Ke Sangiran: Belajar Menghargai Harta Karun Kita


Hingga saat ini telah ditemukan tidak kurang dari 100 individu fosil Homo erectus di Sangiran. Jumlah ini mewakili lebih dari setengah populasi Homo erectus di dunia…

Dari hasil penelitian genetika, khususnya Mitochondiral DNA, diketahui bahwa seluruh umat manusia yang ada sekarang ini berasal dari seorang wanita yang pernah hidup sekitar 200.000 tahun yang lalu di Afrika Timur ….

sangiran_whsItulah kalimat-kalimat yang menarik perhatian di Museum Manusia Purba Sangiran, Solo, Jawa Tengah. Dan semakin dalam memasuki ruangan-ruangannya, saya seperti dibawa mesin waktu ke ribuan bahkan jutaan tahun yang lalu, menelusuri kehidupan luar biasa yang pernah ada saat itu di Jawa, di Indonesia, di negara kita. Dan bukti-bukti adanya kehidupan jutaan tahun lalu itu masih ada, menjadi harta karun tak ternilai bagi seluruh manusia di muka bumi ini. Ada di sini, di Indonesia!

Mungkin sama dengan Anda, bagi saya, Sangiran merupakan kata yang hanya ada ketika masih duduk di bangku sekolah dalam ilmu geografi kependudukan dan sejarah, dan setelah itu tenggelam kalah dari berbagai prioritas kehidupan lain yang lebih penting. Dan baru-baru ini seorang kawan yang datang jauh-jauh dari Philippines hanya untuk mendatangi Sangiran yang menyebabkan saya mencari tahu lebih jauh tentang Sangiran. Katanya santai, Sangiran adalah UNESCO World Heritage Site yang mudah dicapai dari Jogjakarta. Dan rasanya saya tertampar keras dengan pernyataan santainya itu, karena sebagai orang yang sudah menganggap Jogjakarta sebagai rumah kedua, tidak pernah sekalipun saya berkunjung ke Sangiran. Sedangkan badan dunia UNESCO dan masyarakat internasional mengakui dan mengesahkan Sangiran di Indonesia telah memenuhi persyaratan sebagai salah satu situs warisan dunia. Dan saya, sebagai warga negara Indonesia, bahkan belum pernah menginjakkan kaki di sana! Dan karena itulah saya langsung merencanakan mengunjungi Museum Manusia Purba Sangiran.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sangiran, sekitar 17km di Utara Solo menuju Purwodadi, tepatnya di desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe. Untuk mencapainya cukup mudah. Bila berkendara dari Jogja atau Solo, ambil jalan besar ke Utara menuju Purwodadi dan berbelok ke kanan pada pertigaan Kalijambe. Tidak perlu takut tersesat karena di pertigaan jalan besar itu terdapat gapura berbentuk kolom-kolom batu bertuliskan Situs Sangiran. Dari pertigaan itu jalan terus sepanjang 3-4 km hingga sampai ke Museum Manusia Purba. Untuk kendaraan umum, terdapat bus dari Solo menuju Purwodadi dan berhenti di pertigaan Kalijambe dan dilanjutkan dengan menggunakan ojek untuk ke Museum.

Museum dibuka hari Selasa sampai dengan Minggu, pk.08:00 – 16:00. Tutup setiap hari Senin. Harga tiket masuk untuk wisatawan Indonesia Rp. 5.000,- atau Rp 11.500,- untuk wisatawan asing. Hanya sekitar US$1,- untuk masuk, termasuk sangat murah dibandingkan museum-museum serupa di beberapa negara. Pemutaran film bisa dilakukan dengan harga Rp. 60.000,- per rombongan. Tempat parkir luas bisa menampung bus dan mobil cukup banyak, tersedia juga warung makan dan kios-kios penjual cinderamata dan kaos berbagai ukuran dan motif. Hanya saja diperlukan kejelian mata dalam memilih kualitas cinderamata/kaos dan tentu saja ketrampilan menawar. Sayang sekali saya tidak bisa memastikan apakah museum ini bisa diakses oleh para disable mengingat banyaknya tangga.

Tidak seperti di tempat-tempat lain yang bergelar World Heritage Site yang memperlihatkan simbol UNESCO dan gelar yang diraih secara lebih menyolok, Museum Manusia Purba Sangiran hanya meletakkan tanda gelar internasional yang diraih itu pada sebuah pohon beringin besar yang ada di depan penjual cinderamata/kaos. Sayang sekali sebenarnya karena simbol itu merupakan pengakuan dari sebuah badan dunia dan dunia internasional terhadap apa yang ada di bumi Indonesia. Tidak mudah sebuah tempat mendapatkan gelar World Heritage Site karena harus lolos melewati kriteria-kriteria yang rumit dan sudah standar di seluruh dunia. UNESCO sendiri menetapkan Sangiran sebagai World Heritage Site no 593 pada 5 Desember 1996 dengan sebutan Sangiran Early Man Site

Museum Manusia Purba Sangiran memiliki 3 Ruang pamer: Kekayaan Sangiran, Langkah-Langkah Kemanusiaan, dan Masa Keemasan Homo Erectus – 500.000 tahun yang lalu. Ketiga ruang pamer itu memiliki kekuatan masing-masing walaupun tidak jarang hal yang sama berulang di tempat yang lainnya.

Setelah pemeriksaan tiket masuk, pengunjung diarahkan ke kiri menyusuri selasar berkolom banyak di sisi-sisinya, secara tak sadar kita sebenarnya sedang berjalan di atas lapisan vulaknis paling tua, hasil aktivitas erupsi gunung Lawu purba yang telah mengeras selama 1.8 juta tahun.

Memasuki ruang pertama: Kekayaan Sangiran, di dalamnya terdapat penjelasan mengenai evolusi manusia, koleksi fosil fauna yang dimiliki seperti buaya, herbivora bertanduk besar, kudanil purba, dan gajah purba serta binatang-binatang laut seperti penyu dan kerang-kerangan. Juga penggambaran mengenai kehidupan sehari-hari Homo erectus di Sangiran. Yang menarik di ruang ini juga ditampilkan temuan-temuan terbaru setahun terakhir ini berupa rahang bawah, tulang panggul dan tulang paha dari gajah purba yang diperkirakan hidup 250.000 – 730.000 tahun yang lalu!

Kemudian, di ruang di sebelahnya dijelaskan mengenai type Homo erectus yang ada di Indonesia. Bahwa dalam waktu 1.5 juta tahun terjadi 3 tahap evolusi Homo erectus di Jawa., dua tingkat diantaranya terjadi di Sangiran (type arkaik 1.5- 1 juta tahun yang lalu; dan type tipikal 0.9 – 0.3 juta tahun yang lalu). Tipe termuda yaitu type progressif terdapat di Blora, Sragen dan Ngawi. Tidak itu saja, di tempat yang sama dipamerkan pula teknik-teknik yang dimiliki Homo erectus seperti alat pemangkasan dan pembuatan alat batu. Yang menarik untuk pelajar yang masih anak-anak adalah teknik rekonstruksi terhadap POPO, seekor kudanil dari Bukuran yang memiliki 119 buah fossil yang dirangkai menjadi kesatuan fosil hewan yang utuh.

Dan bagi yang belum mengetahui teori manusia berasal dari kera secara dalam, mungkin perlu datang ke museum ini dan mencari informasi mengenai Kera dan Manusia di ruang pertama ini. Penjelasan yang disampaikan sangat menarik.

Ruang pamer kedua: Langkah-langkah Kemanusiaan, mengisahkan teori dari Big Bang hingga Sangiran tercipta termasuk pengungkapan orang-orang yang memiliki teori terkait dengan perkembangan evolusi manusia. Homo erectus bukanlah manusia yang pertama (sebelumnya sudah ada genus Homo habilis (genus manusia) yang hanya tinggal di Afrika). Namun Homo erectuslah merupakan manusia pertama yang menjelajah dunia, tidak hanya sabana dan hutan terbuka di daerah tropis, juga di daerah sub-tropis di Eropa dan Asia, termasuk beradaptasi pada lingkungan laut dan mengembangkan teknologi pelayaran yang paling primitif agar bisa menyeberangi pulau.

Di ruang ini pula kita bisa mengenal para pionir dari Museum Sangiran ini. Dan tidak kalah menariknya penjelasan dalam bentuk audio visual mengenai terbentuknya pulau-pulau di Indonesia dalam kerangka waktu jutaan tahun yang lalu.

Salah satu yang mengejutkan, Raden Saleh, yang kita kenal sebagai maestro seni lukis Indonesia yang terkenal, ternyata dikenal juga sebagai kolektor balung buto (fosil hewan purba dari Sangiran) sehingga dikenal pula oleh para ilmuwan Eropa saat itu, karena koleksinya yang cukup lengkap.

Yang seru juga di dalam ruang ini, Homo erectus dikabarkan melakukan kanibalisme karena temuan fosil biasanya tanpa wajah dan dasar tengkorak, atau ditemukan banyak fosil tengkorak tetapi tidak disertai dengan anggota tubuh lainnya. Benarkah demikian? Lagi-lagi penjelasan yang disampaikan sangat menarik. Untuk pastinya, datang saja ke Museum ini…

Dan satu lagi, Homo erectus alias Pithecantropus yang berawal dari Afrika, mampu menjelajah daerah sabana, Asia Barat, India hingga Asia Tenggara dan tinggal di Jawa sekitar sejuta tahun lalu. Dan semuanya musnah sekitar 100.000 tahun lalu, lalu jika kita bukan dari Homo erectus, lalu dari manakah manusia Indonesia yang ada sekarang ini? Ternyata, jawabannya seru juga…

Di ruangan ini pula juga bisa dilihat bagaimana sebuah fosil itu ditemukan dalam keadaan lengkap atau dalam keadaan terlipat dalam goa-goa abadi. Tidak dilarang untuk berfoto seperti seorang ahli arkeologi bersama fossilnya.

Dalam ruang ketiga – Jaman keemasan Homo erectus sekitar 500.000 tahun yang lalu, digambarkan dalam 3 dimensi tentang kehidupan sehari-hari Homo erectus dan lingkungannya yang berupa sabana yang luas sepanjang horison. Dengan demikian pengunjung bisa memiliki bayangan bagaimana Homo erectus hidup dalam jamannya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sekeluar Museum kita bisa menikmati tempat-tempat istirahat yang nyaman dan berangin, sambil berfoto dengan latar belakang gedung museum yang cukup menarik bentuknya.

Karena keterbatasan waktu saya tidak sempat melihat menara pandang yang berjarak tidak jauh dari Museum. Dari Menara Pandang ini bisa disaksikan betapa luas Kubah Sangiran (Sangiran Dome) yang merupakan area yang ditetapkan sebagai situs arkeologis Sangiran di Indonesia.

Saya sudah menjejakkan kaki di sana dan kagum akan kekayaan fosil yang ada untuk perkembangan ilmu pengetahuan dan kemanusiaan, Masyarakat internasional dan badan dunia telah mengakui harta karun yang ada di Indonesia ini, lalu kalau bukan kita, siapa lagi yang akan menghargainya dan memelihara kehebatannya? Yuk berkunjung ke Museum Manusia Purba Sangiran!

Iklan

2 pemikiran pada “Ke Sangiran: Belajar Menghargai Harta Karun Kita

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s