Day 1 – Jelajah Busan Sampai Menyeret Kaki


Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Busan adalah kota pertama di Korea Selatan yang saya jelajahi dalam solo-traveling kali ini dan waktunya hanya 1 hari! Sebenarnya banyak destinasi yang bisa dilihat di Busan, tetapi dengan keterbatasan waktu saya hanya mendapatkan sebagian kecil dari daftar saya. Mungkin sebagian besar sisanya buat lain waktu. Bukankah jadi ada alasan untuk datang lagi ke Korea Selatan? hehehe… Yang jelas, walaupun tidak banyak yang saya kunjungi di Busan, saya merasa sangat sehat karena kemana-mana harus jalan kaki yang buat ukuran saya adalah jaauuuuhh…!

Penginapan saya yang letaknya tidak jauh dari Busan Station membuat saya mudah kemana-mana dengan menggunakan Metro (subway). Sayang memang, karena sepanjang perjalanan tidak ada yang bisa dilihat kecuali kegelapan. Berlainan jika menggunakan bus, kita bisa melihat keindahan pemandangan sekitar. Tetapi masalahnya, saya tidak mempersiapkan diri menggunakan transportasi dengan bus. Karena berpengalaman tersesat di Jepang dengan bus dulu karena kebodohan saya sendiri, subway menjadi pilihan ternyaman dengan prioritas lebih tinggi karena sifatnya yang lebih pasti.

Sudah sekitar jam 10-an ketika saya meninggalkan penginapan untuk mulai menjelajah Busan. Tidak sampai 100meter saya sampai di stasion metro Busan Station (113, line 1 – orange) dan seorang penjaga membantu saya untuk berkenalan dengan mesin-mesin tiket karena mungkin dia kasihan melihat saya lama bengong di depan mesin tiket. Saya membeli 1 day trip pass karena saya mau keliling Busan sehari ini tanpa harus berpikir soal transportasi lagi. Tiket sehari unlimited ini hanya berbentuk secarik kertas kecil, tidak lebih besar dari jempol orang dewasa dan sama bentuknya dengan tiket point to point.

Kemudian saya turun ke arah kereta melalui… tangga! Seperti yang saya baca, subway di Korea Selatan dipenuhi dengan tangga. Mungkin mayoritas penduduk Korea adalah orang yang sehat jasmaninya dan mampu naik/turun melalui tangga. Bukan berarti tidak ada lift atau ekskalator untuk para lansia dan disable, tetapi akses yang paling terlihat dari gate tiket dan mungkin yang paling disarankan untuk digunakan adalah tangga. Dan kedalamannya tidak tanggung-tanggung, bisa sampai 3 lantai. Kalau turun mungkin masih no problem, tapi naik? apalagi kalo tersesat.. hehehe…

Seperti biasanya pada hari pertama ini, saya meluangkan waktu khusus untuk mempelajari peta metro Busan, yang menurut saya sangat ajaib, karena mampu membuat silap mata khususnya bagi orang yang suka teledor seperti saya. Bayangkan, stasion awal line 2 di Yangsan dan berakhir di Jangsan. Bagi saya, kedua nama stasion itu sama karena bacaannya mirip. Saya sempat terkecoh karenanya (waktu transfer kereta bayangin muka dodol saya ke kiri: Yangsan, ke Kanan: Jangsan.. Lhoo!)  Halaah! hanya beda 1 huruf : Y dan J !!!

Haeundae Beach

Destinasi pertama di Busan adalah menuju Haeundae Beach yang terkenal seantero Korea Selatan. Untuk itu dari Busan station (#113 line 1, orange) saya menuju Napo dan turun di Seomyeon untuk transfer ke line 2. Dari Seomyeon saya menuju Jangsan (Jangsan yaaa… bukan Yangsan! :-D) dan turun di Haeundae Station, exit 5. Dan lagi-lagi naik tangga untuk keluar ke permukaan bumi ya! Tetapi karena masih awal penjelajahan, masih semangat45.

Muncul di permukaan tanah dari Haeundae Station, udara sejuk musim gugur langsung menerpa. Tidak terlalu dingin, bisa dikatakan nyamanlah. Namun untuk mencapai pantai harus berjalan sekitar 10 menit. Tetapi stop sebentar! Karena kelihatannya orang Korea menghitung jarak dekat dalam hitungan menit-nya jalan kaki, hitung dulu kecepatan rata-rata orang berjalan. Jika kecepatannya 4 km/jam itu artinya jarak ke pantai sekitar 700meter. Di Indonesia, jarak segitu biasanya sudah tersedia ojek. Di Korea? Ya jalan kaki… dan itu termasuk dekat! Pantai dan suasananya sudah terlihat kok… (tapi kalau dipikir-pikir dari sini juga terlihat bulan kan??? mau jalan kaki juga? Hehehe…)

Jadilah saya berjalan kaki menuju pantai terkenal itu dan menjelang tengah hari bolong yang terik tapi anginnya cukup dingin, saya menginjak pantai putih Haeundae yang sangat landai. Benar-benar waktu yang tidak tepat untuk berkunjung ke pantai. Saya melihat jajaran gedung tinggi dengan hotel Novotel menjulang di tempat yang paling strategis. Hmm.. ditandai untuk nanti bersama keluarga… Di pantai tampak anak-anak TK sedang belajar dan bermain bersama guru-gurunya. Mereka bergoyang lucu mengikuti lagu Gangnam Style yang mendunia itu. Juga tampak orang-orang yang mengajak anjingnya berjalan-jalan. Selain itu tampak pula pesepeda yang menyusuri pedestrian khusus sepeda. Memang nyaman sekali menyusuri pantai dengan sepeda, walau waktunya salah sekalipun karena anginnya tetap membuat nyaman. Pantai Haeundae tidak terlalu banyak dikunjungi pengunjung saat itu, padahal jika musim panas tiba, pantai Haeundae sangat penuh pengunjung dengan payung-payung pantainya yang berwarna merah berjejer-jejer.

Saya berjalan perlahan menuju Dongbaek dengan menyusuri pantai melewati area Busan Aquarium yang dipenuhi pengunjung muda. Jika ada kesempatan di waktu mendatang, saya akan mengunjungi Busan Aquarium tapi kali ini belum dulu. Pantai Haeundae ditata apik. Beberapa spot terlihat menarik walaupun informasinya dalam tulisan Hangul sehingga saya tidak dapat mengerti maknanya. Tetapi tanpa perlu memahami artinya, saya bisa  menikmati dengan mata dan hati, semua terasa indah. Beberapa sisanya diberikan penjelasan bahasa Inggeris, seperti fenomena pulau Tsushima yang termasuk wilayah Jepang, kadang terlihat dari Haeundae, kadang tidak.. walaupun dalam keadaan cuaca yang jernih.Mau tau penjelasannya? Datang deh ke Haeundae Beach..

Patung Putri Duyung

Saya masih terus menyusuri pantai Haeundae sampai ke ujung, arah ke Dongbaek dan di atas sebuah karang, dibuatlah sebuah patung putri duyung. Kita bisa mencapainya dengan menyusuri jalan di balik hotel Westin ataupun dari arah Dongbaek melalui jalan setapak yang terbuat dari kayu. Konon, legenda mengisahkan bahwa Putri Hwanggok yang datang dari Kerajaan duyung Naranda, dinikahi oleh Raja Eunhye dari Mugung, sebuah kerajaan yang sangat terkenal. Setelah menikah dan menetap di Mugung, di saat-saat Putri Hwanggok sangat merindukan keluarga dan bangsanya di Naranda, ia hanya dapat melepas rindunya melalui pantulan bola emas saat bulan purnama tiba. Sedih yaa… wajah patung sang putri pun dibuat melow penuh kerinduan. Percaya ga sih, saya merasakan atmosfir rindu disitu… Bagaimana tidak, dalam posisi di atas patung putri duyung itu, sejauh mata memandang hanya ada lautan, dan memang bila kita sendiri disitu, hanya ada satu rasa, rindu sama orang-orang tercinta…. jiaaaahhh 🙂  

The Chamber

Saya kembali ke Haeundae sambil mulai terseok-seok pegal dan kepanasan sampai ke titik awal dekat Hotel Novotel. Di belakang hotel terdapat sebuah monumen seni yang dikenal dengan nama The Chamber karya Dennis Oppenheim (1938 – 2011), seorang seniman pelopor dalam seni konsep. Untuk menikmatinya, pengunjung the Chamber perlu masuk ke dalam monumen tersebut dan berjalan diantara ‘tembok’ yang dibuat menyerupai lembar kelopak bunga yang berlekuk. Dan merasakan bahwa dalam keleluasaan dan keterbukaan, tetap terdapat rasa restriksi dan pembatasan. Dari luar, pengunjung akan merasa terundang karena terlihat terbuka, namun begitu masuk di dalamnya, akan terasa terbatasi karena lekuk dari ‘tembok’ The Chamber. Ada makna yang sangat dalam. Ironisnya, Dennis Oppenheim meninggal sebulan sebelum monumen di Busan ini sempurna tersusun.

Haeundae Traditional Market

Saya meninggalkan pantai pelan-pelan dan menuju pasar tradisional. Tidak ada yang spesial di pasar ini kecuali keadaannya yang bersih dan teratur (dan semoga saja semua pasar di Indonesia bisa seperti ini). Tidak banyak pengunjung, mungkin karena sudah siang. Bisa jadi keadaannya berbeda jika kita datang pagi-pagi dimana banyak orang mengunjungi pasar untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Awalnya saya berminat membeli makanan untuk langsung disantap, tetapi sepanjang kaki melangkah tidak ada satu pun yang kena di hati. Akhirnya saya kembali ke stasion Metro.

Busan Museum of Art

Meninggalkan pantai, dengan Metro saya menuju BMA (Busan Museum of Art) dan tentu saja pakai tangga dan tangga lagi 😥 Dan ketika hendak keluar ke permukaan tanah, saya sampai tidak mau melihat ke atas karena takut putus asa karena tingginya tangga, hehehe..  Akhirnya walaupun nafas satu-satu sampai juga ke permukaan tanah dan langsung duduk di taman untuk minum dahulu sambil meluruskan kaki yang mulai protes dan ngambek. Untung saja pemandangannya cantik. BMA ini terletak di seberang BEXCO dan sangat nyaman dinikmati saat sore, dimana karya-karya seni digelar di dalam dan di luar gedung. Bentuk tangan, cangkir, teko, dalam ukuran besar dan banyak lagi karya seni yang indah saling mengisi dunia seni Busan ditunjang dengan halamannya yang sedang ditumbuhi pohon-pohon berwarna hijau, kuning, oranye dan merah, warna-warna khas musim gugur. Udara sore makin memberi kenikmatan untuk melihat-lihat karya seni. Rasanya ingin terus berlama-lama di taman itu. Bentuk-bentuk arsitektur gedung yang ada di sekitar BMA juga sangat mendukung keindahan disain kota. Saya kagum. Untuk urusan disain, sepertinya Korea Selatan memang berada di level-level atas, paling tidak menurut pandangan rasa saya.

Shinsegae Mall @ Centum City

Waktu berjalan terus, saya harus melanjutkan perjalanan walaupun untuk melangkah sudah harus menyeret kaki. Dan sampailah saya ke pusat perbelanjaan terbesar di dunia yang terdaftar di World Guinness Book of World Record. Awalnya Shinsegae hanya merupakan pelopor pusat perbelanjaan di Korea, tetapi perkembangannya luar biasa. Memiliki jumlah item yang tak terhitung banyaknya, termasuk spa, tempat bermain seluncur es, golf driving range, multi-bioskop yang berada dalam satu atap juga terintegrasi dengan stasion Metro. Gedungnya sendiri memang luar biasa besar. Saya hanya sedikit mencoba menjelajah lantai-lantainya yang memang luar biasa besarnya. Sepertinya ekskalator tidak habis-habis bersambung, makin lama makin tinggi. Dasar saya tidak suka berbelanja, saya selalu beranggapan bahwa pusat perbelanjaan dimana-mana berkonsep sama: ada barang, diatur dengan baik dan ada yang membeli (tetapi bukan termasuk saya! hehe). Puas melihat-lihat, saya keluar meninggalkan pusat perbelanjaan itu. Dan malam pun datang menjelang, situasi di luar lebih menarik. The Golden time…

Saya mencari lokasi paling nyaman di sudut dan duduk menikmati situasi sambil (lagi-lagi) meluruskan kaki di bangku beton yang disediakan di dekat pedestrian lebar. Tidak ada orang di sekitar saya. Yang ada hanyalah pemandangan indah di depan mata saya. Malam menjelang datang, lampu-lampu penerangan sudah mulai dinyalakan, lampu kendaraan yang lewat menambah suasana sementara ranting-ranting berdaun kuning tampak keemasan diterpa lampu. Gedung-gedung bertabur lampu menjulang indah menjadi latar belakang pemandangan kota dalam menyambut malam di musim gugur.  Saya suka di tempat ini.

Gwangalli Beach & Gwangan Bridge

Malam pun datang, saya menyeret kaki lagi meninggalkan area Centum City dan Haeundae dan menuju Gwangan Station, exit 3 atau 5. Hanya untuk menuju pantai malam-malam! Lagi-lagi, salah waktu untuk berkunjung ke pantai. Jika tadi siang salah waktu ke Haeundae, sekarang waktu malam ke Gwangalli yang tentu saja tidak terlihat apa-apa kecuali ya satu itu… Gwangan Bridge yang terkenal. Saya memperhatikan jembatan panjang yang penuh lampu di tengah kegelapan malam. Indah memang walaupun tidak terlalu spesial. Di pinggir pantai banyak lampu-lampu menghiasi gedung. Saya jadi teringat akan gemerlapnya kota Macau yang penuh dengan kasino, walaupun belum seekstrim itu. Yang jelas, saya berhasil mengunjungi pantai Gwangalli walaupun kaki sudah seperti mau putus. Lagi-lagi Korea Selatan hanya menuliskan 10 menit jalan kaki menuju pantai dari stasion. Artinya, 20 menit untuk bolak balik. Cukup bikin mampus dengan kaki yang sudah protes berat minta istirahat total. Tambah lagi untuk ke pantai Gwangalli ini jalannya agak menurun dan tentu saja untuk kembalinya, harus nanjak! (Ampuuun… Saya kangen tukang ojek… 😀 )

Ayam Goreng Tanpa Tulang

Akhirnya saya menyerah, kaki benar-benar protes dan seharian ini perut belum terisi. Saya mengenal perut yang tidak bisa menerima makanan Korea ini. Pelan-pelan saya menyusuri jendela-jendela yang masih buka sekembali dari pantai. Begitu laparnya, saya langsung naik lift melihat ada tulisan latin Thai di lantai 3, yang saya kira restoran Thailand, namun ternyata hanyalah sebuah kantor travel yang gelap! Dodol lagi! Terpaksa turun dan merayap lagi pada jendela-jendela yang menawarkan makanan. Puji syukur masih ada restoran buka dengan menu bahasa Inggeris: ayam goreng tanpa tulang, sejenis chicken nugget, dengan side dish. Ketika order saya datang, porsi yang katanya kecil itu datang dengan ukuran untuk 4 orang! Saya terkejut dan memandang putus asa kepada waitress. Tetapi waitress dengan bahasa Inggeris yang cukup baik dan ramah mengatakan, bisa dibungkus kok! Alhasil makanan bungkus itu menjadi makanan saya terus selama dua hari ke depan! Hidup ayam goreng tanpa tulang!!!

Seokbulsa, Yonggungsa, Beomeosa Temples, Jagalchi, 40 Steps, Taejongdae Park yang terlewatkan…

Kembali dari Gwangan, badan ini sudah menyerah total, yang paling buruk telah saya lakukan, berjalan tidak lagi melangkah tetapi menyeret-nyeret kaki. Sebenarnya kali ini tidak separah ketika jalan di Hong Kong atau Shenzhen, tetapi entah kenapa rasanya lelah sekali. Walaupun perut sudah terisi, beberapa kali mata dan otak sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Gawat… Sepertinya badan sudah mau ‘demo’ anti-jalan, tidak bisa tidak, saya harus memutuskan kembali ke penginapan. Saya tahu masih banyak destinasi yang belum dikunjungi, Seokbulsa, Yonggungsa, Beomeosa temples, Jagalchi market, Taejongdae Park, Seomyeon area dan 40 Steps yang saya simpan untuk dikunjungi lain waktu. Kali ini, Busan, cukuplah sampai di sini dulu, karena besok saya harus meninggalkan Busan dan pergi ke kota lain…

Iklan

11 pemikiran pada “Day 1 – Jelajah Busan Sampai Menyeret Kaki

  1. Jadi ingat film korea Haeundae, ceritanya tentang tsunami yang menerjang Haeundae. Film lama sih, pemainnya juga masih agak cupu hehe. Aku penasaran banget sama tangga-tangga “jahanam” di subway Korsel (juga Jepang, Taiwan, Manila), bisa nggak yaaa aku survive? 😀

    Disukai oleh 1 orang

    • Wah saya malah ga tau ada film itu hahaha… kebayang ih kalo tsunami karena banyak bangunan di pinggir pantai. Aku inget2 ga ada bukit deh. Kasihan juga kalau terjadi tsunami. Mudah2an sih engga pernah lagi ya..
      Soal tangga ga parah2 amat, ga setinggi batucave atau dr kawah domas ke atas hihihi. Pasti kuat. Sebenarnya ada lift tp kan yg naik yang udah lansia, kalau cuek ya gpp hahaha, paling diliatin hahaha…

      Suka

  2. Mbak mau tanya dong, kemarin pas di busan nginep dimana ya? butuh referensi nih hehehe soalnya insyallah april ini saya mau ke sana . makasih 🙂

    Suka

please... do let me know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s