Mencicipi Ruang Publik Di Gyeongju, Korea Selatan


Masih di hari kedua saya di Korea Selatan, tengah hari saya tiba di Gyeongju, sebuah kota kecil sekitar 1 jam berkendara dari Busan (Baca seru dan heboh perjalanannya di sini). Dengan menggendong daypack, saya meninggalkan guesthouse dan menelusuri trotoar menuju Gyeongju Station, stasion kereta api. Orang di guesthouse menyarankan untuk Bulguksa Temple, -destinasi utama saya di Gyeongju-, dapat menggunakan bus nomor 10 atau 11 dan halte busnya ada di depan Geongju Station. Saya melewati ujung lorong pasar tradisional Gyeongju, yang ketika saya intip, terasa lengang. Mungkin karena hari sudah beranjak siang.

Warna Musim Gugur Menuju Bulguksa Temple

Warna Musim Gugur Menuju Bulguksa Temple

Di perempatan saya menyeberang menuju stasion kereta api Gyeongju dan mampir sebentar di Tourist Information Center yang ada di depannya untuk mengambil peta Gyeongju dan petunjuk arah bus. Kemudian menyeberang lagi ke halte bus dan menunggu beberapa saat hingga bus yang dimaksud datang. Sambil menanti kedatangan bus, saya perhatikan keadaan sekitarnya. Menyedihkan, karena  semua informasi di halte bus hanya dalam Hangul yang tidak bisa saya baca. Kemudian saya perhatikan lagi bahwa semua kendaraan yang lewat di depan saya, hampir semua made in Korea Selatan, taksi-taksinya tampak masih baru walaupun pengemudinya rata-rata berusia lanjut. Penduduk Gyeongju, cukup tertib dengan lampu lalu lintas walaupun tidak tampak seorang polisi di situ. Yang menanti di halte bus kebanyakan pelajar dan remaja, mungkin karena hari Sabtu, mereka memanfaatkan waktu untuk berjalan-jalan.

Tak lama kemudian bus datang dan setelah memasukkan koin Won ke dalam box di dekat supir, saya masuk ke dalam. Untunglah seorang pelajar berbaikhati menggeserkan badan menyediakan tempat duduk untuk saya. Bus umum di Gyeongju seperti bus-bus umum di Indonesia, ada yang duduk dan banyak yang berdiri. Lagi-lagi saya teringat bahwa di Korea Selatan bukanlah hal yang aneh bila bus padat oleh penumpang. Terbersit di benak saya, bahkan di sebuah negara maju pun, orang masih berjubel di bus umum. Betapa transportasi publik yang nyaman semakin dibutuhkan dimana-mana.

Saya naik bus umum ini pakai iman (istilah saya untuk ‘pasrah mode’) artinya, saya hanya mengandalkan telinga untuk mendengar bahwa saya harus turun di Bulguksa. Dan pada suatu tempat, ketika bus berhenti di sebuah halte saya membaca bahwa di halte itu tertulis Bulguksa. Melihat banyak orang yang turun, saya sempat bersiap-siap turun. Tetapi entah mengapa, saya bertanya dulu  kepada pelajar di sebelah saya, apakah benar ini menuju Bulguksa Temple? Dia menggeleng sambil menjelaskan dengan bahasa Inggeris yang cukup bisa dimengerti. Bahkan dia mengatakan, masih beberapa halte lagi dan dia akan memberitahu saya jika sudah sampai nanti. Ah, saya bertemu lagi dengan orang baik. Dan memang benar setelah melewati tempat-tempat yang berbau resort, bus akhirnya berhenti dan pelajar di sebelah memberitahu bahwa saya harus turun di sini. Lepas dari bus, di hadapan saya terbentang bukit luas dan terdapat petunjuk ke Bulguksa Temple. Kamsahamnida my friend… Untuk sepotong rute di  Gyeongju, saya terselamatkan di transportasi publik: bus umum!

Saya mulai melangkahkan kaki menuju Bulguksa Temple melalui jalan mendaki yang di sebelah kiri kanannya terbentang taman-taman yang tertata rapi. Kuil yang merupakan salah satu UNESCO World Heritage Site di Korea Selatan ini termasuk yang sangat diminati oleh wisatawan domestiknya. Saya akan posting tentang Bulguksa Temple ini terpisah. Tidak hanya keluarga yang mengunjunginya tetapi juga pasangan remaja. Semua tampak berbondong-bondong berjalan ke atas bukit. Mungkin saja mereka tidak masuk ke kuilnya, dan hanya bersantai di taman-tamannya. Korea Selatan memang saya acungi jempol untuk penyediaan ruang publik berupa taman yang nyaman. Dengan beralaskan tikar, mereka bisa berpiknik bersama seluruh anggota keluarga tercinta. Anak-anak berlari-lari berkejaran sementara pasangan-pasangan tampak berdekatan berduaan merancang masa depan.

Jalan Kaki Menuju Bulguksa Temple

Jalan Kaki Menuju Bulguksa Temple

Saya mengunjungi Bulguksa Temple yang indah dan sekembalinya dari sana tampak antrian panjang mengular di halte bus. Rasanya tidak mungkin saya menunggu bus untuk sampai tepat waktu di destinasi  berikutnya. Setelah menimbang-nimbang akhirnya saya memutuskan untuk naik taksi daripada menunggu bus.

Ketika masih di Indonesia, seorang kawan telah mengingatkan untuk tidak menggunakan taksi di Korea Selatan, karena mahal. Tetapi apa boleh buat, saya harus pergi ke destinasi berikutnya. Sang pengemudi tampak senang ketika saya bilang mau ke Cheomseongdae. Lagi-lagi saya pakai iman untuk menggunakan taksi. Saya tidak tahu rute terdekat dari Bulguksa ke Cheomseongdae. Argo sudah bertambah ketika akhirnya sampai ke jalan besar yang tampak padat. Sang pengemudi mengatakan dalam bahasa Korea campur Inggris yang terbatas ‘traffic not OK’ berkali-kali. Dari bahasa tubuhnya, tampak ia tidak senang dengan lalu lintas yang macet. Ia minta ijin untuk memutar dengan jalur yang lebih kosong. Saya memahami dan setuju agar ia mengambil jalan yang lebih kosong. Hahaha, saya menyadari ketololan saya, karena pada akhirnya ujung jalan itu tetap macet dan saya harus membayar ongkos jalan yang memutar dan pastinya lebih mahal. Terlebih lagi, bukannya menurunkan di Cheomseongdae, ia menyarankan saya untuk turun di Anapji Pond yang berada “tidak jauh versi Korea” dari Cheomseongdae, karena lalu lintas macet total. Bodohnya lagi, saya setuju! Hahaha… Akhirnya saya turun di Anapji Pond yang kilometernya lebih dekat daripada ke Cheomseongdae tapi saya membayar ongkos yang lebih mahal karena jalan yang memutar. Berdiri di depan Anapji Pond, saya tergelak dalam hati. Kamsahamnida Pak Sopir Taksi, sudah menambah cerita tentang transportasi umum di Gyeongju.

Hari sudah beranjak malam ketika saya selesai mengunjungi Anapji Pond, namun tentu saja saya mau ke Cheomseongdae yang terkenal itu. Di peta, Cheomseongdae berada di depan Anapji Pond, walaupun dalam kenyataannya harus jalan kaki beratus-ratus meter untuk sampai. Jadilah saya menyeberang jalan raya mengikuti the crowd, sekumpulan orang yang sedang berjalan di depan, yang menurut intuisi saya juga menuju Cheomseongdae.

Tidak lama mengikuti the crowd hingga ke seberang, sebagian dari mereka berpisah. Sebagian melanjutkan jalan di trotoar yang terang benderang dan sebagian lagi berbelok ke kiri menembus jalan tanah yang lebih gelap. Mampuslah saya! Saya harus berpikir cepat. Seingat saya, Cheomseongdae berada di tengah taman sehingga saya mengambil rombongan yang berbelok ke kiri, dan itu juga berarti saya jalan kaki sendirian ke tempat yang lebih gelap. Aahh… travel solo kali ini, memang seru sekali!

Taman yang saya jelajahi ini sebenarnya merupakan ruang publik yang bagus dan indah, tapi jika datang saat matahari masih muncul! Kalau sudah tenggelam, ruang publik ini menjadi serupa seperti ruang publik dimana-mana. Penerangan hanya cukup di tempat-tempat strategis, tetapi selebihnya gelap. Ada bangku-bangku taman dengan penerangan yang tidak berlebihan. Untuk jalan kaki di jalur setapaknya masih bisa terlihat, tetapi harus dengan mata yang lebih sensitif terhadap cahaya redup. Kalau istilah fotografi, katanya ISOnya harus lebih tinggi supaya hasilnya lebih jelas.

Sebenarnya sejak dari Anapji Pond, sebenarnya kaki sudah berteriak lelah, tetapi bukan di Korea Selatan namanya kalau kaki tidak pegal-pegal karena kebanyakan jalan kaki. Sehingga mau tidak mau, saya harus terus jalan kaki. Perut juga sudah menagih minta diisi. Tetapi semua permintaan tubuh itu belum bisa saya penuhi. Di tengah penjalanan ketika Cheomseongdae sudah terlihat indah, -sekitar 500meter lagi-, saya menikmati fasilitas yang ada di taman itu, duduk!

Bangku Taman Gyeongju

Bangku Taman Gyeongju

Di seberang jalan setapak, tampak sepasang remaja sedang bercengkerama, dan tidak jauh di hadapan saya ada seorang bapak bercelana training sedang asik merenggangkan badannya. Walaupun sudah lanjut usia, ia tampak fit dan lentur. Sebentar dia merenggangkan ototnya lalu melanjutkan berjalan lagi. Di Korea, terutama di taman-taman publik, saya sering melihat orang-orang berolahraga, tidak peduli udara musim gugur yang lumayan dingin. Buat saya ini luar biasa, taman yang sedang saya duduki ini, bukan taman yang terang, walaupun bukan juga taman yang gelap total. Namun masih banyak orang yang beraktivitas dan berolahraga. Sambil menikmati keadaan sekitar, akhirnya saya memenuhi kebutuhan perut juga. Ayam goreng tanpa tulang yang saya beli di Busan kemarin (kalau belum baca proses terbelinya ayam itu di Busan, baca disini ya), akhirnya saya santap habis di taman Gyeongju ini. Ah, memang menyenangkan sekali berada malam-malam di taman publik di Gyeongju ini.

Sambil makan di tengah keremangan malam, tiba-tiba saya seperti tersadarkan. Taman tempat saya duduk ini, -ruang publik ini-, sebenarnya merupakan bagian dari Tumuli-tumuli yang berserakan seantero Gyeongju. Tumuli, atau gundukan-gundukan besar yang terlihat langsung di hadapan saya ini sebenarnya merupakan… Kuburan! Yah, siapapun yang dikubur di dalamnya, raja atau petinggi kerajaan, tetaplah dulunya seorang manusia yang sekarang sudah meninggal! Tiba-tiba udara terasa lebih dingin menusuk tulang sehingga saya merapatkan jaket. Mengapa tiba-tiba saya jadi teringat film China yang orang matinya hidup kembali dan lompat-lompat yaa? Aduh.. lalu benarkah si kakek tadi manusia? Cepat saya menutup day-pack dan melanjutkan jalan kaki, meninggalkan kegelapan dan udara dingin…

Sekeluar dari taman saya menghadapi kenyataan bahwa tidak ada satu pun transportasi publik yang bisa saya gunakan padahal hari sudah malam. Lalu bagaimana saya pulang ke Guest-house? Saya tidak tahu rute dan nomor bus yang bisa dinaiki (dan kalaupun ada halte, rutenya tidak bisa dibaca karena dalam Hangul) dan juga di sekitar itu tidak ada taksi yang tersedia. Saya tidak melihat tempat menunggu taksi dan tidak ada informasi tentang itu di sekitar. Padahal di dekat saya terdapat batu besar bertulisan UNESCO World Heritage Site. Menyedihkan sekali! Tidak ada pilihan lain kecuali jalan kaki menyusuri trotoar, padahal kaki sudah menjerit minta istirahat. Mungkin dalam keadaan normal, jarak 2 km masih bisa dibilang dekat. Tetapi di kota kecil, di negara orang, di trotoar yang tidak kita kenal daerahnya, di malam-malam yang sepi…? Biar itu ruang publik, tetapi tetap saja terasa tidak nyaman, terasa jauh dan tidak sampai-sampai, apalagi dalam keadaan kaki sangat-sangat pegal seperti mau putus !! 

Iklan

11 pemikiran pada “Mencicipi Ruang Publik Di Gyeongju, Korea Selatan

  1. Hai Mba,

    seru banged bisa kesana sendirian..selama ini klo travelling cuma sendiri?
    mau tanya donk..kira-kira kemarin abis berapa?total ya..
    aq juga pengen banged kesana..ada rencana taon depan..gimana klo barengan lagi kesana mba..hehehe
    *ajakan serius…:)

    Suka

    • Hai Lidya…
      Memang ga selalu sendiri sih, kadang sama teman kadang sama keluarga juga… Kalau habisnya yaaa habis-habisan hahaha… alias berjuta-juta bikin bolong tabungan (dan kerja lagi, nabung lagi, travel lagi… siklus berputar hahaha).
      Mau aja pergi lagi asal dibayarin wkwkwkwkwk…. *asal dibayarinnya serius juga 😀

      Suka

please... do let me know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s