Pesona Candi Banyunibo, Eksotik Berselimut Sepi


Candi Banyunibo

Apa rasanya mengunjungi sebuah Candi mungil yang berdiri menyendiri di tengah rimbunnya tebu dan persawahan serta perkebunan, tanpa banyak pengunjung lain? Ya, Candi yang mempesona dengan sebuah kesepian yang terasa menggigit, hanya ditemani semilir angin, penduduk dusunpun hanya lewat sekali-sekali.

Itulah suasana Candi Banyunibo, sebuah candi yang beratapkan stupa yang merupakan ciri khas Buddha dan dibangun sekitar abad ke-IX pada zaman kerajaan Mataran Kuno, yang berada tidak jauh dari kompleks Candi Ratu Boko. Terletak pada posisi GPS  S7.777930 – E110.493970, Altitude 183 meter, di dataran rendah di Desa Cepit, Kelurahan Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Lokasinya memang menyendiri, cenderung eksklusif, tersembunyi di daerah pertanian di balik rumpun tebu atau pohon-pohon pisang dengan latar belakang perbukitan Gunung Kidul di kejauhan arah selatan. Tapi pemandangan sepanjang perjalanan menuju area Candi memang sangat memanjakan mata. Jika tepat waktunya, sawah terbentang di kanan kiri dengan tanaman padi dan sayuran yang menghijau ditambah latar belakang bukit yang mempesona, apalagi datang kala mentari sore bersinar yang sudah tidak terlalu terik dan kering. Luar biasa.

Untuk mencapai Candi Banyunibo tidak sulit. Ikuti saja rambu petunjuk jalan menuju Kompleks Candi Ratu Boko dari arah persimpangan Prambanan ke selatan menuju Wonosari karena Candi Banyunibo berdekatan dengan Candi Ratu Boko. Ikuti terus petunjuk ke Candi Ratu Boko hingga memasuki jalan yang lebih kecil dan meninggalkan jalan raya yang menuju Wonosari tadi. Tidak lama kemudian, akan sampai pada sebuah simpang empat dengan petunjuk yang besar dan jelas, belok kiri menuju Candi Ratu Boko, belok kanan menuju Candi Ijo, dan apabila lurus menuju Candi Banyunibo. Dengan mengambil jalan yang lurus dari simpang empat tadi, setelah tidak jauh menyusuri jalan dengan kondisi aspal yang telah terkelupas dengan lubang disana sini, di arah tenggara sudah terlihat atap Candi Banyunibo. Ikuti jalan dan sebelum mencapai jembatan kecil, di sebelah kanan ada jalan tanah kecil untuk satu jalur kendaraan mobil. Belok ke kanan, dan setelah sekitar 50 meter sampailah di Candi Banyunibo.

Banyunibo sendiri  berasal dari kata bahasa Jawa “banyu tibo” yang bermakna air (“banyu”) dan jatuh atau menetes (“tibo”).Tidak jelas asal muasal kebenaran asal air menetes tersebut, kecuali mungkin sebelumnya daerah tersebut merupakan sumber air menetes mengingat daerah tersebut termasuk daerah gersang.

Sesampainya di gerbang kompleks candi, pintu pagar yang terbuka langsung mengarahkan pengunjung ke Candi tanpa melewati tempat pembelian tiket yang berada di bangunan sementara di sebelah kiri gerbang, dengan seorang penjaga di dalamnya. Di dekat gerbang itu, pengunjung tidak diberikan informasi mengenai pembelian tiket atau informasi apapun mengenai Candi Banyunibo, kecuali dengan kesadaran diri berjalan kearah tempat tiket. Mungkin juga karena biasanya tidak banyak wisatawan yang datang berkunjung, jika terlalu kasar dikatakan sangat sedikit atau bahkan tidak ada. Tidak heran, dengan tiket masuk dewasa sebesar Rp 2000,- dan anak-anak Rp 1000,-, juga tanpa ada promosi intensif, tanpa ada upaya penyebaran informasi, dukungan sarana dan prasarana, Candi Banyunibo akan tetap berselimut sepi. Padahal Candi Banyunibo ini masih mempesona dengan kokoh dan banyak relief-relief yang masih utuh.

Tampak Depan Candi Banyunibo

Menurut sejarahnya, Candi yang cantik ini ditemukan dalam keadaan runtuh dan mulai diteliti dan diekskavasi sekitar tahun 1940. Secara keseluruhan susunan bangunan Candi Banyunibo hingga saat ini belum dapat dipastikan, namun dari bagian-bagian yang sudah berhasil dibangun kembali dapat diketahui bahwa Candi Banyunibo terdiri atas satu candi induk yang menghadap ke Barat dan dikelilingi oleh enam Candi Perwara (candi pengiring) berbentuk stupa yang dibangun tiga berderet di sebelah selatan dan tiga berderet di sebelah timur dari Candi Induk. Sayang sekali keseluruhan Candi Perwara ini hampir rata dengan tanah, sedikit reruntuhannya yang meninggalkan fondasi masing-masing berukuran hampir sama, yaitu berdiameter sekitar 5 meter.

Ukuran Candi induk Banyunibo sendiri tidak terlalu besar, sekitar 15 x 14 meter dengan tinggi 14 meter dan memiliki bilik (ruangan) candi. Tidak seperti bilik Candi lainnya di Indonesia, di dalam bilik candi Banyunibo tidak terdapat arca satu pun alias kosong. Ada kemungkinan arca Buddha di dalamnya telah diselamatkan oleh pihak BP3 (Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala), sebuah unit pelaksana teknis dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia.

Dan seperti kebanyakan Candi di Jawa Tengah, Candi Banyunibo ini pun juga menghadap barat, dapat dilihat dari kaki Candi sisi sebelah Barat yang menyediakan tangga masuk dilanjutkan dengan pintu bilik di tubuh candi. Tubuh candi berukuran lebih sempit dari pada kakinya, sehingga di sekeliling tubuh terbentuk selasar yang bisa digunakan untuk mengelilingi Candi.

Menikmati Candi dari pelataran bawah, terlihat bahwa kaki candi memiliki ketinggian sekitar 2,5 meter diatas tanah dan dibangun di atas lantai batu. Di setiap sudut kaki candi dan bagian tengah sisi kaki candi, kecuali sebelah barat yang bertangga masuk, memiliki Jaladwara. Jaladwara adalah hiasan atau ornamen yang berfungsi sebagai saluran air tatkala hujan dan dipasang dilantai atas kaki candi.Selain itu terdapat hiasan berupa tumbuh-tumbuhan yang keluar dari pot bunga pada kaki candi dan pada bingkai atasnya terdapat hiasan antefix serta hiasan berupa makara pada sayap tangga.

Kemudian apabila melihat ke arah utara bangunan candi induk, terdapat tembok batu yang membujur arah barat timur sepanjang sekitar 65 meter yang diperkirakan sebagai pembatas kompleks Candi. Selain itu, salah satu yang menarik di Candi Banyunibo adalah pintu bilik yang dibuat lebih maju ke depan sehingga memiliki atap tersendiri. Di bagian atas dari pintu bilik terdapat hiasan Kala Makara.

Ruang Dalam Candi Banyunibo

Melewati pintu bilik candi, akan sampai pada bilik (ruang dalam) yang berukuran 10×10 meter dan memiliki delapan buah jendela. Di dalamnya juga terdapat relung sejumlah tiga buah berbentuk tapal kuda. Pada bingkai relung terdapat hiasan pohon bodhi sebagai latar belakang relung.

Di dinding terdapat relief seorang wanita yang dikelilingi sekumpulan anak-anak, sedangkan relief di sisi lainnya menggambarkan seorang laki-laki dalam posisi duduk. Kedua relief tersebut menggambarkan Hariti, Dewi Kesuburan dalam agama Buddha dan suaminya, Vaisaravana. Konon, Hariti yang merupakan seorang makhluk surgawi pembawa kemakmuran dan kesuburan itu, sebelum masuk surga berwujud sebagai raksasa. Ada pula yang mengatakan relief laki-laki yang berada di dinding sebenarnya adalah Dewa Kurawa, yaitu Dewa Kekayaan.

Apabila mengelilingi Candi melalui selasar maka dapat dilihat pada dinding bilik sisi utara, timur, dan selatan terdapat relung-relung yang menonjol dan berbingkai dengan hiasan bebentuk kala-makara untuk menempatkan arca.

Pada bagian atap candi Banyunibo tidak banyak ornamen. Hanya tampak di bagian bawah dari atap candi berbentuk daun bunga padma dan diatas hiasan bunga padma ini terdapat punak atap yang berbentuk stupa, yang menjadikan ciri khas agama Buddha.

Secara keseluruhan Candi Banyunibo termasuk bangunan suci Buddha yang cukup kaya akan ornament (hiasan). Walaupun ornament sering ditemukan sama antara bagian yang satu dengan yang lainnya, hiasan-hiasan yang terdapat pada Candi ini termasuk luar biasa bagusnya.

Relief Candi Banyunibo

Namun tahukah bahwa arah Candi mengandung nilai filosofis yang tinggi? Arah Candi yang biasanya menghadap ke Timur atau Barat sebenarnya sesuai penggambaran siklus hidup manusia dari lahir hingga kematiannya, seperti juga matahari yang terbit di Timur dan tenggelam di Barat, juga bila disesuaikan dengan kepercayaan saat itu, arah Barat ataupun Timur menunjukkan penghormatan kepada dewa-dewa yang berurusan dengan penciptaan dan kematian.

Hingga kini, Candi Banyunibo masih tetap dihormati sebagai bangunan suci oleh pemeluk Buddha dan kadang masih digunakan sebagai tempat untuk melakukan puja bakti lengkap dengan meditasi dan pradaksina. Salah satu bentuk sikap penghormatan terhadap bangunan suci, pemeluk agama Buddha masih melepas alas kaki untuk melakukan puja bakti saat memasuki Candi. Sebuah sikap yang seharusnya disadari oleh seluruh pengunjung untuk tetap menghormati bangunan Candi. Tidak seperti sikap dari sekelompok remaja lokal, yang mungkin tidak tahu atau tidak peduli, menggunakan situasi Candi yang sepi sebagai tempat pacaran.

Candi Banyunibo tetap berdiri anggun di antara hijaunya sawah dan rimbunnya pepohonan dengan sekali-sekali diiringi oleh desiran angin, menjadikan Candi Banyunibo memiliki nilai pesona tersendiri. Sebuah keanggunan bangunan sejarah berselimut sepi yang menyimpan kehebatan masa lalu. Magis dan eksotis rasanya.

Matahari belum tenggelam saat itu, udara pun terasa tidak panas. Melihat kenyataan Candi Banyunibo adalah Candi Buddha dan tak jauh dari situ terdapat kompleks Candi Hindu menyadarkan bahwa kehidupan harmonis telah tercipta sejak jaman dahulu di antara pemeluk agama dan kepercayaan yang berbeda. Mengingat kondisi yang sering terjadi belakangan ini di Indonesia, mau tidak mau terbentuk pemikiran apakah kehidupan harmonis seperti itu masih bisa dirasakan sekarang?

Iklan

8 pemikiran pada “Pesona Candi Banyunibo, Eksotik Berselimut Sepi

  1. Salam, saya ijin memakai Source gambar candi Banyunibo yang ada diblog anda untuk aplikasi android saya, app nya free kok bukan untuk komersil. Nanti saya cantumkan alamat sumber dari blog ini 🙂

    Suka

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s