3 Destinasi Terbaik Yang Wajib Dikunjungi di Mandalay


Rasanya belum bisa dibilang sudah traveling ke Mandalay bila belum melihat proses pembuatan gold leaf, atau pergi ke Pagoda Mahamuni yang menjadi icon Mandalay dan U-Bein Bridge yang magis. Bagi saya, inilah destinasi yang saya kategorikan sebagai ‘save the best for last’ dalam kunjungan saya ke Mandalay.

Pembuatan Gold Leaf

Di Burma, hampir semua patung Buddha atau tokoh yang dipersamakan serta benda-benda suci lainnya biasanya dilekatkan dengan lembaran emas sehingga tampil berkilau. Penempelan ini bukan sekedar asal tempel melainkan merupakan rangkaian proses keimanan dan keyakinan terhadap Buddha. Dikatakan bila seseorang sakit, maka ia akan berdoa di depan Buddha dan dengan merekatkan lembaran emas ke tempat yang sakit, ia yakin dan percaya Buddha akan mengambil seluruh penyakitnya dan menyembuhkannya. Demikian pula saat gembira, sebagai rasa syukur ia akan melakukan hal yang sama. Tidak heran, dimana-mana patung Buddha umumnya berlapis emas.

Pembuatan Gold Leaf

Pembuatan Gold Leaf

Dan salah satu tempat pembuatan lembaran emas (gold leaf) yang paling terkenal adalah di Mandalay. Tidak hanya di Burma, nama Mandalay harum hingga ke negara-negara tetangga terutama yang berorientasi Buddha Theravada, seperti Thailand. Saat saya mengunjungi tempat pembuatan gold leaf, tampak foto Princess Saradhorn, salah satu putri Raja Thailand yang pernah berkunjung.

Karena agak trauma dengan scam di Thailand, terutama yang berhubungan dengan logam atau batu mulia, awalnya saya hendak skip obyek wisata ini. Beruntung Aung, pemandu hebat saya, sedikit memaksa untuk mampir sekedar melihat tanpa harus membeli. Ternyata rekomendasi Aung ini memang luar biasa dan meninggalkan kesan mendalam. Yang tadinya tidak berencana untuk membeli barang berlapis emas, akhirnya saya membeli dua cinderamata karena kekaguman akan proses yang katanya sudah ditemukan oleh perajin emas Mesir 5000 tahun lalu.

Dari seorang petugas perempuan yang fasih berbahasa Inggeris, diceritakan bahwa pada dasarnya, teknis pembuatan goldleaf di Mandalay tidak berubah secara signifikan sejak ditemukan caranya oleh perajin emas Mesir ribuan tahun lalu. Perajin emas melakukan pemukulan logam emas berulangkali, dalam hitungan berjam-jam hingga hari dan minggu, sehingga yang tadinya logam emas batangan bisa menjadi lembaran emas yang sangat tipis. Dasar kerjanya hanya itu. Saya menyaksikan secara langsung proses pemukulan berulang kali dengan alat-alat yang masih tradisional. Proses yang telah berlangsung ribuan tahun, dengan tetap menggunakan tenaga manusia untuk memukul dengan alat-alat yang masih kurang lebih sama dan tradisional, tentu saja saya harus mengangkat topi karena kagumnya.

Semua penduduk lokal mengetahui lokasi bengkel-bengkel produksi lembaran emas ini, yang banyak tersebar di Mandalay bagian selatan, tidak jauh dari Pagoda Mahamuni. Ada beberapa tempat yang memiliki tenaga khusus untuk menjelaskan proses yang berlangsung dalam bahasa Inggeris, termasuk membeli lembaran-lembarannya atau barang-barang yang telah ditempeli gold leaf. Harganya lumayan menipiskan dompet 😀

Pagoda terkenal Mahamuni

Pagoda Mahamuni

Pagoda Mahamuni

Destinasi terbaik di Mandalay berikutnya adalah Pagoda Mahamuni, yang merupakan kuil Buddha dan tempat ziarah yang paling utama di Mandalay. Kompleks bangunan reliji ini berlokasi di pinggir kota Mandalay sebelah barat daya, mengarah keluar kota. Mahamuni sendiri secara harfiah berarti Seorang Bijak yang Agung, konon ia berasal dari Arakan, sebuah wilayah Burma bagian barat.

Pagoda Mahamuni memang sangat cantik. Di ruangan suci, tempat Patung Buddha Mahamuni berada, memiliki penutup atap bertingkat tujuh. Langit-langit dihiasi mosaik. Ruang dalam didukung oleh 252 kolom berlapis emas dan dihiasi dengan ukiran lukisan dinding yang indah.

Rakyat Burma percaya bahwa di Pagoda Mahamuni inilah wajah Buddha dibuat paling mirip dengan aslinya. Kissahnya dimulai ketika Sang Buddha mengunjungi kota Dhanyawadi di Arakan pada tahun 554 SM. Raja Sanda Thuriya meminta izin agar dapat dibuatkan gambar diri Sang Buddha. Setelah berhasil dibentuk, kemudian Sang Buddha meniupkan nafas keatasnya sehingga berbentuk rupa yang sangat mirip dengannya, yang hingga kini dapat disaksikan di Pagoda Mahamuni, dan dipercaya bisa bertahan hingga 5000 tahun.

Selain itu, konon terjadi fenomena-fenomena ketika patung Buddha ditahbiskan di Pagoda ini yang hingga kini dipercaya oleh banyak orang, seperti air suci yang digunakan untuk membersihkan patung tidak akan tumpah dari penampungnya, air dari tangki yang digunakan untuk membersihkan kepala Buddha akan bertahan kualitasnya sepanjang tahun, ada enam sinar berwarna keluar ketika umat menyembah Sang Buddha di malam hari dan sinar itu akan memudar di hadapan umat yang tidak percaya, juga percaya bahwa ruangan Pagoda akan selalu bisa mengakomodasi sebanyak apapun umat yang datang, dan dedaunan di pohon akan tumbuh mengarah Sang Buddha, juga katanya burung tidak akan terbang di atas kuil dan patung penjaga pintu yang terbuat dari Batu bisa merasakan kehadiran pelaku kejahatan dan mencegah mereka memasuki kuil. Seru yaa… tetapi percaya atau tidak, terserah…

Di sebelah Utara Pagoda Mahamuni ini terdapat enam patung perunggu Khmer (tiga singa berkepala yang kemudian hari hiasannya diganti dengan gaya Burma, patung gajah berkepala tiga, dan patung dua prajurit dalam bentuk Dewa Siwa). Keenam patung ini, yang awalnya menghiasi kompleks candi Angkor Wat di Kamboja, dipercaya bisa menyembuhkan dengan cara menyentuhkan bagian tubuh patung untuk menyembuhkan diri dari berbagai penyakit.

Thado MinsawDi bagian tengah dari pelataran Pagoda Mahamuni terdapat patung , yaitu Putra Mahkota Raja Bodawpaya, yang mengembalikan patung Buddha Mahamuni ke Mandalay. Sejarah mengisahkan pada tahun 1784, Thado Minsaw yang berasal dari dinasti Konbaung, berhasil menaklukan Mrauk U dan seluruh peninggalan reliji kerajaan yang ditaklukan disita dan diletakkan di kuil. Karena besarnya, patung Buddha Mahamuni tetap diletakkan di Amarapura, di pinggiran ibukota tua Mandalay. Setelah kuil baru di Mandalay siap, maka patung Buddha Mahamuni tersebut dipotong menjadi beberapa bagian dan dipindahkan ke kuil baru untuk dibangun kembali.

Dalam kebakaran hebat tahun 1879 dan 1884, Patung Buddha Mahamuni bisa terselamatkan sementara bagian-bagian lain hangus terbakar. Emas yang terselamatkan dibuat menjadi jubah yang saat ini menghiasi patung.

Ruang Mahamuni

Ruang Mahamuni

Ruang Mahamuni

Di bagian tengah dari Pagoda Mahamuni, terdapat ruang suci khusus yang disebut dengan Ruang Mahamuni, yang di dalamnya terdapat Patung Buddha Mahamuni yang terkenal itu.

Patung Buddha Mahamuni ini dalam posisi duduk di atas takhta dengan sikap tangan dikenal sebagai Mudra Bhumisparsa dan mengenakan kostum kerajaan lengkap. Diatas kepalanya terdapat mahkota yang berhiaskan berlian, rubi dan safir. Patung yang tingginya hampir 4 meter ini terbuat dari perunggu dengan berat mencapai 6,5 ton.

Karena kepercayaan masyarakat Burma yang berulang kali mengaplikasikan gold leaf pada wajah Buddha Mahamuni, dan hanya boleh oleh laki-laki yang menempelkan, mengakibatkan perubahan kontur wajah Buddha secara perlahan. Hanya bagian tangan kanan dan mahkota yang terbebas penempelan gold leaf sehingga dapat dijadikan referensi mengenai penggambaran asli Mahamuni.

Ritual Harian Pembersihan Patung

Pagoda Mahamuni ini memiliki ritual yang terkenal yaitu pembersihan patung Buddha yang dilakukan setiap pagi hari mulai pukul 4 atau 4.30 dan berlangsung sekitar 1 jam. Biasanya turis menumpuk saat ritual berlangsung.

Pada pukul 4 pagi, ritual terkenal ini dimulai diawali dengan bunyi tabuhan. Seorang Biksu senior yang didampingi para pembantunya yang berpakaian khusus berwarna putih memasuki tempat suci. Kemudian Biksu senior mulai membersihkan wajah patung Sang Buddha dan mengeringkannya dengan handuk. Setelah itu, gigi patung Sang Buddha pun dibersihkan dengan sikat besar dan dikeringkan dengan handuk lain yang bersih. Dan dilanjutkan dengan membasuhkan minyak cendana secara merata ke seluruh wajah patung dengan menggunakan handuk lain dan pada akhirnya diberikan wewangian. Setelah upacara selesai, semua handuk yang telah digunakan diberikan kepada masyarakat untuk disimpan di altar di rumah mereka.

Dahulu, ketika masih berbentuk monarki, persembahan harian di Pagoda Mahamuni ini dilakukan secara formal. Makanan dan persembahan lainnya, dinaungi oleh payung putih kerajaan, dibawa dalam prosesi dari istana, dikawal oleh Menteri, laksana sebuah kehormatan kepada kepala negara.

Hal menarik lainnya yang dapat dilihat di Pagoda Mahamuni adalah, selama musim dingin patung Sang Buddha ditutupi oleh jubah.

Sayang sekali ketika saya kesana tidak bersamaan dengan Festival Mahamuni, karena festival Mahamuni Paya Pwe ini biasanya diselenggarakan setiap awal Februari yang bisa berlangsung beberapa hari. Biasanya pendeta Buddha melantunkan puji-pujian dalam kelompok 2 atau 3 orang, dan diramaikan pula dengan berbagai perayaan lain seperti pertunjukan tari, musik, yang melibatkan banyak orang.

Bengkel Kerja Pembuatan Batu Sang Buddha

Sepeninggal kunjungan ke Pagoda Mahamuni, dalam perjalanan saya menuju U Bein Bridge Amarapura, Aung membawa saya melalui lokasi terkenal sebagai tempat pembuatan Patung Buddha. Bengkel-bengkel kerja ini letaknya di pinggir jalan.Sayang sekali karena waktu yang terbatas, saya hanya sejenak di situ.

Terlihat sangat jelas, dari sebongkah besar batu marmer yang diangkut langsung dari tambang Sagin 50km utara Mandalay, para perajin dan pemahat batu tampak tekun membuat wajah-wajah menawan dari Sang Buddha. Para perajin tidak hanya memproduksi Sang Buddha, melainkan menerima juga pesanan pembuatan prasasti, patung manusia atau binatang. Menariknya, dalam pembuatan Sang Buddha, pemesan dapat meminta sesuai dengan pengaruh gaya yang melatarbelakanginya. Ada Buddha dengan gaya Burma, dan tidak jarang Buddha dengan gaya China atau Thailand yang lainnya.

U Bein Bridge

Destinasi terbaik berikutnya di daerah Mandalay adalah Jembatan U Bein. Pada awalnya saya tidak berharap terlalu banyak dari mengunjungi Jembatan ini. Apakah begitu hebatnya nilai sebuah Jembatan, begitu awal pemikiran saya… Apalagi untuk kesana harus ke Amarapura yang berada di luar kota Mandalay. Tetapi Aung, pemandu saya ini, sangat antusias mengantarkan saya ke sana, apalagi dari petugas hotel, juga sangat merekomendasikan saya untuk pergi ke Amarapura.

Benak saya masih terpesona dengan Pagoda Mahamuni yang cantik, pengerjaan gold leaf dan batu-batu besar Buddha yang dipahat kreatif, sehingga kadang saya tidak memperhatikan apa yang dibicarakan oleh Aung yang sesekali mengajak ngobrol ringan. Hingga suatu titik, ia menghentikan mobilnya. Di hadapan terbentang sebuah danau, dan Aung menunjukkan sebuah jembatan yang berada sangat jauh. Katanya, itu U Bein Bridge!

Pikiran saya langsung error, harapan melihat tempat yang bagus terjun bebas. Apa yang bisa dilihat dari obyek yang sangat jauh dan sudah sore pula? Padahal di buku-buku travel jembatan itu cukup menarik. Wah, langsung saya menyiapkan hati untuk menerima apapun yang terjadi. Saya hanya bertanya agak cemas, apakah kita bisa ke sana? Dia hanya mengangkat bahu… Saya semakin pasrah.

U Bein Bridge

U Bein Bridge

Kemudian Aung menjalankan mobilnya kembali dan akhirnya berhenti tepat di pinggir sebuah pintu kuil. Dia menunjukkan jalan untuk ke U Bein Bridge. Dan disinilah saya terpaku. Ternyata… Jembatan U Bein ini memang luar biasa. Saya menuruni ke sisi bawah jembatan dan duduk memesan minum di warung yang ada di pinggir jembatan untuk menikmati sore hari dengan pemandangan danau terhampar dan segala kegiatan rutinnya serta jembatan U Bein yang terkenal. Sesuatu yang sangat sederhana, tetapi memanjakan mata dengan sangat luar biasa.

Jembatan U Bein merupakan jembatan jati terpanjang dan tertua di dunia sepanjang 1.2 km yang dibangun oleh walikota U Bein, pada pertengahan abad 19 yang konon memanfaatkan kolom jati yang tidak diinginkan dari istana tua karena ibukota Kerajaan dipindahkan ke Amarapura. Jembatan U Bein ini melintasi Danau Taungthaman, dan tetap dimanfaatkan oleh penduduk setempat untuk berjalan dari ujung yang satu ke ujung yang lain hingga kini. Para biksu juga sering menggunakannya untuk berjalan dari kuil yang ada di Amarapura menuju Kuil yang ada di seberang danau. Sedangkan Danau Taungthaman tetap digunakan sebagai tempat untuk mencari ikan sebagai mata pencaharian bagi penduduk setempat, selain untuk berwisata perahu.

Bila ingin berkunjung ke U Bein Bridge, obyek ini  sangat indah terlihat dalam kabut pagi dan saat matahari tenggelam, saat-saat sinar matahari memainkan peran sangat banyak melatarbelakangi pengambilan foto. Bayangan orang yang melintas dengan berbagai keperluannya menambah kekuatan cerita yang ingin disampaikan dalam foto. Dengan demikian, sebaiknya bila hendak ke sana, aturlah perjalanan Anda agar dapat moment terbaik.

Sekarang ini sebagian kecil dari ribuan kayu jati telah digantikan oleh beton atau kayu pengganti, namun jembatan tetap utuh dan berfungsi sebagai bagian tak terpisahkan utama untuk kehidupan sehari-hari masyarakat setempat. Bagaimana pun U Bein Bridge memang sangat cantik.

Iklan

12 pemikiran pada “3 Destinasi Terbaik Yang Wajib Dikunjungi di Mandalay

  1. Kak…pengen banyak tanya soal myanmar…
    Soalnya desember pengen kesana…
    Ini trip pertamaku kak…

    Please contact me in email.
    Thanks kak

    Suka

please... do let me know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s