Menelusuri Yangon, Kota yang Semakin Berdenyut


Dari ketinggian langit Burma, melalui jendela pesawat saya memperhatikan daratan di bawah dengan detak rasa yang gemuruh karena ada jalinan keterikatan emosi dengan Burma (kalau mau tahu kenapa, baca Menapak Tilas untuk Sebuah Cinta). Berbagai rasa  membuncah antara senang, haru, antusias, tidak sabar dan lain-lain. Langsung tergambar di benak letak geografis Burma yang secara kasar berbentuk seperti ikan pari itu dan Bangladesh, India, Cina, Laos, Thailand merupakan negara-negara yang berbatasan langsung dengan Burma yang membawa berkah keberagaman tradisi di negara yang belakangan terkenal karena pamor dari  Aung San Suu Kyi itu.

Saya masih melihat keluar pesawat melalui jendela dan ada rasa terpilin dalam hati melihat kegersangan tanah ketika pesawat makin mendekat bumi untuk mendarat. Sejauh mata memandang hanyalah bumi gersang kecoklatan diantara sungai besar yang membentang. Kemana tanah subur yang menghasilkan beras yang dahulu terkenal enak itu? Ataukah karena saya datang pada musim dan waktu yang salah sehingga tidak melihat kehijauan sawah ? Bisa jadi demikian… Tapi kegersangan itu tidak cukup untuk menghilangkan antusiasme mengunjungi Burma.

Pesawat mendarat dengan mulus di landasan yang mampu didarati pesawat berbadan besar, – walaupun saat itu tidak tampak satu pun pesawat yang berukuran bongsor (jumbo) -, dan bergerak perlahan menuju terminal kedatangan. Bandara Internasional Yangon, yang merupakan ekstensi dari yang gedung lama, cukup megah untuk ukuran negara yang terkena sanksi dari banyak negara besar itu sementara gedung lamanya saat ini dimanfaatkan untuk penerbangan domestik. Saya mengerjapkan mata yang terasa pedas, menggigit bibir, menahan rasa yang bergejolak keluar. Akhirnya… akhirnya saya bisa sampai di Burma!

Seperti penumpang lain, saya turun melalui garbarata yang tersedia, memandangi bilik-bilik keberangkatan yang ada di balik kaca. Nanti saya akan berada lagi di bilik itu setelah saya mengelilingi Burma. Tapi ah, itu nanti, hati saya berteriak, sekarang fokus untuk memulai perjalanan! Kaki terus melangkah dan rombongan yang baru keluar dari perut pesawat itu langsung diarahkan menuju konter imigrasi di lantai 1. Di bagian depan dari konter imigrasi terlihat bilik Visa On Arrival, tetapi saat itu tidak terlihat tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Saya teringat informasi dari milis, tentang betapa menggodanya bilik yang kosong namun jelas terlihat tulisan Visa On Arrival. Banyak orang beranggapan bahwa VOA diberlakukan di Yangon untuk semua pengunjung. Saya termasuk orang yang berburu kebenaran informasi mengenai VOA ini, sampai akhirnya saya berhenti berburu VOA dan memastikan kejelasan mengenai visa dengan mengurusnya sendiri secara langsung di kedutaan, karena saya memang berniat pergi ke Burma. (Cat. Sejak bulan Juni 2012 VOA berlaku untuk visa bisnis untuk pemegang paspor Indonesia dan banyak negara lainnya).

Berbekal stiker visa yang cantik tertempel di paspor, pemeriksaan imigrasi oleh dua petugas perempuan berjalan lancar. Proses pemeriksaan tidak cepat, tetapi lambatpun tidak. Keluar dari imigrasi, saya meluangkan waktu untuk sedikit meredam adrenalin yang meningkat karena telah berada di Burma, dengan berjalan perlahan sambil memperhatikan cap Burma di Paspor kemudian mata melihat sekeliling. Tahap pertama saya harus menukar uang US Dollar ke Kyat (mata uang lokal) untuk hidup di Burma.

Kaki melangkah lurus menuju tempat penukaran uang yang berada di ujung setelah keluar dari Imigrasi. Lonely Planet menghimbau untuk hati-hati dalam menukar uang. Check dulu kursnya, katanya. Saya lihat, kursnya tidak begitu bagus (US$1 = 820MMK), tetapi saat itu adalah yang terbaik. Seorang mahasiswa Singapore di sebelah saya, -seperti membaca pikiran-, mengatakan, penukaran uang ini cukup baik. Saya tersenyum terima kasih padanya dan cepat melakukan penukaran USD yang saya bawa. Kalau dihitung secara cepat nilai ekonomis berdasarkan otak Rupiah, kita tinggal menambahkan nilai nol di dalam mata uang lokal karena secara kasar kira-kira 1MMK=10-11 rupiah. Di money changer itu, uang yang diterima hanya USD dan Euro, bahkan Singapore Dollar-pun tidak diterima apalagi Rupiah! Semua uang yang akan ditukar, baik USD maupun Euro harus dalam keadaan terbaik, licin, tidak terlipat, keluaran terbaru, selain itu, silahkan simpan lagi karena tidak akan diterima. (Beda sekali dengan Kamboja, uang 1 dollar yang paling butut pun diterima disitu).

Proses penukaran uang cukup panjang dan lama karena masih dilakukan pencatatan manual. Jangan heran, kurs-nya pun ditulis manual. Burma memang masih merupakan negara yang cash basis, tidak ada ATM, jadi jangan harap bisa menarik dana dari jaringan internasional, termasuk menarik dana dari kartu kredit (cash advance). Serunya ketika mengetahui saya dari Indonesia, petugas money changer itu menjadi lebih bersahabat. Berkali-kali dia tersenyum lebar sambil mengatakan bahwa wajah saya sangat Burma! Hah??? Hahaha… Bisa jadi karena saya perempuan dan muka saya terlihat ‘sangat lokal’ mengingatkannya pada seseorang, atau karena belum banyak turis Indonesia ke Burma dan dia punya kenangan yang manis mengenai Indonesia, entahlah. Yang pasti dia memberitahukan harga taxi untuk orang lokal sampai ke kota Yangon yang tentunya lebih rendah dari harga resmi yang 10$. Lumayan…

Setir Kanan di Jalur Kanan

Dari Bandara ke pusat kota sekitar 15km, jalannya lebar walaupun kendaraan tidak terlalu banyak. Tidak seperti koloni Inggris lainnya, lalu lintas di Burma menggunakan jalur kanan, setelah Pemerintah memindahkan jalur lalu lintas ini dari kiri ke kanan pada tahun 1970. Lucunya karena kebanyakan kendaraan masih produk lama atau merupakan produk murah dari Jepang, maka setir-nya pun masih kanan. Jadi setir kanan jalan di jalur kanan! Akibatnya jika hendak menyusul kendaraan di depannya, pengemudi tidak dapat melihat laju kendaraan dari arah berlawananan. Cukup berbahaya bukan? Tetapi tentu saja hal ini tidak berlaku untuk kendaraan model terbaru  yang telah menggunakan setir kiri, yang mulai mengisi jalan-jalan di Yangon.

Jalan Raya di Yangon dari Bandara ke City Center

Mata ini jelalatan melihat situasi kota Yangon. Tidak bisa dipungkiri bahwa kota ini besar dan denyut kehidupannya terasakan dalam lalu lintas kendaraan dan lalu lalang orang-orangnya. Kota ini penuh potensi yang luar biasa, walaupun banyak sanksi jatuh untuknya. Sesaat kemudian, baru tersadarkan, bahwa tidak ada satupun motor terlihat di jalanan. Pengemudi taxi mengatakan dalam bahasa Inggeris yang cukup untuk dimengerti, bahwa motor dilarang berada di jalanan kota Yangon karena sudah terlalu banyak korban kecelakaan! Wah salute sekali ! Jakarta kalah dengan Yangon untuk hal ini.

Dimana-mana kaum pria masih banyak mengenakan pakaian tradisionalnya yaitu longjyi (seperti sarung) dan bukan celana panjang. Bahkan pengemudi taxi juga mengenakan longjyi. Kaum perempuan juga masih banyak yang mengenakan kain panjang atau  sarung yang dipadankan dengan model kebaya/baju kurung pendek. Tapi bukan berarti tidak ada yang mengenakan pakaian ala Barat karena saya melihat ada juga yang mengenakan jeans, kaos seperti kebanyakan penduduk kota modern lainnya.

Salah satu Pertokoan di Yangon

Yangon termasuk kota yang cukup modern, banyak juga pusat perbelanjaan berdiri di pinggir jalan besar menuju kota. Sampai di suatu persimpangan jalan, pengemudi taxi menunjukkan arah ke Shwedagon yang menjulang ditengah kota. Langsung saja perasaan ini didera kekaguman, Shwedagon yang senantiasa saya ucapkan sejak kecil, ada di depan mata saya sendiri. Wow… Saya sudah berjanji pada diri sendiri bahwa kunjungan ke Shwedagon harus merupakan cerita tersendiri. Saya mengeraskan hati tidak ingin terbawa rasa kecintaan pada Shwedagon dan membiarkan mata ini menjelajah bangunan-bangunan yang ada di sepanjang jalan, baik yang baru maupun lama, yang terpelihara maupun tidak. Tidak jauh berbeda dengan Jakarta jaman dulu mungkin sekitar tahun 1980-an. Dalam hal penerapan aturan, rasanya tidak berbeda sama sekali dengan Jakarta. Hahaha… sesekali saya melihat orang menyeberang, atau kendaraan berbelok, berhenti dan parkir seenaknya. Hmmm… serasa di kota sendiri…

Karena saya datang pada hari Sabtu, saya menyempatkan diri untuk menyelesaikan urusan tiket pesawat domestik ke Bagan dan Mandalay serta tiket kembali ke Yangon. Tiketnya sendiri sudah dibooking melalui internet tetapi pembayaran dan tiket fisiknya belum ada di tangan. Tentu saja jika saya tidak mengurusnya hari ini, jadwal bisa berantakan. Apalagi hari Sabtu bisnis umumnya buka setengah hari di Yangon. Untunglah, pengemudi taxi mengetahui dimana letak kantor maskapai penerbangan tempat saya mengambil tiket. Lagi-lagi saya harus mengeluarkan si cantik USD yang lain, karena selembar 20USD saya ditolak oleh perempuan cantik hanya karena sedikit lusuh. Sisa uang USD dari Kamboja itu ternyata memang tidak masuk kelompok yang bisa diterima di Burma. Hahaha… baiklah, uang sedikit lusuh itu kembali masuk dompet, untuk dipakai di Kamboja saja, pikirku….

Selesai urusan tiket, saya check-in di hotel yang saya pesan via Agoda. Tidak banyak hotel affordable untuk ukuran kantong saya yang tersedia di Yangon yang bisa dipesan melalui Agoda. Sebenarnya ada hostel atau guesthouse murah lainnya, tetapi seperti biasa, saya tidak mau bermasalah dengan urusan akomodasi yang bisa mengganggu trip secara keseluruhan kalau saya tidak dapat tidur nyaman. Berdasarkan rating nilai ulasan, hotel yang saya pesan ini cukup baik dan lokasinyapun hebat, di dekat Sule Pagoda. Salah satu Pagoda terkenal di Yangon selain Shwedagon.

Seorang perempuan setengah baya membantu saya untuk proses check-in yang cepat. Beliau sangat ramah dan senantiasa tersenyum dan juga efisien serta banyak menambahkan info tentang tempat-tempat wisata yang wajib dikunjungi di Yangon yang telah saya kumpulkan sebelum berangkat. Bahkan bersedia untuk melakukan booking hotel untuk saya di kota selanjutnya. Gratis! Terima kasih Tuhan,  masih banyak orang baik di sekitar kita.

Petugas hotel yang menjaga pintu pun juga sangat baik dan ramah. Walaupun sudah berusia lanjut, beliau tetap sigap membantu tamu-tamu hotel. Mengetahui saya dari Indonesia, beliau mengatakan bahwa beliau pernah cukup lama berdinas di Kedutaannya di Jakarta. Aha! Mendengar satu atau dua patah kata bahasa Indonesia yang diucapkannya dan makanan-makanan Indonesia yang sudah ‘Go International’ oleh orang asing, terasa sejuk didada. Semuanya seperti sebuah ungkapan selamat datang yang manis buat saya.

Tak menyia-nyiakan waktu, saya mulai menelusuri obyek-obyek wisata di sekitar hotel  seperti City Hall, City Court, Gereja, Monumen, lapangan dan lain-lain yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari hotel. Seperti di Jakarta, menyeberang di Yangon hanya perlu mata yang sigap dan tidak mungkin mengandalkan lampu lalu lintas belaka. Saya membaur bersama orang lokal untuk menyeberang jalan, satu langkah aman yang selalu saya terapkan.

Yangon City Hall

City Hall,  saat saya melihat dari kejauhan sepertinya baru saja didandani kembali dengan cat putih, padahal sebelumnya berwarna coklat muda. Arsitektur kolonialnya yang ditambah dengan ornamen khas Burma, terutama di atapnya yang berbentuk tradisional Burma, menjadikannya sangat menarik dipandang mata dari kejauhan. Gedung ini didisain oleh orang asli Burma U Tin dan pembangunannya berjalan selama sepuluh tahun, dari tahun 1926 hingga 1936. Karena merupakan gedung pusat administratif kota Yangon, maka tempat ini tidak luput dari banyak kegiatan politik termasuk pengeboman yang pernah terjadi di tahun 2000, 2008 dan 2009.

Gereja Baptis Immanuel

Tidak jauh dari gedung City Hall, di sudut jalan terdapat gereja yang menara kembarnya menjulang tinggi, Gereja Baptist Emmanuel. Gereja ini merupakan salah satu gereja yang tertua di Yangon, karena dibangun oleh kaum missionaris dari Amerika pada tahun 1885. Namun pada saat Perang Dunia ke II, bangunan bersejarah ini hancur karena terkena imbas perang dan dibangun kembali pada tahun 1952.

Kemudian di samping gereja terdapat sebuah gedung besar dengan arsitekturnya yang sangat cantik, Gedung Mahkamah Agung (Supreme High Court) yang saat ini tidak lagi digunakan sebagai Mahkamah Agung karena sudah dipindahkan ke ibukota pemerintahan  di Naypyidaw sejak tahun 2006. Gedung yang didisain oleh arsitek James Ransome yang bergaya Arsitektur Ratu Inggris, dibangun sejak tahun 1905 dan selesai dalam enam tahun berikutnya yaitu pada tahun 1911. Gedung cantik ini memiliki menara jam yang terletak di tengah serta warna batu bata merah sebagai warna eksterior yang sangat menarik perhatian.

Gedung Mahkamah Agung

Masih di sekitaran tempat yang sama, di bagian tengah terdapat taman untuk umum namanya Taman Maha Bandula. Di tengah-tengah taman ini terdapat Monumen Kemerdekaan (Independence Monument), berupa sebuah obelisk untuk memperingati kemerdekaan Burma dari koloni Inggris pada tahun 1948. Nama Maha Bandula diberikan kepada taman ini untuk menghormati seorang jendral pahlawan Burma yang telah berani menentang koloni Inggris dalam perang Burma-Inggris Pertama (1924 – 1926) dan menggantikan nama Inggris sebelumnya yaitu Lapangan Fitch. Sayang sekali, saat saya datang, taman ini sedang mengalami pemugaran sehingga tidak bisa menikmati taman indahnya.

Masjid Jami Bengali Sunni

Tak jauh dari Taman Maha Bandula, terdapat Masjid Jami Bengali Sunni, yang memiliki menara kembar. Tampak pria-pria Bengali yang memang Muslim, banyak berada di tempat tersebut. Dari pelataran pertokoan tempat Masjid ini berada, keberadaan Masjid ini hampir tidak dikenali karena sempitnya pintu masuk kecuali sudah melihat Menaranya dari kejauhan. Walaupun demikian, Masjid ini merupakan salah satu dari sekian banyak Masjid yang ada di Yangon. Ada rasa kagum terhadap masyarakat Yangon karena Masjid ini berada di depan Sule Pagoda. Keberadaan Sule Pagoda lebih dahulu daripada Masjid, membawa arti bahwa saat pendirian Masjid, Islam diterima dalam masyarakat yang mayoritas beragama Buddha ini.  Dan tentu saja Masjid ini juga menjadi saksi sejarah saat meletusnya Saffron Revolution.

Diujung sore itu tentu saja saya mengunjungi Sule Pagoda yang berada di dekat hotel. Di sini saya belajar untuk melakukan orientasi tempat ibadah di Burma. Pagoda di Burma memiliki banyak altar untuk berdoa, semakin suci Pagoda, semakin banyak altar yang tersedia untuk berdoa. Paling tidak, biasanya pagoda suci memiliki tempat berdoa per hari lahir. Sesuai dengan aturan, diharuskan melepas sepatu tanpa alas (bahkan kaos kaki pun harus dilepas) untuk masuk pelataran ibadah, termasuk ke Sule Pagoda.

Sule Pagoda, Yangon

Sule Pagoda, bentuknya bergaya Mon, yaitu memiliki stupa yang berbentuk segi delapan dan bukan lingkaran seperti umumnya stupa Buddha lainnya. Pagoda ini dipercaya telah berusia lebih dari 2500 tahun dan merupakan tempat penyimpanan relic helai rambut Sang Buddha. Pelan-pelan saya jalan berkeliling, lagi-lagi saya dianggap orang lokal dan diajak bicara bahasa Burma yang hanya bisa saya balas dengan senyum. Seorang pendeta Buddha mengajak saya bicara, kali ini dengan bahasa Inggeris, dan terlibat dalam diskusi yang membukakan mata tentang kehidupan keseharian di Burma. Salah satunya adalah sepanjang hidupnya, seorang laki-laki biasa menyediakan waktu untuk mendalami agama Buddha di vihara, meninggalkan kehidupan duniawi yang gemerlap, mengenakan jubah biksu, hidup selibat selama periode tersebut, makan dan minum karena pemberian orang dan lain-lain, pada dasarnya demi mematuhi semua ajaran Buddha. Periode meninggalkan keduniawian ini tidak hanya sekali, tetapi bisa lebih dari itu, dan bisa dimulai sejak kecil pada usia 9 tahun dan diulang lagi ketika remaja atau dewasa. Bagi saya, periode seperti ini serupa dengan pencucian jiwa yang memang sebaiknya dilakukan lebih sering.

Di balik keindahan dan kesucian Sule Pagoda, jika kita melihat sejarah kelam Burma, tempat ibadah ini juga merupakan saksi bisu pembrontakan 8888 yang meletus tanggal 8 Agustus 1988 dan juga Revolusi Jingga (Saffron Revolution) yang meletus tahun 2007, dimana ratusan ribu pendeta Buddha berkumpul untuk berdoa dan mengupayakan perbaikan dan peningkatan kehidupan rakyat dan dibalas dengan senjata mematikan oleh pemerintah militer yang saat itu berkuasa. Semoga kematian banyak jiwa yang tak pernah terungkap dengan sebenarnya, tidak menjadi sia-sia dengan semakin membaiknya kualitas hidup di Yangon.

Saya merasakan denyut perkembangan kota Yangon semakin cepat. Kota ini sangat berpotensi untuk berkembang mengejar kota-kota negara tetangganya. Ketika dunia sudah diguncangkan dengan keberadaan HP murah dengan jaringan 3G, semoga saja Yangon ikut bergabung bekerjasama dengan banyak  international providers agar bisa menerima jelajah internasional. Saya membaca berita, bahwa ATM pun sekarang mulai diperkenalkan di bank-bank dan semoga saja, jaringan internasionalnya juga diperkenalkan sehingga tidak repot lagi untuk melakukan transaksi finansial. Semoga.

Iklan

21 pemikiran pada “Menelusuri Yangon, Kota yang Semakin Berdenyut

  1. mbak, tanya dong selama di yangon dlu menginap dimana yah? rencannya april ini saya, suami dan beberapa teman2 akan mengunjungi yangon… need referensi penginapan… thanks

    Suka

    • Hi Mba Eliana,
      Di Yangon, saya menginap di May Shan Hotel, Sule Pagoda Rd. Pas di depan Sule Pagoda (downtown Yangon). Rasanya waktu itu yang paling murah yang bisa saya cari di Agoda sementara hotel lainnya sih banyak, tetapi mahal 🙂 Hotelnya sesuai budget deh, waktu itu sekitar 20$. Ibu2 yang jaga di balik counter sangat welcome dan membantu para tamu. Bahkan booking hotel saya di Bagan, melalui beliau free of charge. The old man yang jaga pintu pernah tinggal di kedutaan Myanmar di Jakarta. Hospitality-nya ok, saya pinjam hairdryer dan minta termos air panas dpt free of charge 🙂

      Suka

  2. Mbak, maaf mau tanya selama di Yangon transportasinya naik apa ya mb?
    Klo mb naik bus apakah jalur2 di bus tertera jelas?
    Dan klo naik taksi apakah biayanya mahal?
    Thanks mb

    Suka

    • Hi Dewi, Waktu itu saya naik taxi, karena hehehe limited time-travelnya. Sebenarnya ada bus, cuma kan saya buta aksara Burma dan kebanyakan semua rambu dan tempat-tempat tujuan tertulis dalam aksara Burma deh. Kalau punya waktu yang lebih longgar dan enjoy menyatu dengan penduduk lokal, ya dicoba saja. Penduduk Burma itu ramah-ramah dan berkenan menolong kok. Cuma mungkin ya pakai bahasa tubuh. 😀 Kawan saya dia jalan kaki tuh keliling downtown sampai ke stasiun kereta dan pelabuhan (mungkin karena kami menginapnya di downtown Yangon)
      Taxi ada 2 jenis, yang dari bandara (dipatok mahal karena biasanya dipakai oleh turis) dan taxi lokal. Kalau taxi pasti jauh lebih mahal dari bus, tetapi lebih cepat kan? Dan menurut saya, harga-harga untuk turis foreign dibedakan sekali dari orang lokal. 😥

      Suka

  3. okey mb rianti, jelas bgt jawabannya.. trus klo kemana2 naik taksi itu taksi di downtown yangon modelnya harus tawar-tawaran dulu atau pakai argometer ya mb? hehehe maaf mendetail mb..

    Suka

    • Dewi,
      Maaf terlambat niih ngebalasnya. Naik taxi di Yangon downtown pake argo kok waktu itu (kalo gak salah lhooo…) Juga waktu malem-malem dari Shwedagon mau pulang ke hotel. Tapi mending cek jarak dan atur itin supaya ga bolak-balik. Lama-lama naik taxi bisa bongkok juga kan? 😀

      Suka

  4. Cool.. thanks ya mbak… ada recomendasi tempat yang harus di kunjungi mbak??… karena kita cma bebrapa hari aja disana… rencana berangkat tanggal 11-14 April…. dgn waktu yang sempit… please advise tempat wajib yang harus di kunjungi mbak.. thanks

    Suka

    • Di Yangon yang wajib kunjung sih ya pastilah Shwedagon ya, kalo ga ke sana, pastilah belum dianggap ke Burma. Datengnya mending menjelang sore sampe malam. Jadi dapat kondisi siang dan cantiknya lampu-lampu pas malam. Perjalanan ke Shwedagon, aku cerita juga di blogku ini. Di Yangon sendiri, bisa ke Sule Pagoda, bisa lihat-lihat downtown (kalo suka arsitektur bangunan, kota ini asik banget dikunjungi). Di area ini dan walking distance, ada Pagoda, ada Gereja dan ada Mesjid! Ga jauh dari situ juga katanya juga ada synagoge… Seru sih kalo tertarik. Ada yang bilang harus coba naik kereta api-nya Burma (kalo suka melebur ke penduduk lokal ya), pelabuhannya juga menarik. Sungai yang membelah Yangon juga terkenal. Lalu, kalo masih ada waktu bisa ke Bago (banyak pagoda dan peninggalan kerajaan). Sebenarnya menarik kalo masih ada waktu ke Golden Rock, nginep disana, dingin udaranya kayak Puncak begitu. Cuma susah transportasi saja… Selamat jalan-jalan ke Burma ya… jangan lupa ceritanya!

      Suka

    • Bisa sih Bisa, mahal tapi! Jaman aku ke burma setaon lalu, masih belom ada atm internasional, aku bawa duit dollarnya dipas-pasin. dan aku nginep di guesthouse deket Sule pagoda, jadi kelilingnya jalan kaki. destinasi yangon yang terkenal ya deket down-townnya itu…

      Suka

  5. Setelah dulu pernah merasakan udara Kuala Lumpur, Bangkok, dan Singapura, saya penasaran sama negara-negara ASEAN lainnya, termasuk Myanmar ini 🙂

    Suka

  6. Blogny menarik nih mbak. Brrti Kyat lbih mahal ya dr Rupiah? Bner ga mbak? Soalny aq ad rncna mo visit Myanmar akhir tahun nnti cmn ya gtu msh bngung sm currency mn yg murah? Vietnam or Myanmar haha

    Disukai oleh 1 orang

    • Hahaha… ada lho yang lebih murah daripada vietnam ato myanmar… di Indonesia hahaha (walaupun kadang jauh lebih mahal yaaa! hehehe). Bagi saya, nilai kunjungan wisata itu tergantung kepuasan kita di destinasinya. Priceless dengan nilai uang. Bisa jadi ada yang nilainya mahal banget yang harus kita bayarkan untuk bisa merasakan makna kunjungan kita kesana dan ga ada di tempat lain. Jadi sebenarnya sih, kita mau ngapain ke negara itu? (kalau masih bingung… ya pegangan tiang bendera ato tanya pak polisi dulu hehehe…)

      Suka

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s