Wisata di Mandalay, Kota Yang Tidak Bisa Lepas dari Pagoda


Mandalay Hill Pagoda

Mandalay Hill Pagoda

Jalan-jalan di kota Mandalay, memang tidak dapat dipisahkan dari berkunjung ke Pagoda-Pagoda. Pagoda memang merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Burma. Tidak heran karena Buddha merupakan agama mayoritas di Burma, walaupun suara-suara azan terdengar dari hotel tempat saya menginap menandakan Islam juga diterima di Mandalay.  Dan setelah meninggalkan Atumashi Monastery (bisa di baca di bagian pertama), saya melanjutkan perjalanan ke tempat-tempat yang masih berhubungan dengan Pagoda di dalam kota Mandalay. Dalam waktu singkat, masih menggunakan mobil Datsun Sunny-nya, Aung mengantar saya ke depan gerbang sebuah Pagoda yang teduh karena kerimbunan pepohonan.

Pagoda Maha Lokamarazein Kuthodaw

World's Biggest Book

World’s Biggest Book

Di depan gerbang masuk terdapat patung Raja Mindon dan bilah batu yang mendeskripsikan Pagoda ini, Maha Lokamarazein Kuthodaw atau singkatnya dikenal sebagai Pagoda Kuthodaw. Terkenal juga dengan sebutan The World’s Biggest Book.

Tahun 1859, sebagai bentuk kebajikan dari kalangan Istana, Raja Mindon membangun Pagoda, yang menyerupai Pagoda Shwezigon di Bagan ini, lengkap dengan 730 Stupa Putih kecil (disebut Dhamma Cetis atau Kyauksa gu) yang didalamnya terdapat sebidang batu marmer dua muka beraksara Pali. 729 Marmer berisikan Tripitaka, ajaran inti dari Buddha dan 1 Marmer menjelaskan sejarah penulisan ke 729 Marmer tersebut, sehingga diharapkan dapat lestari hingga 5 millenia setelah Tahun Buddha. Inilah yang menyebabkan Pagoda Kuthodaw ini disebut dengan The World’s Biggest Book. Konon Raja Mindon ketika memimpin upacara keagamaan Buddha, ia meminta sekelompok biksu untuk melantunkan semua isi buku tersebut non-stop, dan baru bisa diselesaikan dalam waktu 6 bulan.

Teak Door of Kuthodaw

Teak Door of Kuthodaw

Saya memasuki gerbang masuk Utama yang ada di Selatan melalui sebuah pintu jati berukir bunga, sulur daun dan nats (spirit pelindung). Warna merah keemasan bercampur hiasan mosaik terasa mendominasi Pagoda ini, termasuk lorong dalam (Saungdan) yang terbuka dengan deretan pilar. Menariknya, dunia anak-anak lebih sering memanfaatkan stupa-stupa itu untuk bermain petak umpet sehingga sering terdengar derai gelak tawa diantara alunan doa. Di halaman, tampak pohon kayu tua yang diperkirakan berusia ratusan tahun meranggas tapi tampak menarik sebagai latar depan dari stupa-stupa putih yang menjadi inti Pagoda ini.

Seperti yang lainnya juga, Pagoda Kuthodaw memiliki sejarah yang memilukan. Ketika Burma diambilalih oleh tentara Inggeris pada akhir abad 19, seluruh isi pagoda dihancurkan dan rakyat Burma dilarang beribadah. Kemudian U Aung Ban, seorang peneliti Burma, nekad membicarakan hal ini ke Ratu Victoria, dan akhirnya Ratu berjanji menarik seluruh tentara Inggris dari rumah-rumah ibadah. Tetapi yang tersisa dari Pagoda ini, seperti juga yang lain, seluruh permata dan barang-barang berharga lainnya termasuk lantai marmer dicuri. Bahkan seluruh batu bata di gudang dipakai membangun jalan untuk tentara. Ribuan lonceng kuningan dari stupa hilang, Tinta emas di batu marmer dikikis, permata pada mata patung penjaga pintu Pagoda pun lenyap. Melihat kondisi ini, sebelum abad 19 berakhir, seluruh keluarga kerajaan, pejabat dan seluruh masyarakat Burma bergotong royong mengumpulkan dana untuk melakukan restorasi Pagoda.

Man Climbing Main Stupa Kuthodaw

Man Climbing Main Stupa Kuthodaw

Memasuki Pagoda ketika terik matahari sudah menyerap pelataran mengakibatkan ilmu lompat-lompat kangguru sambil lari harus dipraktekkan untuk menyelamatkan rasa terbakar pada permukaan kulit kaki. Hebatnya, saya termasuk yang beruntung berada di keteduhan bangunan ketika melihat pertunjukan yang tidak biasa, yaitu seorang laki-laki sedang membersihkan bagian atas Stupa Utama. Tanpa tali pengaman yang memadai terikat ke tubuhnya, ia tampak santai memanjat stupa emas itu, tanpa alas kaki (tidak terbayang panasnya!). Dalam waktu singkat, ia sudah hilang di Puncak stupa. Wow!

Sayang, saya tidak dapat memutari seluruh Pagoda karena pelataran dan halaman yang tidak dapat diinjak karena panas. Tetapi anak-anak yang bermain di balik stupa kecil memberi hiburan tersendiri.

The hot Pagoda's floor

The hot Pagoda’s floor

Pagoda Nanmyaebonthar Sannamdawya Sandamuni

Kemudian saya melanjutkan perjalanan ke Pagoda Sandamuni yang tidak jauh dari Pagoda Kuthodaw, yaitu di sebelah tenggara Mandalay Hill. Pagoda Sandamuni ini memang serupa dengan Pagoda Kuthodaw karena ada ribuan stupa mini putih berjejer rapi di halamannya. Cantik sekali.

Pagoda Sandamuni

Pagoda Sandamuni

Di depan Gerbang Utama disebutkan bahwa pada tahun 1229 saat bulan purnama Raja Mindon meratakan istana Nanmyaebonthar dan membangun pagoda 30 meter di atasnya. Sementara itu di dalamnya ada Patung Buddha dari besi bernama Sandamuni yang berarti bersinar dengan anggunnya seperti bulan purnama.

Konon, ada cerita di balik penghancuran istana ini. Raja Mindon melakukan suksesi kepada saudara tiri Raja Mindon, seorang negarawan dan pembaharu Burma, Putra Mahkota Kanaung, yang telah menolong Raja Mindon mengalahkan kekuatan Pagan Min pada pertengahan abad 19. Dua anaknya tidak berkenan dengan proses suksesi ini lalu mengkhianati Putra Mahkota dengan melakukan tindakan revolusi di istana Nanmyaebonthar terhadap ayahnya. Istana ini dihancurkan sehingga Raja Mindon pindah ke Istana Mandalay dan Raja membangun pagoda Sandamuni di atas bekas istananya.

Sementara itu, Buddha Besi Sandamuni yang melengkapi Pagoda ini sebenarnya dibuat oleh Raja Bodawpay dari dinasti Konbaung, dan dipindahkan Raja Mindon dari Amarapura ke Mandalay. Bersama Buddha Besi Sandamuni ini, terdapat pula 80 patung pendeta yang saat ini berlapis emas dan ditempatkan dalam stupa-stupa mini di sekitaran Pagoda.

Sandamuni Mini Stupa

Sandamuni Mini Stupa

Dan yang membuat Pagoda ini serupa dengan Pagoda Kuthodaw adalah 1774 bidang marmer dua muka yang berdiri dalam stupa mini putih. 1772 bidang marmer ini berisikan Tripitaka dan catatan tambahannya serta 1 Marmer dan 1 Lembar Besi berisikan catatan riwayat penulisannya. Penulisan bidang marmer ini merupakan upaya luar biasa seorang pendeta Buddha dari Mandalay Hill yang bernama U Khanti pada tahun 1913, yang juga mendisain lorong masuk dan altar serta rupa bidang marmer laksana buku.

Lagi-lagi karena panas matahari yang telah menyerap, saya tidak dapat menapaki pelataran yang penuh dengan stupa mini putih bercampur warna emas. Stupa-stupa itu sangat indah jauh terhampar rapi. Masih beruntung saya dapat mengelilingi Stupa Utama karena dibuatkan lorong beratap sehingga lantainya tidak panas.

Pagoda Kyauktawgyi

Ketika Aung mengantar saya ke depan sebuah Pagoda, kuatir kulit kaki terbakar kepanasan, saya bertanya padanya apakah Pagoda ini indah namun tidak bisa diinjak karena pelatarannya panas sehingga bisa menambah penyesalan saya. Dia tertawa menggelengkan kepala sambil mengatakan bahwa Pagoda ini luarbiasa dan sejuk. Saya percaya dia.

Kyauktawgyi Pagoda

Kyauktawgyi Pagoda

Kyauktawgyi sendiri berarti Patung Buddha Agung dari Marmer. Terkenal dengan nama Maha Thetkya Marazain, Pagoda ini dibangun oleh Raja Mindon pada tahun 1853 tepat di bagian selatan kaki Mandalay Hill. Pagodanya sendiri baru selesai tahun 1878 karena adanya masalah domestik dari kerajaan.

Patung Buddha ini luar biasa, karena terbuat dari satu blok batu marmer kehijauan yang sangat besar dari Sagin dan dipahat selama 3 tahun dalam posisi duduk dengan Bhumisparsha mudra, yaitu posisi tangan yang memanggil Bumi sebagai saksi dengan mata yang setengah tertutup. Konon untuk memindahkan satu blok batu marmer itu dari sungai Ayeyarwady ke lokasi Pagoda untuk dipahat memerlukan puluhan ribu orang selama 2 minggu, termasuk meningkatkan permukaan air sungai agar mempermudah pekerjaan pemindahan batu marmer tersebut.

Ketika memasuki Pagoda, saya kagum akan keindahan lorong dan pilar-pilarnya karena penuh dengan dekorasi terbuat dari cermin sehingga berkilauan. Di balik ruang dalam, patung Buddha setinggi 7 meter dengan berat 900 ton yang terbuat dari marmer itu sendiri sudah sangat mengagumkan. Patung Buddha tampak mengenakan mahkota dan pakaian kerajaan dengan mata yang setengah tertutup, sebuah kondisi Buddha yang jarang ditemui di bumi Burma.

Saya mengelilingi pelataran Ruang Dalam yang berkilauan, tampak banyak perempuan berthanaka mengobrol sambil meronce bunga. Lantunan puji-pujian dan doa terkalahkan oleh suara kaum perempuan bicara dan tertawa atau menawarkan dagangan. Selain itu, cukup banyak orang tampak tidur di lantai. Beberapa anjing berkeliaran di lantai halaman Pagoda. Indra hidung ini membaui aroma campuran antara wangi bunga, asap dupa dan bau kotoran yang tak sedap sehingga membuat saya dengan sedikit terpaksa mempercepat meninggalkan Pagoda indah penuh cermin ini.

Mandalay Hill  dan Pagoda Sutaung Pyai

Mandalay Chinthe

Mandalay Chinthe

Selepas dari Pagoda Kyauktawgyi, Aung mengatakan bahwa destinasi selanjutnya adalah Mandalay Hill.

Ada sepasang Chinthe (makhluk campuran singa dan anjing) berukuran besar sebagai penjaga gerbang selatan di kaki bukit Mandalay Hill. Aung menurunkan laju kecepatan mobil, menawarkan apakah saya mau menaiki ribuan anak tangga untuk bisa naik ke Puncak yang tentu saja langsung saya tolak. Pengemudi Datsun Sunny itu mengatakan sambil tertawa bahwa ia bercanda dengan tawarannya dan memang tidak merekomendasikan saya untuk naik tangga, seperti turis lainnya, namun ia bersedia mengantar saya ke puncak bukit melalui jalan yg meliuk-liuk. Mobil Sunnynya menunjukkan kekuatan mesin Jepangnya, santai saja naik ke ketinggian Mandalay Hill.

Mandalay Hill from Outside

Aung menghentikan mobilnya tepat di depan jalan masuk Pagoda yang ada di Mandalay Hill. Karena memasuki area Pagoda, saya menapaki tangga dan masuk ke gedung baru itu tanpa alas kaki. Tidak ada tanda-tanda penjualan tiket masuk tetapi ada tanda eskalator ke atas. Sungguh saya belum pernah naik eskalator tanpa alas kaki. Ada rasa ngilu ketika merasakan langsung kulit telapak kaki menginjak besi-besi tangga jalan itu mengingat banyaknya insiden kaki terjepit di ekskalator. Hiiii… Dan sesampainya diatas, tidak ada jalan lain, kecuali menuju pintu pelataran dan tidak ada escalator turun. Artinya turun harus melalui tangga. Asiklah… masih untung turun, bukan naik kan???

Mandalay Hill view

Setelah membayar tiket masuk dan kamera, saya melangkah ke pelataran. Ada Pagoda Su Taung Pyay di lantai ini. Pemandangan 360 derajat dari sini hanyalah dataran Mandalay dan kotanya, terutama benteng dan kota di bagian selatan, sungai Ayeyarwady di Selatan dan Timur serta dataran Mandalay di bagian utara. Sebagian besar tertutup kabut putih tipis akibat polusi. Lagi-lagi matahari masih panas sehingga saya masih harus menunggu atau mempraktekkan ilmu lompat-lompat kangguru bila hendak menyeberangi lantai keramik.

Su Taung Pyay Corner

Su Taung Pyay Corner

Sutaung Pyai yang terletak di puncak Mandalay Hill ini, merupakan Pagoda Pemberi Berkah yang konon dibangun oleh Raja Anawratha pada tahun 414 Tahun Myanmar dan direnovasi oleh penerusnya Raja-raja dari dinasti Konbaung. Seperti umumnya Pagoda, maka di bagian tengah terdapat Patung Buddha, juga dilengkapi oleh genta besar (lonceng), Stupa keemasan dan bentuk atap tradisional Burma yang terkenal. Selain memiliki pilar-pilar berlengkung dengan hiasan mosaik dan cermin, pagoda ini bernuansa hijau. Sangat cocok dengan lingkungan sekitarnya yang digambarkan dalam Mandalay Hill. Tetapi mosaik disini memang luar biasa indah.

Su Taung Pyay Pagoda

Su Taung Pyay Pagoda

Saya tidak berlama-lama di sini karena masih harus melanjutkan perjalanan. Benarlah, ketika meninggalkan Pagoda Sutaung Pyai ini, tidak ada jalan lain kecuali menapaki tangga turun satu persatu melewati kios-kios pedagang souvenir. Untungnya, mereka tidak mendesak untuk membeli sehingga saya lebih leluasa untuk memilih. Di bawah Aung sudah menunggu saya di mobilnya dan berakhir sudah perjalanan ke berbagai pagoda di dalam kota Mandalay. Hari itu saya masih melanjutkan perjalanan sedikit keluar kota.

Bersambung…

Iklan

6 pemikiran pada “Wisata di Mandalay, Kota Yang Tidak Bisa Lepas dari Pagoda

  1. mbak, ada alamat emailnya aung? atau bgmn bisa contact dia? saya berencana ke mandalay – bagan bulan mei mendatang. bismillah dengan panasnya deh
    – ninuk-

    Suka

    • Mba Ninuk,
      Saya bongkar arsip dulu ya mba, seingat saya, dulu pernah saya catet hp-nya. Dia sih ga punya email. Dia stand-by di depan penginapanku… Mudah-mudahan aku menemukan catatannya… hihihi, sorry lagi sibuk jadi telat balasnya deh… salam,

      Suka

  2. Halo selamat pagi,
    saya januari ini akan ke Myanmar dan mampir ke Mandalay juga, explore mandalay yg rekomen pake apa ya? becak, sepeda, jalan kaki, atau mobil?
    kira2 klo sewa taxi seharian berapa ya? terima kasih.

    Suka

    • Halo jugaa….
      Wah Mandalay… asik banget… kalau saya sih lebih suka (jika ada) naik ojek motor karena traveling solo. waktu itu saya sewa mobil karena tripnya keliling Mandalay dan sampe ke U-bein bridge yg lumayan jauh di Amarapura. Karena dengan orang lokal, jadi dia tau kemana-mananya, sehingga saya tinggal menikmati obyeknya saja. Harganya, maaf, lupa… mungkin sekitar 20-30$ hehehe bisa jadi lebih lho, atau kurang, soalnya asli seharian sampai malam. Semoga membantu, dan selamat jalan-jalan ke Myanmar… ditunggu ceritanya ya..

      Suka

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s