Laos, Negeri Tak Berbatas Laut


Rombongan turis Barat itu terlihat terhenyak ragu menyaksikan pesawat mungil ATR72 baling-baling yang akan mengangkut mereka. Keraguannya seperti menanti suara tokek berikutnya, mmmaju, mundur, mmmmaju, mundur, mmmm… Akhirnya terlepas sebuah tawa miris penuh kepasrahan, saling berpandangan, apa boleh buat…. mereka melangkah maju… (Hampir pasti keselamatan menjadi kata yang terus muncul dalam benaknya 🙂 )

Pha That Luang

Pha That Luang

Itulah yang terjadi pada rombongan tepat di depan saya ketika hendak boarding menuju Laos. Saya mungkin yang paling memahami mereka karena mengalami hal yang serupa dalam perjalanan sebelumnya di Burma, penuh imajinasi ngeri ketika akan boarding ke pesawat ATR72, yang ternyata salah 100%. Ternyata penerbangan Lao Airlines dengan ATR72 selama 2 jam itu cukup menyenangkan. Seluruh penumpang yang jumlahnya tidak lebih dari 25 itu dilayani oleh dua pramugari cantik berbusana khas Laos. Tampak di bawah jendela pesawat, pemandangan dataran rendah yang cukup membosankan pada awal-awal penerbangan dan menjelang akhir guratan pegunungan mulai menghiasi pemandangan.

Laos, atau secara resminya negara itu disebut dengan Lao People’s Democratic Republik (Lao PDR) merupakan salah satu anggota negara ASEAN yang tidak berbatas dengan laut. Vietnam menghadangnya dari sebelah Timur, Cambodia di sebelah selatan tenggara, Thailand di sebelah Barat dan tentu saja, Myanmar dan China membatasinya di sebalah Utara. Uniknya lagi, negara yang total jumlah penduduknya masih kalah dari Jakarta, hanya 6.6 juta jiwa, tapi sejumlah itu memiliki 49 etnis yang berbeda.

Ketika itu saya terbang menuju salah kota kecil di utara Laos, yaitu Luang Prabang, sebuah kota yang diyakini menjadi sentra budaya dan tradisi masyarakat Laos hingga kini. Kota yang terletak di pinggir Sungai Mekong yang terkenal kedahsyatannya saat musim penghujan itu, merupakan World Heritage City sejak tahun 1995. Inilah alasan utama saya untuk mengunjungi Luang Prabang, karena pastilah cantik nilai sejarah budayanya serta kehidupan sehari-harinya

Dan memang demikianlah yang terjadi di Luang Prabang.

Semuanya serba menyenangkan. Waktu seakan mengikuti seluruh ritme penduduknya dalam sebuah gerak lambat yang membahagiakan. Tak ada beban, tak ada tekanan, semua berbahagia dan damai. Bahkan ketika turun di bandara Luang Prabang pun mampu membuat saya terbawa suasana, imigrasi yang tidak antri, taxi limousine bandara yang siap mengantar kemana pun terasa sangat mewah, orang yang tidak banyak berlalu lalang dan siesta berlangsung disini. Wah…

Dan mengikuti saran dari banyak orang yang sudah menjelajah di Luang Prabang, saya menyewa tuktuk untuk keliling kota. Ada pilihan lain seperti menyewa sepeda atau bahkan jalan kaki. Tetapi bagi saya, naik tuktuk lebih menyenangkan, saya bisa duduk berangin-angin sambil melihat-lihat suasana sementara sopir tuktuk mengantarkan ke tempat-tempat yang saya inginkan. Surga sekali kan?

Sopir tuktuk mengantarkan ke seluruh Wat (kuil) yang terkenal seantero Luang Prabang, seperti Wat Xieng Thong, Wat Visounarat, Wat Aham, Wat Choum Khong Sourin tahrame, Wat Manorom, Ban Xieng Muan, melihat patung reclining Buddha dan lainnya. Saya pun belajar memahami bentuk atap kuil di Laos yang umumnya berujung rendah. Juga ornamen-ornamen cantik yang menghiasi tengah atap kuil. Tidak jarang saya melihat pendeta-pendeta muda yang tampak asik berdiskusi mendalami agama Buddha Theravada dalam seragam-seragam oranyenya. Semua tampak tak bergegas.

Matahari semakin condong ke Barat, semburat oranye langit semakin memperjelas keindahan Luang Prabang disaksikan dari Mt. Phou Si dan That Chomsi sebagai puncak bukit tertinggi di Luang Prabang. Sementara banyak orang masih menyemut di That Chomsi menyambut sunset, di kaki bukit di bawah, tikar dan tenda mulai digelar di sepanjang jalan Sisavang Vong. Puluhan pedagang mulai mempersiapkan acara yang selalu ditunggu-tunggu masyarakat dan turis. Pasar Malam Luang Prabang yang terkenal.

Luang Prabang Night Market

Luang Prabang Night Market

Pasar Malam Luang Prabang menjual berbagai barang kerajinan tangan, pakaian, perlengkapan dekorasi dan masih banyak lagi. Tidak ada waktu yang tepat untuk memulai sebuah pasar, hanya ketika pembeli dan penjual sudah saling bertemu dan cocok terhadap barang dan harga, maka barang dan uang saling berpindah tangan disertai dengan senyum. Malam semakin larut, Pasar Malam Luang Prabang semakin menggoda.

Dan kemeriahanpun mencapai akhir, pedagang dan konsumen sepakat melanjutkan perdagangan untuk esok hari. Semua tampak sibuk melipat dan membersihkan tenda dan tikar. Masing-masing kembali ke tempat peraduannya bersama dagangan yang tersusun rapi. Saya pun kembali ke penginapan yang hanya selemparan batu dari Pasar Malam itu. Jalan kembali terbuka dan lengang, malam menyelimuti Luang Prabang. Hening.

Dan hari pun berganti di Luang Prabang…

Sebelum matahari memunculkan wajahnya, sudah ada kesibukan kembali di pinggir jalan dekat Museum Nasional. Turis belum mandi pun tampak ikut bersibuk-sibuk berpartisipasi. Lagi, acara tradisi harian yang ditunggu oleh banyak orang, barisan pendeta berjubah oranye tanpa alas kaki dengan tertib berjalan perlahan mendoakan atas setiap sumbangan makanan dan apapun yang diberikan secara ikhlas dari masyarakat yang begitu menjunjung tinggi pendeta. Tidak ada bagian dari masyarakat yang merasa berat untuk memberi bantuan, tidak juga merasa lebih tinggi karena telah mampu memberi, karena setiap pemberian akan kembali dalam bentuk doa yang lebih meninggikan. Begitu damai, begitu tenteram, begitu rendah hati. Suara-suara kamera saling bersahutan mengambil moment dari sudut pengambilan terbaik. Kadang para pengambil foto itu mengganggu kesakralan prosesi. Tetapi itulah yang paling menarik dari setiap awal hari di Luang Prabang.

Setelahnya, masing-masing kembali dengan urusan dan pekerjaannya. Dan saya kembali menyusuri kota tua Luang Prabang. Kali ini saya lebih memilih untuk berjalan kaki untuk menikmati setiap moment. Sepotong jalan dengan sejumlah kios, kafe dengan meja yang diletakkan di beranda depan tampil manis dengan payung-payung bergaya campuran tradisional Laos dan peninggalan kolonial Perancis. Juga ada Sekolah tingkat dasar dengan siswa yang riuh rendah bermain dan belajar. Satu dua kendaraan yang berlalu lalang. Tampak dua mobil Mercedes kuno tahun enam puluhan yang sengaja diparkir di pinggir jalan dan seseorang yang mengendarai sepeda onthel model lama, seakan memperkuat kesan waktu yang berhenti di Luang Prabang. Rumah dengan tampilan kolonial Perancis, dengan logo UNESCO tampak megah di depannya semakin memberikan kesan sebuah kota Warisan Dunia yang terjaga. Ditambah dengan atmosfir pagi berkabut, Luang Prabang memang menjanjikan kenyamanan sebuah kota tujuan wisata.

Tak ingin kehilangan moment yang sangat luar biasa di pagi itu, saya berhenti di sebuah cafe untuk lebur dalam setiap momentnya. Saya memesan sarapan pagi yang sudah saya sesuaikan dengan perut saya yang Indonesia, roti, pancake dan buah ditambah kopi dan saya serasa di Surga tingkat paling atas…

Saya masih sempat untuk berkeliling kota selama dua jam, memasuki kuil-kuil yang memperdengarkan suara puji-pujian dari para pendeta, juga mengamati aktivitas pinggir sungai Mekong dan para pedagang yang mempersiapkan tokonya. Awal hari yang menyenangkan…

Patuxai Laos

Patuxai Laos

Tapi Laos tidak hanya Luang Prabang, ibukota negara, Vientiane, yang berjarak hampir 400km di sebelah selatan Luang Prabang atau sekitar 8 jam berkendara, memiliki atmosfir yang lebih dinamis. Mungkin karena merupakan ibukota negara, tempat banyak kegiatan pemerintahan dan bisnis terjadi. Walaupun mungkin termasuk salah satu yang terendah bila dibandingkan dengan ibukota negara ASEAN lainnya. Dan sama seperti di Luang Prabang, saya pun menyewa tuktuk untuk berkeliling kota.

Dan jauh-jauh datang ke kota Vientiane, karena saya berkeinginan melihat replika bangunan terkenal Arc de Triomphe yang aslinya ada di Paris, Perancis. Ironisnya, bangunan yang dikenal dengan sebutan Patuxai ini juga merupakan sebuah monumen perang, untuk mengenang semua pahlawan Laos yang berjuang meraih kemerdekaan dari Perancis. Entah apa yang ada dalam pikiran orang Perancis saat melihat Arc de Triomphe di Paris dan di Vientiane, dua-duanya untuk mengenang orang-orang yang berjuang, namun yang di Vientiane justru karena untuk melawan Perancis.

Salah satu yang menarik di dekat Patuxai ini terdapat Gong Perdamaian, sama dengan yang sering kita lihat di Ancol. Gong Perdamaian ini diserahkan ke Pemerintah Laos oleh Komite Perdamaian Dunia dari Indonesia pada tanggal 22 November 2008. Rasanya luar biasa sekali bisa melihat sebuah pemberian yang sangat bernilai dari Indonesia untuk negara lain dan diletakkan di dekat Patuxai ini. Saya jadi teringat akan alinea ke 4 Pembukaan Dasar UUD45 hehehe…

Gong Perdamaian Dunia

Gong Perdamaian Dunia

Namun bukan Patuxai yang menjadi simbol nasional dari Laos, melainkan Pha That Luang atau Stupa Besar. Bangunan Stupa berlapis emas yang diduga dibangun sejak abad ke 3 sebagai candi Hindu dan dikonversi menjadi kuil Buddha ini telah mengalami berkali-kali rekonstruksi akibat perubahan kekuasaan hingga pada akhirnya berbentuk seperti yang dapat disaksikan sekarang ini. Karena merupakan simbol nasional, Pha That Luang dapat dilihat pada lembaran uang Laos sekarang ini.

Masih banyak kuil-kuil bagus yang tersebar seantero Vientiane yang menjadi tujuan wisata di ibukota Laos ini. Selain itu, jika di Luang Prabang terkenal dengan Pasar Malamnya, maka di Vientiane terkenal dengan Pasar Paginya. Sayang, karena keterbatasan waktu, saya hanya sebentar menikmati Laos. Masih ada tujuan wisata lainnya di Laos yang belum sempat saya datangi, seperti Champasak di selatan yang terdaftar sebagai UNESCO World Heritage Site dan Plain of Jars peninggalan jaman megalitikum di Laos bagian Tengah. Mudah-mudahan masih ada kesempatan lain bagi saya untuk mengunjungi Laos kembali.

Banyak yang mengatakan bahwa bulan November hingga Maret merupakan waktu paling baik untuk mengunjungi Laos. Suhunya sekitaran 15 derajat dan bisa lebih dingin di bagian Utara (pegunungan) yang bisa mencapai nol derajat. Hanya saja, konon pada bulan-bulan ini para petani biasanya sering membakar lahan sehingga menimbulkan banyak asap. Bulan Maret hingga Mei, Laos memasuki musim panas, tidak kira-kira puncak panasnya bisa mencapai 40derajat Celcius. Selanjutnya pada bulan Mei hingga Oktober suhu naik sekitar 30 derajat. Periode ini, Laos sering dilanda hujan terutama bulan Juli dan Agustus, dan Sungai Mekong yang datang dari China di Utara sering banjir pada saat ini.Tapi bukan berarti tidak datang ke Laos kan?

Iklan

3 pemikiran pada “Laos, Negeri Tak Berbatas Laut

  1. Saya kangen Laos, utamanya kangen sama suasanya santainya. Pas di Luang Prabang bener-bener merasa liburan yang sesungguhnya. Ritme hidup lambat, tenang. Tapi kalo lama-lama di Laos bisa mati gaya juga kali ya. 🙂

    Suka

    • hahaha… benar sekali, sepertinya Sang Waktu istirahat di Luang Prabang ya, sampai kitanya mati gaya kalo kelamaan… thank you sudah berkunjung dan menyukai tulisan ini, Bama… Saya masih banyak berutang tulisan daripada travelnya

      Suka

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s