Solo Traveling Berbahaya… Bisa Kecanduan :-)


Solo traveling, bukan dalam arti jalan-jalan ke Solo, Jawa Tengah (walaupun bisa saja ber-solo traveling ke Solo), namun disini berarti pergi berwisata sendirian. Bisa jarak dekat, jauh, domestic atau luar negeri, sebentar atau lama, bisa ngirit maupun spending more money. Lalu apa enaknya? Bukankah berwisata itu tujuannya untuk senang-senang dan hanya bisa dicapai kalau pergi bersama-sama? Ya, tentu saja kembali kepada orangnya dalam memaknai sebuah perjalanan.

Bagi saya, melakukan solo-traveling, lebih bermakna pada perjalanan rohani. Istilah kerennya, my me-time traveling. Hidup dalam dunia yang hiruk pikuk penuh kompetisi memerlukan periode tenang untuk benar-benar kembali terisi penuh. Dalam periode ini saya memaksimalkan power of receiving, sebuah kemampuan dasar yang perlu juga dilatih, sebaik power of giving.

Dalam kesendirian akan lebih banyak waktu untuk melakukan introspeksi diri, lebih banyak bicara ke dalam diri dalam suasana yang berbeda dari keseharian, lebih banyak mendengar dan melihat sehingga menerima banyak hal sebagai tenaga baru, mengenali dan mengikis karat-karat hati yang buruk. Tidak akan pernah kesepian karena, bukankah hati diri sendiri merupakan teman yang paling baik? Dia yang selalu menemani kemana pun kita pergi, dan self-talk pasti membawa kebaikan dalam jiwa.

Ketika melakukan solo-traveling ke Kuta, Bali, saya bertemu kesempatan melihat gigihnya perjuangan ibu-ibu sederhana penjual kalung dan gelang, menyaksikan strategi marketing mereka, berkesempatan mendamaikan hati mereka yang terbakar emosi karena persaingan usaha, berkesempatan menyaksikan mereka berdamai menyerap kebaikan dengan latar belakang matahari yang terbenam. (Baca kisahnya: Hadiah Cinta di Kuta Bali).

Di Kamboja, di Tonle Bati, sebuah tempat wisata pinggir danau yang indah saya menikmati duduk berceloteh riang diantara anak-anak sederhana yang tak beralas kaki dan remaja lokal yang miskin dengan bahasa yang campur aduk tentang kebesaran impian dan cita-cita polos mereka serta bisa menolong seorang nenek yang sakit hanya dengan bahasa tubuh. (Baca: Tonle Bati). Atau duduk berbicara dalam bahasa Melayu (bukan bahasa Inggeris!) dengan seorang Imam di masjid kecil di sebuah negara yang mayoritas adalah pemeluk Buddha. Semuanya merupakan pengalaman luar biasa yang memperkaya jiwa.

Hingga kini, yang paling berhasil membukakan mata hati sampai lumpuh dan luluh-lantak, yang pernah saya alami adalah ketika melakukan solo-traveling ke Tuol Sleng Genocide Museum dan Cheoung Ek Killing Field di Kamboja. Berteman nurani sendiri, saya mengalami pembelajaran luar biasa mengenai penghancuran kemanusiaan yang paling dasar di muka bumi demi sebuah ideologi, tentang hilangnya harapan. Sendiri berada di sana, pertama kali pula, sangat berbeda nuansa dan auranya dengan datang beramai-ramai. Menyusuri lorong-lorongnya, merasakan aura kengerian, kuduk meremang, masih bisa menginjak serpihan bekas pakaian para korban yang berserak di tanah tempat kita berjalan, merasakan kesedihan terpendam dan ketidakpercayaan dari pengunjung yang lain. Berada di depan TV, atau monitor, atau hanya  membaca keberadaannya, ternyata berbeda jauh dengan menyaksikan dan bersentuhan langsung dengan udaranya di sana.

Jika contoh dan pandangan di atas terlalu filosofis, tetapi yang pasti selama solo-traveling kita mendapatkan independensi yang luar biasa tingginya. Sejak dari persiapan, perjalanan hingga mengakhirinya. Apapun maknanya, selalu dapat ditarik dari tingginya nilai independensi ini. Kelihatannya mengarah ke hedonis, tetapi umumnya kaum solo-traveler ini tidak mau merepotkan dan direpotkan orang lain karena keunikan destinasi yang dipilih, lamanya dan cara mereka menikmati perjalanan. Selain itu, kita berada di tempat secara nyata apa yang hanya bisa dilihat dalam dunia virtual, merasakan dan terlibat di dalamnya.

Saya merasakan kemerdekaan dan tersenyum lebar ketika akhirnya bisa mendatangi dan membaui suasana Pura Ulun Danu di Bedugul, karena menemukan kedamaian dan keindahan yang sama persis dengan yang selama ini hanya menghiasi alam imajinasi, atau akhirnya target berada dalam 3 negara dalam sehari bisa tercapai (Baca kisahnya di On the Weekend: Breakfast in Bangkok, Lunch in Singapore and Dinner in Jakarta). Rasa merdeka juga terasakan ketika kejar-kejaran dengan matahari pagi saat memburu foto sun-rise, atau ketika memilih berada di pelataran tertingginya Wat Arun di Bangkok hingga menjelang matahari terbenam, melihat keindahan Grand Palace dan kota Bangkok yang berwarna keemasan terkena matahari sore, padahal banyak orang melihat Wat Arun di kala Subuh. Kepuasan tiada tara ketika bisa menjelajahi  Pasar Malam hingga tengah malam atau hanya sekedar mengukur jalan.  Dampak baiknya, saya merasa lebih bertenaga dalam bekerja sekembalinya dari perjalanan. Mungkin karena mau lebih cepat menyelesaikan pekerjaan agar bisa melakukan solo-traveling lagi

Kekuatiran akan kesendirian atau rasa kesepian selama perjalanan sebenarnya mudah diatasi. Karena sepanjang perjalanan kita akan bertemu dengan manusia, baik penduduk lokal maupun sesama traveler. Senyum merupakan cara efektif untuk membuka dialog pertama kali. Bahasa Inggeris atau bahasa tubuh pun, bila diawali dengan senyum dan sedikit pikiran terbuka, makin membuka peluang untuk saling berkomunikasi. Sesama traveler di tempat asing, umumnya saling mendukung. Komunikasi dengan penduduk lokal semakin terbuka apabila kita memiliki beberapa patah bahasa ibu dari penduduk lokal. Dengan demikian, masalah minta bantuan untuk koleksi foto narsis pun, menjadi masalah kecil.

Tips memulai untuk pertama kalinya adalah mengenali diri secara jujur. Apakah kita benar-benar mampu menikmatinya? Pernahkah Anda menikmati sendiri sesuatu yang Anda usahakan sendirian pula? Jika ya, kapan pertama kalinya? Lalu kapan momen-momen selanjutnya? Seperti saya, setelah diingat-ingat, ternyata bibit solo-traveling ini sudah tumbuh sejak awal SMP. Saat itu janjian nonton film dengan 2 orang teman dan dua-duanya tidak muncul hingga pintu bioskop akan ditutup. Pilihan hanya tinggal dua: Nonton atau pulang. Saya memilih nonton, karena tidak ikhlas, sudah membeli 3 tiket, tidak ikhlas kalau dihanguskan semua, tidak ikhlas kalau pulang tanpa bawa cerita. Lagi pula, tidak ada yang perlu ditakuti dengan nonton sendiri. Sebelah kiri dan kanan saya masih manusia (mudah-mudahan benar begitu haha…). Minimal, akhirnya saya tahu, walaupun sendirian, terasa juga nikmatnya menonton film.

Kemudian situasi keluarga yang berbeda kota tempat tinggal, mengharuskan saya belajar untuk bisa menikmati apapun yang saya miliki, dimana saja saya berada, walaupun sendirian atau interaksi dengan jumlah manusia yang terbatas. Dalam konteks solo-traveling, hingga saat itu yang paling hebat yang saya lakukan adalah pergi keliling kota, naik turun bus atau angkot, sendirian. Itupun kalau sedang hati tidak dalam kondisi terbaiknya.  Tidak pernah secara spesifik bertujuan untuk wisata dengan cara solo-traveling hingga saya bekerja. Namun bagaimanapun ternyata hal ini memupuk kebiasaan solo-traveling.

Setelah memiliki penghasilan sendiri, apalagi bekerja di bidang yang mengharuskan travel di seluruh Indonesia, membuat bibit menjelajah ala solo-traveling semakin berakar. Berbagai transportasi perjalanan dinas pernah dilakoni: pesawat, kereta api, bus, mobil travel, dari yang kondisinya terbaik hingga terburuk. Dalam mobil travel tanpa AC, dengan bau-bauan aneh bercampur keringat dengan penumpang yang dimasukkan tanpa henti seperti ikan sardines, pernah saya jalani ketika harus berlomba dengan waktu dan keterbatasan kendaraan. Dari interaksi itu saya memiliki banyak pembelajaran tentang kehidupan dan karenanya timbul rasa syukur saya memiliki pekerjaan yang baik.

Setiap moment selama perjalanan  memiliki kesan tersendiri yang bisa saya nikmati. Akomodasi terbaik, seperti ketika bertugas di Bali, di sebuah hotel yang kala itu masih baru di kawasan Kuta, saya menikmati makan malam di kamar, sendirian, dengan jendela balkon yang menghadap langsung ke panggung dengan tarian Bali di pelataran bawah. Buat saya pribadi yang mantan dan penikmat tari Bali, malam itu luar biasa asiknya walaupun sendirian. Pernah pula mengalami yang ‘aneh-aneh’ di kala menginap sendiri seperti ketukan iseng, telepon iseng yang diangkat tetapi tidak ada suara, yang tidak perlu mendapat tanggapan lebih lanjut.

Pengalaman-pengalaman keluar kota sendirian, walaupun dalam rangka dinas kantor, memperkuat akar solo-traveling saya. Kreativitas menjelajah muncul dalam perjalanan dinas yang rutin harus dijalani. Pekerjaan dapat diselesaikan di dua hari kerja terakhir dalam setiap minggu, dan saya mendapat persetujuan untuk pulang di hari Minggu dan bukan hari Jumat sorenya sehingga bisa menjelajah selama weekend. Tentu saja biaya akomodasi dan hidup selama weekend menjadi tanggungan pribadi. Saya bisa melakukan solo-traveling ke Bangkok ketika saya mendapat perjalanan dinas ke Batam.

Bagi Anda yang berkenan mencoba nikmatnya solo-traveling, berlatih saja dahulu. Ambil saja rute yang mudah terlebih dahulu lalu tingkatkan tantangannya di perjalanan berikutnya. Bisa di dalam kota dulu atau sekitar kota, misalnya bagi Anda yang tinggal di Jakarta, bisa naik kereta ke Bogor, keliling-keliling Kebun Raya Bogor lalu balik lagi ke Jakarta. Bisa juga ke Baduy Luar, naik kereta ke Rangkasbitung lalu lanjut perjalanan dengan ojek. Bisa Ke Bandung, naik travel, makan siang di sana dan pulang lagi setelah belanja di outlet. Jika berani, tambah menginap di hotel dan nikmati saja semua fasilitasnya. Tidak ada salahnya memulai sesuatu yang baru. Cuma mungkin ingat akan bahayanya ya… bisa kecanduan :D! Enjoy your solo-traveling…!

Iklan

4 pemikiran pada “Solo Traveling Berbahaya… Bisa Kecanduan :-)

  1. Hmm… hati-hati untuk single-lady traveler dari Indonesia, terutama kalau ke negara-negara tujuan tenaga kerja Indonesia. Siap-siap mendongkol karena perlakuan petugas di bandara Indonesia (selain CGK mungkin) yang kurang menyenangkan.

    Kalau untuk negara Tim-Teng, perlakuan “kurang menyenangkan” justru dari orang Indonesia yang sama-sama menunggu pesawat di bandara (–“)

    Sejauh pengalaman saya, yang paling welcome untuk single-lady traveler adalah Eropa 🙂 tapi karena pesawat biasanya transit di negara tujuan tenaga kerja, tetep harus siap mental waktu sampai bandara Indonesia…

    Suka

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s