Tengah Hari di Fort Rotterdam


Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Terik matahari tengah hari langsung menerjang kami begitu turun di Fort Rotterdam. Ya, lagi-lagi karena sempitnya waktu liburan, saya datang pada waktu yang tidak tepat ke benteng peninggalan sejarah yang ada di Makassar ini. Ketika melangkah, tak ada bayang karena matahari tegak di atas kepala, sepertinya tak beda dengan jejeran ikan atau dendeng asap yang lama terjemur matahari. Namun, bukan berarti kunjungan ini menjadi tak berkesan. Karena sesungguhnya, benteng ini memang luar biasa cantik dan menawan.

Fort Rotterdam, bagi saya memang menjadi keharusan untuk dikunjungi walaupun hanya punya waktu kurang dari 24 jam untuk mengeksplorasi salah satu kota besar di Indonesia Timur itu. Dan terik tengah hari itu pun tidak menghalangi saya untuk bisa menikmati keindahan benteng Rotterdam.

Begitu turun dari kendaraan, saya disambut dengan tulisan besar Fort Rotterdam berwarna merah di bagian taman depan yang sangat ‘eye-catching’. Tak jauh dari gerbang depan juga terdapat monumen kecil bernama sama dengan tambahan nama Benteng Ujung Pandang, yang di bagian bawahnya terdapat nama perusahaan multi nasional sebagai sponsornya. Setelah bernarsis-ria di depan Fort Rotterdam yang berwarna merah, mulailah kaki melangkah ke dalam sambil melongok-longok mencari tempat penjualan tiket masuk yang ternyata memang tidak pernah ada. Benar 100%, oleh pengelola pengunjung tidak dipungut biaya serupiah pun untuk melihat benteng cantik ini, alias gratis… tis… tis…

Tadinya saya beranggapan bahwa benteng ini peninggalan Belanda, mengingat namanya. Ternyata pengetahuan saya tentang benteng ini sungguh dangkal! Bangunan kokoh ini rupanya peninggalan Kerajaan Gowa – Tallo yang dibangun pertama kali di dekat pantai pada tahun 1545 membentuk keliling segi empat layaknya gaya arsitektur Portugis oleh Raja Gowa ke 10 yang namanya sangat panjang! I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung atau Karaeng Tunipalangga Ulaweng. Konon, benteng ini merupakan salah satu benteng yang paling megah dari 17 benteng yang mengitari ibukota Kerajaan Gowa. Paling tidak bagi saya, kemegahan itu masih terasakan!

Uniknya jika dilihat dari udara, benteng ini dibangun menyerupai seekor penyu yang hendak turun ke laut dengan kepala sebagai pintu utamanya dan kaki-kakinya merupakan bastion, tempat meriam-meriam ditempatkan. Konon, bentuk seperti penyu ini sesuai dengan filosofi yang dianut oleh Kerajaan Gowa, menjadi yang mampu dan kuat bertahan di darat dan di laut. Oleh karenanya benteng ini kadang disebut dengan Benteng Penyu.

Saya kagum dengan kekuatan struktur benteng Fort Rotterdam ini. Sumber-sumber sejarah mengisahkan bahwa ketika dibangun pertama kali, benteng ini terbuat hanya dari campuran batu dan tanah liat yang dibakar hingga kering. Dan baru pada tahun 1634 oleh Raja Gowa ke 14 yang dikenal dengan nama I Mangerangi Daeng Manrabbia, bergelar Sultan Alauddin, benteng ini diubah struktur dindingnya dengan membuat tembok berbahan batu padas yang bersumber dari pegunungan karst di daerah Maros. Sultan Alauddin tidak main-main karena menggunakan batu padas, berarti menggunakan lapisan tanah yang keras yang menyerupai karang sehingga tentu saja dinding yang dibangun keliling benteng menjadi kokoh. Kemudian sekitar setahun setelahnya dibangun lagi dinding tembok kedua dekat pintu gerbang. Tak heran, benteng ini terlihat sangat tebal dan kokoh.

The Double-walled Gate

The Double-walled Gate

Tapi bukan berarti benteng ini tidak mengalami kehancuran. Karena pemerintah Hindia Belanda kala itu secara intens menyerang Kerajaan Gowa antara tahun 1655 hingga tahun 1669 dengan tujuan yang sangat jelas yaitu untuk menguasai jalur perdagangan rempah-rempah di wilayah Timur dan memperluas wilayah kekuasaan mereka ke Banda dan Maluku. Akibatnya sebagian benteng hancur dan Kerajaan Gowa dipaksa menandatangani Perjanjian Bongaya yang salah satu isinya adalah memindahtangankan penguasaan Benteng kepada pihak Hindia Belanda. Sejak itu Benteng diubah namanya menjadi Fort Rotterdam, karena Cornelis J. Speelman, Gubernur Jendral Belanda yang berkuasa saat itu, selalu terkenang akan daerah kelahirannya di Belanda.

Dan Belanda jugalah yang melakukan perbaikan sekaligus perubahan struktur benteng mengikuti gaya arsitektur Belanda dengan menambahkan satu bastion di sisi Barat pada empat bastion yang sudah ada sebagai tempat penempatan meriam. Perbaikan juga dilakukan terhadap dinding-dinding benteng yang tingginya mencapai 5 meter dengan ketebalan hingga 2 meter yang rusak akibat pertempuran. Dan praktis hingga kini, benteng tetap terpelihara dalam kondisi yang relatif sama.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sambil membayangkan sejarahnya, saya melewati gerbang utama yang terdiri dari dua lapis tembok tebal itu dan segera saja sebuah taman indah yang terpelihara terhampar memanjakan mata. Tak bisa menikmatinya lama-lama, saya dengan cepat melangkah ke beranda gedung terdekat yang menyelamatkan saya dari terik matahari. Kemudian berpindah dari gedung yang satu ke gedung lainnya. Gedung-gedung nyaman dengan selasar lebar dan tiang-tiang yang cantik memberikan keteduhan tersendiri. Bangunan dengan pintu-pintu tinggi yang ukurannya berkali-kali tingginya dari tinggi manusia biasa. Sebuah pohon rindang yang membawa keteduhan tumbuh rimbun di halaman tengah, membuat saya seperti tak berkunjung saat tengah hari.

Dan tak mau melepas kesempatan berada dalam sebuah kompleks benteng, saya melangkah menuju sudut-sudut benteng yang berpintu melengkung dan menaiki salah satu bastion. Di atas, di tempat-tempat meriam dulu ditempatkan, saya membayangkan dentuman meriam-meriam yang memuntahkan isinya kepada banyak tempat di luar benteng semasa pertempuran terjadi. Banyak pengorbanan nyawa dari pihak-pihak yang bertikai dan selalu demikian terjadinya.

Lorong melengkung menuju Bastion

Lorong melengkung menuju Bastion

Jalan Penghubung Atas dari Bastion Tenggara

Jalan Penghubung Atas dari Bastion Tenggara

Fort Rotterdam pun tak lepas dari Coretan Iseng Tak Bertanggung Jawab

Fort Rotterdam pun tak lepas dari Coretan Iseng Tak Bertanggung Jawab

Dan kini, pada dinding-dinding melengkung yang dicat dengan warna kekuningan itu, yang menjadi saksi diam dari pertempuran yang berkelanjutan dan penuh pengorbanan nyawa, lagi-lagi hanya menjadi korban tindakan iseng dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Coretan-coretan romansa tak bermanfaat yang hanya mengotorkan pemandangan dan melabelkan kita sebagai bangsa yang tidak menghargai peninggalan sejarah. Betapa mahal sebuah upaya untuk memelihara.

Saya kembali turun dari bastion dan melangkah ke gedung-gedung lain yang kini sebagian difungsikan sebagai perkantoran atau kegiatan lain. Saat saya melongok, tampak sebuah pameran khazanah budaya Islam Sulawesi Selatan yang sedang berlangsung di sebuah ruangan.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sayang sekali saya tak sempat melihat ruang tahanan sempit Pangeran Diponegoro yang dipindahkan tahun 1834 oleh Belanda dari pembuangannya di Manado. Konon, beliau ditempatkan seorang diri hingga wafatnya dengan perlengkapan hidup sehari-hari yang seadanya didalam sebuah sel yang berdinding melengkung dan amat kokoh. Saya bergidik, jangankan ruang tahanan sempit, penjara luas pun dengan ketebalan dinding yang ada, sudah mampu mematikan kemerdekaan hidup. Mengerikan!

Sisa reruntuhan benteng yang dibiarkan

Sisa reruntuhan benteng yang dibiarkan

Tak jauh dari gerbang depan, terdapat museum yang menarik dan sebaiknya jangan dilewatkan untuk mengunjunginya. Museum La Galigo, yang merupakan tempat referensi sejarah kebesaran Kerajaan Gowa – Tallodan daerah-daerah lainnya yang ada di Sulawesi Selatan.

Kunjungan saya di Fort Rotterdam mendekati akhir, walaupun panas matahari masih terasa memanggang. Sebenarnya lebih nyaman bila berkunjung ketika pagi atau sore hari. Atau bahkan malam dengan sinar lampunya yang cantik. Jangan takut, Fort Rotterdam terjangkau oleh transportasi lokal. Jaraknya pun tak jauh dari wisata pantai Losari yang terkenal itu. Jalan kaki pun bisa, … kalau kuat

Iklan

8 pemikiran pada “Tengah Hari di Fort Rotterdam

  1. wih keren juga bentengnya..kerennya lagi museum2 di indonesia itu masuknya super terjangkau ya. semoga selalu begitu biar orang pada tetap mau berkunjung ke museum

    Suka

    • hehehe… iya, saya mengamini supaya makin banyak orang berkunjung ke museum, dan pengelola museum makin kreatif bikin acara yang menarik… dan terima kasih yaa udah mampir… 🙂

      Suka

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s