Di Haeinsa Mahakarya Kayu Dijaga Berabad-Abad


Jika ada produk dari kayu yang bertahan selama hampir satu millenium, masih dalam kondisi baik, bahkan masih bisa berfungsi hingga sekarang, tentu saja satu diantaranya adalah Tripitaka Koreana, yaitu puluhan ribu bilah kayu pencetak Tripitaka, -kumpulan ajaran agama Buddha-, yang dituliskan dalam karakter China yang paling lengkap, paling tua dan tanpa kesalahan yang dimiliki dunia saat ini. Sebuah mahakarya, yang kini bukan saja milik Korea Selatan semata, tetapi juga telah menjadi milik dunia. Oleh karena itu UNESCO memasukkan bilah-bilah kayu pencetak Tripitaka Koreana dan Barbagai Literatur Keagamaan Buddha ke dalam Memory Of The World, sejak 3 Agustus 2007.

Bahkan jauh sebelumnya di tahun 1995 UNESCO telah mendaftarkan bangunan kayu sederhana yang oleh orang lokal disebut sebagai sebagai Janggyeong Panjeon, artinya bangunan penyimpan Tripitaka Koreana sebagai World Heritage Site. Bangunan kayu dengan strukturnya yang sangat unik ini menempati permukaan tanah yang paling tinggi dari kompleks Kuil Haeinsa yang berada di Gayasan National Park, Korea Selatan. Penempatan bangunan yang tidak biasa di kuil-kuil Buddha, karena lebih tinggi daripada bangunan utama kuil, sepertinya menandakan betapa pentingnya makna yang terkandung di dalamnya.

Dan memang seperti itulah rasanya ketika saya berdiri di depan tangga menuju Janggyeong Panjeon. Walaupun damai dan ketenangan terasa meresap di kuil Haeinsa, tetap saja jantung ini sedikit berdetak lebih banyak ketika kaki menapaki tangga curam menuju Janggyong Panjeon, pelataran tertinggi dari kuil Haeinsa, tempat penyimpanan Tripitaka Koreana. Berdetak lebih banyak karena akan menyaksikan sebuah keluarbiasaan yang telah diakui dunia.

Under The Gate of Janggyeong Panjeon

Under The Gate of Janggyeong Panjeon

Saya melangkah pelan menaiki tangga mengikuti langkah orang-orang yang berada di depan saya. Di puncak tangga, di bawah gerbang Janggyeong Panjeon, saya berdiri diam menutup mata sejenak. Menyadari bahwa pengamanan di level ini sangat tinggi, tidak boleh ada kamera dan semua yang berhubungan dengan api, saya menyiapkan diri menyerap semua pemandangan sekuat-kuatnya dengan mata saya. Selangkah di depan ini saya bersama dunia menjadi saksi akan mahakarya kayu yang disimpan hampir satu millenium di bangunan kayu sangat sederhana.

Namun mata ini seakan tak percaya akan pemandangan yang ada di hadapan. Seluruh bangunan di Janggyeong Panjeon ini bisa dikatakan sangat sederhana dengan unsur terbanyak dari kayu tanpa hiasan. Semua jendela dan pintu berkisi-kisi, juga dari kayu. Tetapi rupanya inilah kelebihannya yang secara akurat memperhitungkan semua segi untuk mempertahankan asset berharga bilah-bilah cetakan kayu yang disimpannya. Lokasi kuil, tata letak, struktur bangunan, jendela dan pintu, semuanya telah dihitung sejak dari awal pembangunannya untuk mengatur ventilasi, suhu, kelembaban dan intensitas cahaya sehingga dapat menjaga keutuhan Tripitaka Koreana selama berabad-abad.

Karena tidak diperkenankan untuk mengambil foto dan berhenti saat melewati sisi berpintu yang memperlihatkan rak-rak penyimpan bilah-bilah kayu cetakan, saya hanya menyerap keluarbiasaan ini dengan segala kemampuan mata yang dimiliki.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Pelataran Janggyeong Panjeon terdiri dari empat bangunan yang menyerupai persegi panjang. Bangunan di utara, Beopbojeon (Ruang Dharma) dan Bangunan di selatan, Sudarajang (Ruang Sutra) sejajar membentuk sisi yang lebih panjang karena berfungsi sebagai tempat penyimpanan ke delapan puluh ribu cetakan kayu tersebut. Sedangkan dua ruang kecil di sebelah barat dan timur merupakan tempat penyimpanan ajaran-ajaran Buddha yang datang belakangan.

Petugas-petugas jaga ternyata berbaik hati kepada pengunjung yang ada sehingga bisa ‘mencuri-curi’ foto saat berada pada halaman tengah Janggyeong Panjeon. Tak mau melepaskan kesempatan itu, saya mengambil kamera saku dan mengambil beberapa foto dari sudut yang berbeda. Tetapi tetap tidak bisa mengambil deretan tempat simpanan bilah-bilah kayu cetakan tanpa diiringi teriakan teguran dari petugas jaga.

Can you see the printing woodblocks inside?

Can you see the printing woodblocks inside?

Dimana-mana terdapat alat pemadam api yang jaraknya relatif dekat dari tiap-tiap petugas jaga.  Ya, memang api merupakan musuh terbesar asset dunia ini. Dan walaupun dalam sejarahnya kompleks Kuil Haeinsa pernah terbakar berkali-kali karena perang dan serangan musuh, namun api tidak pernah merambat naik ke Janggyeong Panjeon.  Sepertinya para dewa pun menjaganya dengan berbagai cara.

Walaupun seluruh pengunjung tidak dapat berinteraksi langsung dengan bilah-bilah kayu Tripitaka Koreana yang disimpan berabad-abad yang hasil cetakannya tersebar ke seluruh penjuru negeri itu, rasa ingin tahu pengunjung bisa terpuaskan di jalan keluar dari Janggyeong Panjeon. Di situ terpajang contoh bilah kayu cetakan Tripitaka Koreana beserta segala informasinya.

A sample of the Printing Woodblocks - Can you see the image?

A sample of the Printing Woodblocks – Can you see the image?

Sungguh saya terkagum-kagum dengan pengetahuan orang Korea yang telah membuatnya. Sejarah mengisahkan bahwa Tripitaka Koreana yang asli buatan tahun 1087 musnah terbakar saat penyerangan kekaisaran Mongol tahun 1232, lalu Kaisar Gojong memerintahkan untuk pembuatannya kembali.

Konon, kayu yang digunakan untuk Tripitaka Koreana datang dari Daesa-ri, wilayah Namhae-gun di selatan semenanjung Korea karena pasang surut air lautnya sangat tinggi, sehingga mudah untuk mengirim dan merendam kayu. Kayu-kayu yang telah lama terendam melewati panas dan dinginnya air laut, menjadi lebih mudah diukir dan lebih awet terhadap serangan serangga.

Sambil menunggu alam merendam kayu, ada banyak pekerjaan pendahuluan yang harus dikerjakan oleh para pendeta. Mereka harus menuliskan 23 baris tulisan dengan 14 karakter per barisnya pada sehelai kertas dengan sangat cermat dan akurat. Tidak itu saja, para pendeta yang terlibat dalam penulisan ini harus rajin berlatih berhari-hari agar konsistensi gaya penulisan dari waktu ke waktu tetap terjaga.

Dan setelah sehelai kertas siap serta kayu telah tersedia, dimulailah pengerjaan pengukiran. Tentu saja, agar karakter dicetak dalam arah yang benar, sisi kertas yang sama harus ditempelkan ke bilah kayu kemudian dilapiskan minyak tumbuhan tertentu ke kertas sehingga hurufnya langsung terlihat jelas. Setelah itu kayu baru dapat diukir pada kedua belah sisi bilah kayu.

Lalu bagaimanakah caranya sehingga Tripitaka Koreana tersusun tanpa bisa ditelusuri jejak kesalahan yang terjadi? Rupanya setelah pengukiran selesai, langsung dilakukan proses validasi hasilnya dengan tulisan pada kertas original. Karakter yang salah dipotong dan dibetulkan, sementara karakter yang sudah benar, ternyata diukir ulang pada sepotong kayu terpisah dan ditempelkan kembali. Proses ini sangat rapi dan cermat, sehingga tidak pernah dapat ditelusuri proses koreksi yang sebenarnya yang pernah terjadi. Bagaimana mungkin membandingkan jika keduanya sama-sama dipotong dan ditempel ulang?

Untuk menghasilkan cetakan diperlukan lembar-lembar kertas dengan kualitas baik. Kemudian ujung bilah cetakan kayu dilumuri dengan tinta lalu selembar kertas ditempelkan langsung ke cetakan tersebut. Selanjutnya kertas tadi diangkat secara hati-hati dengan alat terbuat dari rambut yang dicelupkan pada lilin. Luar biasa sekali prosesnya. Dan konon karena dicetak pada kertas berkualitas sangat baik yang diproduksi selama periode Dinasti Goryeo itulah, menjadikan Tripitaka Koreana terkenal hingga ke seluruh negeri, hingga ke negeri-negeri jauh… hingga sekarang.

Dan waktu berjalan terus…

Sambil melangkah ke jalan keluar, saya masih membawa serta kekaguman terhadap bilah-bilah cetakan kayu yang bertahan melawan jaman. Saya berbalik badan menatap kembali ke empat bangunan luar biasa yang telah berabad-abad menyimpan harta milik dunia itu. Hati saya kembali terharu, bila semua negara berupaya keras menjaga harta dunia yang telah dibuat oleh para pendahulu kita, alangkah semakin kayanya dunia ini.

The Wooden "Scientific" Building

The Wooden “Scientific” Building

Iklan

5 pemikiran pada “Di Haeinsa Mahakarya Kayu Dijaga Berabad-Abad

    • Amin… semoga bisa terealisasi ke Haeinsa, karena saya juga mengikuti jejak orang-orang yang udah duluan ke sana… Terima kasih banyak ya mba Yusmei… didoain deh biar bisa ke Haeinsa hehehe…

      Suka

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s