Day 2 – Serasa Adu Tinju Menuju Gyeongju


Saya tanya ya? Dalam perjalanan keluar negeri, pernah tidak mengalami hal berikut ini:

1. Salah turun stasion?

2. Kehilangan Tiket Subway?

3. Naik taksi yang tidak tahu alamat tanpa GPS?

Hehehe… saya pernah dan mengalami hal itu semua dalam setengah hari perjalanan dari Busan ke Gyeongju. Rasanya? Ya mungkin seperti di ring tinju, kena jab kiri kanan, uppercut kiri kanan, asli puyeng… tetapi belum KO sih…

Busan Metro Line 1

Busan Metro Line 1

Saya check-out dari penginapan dan langsung menuju subway Busan Station.  Waktu itu saya akan ke Gyeongju, sekitar 1 jam berkendara bus dari Busan. Karena naik kereta lebih memakan waktu, maka saya memilih naik bus antar kota. Saya mengulang membaca itinerary untuk mencapai terminal bus dan dari peta Metro jaraknya 2 stasion dari Busan Station, area tempat saya menginap.

Berbekal pengalaman hari kemarin, saya sudah pandai menggunakan mesin tiket subway, jadi cepat saya membeli tiketnya. Dan langsung naik metro begitu kereta sampai dan langsung turun pada Nampo, 2 station saja jaraknya dari Busan Station. Di Nampo saya melihat-lihat situasi, tidak ada penunjuk arah ke terminal bus dan kesan saya, terlalu mewah untuk stasion yang dekat dengan terminal bus. Ada rasa was-was yang tiba-tiba membuncah. Sepertinya saya salah stasion niiih. Salah satu yang paling merepotkan adalah bicara dengan orang Korea yang bahasa Inggerisnya terbatas, dan kalau sudah salah arah seperti ini, satu-satunya jalan yang harus saya lakukan adalah harus tanya orang. Saya menuju konter informasi subway dan menanyakan maksud saya sebenarnya yaitu arah terminal bus.

Petugas yang sudah tua itu, tampak mengerti maksud saya tetapi kesulitan menjelaskan. Celaka! Akhirnya dia mencari peta jalur Metro dan membentangkan di hadapan saya. Dia hanya mengatakan, we lalu menunjuk saya dan dirinya, lalu ia melingkari station Nampo. Oke, saya mengerti, kita ada di station Nampo. Dia tersenyum, lalu dia bicara tidak jelas, kemudian dia mengikuti bolpennya sepanjang line 1 yang berwarna oranye sampai ke ujung dan menunjuk saya lagi, you go here, dia melingkari stasion Nopo. Bus Terminal! Hah? Saya salah turun stasion? Tepok jidat! Saya berulangkali berkamsahamnida kepadanya dengan membungkukkan badan sambil terus menyalahkan diri sendiri. Saya harusnya ke Nopo bukan Nampo! Memang mirip! Tetapi beda sekali tempatnya dan jaraknya jauh! Stasion Nopo ada di ujung dan hampir 1 jam ke sana! Hilang waktu lagi! Saya berulang kali menyalahkan diri sendiri, kenapa saya berulang kali teledor membaca? Kemarin masalah Jangsan dan Yangsan, sekarang Nopo dan Nampo! Gara-gara kebodohan ini jadwal jadi berantakan. Jadilah saya menuju Nopo dan tentu saja melalui Busan Station lagi, tempat tadi pagi saya pergi. Dodol sekali!

Tiket Busan Metro

Tiket Busan Metro

Dan belum selesai sampai di situ! Saya kembali membeli tiket, kali ini ke Nopo (karena saya ada di Nampo) dan lewat gate tiket lagi, turun tangga lagi dan duduk untuk menentramkan diri sambil menunggu kereta. Semenit dua menit saya termangu jengkel sama diri sendiri karena masalah salah stasion, lalu tiba-tiba saya teringat tiket untuk ke Nopo yang biasanya saya pegang. Lho mana tiket saya??? Tidak ada di tempat saya biasanya, tidak ada di saku, tidak ada di hape, tidak ada yang jatuh di sekitar. Biasanya saya otomatis mengambil tiket saat memasuki gate. Dan tiket tidak ada pada saya. Kereta untuk ke Nopo sudah datang, saya tidak peduli. Saya harus cari tiket dulu. Manaaaaa? Tiket kan harus ada saat masuk dan keluar, masa saya bisa masuk tapi tidak bisa keluar? Terpikir untuk langsung naik kereta, bilang saja tiket hilang, paling diminta bayar… tapi saya ragu, nanti urusannya jadi panjang. Ini di negeri orang, bukan di Indonesia. Saya cemas, kekuatiran langsung naik level ke derajat tertinggi. Kalau tiket benar-benar hilang ya apapun yang terjadi harus dihadapi. Tetapi apakah tiket sudah benar-benar hilang? Sudah dicari? Walaupun dipenuhi rasa cemas, akhirnya saya berberes ransel yang sudah saya bongkar untuk mencari tiket dan kembali naik tangga yang lumayan tinggi. Stress dan napas satu-satu karena naik tangga ditambah ransel yang rasanya semakin berat tapi saya tetap berharap siapa tau ada penjaga baik hati di atas yang bisa menolong saya. Semakin dekat puncak tangga, saya semakin galau. Berbagai kemungkinan buruk dan kekuatiran memenuhi benak. Bagaimana bila begini, atau bila begitu? Saya mencoba menghilangkannya dan naik tangga terus. Dan akhirnya… dibalik gerbang tiket, saya tidak melihat ada orang satupun. Sepi! Nobody!

Tapi tiba-tiba mata saya bergerak otomatis mengarah ke gerbang tempat saya masuk sebelumnya. Dan diatasnya masih ada sebuah tiket yang diletakkan begitu saja di dekat lubang keluarnya! Seperti disiram air es, saya hampir berteriak kegirangan melihat selembar tiket kecil masih di tempatnya. Pasti ada orang Korea yang baik hati meletakkan tiket saya begitu saja. Tiket tidak diambil, tidak dibuang, hanya diletakkan di dekatnya. Mungkin mereka akan berpikir orang yang lupa mengambil tiket akan kembali. Tepat seperti yang saya alami! Saya mengucap syukur berkali-kali. Tuhan mengingatkan dengan cintaNya yang indah atas keteledoran saya. 

Sepanjang perjalanan menuju Stasion Nopo, saya berulang kali mengucap syukur dalam hati. Tak dibayangkan apa yang akan terjadi bila tiket kereta benar-benar hilang, mungkin karena saya merupakan tipe yang lurus-lurus saja, jadi kehilangan tiket itu, -walaupun sesaat- merupakan sesuatu yang sangat memalukan. Saya berdoa, semoga untuk sisa hari yang masih panjang ini saya dimudahkan dan dilancarkan untuk segala urusannya. Belum lagi siang, saya sudah dua kali mengalami kekuatiran yang turun naik seperti roller coaster.

Sampai Stasion Nopo tidak sulit untuk melanjutkan ke terminal bus karena gedungnya terintegrasi. Masalahnya saya tidak tahu apakah terminal ini Express atau Intercity. Di Korea ada perbedaan antara keduanya, namun biasanya letaknya berdekatan. Saya mulai mules lagi, dan hanya bisa berdoa, semoga petugasnya bisa bahasa Inggris, minimal mengerti. Saya mengarah ke satu loket untuk membeli tiket ke Gyeongju. Untunglah, dia mengerti bahasa Inggeris. Aahh setelah dua kali beroller-coaster, dapat petugas yang mengerti bahasa Inggeris dan bisa membeli tiket darinya saja, rasanya seperti dapat durian runtuh!

Dengan tiket di tangan, yang kali ini saya pegang erat-erat, saya sukses selamat bisa naik bus ke Gyeongju. Tetapi, hati ini benar-benar turun naik, karena saya buta aksara Hangul, karena saya tidak bisa bicara bahasa Korea, karena bahasa Inggeris tidak berlaku di Korea, maka saya seperti berada di arena tinju, tetapi belum KO, hanya rasanya terkena jab kiri, jab kanan, uppercut. Uuugh…

Bus berjalan dengan kecepatan sedang di jalan bebas hambatan yang lalu lintasnya tidak terlalu padat. Saya kebagian tempat duduk di pinggir satu kursi yang lebar dan nyaman. Perjalanan ke Gyeongju tidak spesial, itu dikarenakan di sebagian besar perjalanan saya tertidur. Hanya kadang terlihat gugusan pohon dengan warna khas musim gugur. Sepanjang perjalanan merupakan waktu yang menentramkan hati, karena tidak mengalami gejolak ketidaktahuan, salah informasi, salah arah, salah komunikasi. Mendekati Gyeongju, entahlah, muncul rasa was-was lagi, saya berdoa agar dimudahkan untuk sampai ke Guesthouse.

Gyeongju Bus Terminal

Gyeongju Bus Terminal

Ketika sampai di terminal Gyeongju, kekuatiran saya meningkat lagi. Untuk menuju ke penginapan, saya tidak mengetahui arah dan nomor bus. Tidak mungkin naik bus lokal. Informasi mengenai letak guesthouse saya tahu hanya dari stasion kereta api, yang katanya hampir semua orang Gyeonju tahu dimana letak stasion kereta api itu. Yang pasti tidak ada tukang ojek! Tidak ada jalan lain, saya naik taxi. Pengemudinya sudah tua. Saya menyebutkan nama guesthouse-nya dan ia mengangguk. Dan itu problem! Argo sudah jalan, mulai dia berbicara yang tidak jelas. Sepertinya dia tidak tahu tujuannya. Karena saya menduga dia tidak mengerti lokasi guesthouse, saya minta dia ke station kereta api. Pikir saya, biarlah saya jalan kaki dari stasion ke guesthouse. Tetapi hal ini semakin membingungkan dia, karena ada dua stasion di Gyeongju, stasion lama yang menjadi tujuan saya dan stasion baru. Mampuslah saya! Saya menyebut berkali-kali, bukan ke arah Sin-gyeongju melainkan stasion kereta yang lama (Sin-gyeongju adalah stasion kereta yang baru khusus untuk kereta api express KTX, serupa Shinkansen di Jepang). Perut makin mules, padahal tidak sakit perut. Roller coaster lagi!

 Tidak mau kalah oleh keterbatasan bahasa, saya keluarkan print-out alamat guesthouse dalam Hangul untuk kepentingan check-in agar dia bisa baca. Ahaaa…! Sepertinya pengemudi itu tahu daerahnya, tetapi tidak tahu persis tempatnya. Jreng… dia memencet GPS-nya tapi malah keluar kota. Salah! Beberapa kali dia pencet-pencet lagi GPS-nya tetapi hasilnya salah terus (saya juga tidak bisa bantu sebab GPSnya dalam Hangul). Namun sabar itu memang menyelamatkan. Setelah dia memasukkan alamat lengkap, barulah terlihat arah yang benar. Saya berteriak gembira melihat arahnya yang benar karena kira-kira saya tahu tempatnya. Dia juga gembira karena bisa mengantar saya. Dia ungkapkan kegembiraannya dalam bahasa Korea, dan saya mengangguk-angguk senang walaupun tidak mengerti.

Pak Sopir taksi berhenti tepat di depan pintu Guesthouse. Saya sendiri terkejut karena tidak ada huruf latin yang memastikan bahwa guesthouse itu sesuai pesanan saya. Setelah berkamsahamnida dengan pak Sopir, dengan iman (pasrah mode) saya ditinggal taksi untuk kemudian melangkah masuk ke dalam dan menjumpai kekosongan, tidak ada satu orangpun di dalamnya! Duuh.. roller coasternya belum berhenti. Tulisannya hanya 1, check-in time jam 14:00 dan telpon jika perlu dan ada tanda panah untuk menggunakan telepon. Sesuai petunjuk saya telepon dan diujung line terdengar suara, yang untungnya fasih berbahasa Inggris. Baguslah!

Tidak lama kemudian sebuah wajah jenaka keluar dari balik pintu dan melayani saya dengan baiknya. Ia menyerahkan kunci locker sementara belum bisa check-in karena memang belum waktunya. Gembira karena akhirnya ada orang yang bisa berbahasa Inggeris dengan baik, saya bertanya banyak mengenai destinasi seputar Gyeongju sambil memasukkan ransel ke dalam locker dan menggantinya dengan day-pack. Untuk sementara huru hara roller coaster berhenti dulu dan walaupun babak belur seakan bertanding tinju, saya sudah sampai Gyeongju dengan selamat, memiliki tempat untuk beristirahat nanti malam dan siap menjelajah Gyeongju, the World Heritage City in South Korea! 

Iklan

18 pemikiran pada “Day 2 – Serasa Adu Tinju Menuju Gyeongju

    • Waaaaaa…. padahal Gyeongju itu menyimpan banyak keindahan lhoo, juga Seoraksan luar biasa pas autumn. Ga papa mba… jadi masih ada alasan untuk kesana lagi kan mba… semangatttt… and thanks ya sudah mampir lagi… datang lagi yaa…masih belum selesai lho cerita korea-nya…

      Suka

  1. Waaa,,,Gyeongju ya.. Banyak banget tempat yang bagus disana apalagi kalo lagi spring, bunga sakura di sepanjang jalan…so romantic
    Pengen kesana lagi jadinya..

    Disukai oleh 1 orang

    • Mba Helma,
      hahaha… iyaaaa… nasib deh ga bisa bahasa Korea, tetapi justru keseruannya itu sekarang jadi moments yang ga bisa dilupain 😀
      Kalo di Gyeongju, 1 bed (dormitory room) bisa 200rb rupiah, tapi bisa unlimited kalo pesen di hotel bintang5 😀 😀 (soalnya kota ini tempat istirahatnya orang lokal juga)… Tetapi bener asik deh…

      Suka

    • Mba Helma,
      Karena di Seoul saya tidak lama ngubek-ngubeknya, jadi waktu itu saya hanya cari di dekat Seoul Station karena waktu itu kan trip saya naik ktx dari Daegu berakhir di Seoul station. GH sih mulai dari 250rb/bed, kalo ga biasa, coba cari yang female only, biasanya lebih cute dan aman. Ada yang bilang daerah University jauh lebih asik karena suasananya yang mendukung. Kalo saya nyari akomodasi pasti lokasi pertama, lalu base pencariannya adalah nilai review yng udah banyak pengunjungnya dengan nilai 8 dari 10. Abis itu baru deh nyari yang sesuai budget. Semoga membantu ya..

      Suka

  2. wah pas banget nih, saya juga berencana dr korea ke gyeongju. Jadi gimana mbak enaknya kesana? by bus dan naik di Busan Bus Terminal? Saya menginap lokasinya dekat dengan Busan Station. Tiket bus ada frekuentif kan ya? misal per jam sekali

    Disukai oleh 1 orang

    • Sebenarnya bisa naik KTX dari Busan ke Gyeongju, cepat pastinya… Pertimbangan saya ketika itu, di Gyeongju-nya saya nginep lebih deket ke terminal bus, jadi saya milih bus daripada naik KTX. Lagian lebih murah deh… Jadwalnya banyak kok, ga sampai sejam rasanya…
      Tapi terminal bus di Busannya tetap di Nopo ya, naik aja subway sampe Nopo.

      Suka

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s