(Burma trip – Shwedagon #1)… Akhirnya saya sampai di Shwedagon, Pa…


Shwedagon at night

Asia

Tenggara,

Jangan ’ku ditanya

Mana yang lebih juara

Apakah Borobudur di Indonesia

Atau Angkor Wat yang ada di Kamboja

Karena Burma juga punya Shwedagon Phaya

Selepas mengunjungi  Sule Pagoda hari itu, ujung sore datang menyapa seakan mengingatkan bahwa ada yang harus saya lakukan. Benar, obyek Utama yang menjadi salah satu alasan saya mengunjungi Burma. Bergegas saya menyetop taxi dan memintanya ke arah utara, ke tempat yang saya impikan: Shwedagon Phaya yang bernama resmi Shwedagon Zedi Daw itu. Lalu lintas cukup padat sehingga taxi beberapa kali terjebak pada antrian. Sungguh mengingatkan pada kota saya sendiri.

Taxi memasuki kompleks Shwedagon, yang terletak di bukit Singuttara, dari arah Jalan U Htaung Bo yang merupakan gerbang masuk Selatan, salah satu diantara 4 gerbang masuk ke Shwedagon. Ke empat gerbang itu adalah Gerbang Barat dengan 166 anak tangga, ditutup selama puluhan tahun karena kebakaran besar yang terjadi di tahun 1931 namun sekarang sudah dapat diakses, Gerbang Utara yang dibangun tahun 1460 memiliki 128 anak tangga, Gerbang Timur memiliki 118 anak tangga juga pernah mengalami kerusakan dari ketika Inggeris menyerang di tahun 1852. Gerbang Timur ini memiliki akses terdekat ke penjual souvenir di kaki bukit dan tersedia pula kedai minum teh untuk beristirahat sejenak sambil menikmati pemandangan Danau Kandwgyi yang terhampar di depannya. Gerbang Selatan merupakan gerbang yang biasa digunakan pengunjung karena kemudahan akses dari pusat kota, dan juga karena memiliki jumlah anak tangga yang paling sedikit yaitu sebanyak 104. Pengemudi taxi menurunkan saya di pintu akses khusus turis yang memiliki lift langsung ke tingkat pelataran sehingga saya tidak perlu menaiki ratusan anak tangga. Akses khusus turis ini berada di antara gerbang Selatan dan Timur. Sebenarnya saya kehilangan momen meniti sejarah yang ada di tiap anak tangganya, tetapi mungkin itu pilihan yang lebih baik daripada pingsan di atas karena kehabisan nafas 🙂

Shwedagon sendiri dibuka untuk umum dari jam 04:00 hingga jam 22:00 malam kecuali hari-hari tertentu (sekitar Maret dan Juni) yang dibuka 24 jam. Walaupun dibuka jam 04:00 pagi, tiket masuk baru dijual pada jam 06:00 pagi. Kecuali Anda orang lokal atau turis yang tidak memiliki hati untuk membayar tiket masuk, Anda bisa melenggang masuk tanpa bayar pada jam 04:00 pagi.  Harga tiket masuk sebesar US$5 ditambah US$3 untuk kamera. Setelah membayar, saya harus membuka sepatu/sandal termasuk kaos kaki dan disimpan dalam tas plastik terus saya masukkan ke ransel, agar memudahkan akses untuk keluar Pagoda. Saya menyewa seorang guide, untuk mendapatkan informasi detil mengenai Pagoda yang sudah saya ketahui dari kecil ini (dan akhirnya saya tidak pernah menyesal membayar seorang guide, karena banyaknya informasi yang saya dapatkan, dan tentunya membantu mengambil foto saya sendiri!)

Dan karena Shwedagon merupakan tempat ibadah, seyogyanyalah kita mematuhi aturan berpakaian ketika mengunjungi tempat ini. Celana panjang, celana di bawah lutut, kain panjang atau rok di bawah lutut bisa diterima dengan dipasangkan baju berlengan. Dan sebagaimana tempat ibadah lain, sebaiknya kita menghormati dan tidak mengganggu mereka yang sedang beribadah dengan tidak berisik, tidak over-acting di depan mereka.

Atap Tradisional Burma

Waktu yang tepat untuk mengunjungi Shwedagon memang sore hari saat kita bisa menyaksikan keindahannya ketika masih ada matahari, kemudian kecantikan pantulan sinar matahari ketika tenggelam dan saat malam hari ketika Shwedagon berkilauan mendominasi langit. Selain itu, sore hari sudah tidak terlalu banyak antrian di lift. Perlu diingat saja sebaiknya Anda berpikir dua kali untuk mengunjungi Shwedagon saat terik matahari membakar karena lantai sangat panas untuk dipijak oleh kaki telanjang. Walaupun katanya ada karpet membentang, tentu tidak semua tempat diberi karpet.

Dan biasakan kemana-mana dengan kaki telanjang tanpa merasa risih. Saya hanya perlu waktu sesaat untuk membiasakan rasa aneh berjalan tanpa alas kaki, termasuk naik lift ke tingkat pelataran. Dan sejak pintu lift terbuka, saya susuri pelan-pelan koridor panjang untuk sampai ke pelataran Pagoda dan semakin pelan menjelang ujung koridor. Begitu lepas dari koridor, langkah pertama saat menatap kemilau Stupa Utama Shwedagon, saya diam sejenak menahan rasa dari dalam yang bergejolak keluar.

Pikiran saya terbang kembali ke Jakarta, kepada seseorang yang memperkenalkan mimpi untuk selalu berani menjelajah negeri orang, seseorang yang memberikan botol berisikan patung Buddha keemasan dengan pernik-pernik yang selalu bergoyang untuk menggembirakan hari-hari masa kecil saya, seseorang yang tak henti merekomendasi saya untuk mendatangi tempat ini, seseorang yang selalu saya cintai yang kini tak berdaya di kursi roda, ya, beliau adalah Ayah saya. Saya menggigit bibir, mata mengerjap menahan airmata diantara keharuan yang menyeruak keluar tanpa basa basi.  Saya sampai di Shwedagon, Pa! Kita sama-sama sudah melihat Shwedagon, Pa! Lalu saya diam menutup mata, satu detik, dua detik, tiga detik… dan sebuah senyum mengembang di bibir…  Walaupun terpisah ribuan kilometer, hubungan batin antara anak perempuan dan ayahnya terhubung langsung dalam sebuah kegembiraan bukan kesedihan. Inilah sebuah pencapaian bersama!

Saya tersadar pada situasi dan tersenyum melihat guide saya yang masih sabar menunggu kegilaan sejenak yang saya tampilkan. Dia membalas senyum penuh pengertian karena saya telah menceritakan sedikit latar belakangnya. Setelahnya saya larut dalam informasi yang diberikannya, mengangguk-angguk, terkagum-kagum dan terus mengikuti dia sampai waktunya habis.

Pohon Boddhi

Diawali dengan pohon Boddhi di sudut tenggara dengan patung Buddha berlapis emas dalam posisi duduk berada di bawahnya. Pohon Boddhi merupakan salah satu symbol Utama dalam agama Buddha karena Sang Buddha mendapatkan Pencerahan saat berada di bawah pohon Boddhi ini. Tentu saja, pohon Boddhi yang asli berada di India dan katanya, sejak periode Bagan, para biksu Burma sering meminta bibitnya untuk ditanam di Shwedagon.

Tidak jauh dari pohon Boddhi, karena ingin cepat sampai ke Pelataran saya tidak mampir ke  Ruangan Carousel. Katanya di dalamnya terdapat serupa karosel kecil  dalam cungkup besi yang berputar pelan.  Empat mangkuk besar dari perak menjadi tempat jatuhnya koin yang dilempar anak muda yang mencoba peruntungan. Mangkuk-mangkuk tadi menandai keberuntungan dan kesuksesan yang akan diterimanya. Berminat untuk mencoba? Datang saja…

Selanjutnya saya sampai pada pelataran Shwedagon yang bersih.  Ada 64 Stupa mengelilingi Stupa Utama yang terlihat menjulang 99 meter ke atas langit Yangon. Stupa Utama berlapis puluhan ribu lempengan emas (gold plate) dan berbentuk segi delapan pada dasarnya, dan diperhalus bentuknya menjadi serupa genta (lonceng) pada bagian tengah untuk selanjutnya mengerucut ke atas, berpayung hti tingkat 9 dan bertahtakan 5448 berlian, 2317 permata rubi, safir, dan lainnya, serta 1063 genta emas dan sebuah berlian 76 karat di ujung teratas. Benar-benar luar biasa! Bisa dikatakan semua yang terlihat diatas pelataran ini berlapiskan emas.

Tempat Pemujaan Mendapatkan Keturunan

Di salah satu tempat pemujaan yang mengelilingi Shwedagon, di sudut tenggaranya, guide saya berhenti untuk memberitahu bahwa inilah tempat yang sering dikunjungi oleh pasangan baru menikah yang ingin memiliki keturunan. Di tempat ini sebuah patung dengan tokoh bayi di depannya memang dapat langsung dikenali sebagai tempat pemujaan untuk kesuburan.

Saya mengikuti arus dari semua pengunjung mengelilingi Shwedagon yang searah jarum jam. Altar Utama yang terdekat adalah Altar Selatan, satu diantara  4 Altar Utama yang dibangun di tiap arah mata anginnya. Di Altar Selatan ini terdapat Konagamana, Sang Buddha ke Dua. Altar Selatan ini disangga oleh pilar-pilar dengan dekorasi besi lapis emas yang menurut cerita didonasikan oleh U Ba Yi dan Daw Than May beserta keluarganya. Dekorasi yang sangat indah ini dari atas ke bawah penuh bermotifkan bunga-bunga dan di bagian bawah terdapat makhluk pancarupa, yaitu makhluk ajaib yang memiliki tubuh dan gading serupa gajah, tanduk dari hewan langka, kaki dan kuku serupa kuda, memiliki sayap burung dan ekor serupa ikan mas. Imajinasikan saja bentuknya dan cocokkan apabila Anda ke Shwedagon.

Di salah satu pilar saya diberitahukan tentang sebuah kissah laksana Romeo and Juliet yang terpatri di sebuah pilar: tentang makhluk laki-laki dan perempuan, yang masing-masing hanya memiliki sebelah sayap dengan tujuan untuk saling dipersatukan sehingga menjadi lengkap seutuhnya berpasangan dengan sayap yang lengkap. Sungguh romantis dan bermakna sangat dalam.

Monumen Peringatan Protes Mahasiswa

Di sudut barat daya diperlihatkan sebuah tugu peringatan 11 Mahasiswa yang terlibat protes pada tanggal 5 December 1920 terhadap peraturan yang saat itu baru diterapkan. Monumen ini ditulis dalam 4 bahasa: Burma, Pali, Inggeris, Perancis. Peristiwa ini menandai sebuah gerakan protes bisa dimulai oleh mahasiswa yang akhirnya menyeluruh ke seluruh Negeri. Monumen ini cukup unik mengingat Shwedagon adalah sebuah tempat ibadah. Tetapi guide saya mengatakan bahwa selain merupakan tempat suci untuk beribadah dan bermeditasi, Shwedagon juga merupakan tempat yang aman dan bebas untuk memulai gerakan atau protes. Bagi saya, monumen ini luar biasa unik karena sifatnya yang kontroversial. Apalagi di Burma dengan sejarah demokrasi yang tidak mudah diterapkan.

Tak jauh dari Monumen, ada ruang Pemujaan dengan simbol Matahari dan Bulan yang banyak sekali didatangi oleh pengunjung. Rupanya ruang ini, menurut mereka yang percaya, tempat berdoa yang  memiliki keberkahan dan doa-doa yang dipanjatkan banyak yang dikabulkan.

Di sisi Barat terdapat Aula Rakhine, berwarna kemerahan dengan pilar keemasan. Walaupun cenderung kebaratan dengan pilar gaya Corinthian tetapi dekorasi atapnya sangat tradisional dari Burma serta penuh ukiran kayu yang dikerjakan oleh Saya Khin dari Mandalay. Aula ini dinamakan demikian karena dibangun oleh orang kaya dari Provinsi Rakhine yaitu U Ba Htaw dan U Doe Aung. Didalamnya terdapat cerita Vessantara Jataka.

Disebelah Rakhine Hall, terdapat ruang Aula Daw Pwint, yang berisikan Reclining Buddha berjubah keemasan, dan dindingnya dipenuhi cerita asli Burma. Kepala Sang Buddha mengarah ke Utara yang menandakan keberadaannya di nirwana.

Perjalanan mengelilingi Shwedagon ini belum ada separuhnya, tetapi sudah sangat banyak yang dilihat. Buat saya terlalu banyak yang menarik untuk dilihat dalam area Shwedagon yang cantik ini.

Cerita ini masih bersambung ke Burma trip – Shwedagon #2 – Melangkah diantara Yang Cantik

Iklan

9 pemikiran pada “(Burma trip – Shwedagon #1)… Akhirnya saya sampai di Shwedagon, Pa…

    • quoting “saya akui saya juga bangga tetapi tlg yg lbih tua ini di hargai…” hallllooooooooo…. kalau Anda bangga, ya bangga sajalah jangan pakai tetapi…. karena apresiasi berbentuk penghargaan itu diberikan bukan dimintakan…

      Suka

please... do let me know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s