Rencana ke Myanmar: Menapak Tilas untuk Sebuah Cinta


Buddha in a Bottle

Buddha in a Bottle

Ketika teman-teman lain lebih memilih pergi ke Eropa, Australia, Amerika atau negara-negara modern lainnya, saya memutuskan untuk pergi ke Burma atau yang sekarang lebih dikenal dengan Myanmar, sebuah negara yang kelihatannya agak terlupakan. Dan lagi-lagi pandangan bertanya-tanya, seperti dulu saat hendak pergi melakukan solo-trip ke Kamboja. Untuk apa ke Myanmar? Apa menariknya? Mau ketemu dengan Aung San Suu Kyi? Dan tentu saja saya akan menanggapinya dengan sebuah pertanyaan lagi, why not?Β  Mengapa tidak?

Bagi saya pribadi, Burma atau Birma memiliki relasi kelekatan jiwa masa kecil. Burma merupakan salah satu negara yang sudah masuk dalam perbendaharaan kata negara yang saya miliki sejak masih kecil. Rasanya masih jelas dalam ingatan tentang hari-hari dimana mata kecil saya memandang takjub pajangan botol yang merupakan cinderamata yang dibawa Papa tercinta sepulang dinas dari Burma. Cinderamata itu berupa botol kaca yang berisikan patung Buddha kecil keemasan yang sedang duduk dan di sekitar dudukan Buddha terdapat hiasan-hiasan kecil yang bisa berayun-ayun jika botol digoyang sedikit. Karena takut pecah, saya memegangnya dengan sangat hati-hati dan hanya bisa memandang penuh rasa takjub dan terpesona melihat hiasan-hiasan itu bergoyang-goyang dan berpikir keras bercampur kagum bagaimana patung dengan ukiran indah itu bisa masuk ke dalam botol.

Kekaguman akan negeri Burma ditambah dengan cerita-cerita Papa ketika berdinas di sana. Sambil menunjukkan foto, Papa bercerita tentang patung-patung Buddha yang berukuran sangat besar, kilauan keemasan bangunan-bangunan indah, beras yang bermutu baik, perempuan dan laki-laki yang berlongyi (sarung), aksara dengan bentuk yang tidak biasa dan banyak hal lainnya. Tidak hanya yang hebat-hebat, Papa juga menyelipkan cerita tentang kehidupan sulit yang dialami oleh banyak penduduk di sana, yang tentu saja saat itu tidak terbayangkan oleh pikiran kecil saya. Yang lebih melekat kuat saat itu adalah keeksotisan negeri Burma itu sendiri yang penuh bangunan kuno megah keemasan. Tidak heran, karena sejak kecil saya telah mengenal nama Shwedagon, yang buat ukuran saya saat itu sangat susah diucapkan. Sepertinya, dengan cerita-cerita dari Papa, telah terukirkan dalam jiwa kecil saya, suatu saat nanti, saya akan menginjakkan kaki di negeri itu.

Setelah berangkat remaja, dari Mama tercinta terungkap, bahwa diantara kesibukan tugas Papa saat itu di Burma, Papa senantiasa berupaya membantu warga lokal yang kekurangan. Sebuah karakter yang konsisten dimiliki ayah saya hingga kini, dalam keadaan apapun, berupaya membantu orang lain sebaik-baiknya. Saya memahami bahwa Papa memiliki kebahagiaan tersendiri ketika berada di Burma karena memiliki kesempatan bisa membantu langsung orang-orang yang memerlukan pertolongan, walaupun berbulan-bulan hidup terpisah dengan istri dan anak-anaknya. Dan diperkaya dengan jiwa seorang penjelajah sejati, baik di Burma maupun di negeri-negeri lainnya, Papa selalu saja memiliki kebahagiaan di manapun beliau berada, dalam kondisi apapun. Sampai sekarang jika kami anak-anaknya bicara soal Burma, terasa sekali semangat Papa terpancar keluar sehingga saya pun tertular. Saya harus ke Burma.

Waktu berjalan dengan cepat, namun hingga kini tidak pernah ada cerita dari saya tentang perjalanan ke Burma. Yang ada malah ke negeri-negeri lainnya. Sampai suatu hari, ketika saya bercengkerama berdua dengan Papa, – yang kini duduk di kursi roda dan tidak lagi leluasa bergerak karena serangan stroke yang dideritanya -, sebuah cerita tentang Burma kembali terungkap keluar. Lagi-lagi semangat Papa memancar jelas, saya menyaksikan dan merasakan. Harusnya kali ini menjadi momentum yang tepat. Saya ingin membahagiakan Papa di masa tuanya. Kondisi Papa saat ini tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan kembali ke Burma, tetapi saya sendiri seharusnya memiliki kesempatan emas. Untuk beliau yang tercinta.

Saya berjanji akan menginjakkan kaki di tanah Burma yang subur, sehingga saya dapat berbagi cerita tentang apa yang dulu Papa saksikan di negeri pagoda keemasan itu. Saya kembali ke jiwa kanak-kanak yang terpesona dengan keindahan negeri Burma dan akan terbang bersama semangat Papa menghidupkan tentang Burma. Saya akan menyambungkan potongan-potongan cerita dan nostalgia yang pernah dialaminya. Sebuah perjalanan menapak tilas walaupun tidak sama persis. Saya menjadi anak yang akan berpacu dengan waktu, untuk sebuah Cinta, yang mudah-mudahan bisa menambah semangat dan kebahagiaan Papa tercinta.

Ini mungkin akan menjadi perjalanan emosional bagi saya pribadi. Saya harus melakukannya sendiri, solo-trip, tetapi tidak akan pernah sendirian, karena saya akan ditemani semangat dan spirit luar biasa dari Papa. Ini adalah sebuah perjalanan cinta, pengayaan batin antara anak perempuan dan ayahnya.

Dan sebagai tindak nyatanya, hari Jumat kemarin, saya ajukan aplikasi visa ke kedutaan Myanmar di Jalan Haji Agus Salim, Jakarta dan tiga hari kerja kemudian, tepat pada hari ini saya mendapat kabar bahwa Visa saya sudah keluar. Sungguh ini akan menjadi sebuah perjalanan yang spesial penuh makna. Untuk sebuah cinta. Burma, here I am…

*

Walaupun sesama anggota ASEAN, hingga tulisan ini dipublish, untuk masuk ke wilayah Myanmar masih memerlukan visa bagi pemegang paspor Indonesia. Mudah-mudahan dengan adanya perkembangan politik yang baik di Myanmar belakangan ini, semoga pembebasan visa untuk seluruh warga negara ASEAN bisa diberlakukan di Myanmar dalam waktu yang tidak lama lagi.

Proses aplikasi mudah, paspor yang masih berlaku 6 bulan dari sejak kedatangan, aplikasi lengkap, surat keterangan kerja, foto 4 X 6 sebanyak 2 lembar dengan latar belakang putih dan biaya visa untuk turis sebesar Rp. 200.000,- Jika semua dokumen lengkap dan tidak bermasalah, visa bisa keluar dalam 3 hari.

*

Iklan

7 pemikiran pada “Rencana ke Myanmar: Menapak Tilas untuk Sebuah Cinta

please... do let me know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s