Ada Bahasa Indonesia di Seoraksan


Setelah membatalkan perjalanan ke Naejangsan National Park yang terkenal keindahan musim gugurnya, saya mengharuskan diri untuk berkunjung ke Taman Nasional Seoraksan, lagi-lagi dengan alasan sama: demi warna musim gugur!

Seoraksan atau Mt. Sorak, merupakan tempat wisata di Korea yang sangat populer di kalangan wisatawan terutama dari Indonesia. Tempat wisata yang berada di bagian Timur Laut semenanjung Korea ini, memang indah di semua musimnya dan telah terdaftar sebagai UNESCO World Heritage Tentative List, termasuk Korea Selatan sendiri mencatatnya sebagai Taman Nasional ke 5 di tahun 1970. Dan tentu saja, saya mengenal nama ini juga dari teman-teman penggila Korea yang selalu merekomendasi untuk ke Seoraksan, apalagi musim gugur, yang katanya merupakan salah satu waktu terbaik untuk mengunjungi Seoraksan, selain musim dingin yang bersalju. Seakan-akan ke Korea Selatan belum lengkap kalau belum ke Seoraksan 🙂

Fall Season around Seoraksan

Fall Season around Seoraksan

Saya memilih melakukan daytrip ke Taman Nasional Seoraksan dari Seoul karena sempitnya waktu di Korea. Konsekuensinya harus berangkat pagi dari Seoul agar bisa kembali pada malam harinya. Perjalanan dengan bus memakan waktu sekitar 3 jam.

Hari itu, lagi-lagi karena terlambat bangun, saya terbirit-birit pergi ke arah subway line 2 menuju Gangbyeon Exit 4, dan menuju terminal bus Dong Seoul yang berada di seberang stasion subway lalu membeli tiket bus ke Sokcho. Dan seperti biasa karena bus intercity dan bus express berbeda jadwal tapi tidak begitu banyak pengaruh lama perjalanannya, saya bebas memilih bus yang paling cepat berangkat menuju Sokcho.

Akhirnya, setelah 3 jam perjalanan yang nyaman termasuk melewati daerah DMZ yang menjadi wilayah perbatasan dengan Korea Utara, bus sampai juga ke terminal kota Sokcho. Saya berjalan melipir keluar terminal sekitar 100 meter lalu menunggu di halte bus. Tiga menit, lima menit, tujuh menit, Bus no 7 atau 7.1 belum datang juga. Saya menunggu sambil berjalan mondar mandir mencoba bertahan terhadap godaan wangi makanan yang menyeruak dari warung kecil di belakang halte di tengah udara belasan derajat yang membawa angin dingin.

Bus yang dinantikan akhirnya datang juga. Dengan pedenya seperti orang lokal, saya naik, membayar ongkos yang 1200 Won dan duduk mengamati. Saya yang baru pertama kali ke Sokcho merasa gembira bisa melihat-lihat pemandangan kota kecil di Timur laut Korea itu. Dan karena saya tidak mengetahui harus turun dimana, saya menyimak semua pemberitahuan nama-nama halte. Setelah meninggalkan kota Sokcho dan kelihatannya dekat sebuah taman, terdengar nama Seoraksan disebutkan, tanpa pikir panjang lagi, saya langsung turun!

Begitu menjejakkan kaki di tanah, ada perasaan aneh muncul. Lagi! Saya berjalan kaki dan tidak tampak kegiatan wisata. Tidak mau begitu saja menyerah, saya mengelilingi taman yang cukup menarik di dekat situ yang berhadapan langsung dengan pantai. Tetapi tidak ada petunjuk lagi, apalagi tulisan latin. Brrr… Mt. Sorak… Gunung bukan Pantai! Walau terasa kecut, saya tertawa menyadari ketololan sendiri telah turun di halte yang salah, lalu berjalan kaki kembali ke halte tadi dan setia menunggu. Satu menit, dua menit, tiga menit, sepuluh menit… Bus berikutnya tidak datang-datang sementara waktu berjalan terus. Akhirnya, mengingat terdesak waktu, saya hentikan taksi yang lewat dan melanjutkan perjalanan yang membuat isi dompet langsung bolong! Tetapi yang pasti saya tidak lagi tersesat dan sampai dengan cepat di gerbang Taman Nasional Seoraksan!

Seoraksan National Park view from Cable Car

Seoraksan National Park view from Cable Car

Setelah membayar tiket sebesar 2500 Won, saya berjalan menikmati taman yang cantik dengan nuansa musim gugur yang berwarna campuran hijau, kuning dan merah. Saya menuju stasion cable car yang akan membawa saya ke pegunungan. Harga tiket cable car ini sekitar 9000 Won, cukup mahal tetapi memang sangat layak dibeli.

Tiba-tiba saya mendengar bahasa Indonesia yang terdengar makin lama makin keras, disambung dengan gelegar tawa yang membahana, dan celotehan-celotehan atau teriakan yang cenderung memalukan seakan dunia milik mereka sendiri. Kedengarannya, tour guide yang bertugas melalui speaker Toa-nya cukup kewalahan menangani rombongannya. Dari tempat berdiri yang jaraknya ratusan meter dari mereka, saya bisa memastikan bahwa suara-suara itu datang dari rombongan turis Indonesia yang baru sampai dan juga menuju cable car. Saya tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali mempercepat langkah saya menuju cable car dan berdoa, semoga saya tidak dalam rombongan yang sama untuk ke atas. Entahlah, rasa tak nyaman seketika menyeruak keluar menyaksikan perilaku yang cenderung tak beradab.

Doa saya terjawab karena tak perlu lama mengantri untuk naik cable car yang bergerak ke atas dan meninggalkan rombongan itu di bawah. Kereta perlahan naik, dan semakin tinggi selaras dengan diperdengarkannya lagu-lagu yang bernada menyenangkan hati, mungkin supaya penumpangnya tidak gamang dan takut ketinggian menuju ke atas. Tapi bagi saya, memang ketinggiannya mantap!

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dari Cable car yang semakin naik, pemandangan semakin indah, Taman Seoraksan dengan Patung Buddha yang besar tampak terlihat jelas dengan latar belakang pepohonan yang berwarna musim gugur. Kemudian, pemandangan pelan beralih menjadi bebatuan cadas dengan ukuran yang sangat besar. Pemandangan yang hanya ada di Seoraksan. Batu-batu cadas dengan ukuran raksasa itu seakan muncul dari rimbunnya pepohonan hijau yang menghiasi gunung. Konon, -walaupun saya tidak melihatnya langsung-, tumbuhan cinta abadi Edelweiss tumbuh diantara 1400 jenis tanaman yang ada di Taman Nasional ini.

Dari stasion atas cable car, saya menyaksikan kota Sokcho yang indah jauh di pesisir pantai. Namun pemandangan di sekitar stasion, hanya ada tanaman penuh ranting yang kehilangan daun. Sayup-sayup terdengar suara merdu pendeta-pendeta melagukan kitab suci. Pastilah datang dari vihara yang biasanya ada di pegunungan. Tadinya saya ingin mengunjungi vihara itu, tetapi waktu tidak mengijinkan. Lebih baik saya mendaki ke arah atas.

Selagi saya mengelilingi wilayah stasion cable car, rombongan turis asal Indonesia itu telah sampai dan telah menyebar kemana-mana, sebagian berada tak jauh dari saya. Mereka asik bicara satu sama lain dengan celotehan-celotehan penuh keributan seakan Seoraksan hanya milik mereka sendiri dan saya bisa mendengar serta memahami semuanya. Beberapa kali saya memergoki wisatawan negara lain menengok ke arah mereka, mungkin merasa terganggu. Saya menarik nafas miris karena bukan kali ini saja saya bertemu rombongan Indonesia seperti mereka, apakah karena berjumlah puluhan, karena berbanyakan, mereka seakan menjadi mayoritas dan bisa berbuat seenaknya, berbicara keras tanpa peduli ada orang lain yang juga ingin menikmati alam. Bukankah dari berbahasa mereka membawa nama Indonesia?

Tapi tak ingin terganggu oleh kehadiran mereka, saya melanjutkan mendaki menuju puncak Gwongeumseong melalui jalan setapak yang berbatu tetapi di sebagian tempat telah dibantu dengan tangga-tangga buatan berlapis karet, supaya tidak licin. Dua tiga kali saya menyusul rombongan perempuan cantik Indonesia yang bersepatu boot selutut dengan high heel serta wintercoat berbulu yang sedang beristirahat karena kehabisan nafas.  Hmm… saya menyayangkan high heel boot yang dipakainya untuk naik gunung. Bagus dan mahal, tetapi tidak tepat.

Bebatuan  terlihat dari Gwongeumseong, Seoraksan NP

Bebatuan terlihat dari Gwongeumseong, Seoraksan NP

Akhirnya sampai juga saya di bebatuan Seoraksan. Namun karena bukan pendaki gunung yang baik, saya merasa sudah senang berada di ketinggian tanpa harus mencapai puncaknya, lagi pula banyak sekali orang di tempat itu, termasuk rombongan dari Indonesia itu. Saya duduk dan menikmati alam selama waktu mengijinkan karena saya tidak bisa berlama-lama agar tak tertinggal transportasi  kembali ke Seoul. Waktu jugalah yang menentukan saya harus turun lagi.

Dalam perjalanan turun itu, ketika saya tengah mengambil foto pemandangan, tak sadar bibir saya berucap dalam bahasa Indonesia mengagumi alam lukisan Sang Pencipta, “…Indahnya…”

“Ya, memang indah….”, seseorang bicara dalam bahasa Indonesia dengan aksen Korea.

Saya terkejut sekali, karena sebelumnya tak ada orang di sekitar itu. Ternyata di hadapan saya berdiri seseorang membawa speaker Toa dan sepertinya dialah sang tour guide dari rombongan Indonesia itu.

“Dari Indonesia?”, pandangannya menyelidik dan menebak karena mungkin dia hafal anggota rombongannya.

Tidak bisa menghindar, lagi pula secara tidak sadar kepala saya mengangguk.

“Anda juga?”

“Saya asli Korea, tetapi pernah tinggal di Indonesia. Hmm… naik apa kesini?”

“Naik bus…”

“Bisa bahasa Korea?”

Saya menggeleng sambil menjawab “Tidak”

Dia sepertinya terkejut sekali, “Hah?? Sendiri…???”

Saya mengangguk dan memastikan, “Ya”

Sepertinya makin tergagap dia. “Hah?”

“Berani?”

Sambil tersenyum lebar, saya menjawab, “Buktinya saya sampai di sini, dan sekarang saya harus kembali lagi ke Sokcho supaya tidak terlambat sampai ke Seoul”

Sepertinya dia terpana. Tidak mau tahu apa yang ada dalam pikirannya, saya ber-kamsahamnida kepadanya atas percakapan singkat dalam Bahasa Indonesia lalu turun dengan cepat langsung ke stasion untuk mengejar cable car.

Sampai di bawah, saya berkejaran dengan matahari yang mulai meredup untuk mengambil foto patung Buddha yang sangat besar di dekat kuil Sinheungsa. Saya makin kehilangan waktu untuk mengabadikan taman nasional. Cahaya kurang, foto sudah semakin buram. Warna musim gugur sudah tak terkenali lagi. Waktunya pulang mengejar bus.

Dalam perjalanan pulang di bus saya tercenung. Ada rombongan Indonesia berperilaku tak menyenangkan di Korea dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Namun ada orang Korea menyapa saya ramah tentang Korea dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Ah, semua yang terjadi ini tidak ada yang kebetulan… pastilah ada alasan di balik itu.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Iklan

42 pemikiran pada “Ada Bahasa Indonesia di Seoraksan

  1. Mbak Riyanti, perjalanan-perjalananmu selalu berkesan ya. Di dalam bus kenapa nggak coba tanya sama orang lokal, mbak? Nama halte itu memang kadang mengecoh sih. Yang mengandung nama destinasi kita justru bukan pemberhentian terdekat.
    Dari share temen-temen yang lain, orang kita sepertinya cenderung begitu, mbak. Mungkin karena bangsa yang kolektif banget, jadi akan berani (dan cenderung sembrono) kalau bersama-sama. Coba solo traveler kayak aku ini. #ehcurhat

    Waktu memang sering jadi penghambar traveler. Sebagai pejalan mandiri dengan dana dan cuti terbatas, aku juga mengalaminya. Harus pilah-pilih mana yang bisa sekarang, mana yang sebaiknya ditunda.

    Disukai oleh 1 orang

    • Nah itu beberapa kali ngomong ama orang lokal eh ada yang kabur, ada yg lgsg geleng2 kepala, macam2 deh pdhal aku kira dia mahasiswa or student yg kira2 ngertilah bhs inggris dikit2. Mungkin aku aja yg lg apes ketemu orang2 demikian yaa sepanjang perjalananku itu.
      Kl soal orang2 kita yaa gitu deh. Jadi warna perjalanan aja Nug.. tetep aja jadi seru hehehe..

      Suka

  2. salam kenal mba, kpn waktu yg baik untuk dapat autumm di korsel., mengingat perjalanan yg lumayan jauh ke mount sorak ( seperti jakarta cirebon) apakah sebaiknya perlu menginap ? di sekitar maunt sorak (mungkin ada hostel) tks ya

    Disukai oleh 1 orang

    • Sebenarnya kalo punya banyak waktu akan lebih baik mrnginap dulu di sokcho, jd explorr sokcho leboh banyak karena ga hanya mt seorak aja disana…
      Saya waktu itu bulan november ke seoraksan dapat autumnnya bagus…

      Suka

  3. Hai, saya mau tanya, untuk Bus No. 7 atau 7-1 datangnya berapa lama sekali ya dalam sehari menuju Soerak Cable Car maupun pulang dari Soerak Cable Car nya?
    saya sudah cari jadwalnya, tp ga ada.

    Suka

  4. hai mba, your writing is very thorough and written beautifully.
    Anyway, aku mau ke Sokcho juga autumn ini, as a woman yang traveling berdua dengan temen aku yg juga cewe, aku merasa sangat terinsiprasi dengan semangat mba menjelajah Sokcho sampe Seoraksan.
    Gambarnya bagus mba, pake filter dan aplikasi apa ya mba? hehehehe atau kalo no filter mba e pake kamera apa?
    makasih banyak loh mba sebelumnya 🙂

    Suka

    • Wah semangaaaadd yaa ke Seoraksan. Pasti indah jika datang bulan November. Seoul juga bagus. Bawa jaket aja, lumayan dingin lho…
      Kalo foto hahaha cuma edit dikit, fotonya yaa kamera biasalah…
      Have fun disana yaaa… *kebayangserunyakalojalanbarengtemen

      Suka

  5. Hi mbak. Mau tanya dong mbak. Harga tiket cable carnya ini PP atau one way yah mbak? By the way, aku suka dengan blog ini, dari semua blog yang menuliskan ttg one day trip ke Sorak cuma ini yang akhhirnya jadi referensi aku.
    Makasih, mbak 🙂

    Disukai oleh 1 orang

    • Hi Shima… wah senangnya mau ke Seoraksan… kapan berangkat?
      Cable car itu seinget sy sih roundtrip ya. Coba cek ke visitkorea deh itu web resmi buat tourismnya korea. Siapin aja kenaikan harga 10% krn aku kesana udah 3 thn lalu.
      Anyway thanks udah mampir and selamat nyiapin daytrip…. wow deh!

      Suka

      • Hi Mbak, terima kasih infonya. Ternyata memang benar round-trip. Aku akan berangkat Oktober ini, lagi menunggu visa. Dan ke Soraknya tanggal 12 Okt kalau tidak ada halangan. Kira-kira uda cakep belum yah mbak bulan segitu untuk Autumn? Deg-degan 😀

        Disukai oleh 1 orang

        • Wah kalo ngliat forecastingnya bisa dapat puncak autumn lhooo… pasti bagus bangeeeettt nget… nget… sediain SD card yang banyak buat nampung foto hahaha… Semoga lancar visanya ya…

          Suka

  6. Hallo mba bagus bngt blog a. Mba aq mau ke korea autumn ini rencana mau mampir ke mount sorak btw dari yg aq baca. Aq mau tau kalo pas pulang nya mau balik ke seoul. dari mount sorak iti untuk kembali ke seocho bus terminal. Naik bus no brapa ya.?? Apa bus yg sama saat kita naiki menuju mount sorak tpi untuk balik na naik di halte bus yg di sebrang tempat turun tadi dngan bus yg sama apa giman?? Btw brapa stop mba. Mohon bantuannya sy sngt butuh mba trimakasih sebelum nya . Email sy : gdeariwidiani@gmail.com

    Disukai oleh 2 orang

  7. mbak tiket pulangnya dari socho ke seoul berapa yah? apa bener kalau yang jalan malam lebih mahal harganya dari pada yang pulang sebelum jam 4 sore?

    Disukai oleh 1 orang

    • Wah menurut saya sih mepet banget, sayang banget ga bisa menikmati lama di Soraksan yang sebenarnya bagus banget untuk dijelajahi.
      let say berangkat jam7pagi, 4jam perjalanan bus sampai Seoraksan (3jam ke Sokcho + sekitar 45menit ke Seoraksan), jalan2 di Seoraksan 2 jam-an sampai pk. 1300, lalu 4jam lagi jalan pulang sampai Seoul, udah jam17. Belum itung waktu perjalanan ke Gimpo, Belum itung lagi kalo macet, antrian bus lokal dll. Kalau saya sih ngeri… 😀

      Suka

    • Hahaha, mba… percaya ga sih, saya juga bukan K-pop and K-drama lover, tetapi cukup memahami soal world heritage di sana, jadinya hal itu yang saya datangi dan ternyata memang luar biasa siii… Bahkan Jepang yang saya kunjungi duluan dari Korea, belum ada satu pun cerita yang saya tulis. Masing-masing punya kelebihan sendiri-sendiri walaupun memang mirip. 😀

      Suka

  8. Mbak, boleh tahu gak kemarin trip tanggal berapa? Saya ada rencana ke Seoul tanggal 25-29 Oktober ini. Jadi pengen ke Seoraksan juga nih kalau masih kayak di foto mbak 😀

    Terimakasih.

    Suka

    • Didoakan deh, biar sangunya cepat datang… aamiin…
      Asli lho mba, saya bukan penggemar KPop, ga tau yang namanya bintang film, drama, penyanyi Korea itu.. tetapi tau aja soal budaya dan alamnya yang indah dan tentu saja, sejarahnya yang fantastis itu, masih beberapa dekade lalu kan perang korea itu? Dan sekarang sudah melesat luar biasa, jadi itu yang memaksa saya untuk mengunjunginya…

      Suka

please... do let me know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s