke gedung terminal karena hendak menggunakan taxi prabayar yang hanya disediakan di dalam gedung. Lagi-lagi, tanpa pikir panjang saya melangkah kembali ke dalam. Untung saja tidak dicegat oleh petugas. Dan memang mungkin demikian jalan hari yang harus saya alami, karena sambil orientasi sekitar, saya melihat kios untuk SIM ponsel. Aha! Update status!

Setelah lama tertahan di kios ponsel dengan layanan gaya kura-kura di pantai, saya memberanikan diri melangkah ke satu-satunya kios didekatnya untuk memesan taxi yang saya butuhkan untuk ke hotel. Memberanikan diri? Benar, karena kios itu dipenuhi oleh segerombolan laki-laki dan saya hanya seorang traveler perempuan yang pastinya menjadi mangsa empuk jualan mereka. Masuk ke kandang macan!

Kathmandu Highway

Kathmandu Highway

Dan benarlah!

Karena saya membutuhkan dan harus menyampaikan nama hotel maka langsung riuh rendah mereka berbicara memuji-muji hotel yang saya pilih selain membicarakan lokasinya. Saya belajar untuk mengabaikan suara-suara yang masuk kecuali dengan petugas kios taksi yang saya ajak bicara. Dengan jarak fisik yang terjaga dengan mereka dan hanya bermodalkan kata Dhanyabaad serta memasang wajah lelah perlu istirahat, saya cukup berhasil mengatasi mereka. Tak lama kemudian saya bisa dapat kendaraan menuju hotel yang menurut Tripadvisor agak tricky untuk menemukannya.

Saya telah berada di dalam taksi menuju pintu-pintu perjalanan di Nepal yang sudah terbuka lebar, Dhanyabaad, Terima kasih….

Tetapi ups…. dan ternyata perangkap halus itu dipasang juga! <BERSAMBUNG>

Iklan

28 pemikiran pada “Namaste Nepal, Dhanyabaad…!

  1. Sebagai seorang pejalan, dan sebagai seorang Hindu, tentu saya sangat ingin menyambangi Nepal dan menjejak di Himalayanya yang termashyur dalam kitab-kitab 🙂

    Terima kasih karena sudah begitu menginspirasi 🙂

    Suka

  2. Saya terpesona melihat dua potret pegunungan yg diambil dari ketinggian itu Mbak.
    Benar2 masih tampak perawan ya pegunungan disana…
    Senang sekali bisa membaca perjalanan Mbak ke Nepal ini.
    Saya menunggu sambungan postingannya Mbak.

    Salam dari saya di Sukabumi,

    Suka

    • Haturnuhun Kang atas apresiasinya
      Alam Nepal memang berkontur indah dan unik. Di Utara bisa mencapai ketinggian yang paling tinggi di dunia, dan di bagian Selatan bisa dianggap sama dengan permukaan laut. Seru ya? Nanti suatu saat akan saya ceritakan perjalanan darat saya ke wilayah Terai di daerah Selatan.
      Salam juga dari Jakarta

      Disukai oleh 1 orang

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s