Ngaben Sederhana Yang Memikat Hati


Siang itu terik matahari terasa memanggang kawasan Pantai Kuta. Setelah terkantuk-kantuk dibuai angin laut di bawah rimbunnya pepohonan selama pergelangan tangan dihiasi tattoo temporer yang akan pudar dalam hitungan minggu, saya melangkah pelan kembali ke hotel di bawah bayang-bayang pohon dengan angin terasa hangat di muka.

Menyusuri jalan setapak yang sama, di tengah perjalanan kembali ke hotel antara Kuta dan Discovery, saya mendapat kejutan bisa melihat kegiatan adat yang ketika berangkat di pagi harinya belum ada. Dari seorang warga saya diberitahu bahwa upacara ngaben yang sederhana tengah berlangsung, yang tentu saja tidak akan saya lewatkan begitu saja.

Ngaben Sederhana

Ngaben Sederhana

Ngaben, sebuah upacara sakral untuk mereka yang telah kembali ke alam baka sekaligus merupakan kewajiban suci umat Hindu Bali terhadap leluhurnya. Melalui upacara ngaben yang dilaksanakan pada hari baik, penganut Hindu percaya bahwa dengan api, -yang merupakan ujud lain dari Dewa Brahma-, dapat menyucikan roh, membakar semua kekotoran yang melekat pada tubuh dan roh manusia yang telah meninggalkan dunia fana.

Ngaben dan Meja Sesaji

Ngaben dan Meja Sesaji

Ngaben, Meneruskan Tradisi Leluhur

Ngaben, Meneruskan Tradisi Leluhur

Walaupun sederhana, cukup banyak wisatawan terlihat antusias mengikuti rangkaian upacara dan berdiri tak jauh dari dua tenda yang didirikan di sekitar tempat upacara. Tenda pertama merupakan tempat sesaji dan tempat duduk para pengantar dan keluarga serta tenda kedua tampaknya untuk para penabuh gamelan. Sedikit ke arah pinggir pantai, terjemur di bawah terik matahari, sebuah pepaga yang berdiri dalam diam disandari papan bunga kertas.

Mengantar Kematian Tanpa Airmata

Mengantar Kematian Tanpa Airmata

Api pun Membersihkan Kekotoran

Api pun Membersihkan Kekotoran

Saya memang datang terlambat. Karena prosesi awal Ngaben sudah berlangsung beberapa saat sebelumnya dan wadah atau pepaga sudah berada di tempat pembakarannya, bahkan sepertinya jasad telah diletakkan di pemalungan, yaitu tempat pembakaran yang terbuat dari tumpukan batang pohon pisang, yang tentunya diawali dengan rangkaian upacara lain dan doa mantra dari seorang pemuka agama (Ida Pedanda). Pastilah sebelum semua ini ada arak-arakan yang berlangsung menarik dan meriah menuju tempat ini yang tidak sempat saya saksikan.

Biasanya, sebelum menuju ke tempat pembakaran, seluruh keluarga yang ditinggalkan memberikan penghormatan terakhir dan mendoakan agar arwah yang diupacarai memperoleh tempat yang baik.Kemudianpepaga diusung beramai-ramai ke tempat upacara Ngaben, diiringi dengan gamelan dan nyanyian suci serta diikuti seluruh keluarga dan masyarakat. Pengusungan pepaga ini ke tempat upacara ngaben melalui suatu prosesi yang khas, seperti berputar kekiri dan tidak menempuh pada satu jalan lurus. Konon, hal ini guna mengacaukan roh jahat yang mencoba mendekati.

Dan gending pun terdengar

Dan gending pun terdengar

Gamelan, Yang Tak Terpisahkan dari Kegiatan Adat

Gamelan, Yang Tak Terpisahkan dari Kegiatan Adat

Tetapi saat ini, pepaga sudah di tempat pembakarannya dan tidak jelas apakah upacara penyucian roh oleh Ida Pedanda sudah dilakukan. Upacara yang dimaksud adalah pembakaran dengan api abstrak yang berupa mantra pelepasan kekotoran roh yang melekat di jasad, sebagai tahap awal proses pembakaran. Proses pembersihan yang lengkap dan indah, bahkan roh pun disucikan sebelum kembali ke Sang Pencipta.

Tak lama seseorang tampak mendekat ke pemalungan dan melakukan persiapan pembakaran dengan menggunakan api yang sebenarnya, yang kini tidak lagi menggunakan kayu bakar melainkan dengan alat sejenis kompresor. Diiringi doa dari keluarga dan masyarakat serta gamelan yang bernada meriah,  api tampak membumbung ke atas, seakan mengantar jiwa yang suci kembali pada Sang Pencipta. Penuh harapan untuk moksa.

Api Membakar Semua Kekotoran Jiwa Raga

Api Membakar Semua Kekotoran Jiwa Raga

Ngaben Sederhana di Pinggir Laut

Ngaben Sederhana di Pinggir Laut

Tak sampai satu jam berlangsung proses pembakaran hingga menjadi abu. Api pun dipadamkan dan alas pembakaran yang digunakan ditarik keluar menjauhi pemalungan, yang langsung membuat para pengantar dan pengunjung berkerumun mengelilinginya. Prosesi upacara Ngaben mendekati akhir, tahap utama telah terlaksana meninggalkan sisa pembakaran berupa abu tulang berwarna putih yang dapat dibedakan dari arang kayu atau bambu yang menghitam. Abu berwarna putih ini akan dikumpulkan dalam buah kelapa gading untuk dirangkai menjadi sekah dilanjutkan dengan upacara nyekah dan akhirnya akan dilarung ke laut, karena laut merupakan simbol dari alam semesta dan sekaligus pintu menuju ke rumah Tuhan.

Tak lama kemudian, dengan diiringi gamelan, dua orang pemuda tampak mendekati pepaga dan sigap menjungkirbalikkan pepaga tersebut untuk kemudian dibakar. Lagi-lagi tampak api besar membumbung, seakan melengkapi prosesi mengantar kematian dengan memberi warna sukacita, tanpa duka, tanpa airmata, memutuskan semua keterkaitan dia yang pergi dengan kehidupan duniawi dengan gembira dan harapan moksa.

Pepaga Ngaben di Pinggir Pantai

Pepaga Ngaben di Pinggir Pantai

Berkerumun Menyaksikan Sisa Pembakaran

Berkerumun Menyaksikan Sisa Pembakaran

Yang Mengiringi Prosesi Ngaben

Yang Mengiringi Prosesi Ngaben

Ngaben yang saya saksikan tidak megah, tidak besar, melainkan sederhana, hanya dihadiri oleh sebagian warga banjar. Mungkin tidak perlu biaya puluhan juta atau bahkan hingga milyaran Rupiah, seperti biaya yang harus dikeluarkan jika melakukan upacara Palebon untuk kalangan raja atau bangsawan. Bukan juga upacara yang bisa dijual secara komersial. Yang saya saksikan hanyalah sebuah kesederhanaan. Sebuah upacara Hindu yang utamanya sudah dilaksanakan dengan segera demi kebahagiaan perjalanan kembali arwah yang diupacarai.

Keluarga yang ditinggalkan telah mewujudkan rasa hormat, bakti dan sayangnya kepada yang pergi dalam rangkaian upacara pengabenan yang unsur-unsur utamanya telah lengkap. Tak ada airmata, tak ada isak tangis, karena mereka percaya bahwa dengan menangisi orang yang pergi dapat menghambat perjalanan sang arwah ke tempat tujuannya. Mereka juga meyakini dia yang pergi akan gembira telah terbebaskan dari semua perbuatan duniawinya dan akan menjalani reinkarnasi atau menemukan tempat peristirahatan terakhir yang bebas dari kematian (moksa).  Sesuatu yang mungkin tak biasa dan tak mudah diterima di kalangan yang bukan Hindu. Tetapi inilah hakekat Ngaben yang sebenarnya.

Ngaben, Dengan Api Memutuskan Ikatan Duniawi

Ngaben, Dengan Api Memutuskan Ikatan Duniawi

Upacara yang berlangsung ini bukan dari kalangan kasta yang tinggi, melainkan dari yang cukup mampu untuk menyegerakan kewajiban yang utama. Karena demi kesucian arwah yang telah pergi, mereka mengupayakan upacara ngaben secepatnya, setelah jasad disemayamkan di rumah untuk sementara waktu sambil menunggu hari baik. Mereka percaya ketidakbaikan menyimpan jasad terlalu lama di rumah, karena arwah menjadi tidak tenang dan merasa hidup diantara dua alam serta berharap cepat dibebaskan. Dan bukankah bila semua unsur utama dalam rangkaian upacara ngaben dan sekah telah selesai, keluarga yang ditinggalkan dapat tenang mendoakan leluhur dari pura masing-masing?

Saya meninggalkan tempat upacara Ngaben dengan kekaguman baru, selama ini selalu terbayang Ngaben yang megah dan menghabiskan biaya luar biasa besar diluar kemampuan keluarga yang ditinggalkan, dan kini terhapuskan dengan sebuah kesederhanaan yang menghujam. Mengapa harus ditunda lama jika yang utama dapat dilaksanakan secepatnya, bukankah yang dibawa mati hanyalah karma? Ah, kesederhanaan memang sangat memikat hati…

Iklan

5 pemikiran pada “Ngaben Sederhana Yang Memikat Hati

    • Memang interesting lho menyaksikan Ngaben, kata sahabat saya sekarang semakin sering.. coba deh cek di banjar-banjar kalau sedang ke Bali… Anyway, terima kasih ya sudah mampir… Jangan bosen ya mampir lagi….

      Suka

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s