Menjelajah waktu di Museum Bank Mandiri (Bag. 2)


Belum baca cerita bagian pertamanya? Baca dulu…

Masih di lantai basement yang sama, ada ruangan yang diubah atmosfirnya menjadi Batavia Tempo Doeloe, lengkap dengan Rel dan gambar Trem, Sepeda Onthel, kayu-kayu peninggalan benteng yang ditemukan saat renovasi gedung, lampu-lampu yang digunakan dan lain-lain. Juga diperlihatkan Replika Jam Utama yang dahulu berada di depan gedung ini. Saat ini Jam Utama sudah tidak ada, digantikan dengan bundaran untuk akses udara pada terowongan bawah tanah antara Stasiun Kota/Beos, Museum dan Halte TransJakarta. Bahkan sebagian dari rel trem asli diperlihatkan di bagian ini. Menurut cerita, rel trem ini tidak pernah dibongkar dan masih ada di tempat aslinya berada hingga kini, namun telah tertutup aspal jalan.

Tidak berhenti di situ, rasa atmosfir Tempo Doeloe masih bisa dinikmati dengan menggunakan lift yang interior lapisan kayunya masih tetap orisinal namun mesinnya telah dimodernisasi. Suasana dalam lift cukup mendukung atmosfir tempo doeloe.

Di lantai 2, yang langsung terlihat adalah keindahan Kaca Patri yang terpampang langsung di depan tangga Utama, tepat di hadapan Ruang Rapat Pimpinan. Motif stained glass ini luar biasa indahnya, dengan motif tentang keindahan Negeri Belanda dengan empat musimnya, yang masing-masing musim diwakili kisahnya dengan sepotong kaca patri.

Selain itu kisah mengenai VOC dan juga saat Cornelis de Hautman mendarat di Indonesia pada abad 16. Keindahan Indonesia juga dikisahkan dalam motif kaca patri yang ada di bagian tengah. Tentang keindahan perempuan Indonesia di pedesaan pada masa itu yang banyak tidak mengenakan busana atas, dan keindahan perempuan Indonesia dalam struktur kemasyarakatan, sebagai Ibu yang sedang menyusui anaknya, serta kekayaan alam melimpah dengan rempah-rempahnya yang luar biasa.

Di lantai ini, terdapat ruang-ruang rapat dengan hiasan kaca patri dan lampu gantung Kristal yang indah. Di dekat tangga terdapat ruang penerimaan tamu dan tempat meletakkan jas bagi para tamu. Tampaknya pada masa itu, hanya orang-orang tertentu yang dapat bertamu di lantai ini. Selain ruang rapat, terdapat banyak ruangan kerja untuk bagian-bagian di Bank, ditandai dengan adanya loket-loket agar bisa berhubungan tanpa harus masuk ke dalam ruangan. Di pinggir-pinggir ruangan dipamerkan pula mesin-mesin kuno yang dipergunakan dalam pelayanan Nasabah seperti Stempel Timbul, Penera Bilyet, mesin hitung, kalkulator kuno dan lain-lain. Dalam sebuah ruangan yang berisikan seragam keamanan sejak jaman dulu hingga sekarang, diperlihatkan pula mesin lift surat. Lift kecil ukuran buku ini menghubungkan antar lantai sehingga memudahkan perpindahan dokumen.

Di lantai ini juga terdapat ruang kerja direksi yang tidak berubah sejak awal berdiri. Ruang pertama adalah ruang tunggu khusus tamu direksi. Saat tamu menemui Direksi, mereka tidak menggunakan jalan yang sama dengan jalan akses para Direksi, melainkan harus memutar melalui jalan luar (balkon) untuk masuk kembali ke ruang Direksi, sementara antar Direksi dapat saling berhubungan. Ruangan Presiden Direktur jauh lebih luas daripada ruang Direksi lainnya. Dan setiap ruang Direksi, selalu terdapat 3 ruangan yaitu: Ruang Kerja, ruang Ganti Pakaian dan Kamar Mandi/Toilet, yang keseluruhannya masih tampak terjaga kebersihannya. Diantara ruang-ruang Utama itu, terdapat ruang khusus yang konon merupakan ruang Sekretaris Direksi. Ruang ini sangat besar untuk ukuran ruang kerja Sekretaris Direksi. Mungkin karena itulah terakhir ruang ini dialihkan menjadi ruang makan Direksi.

Meninggalkan ruang Direksi, terdapat ruang pamer uang-uang kertas Indonesia (Numismatik). Berbagai koleksi uang yang pernah digunakan di masyarakat sejak awal dan ada juga uang koleksi, diperlihatkan di ruang ini. Di sini terjadi banyak senyum dan tawa, karena semakin banyak seorang pengunjung mengenali uang yang pernah digunakan berarti usianya semakin uzur. Seakan terbang kembali ke tempo doeloe.

Konon uang 50.000 Rupiah seri Pak Harto sebagai Bapak Pembangunan, pada awalnya hanya direncanakan sebagai uang koleksi dan bukan untuk digunakan masyarakat umum. Namun karena terjadi krisis keuangan saat itu, akhirnya uang itu dikeluarkan juga ke masyarakat. Tidak ada perbedaan besar antara uang koleksi dan uang yang digunakan di masyarakat kecuali kekuatan ketebalan hologramnya. Apakah Anda memiliki uang koleksi tersebut?

Akhirnya penjelajahan melalui waktu mundur ke tempo doeloe itu disudahi dengan menyaksikan 2 film yang diputar di sebuah ruangan di lantai dasar, yang masing-masing berdurasi sekitar 15 menit. Film itu tentang Batavia, Bogor dan Bandung di awal abad 20, dalam film hitam putih dan berwarna (kelihatannya remaking/recolor), lengkap dengan musik dan penggunaan bahasa Belanda. Bagi yang mengenal sudut-sudut kota Jakarta, menonton film ini sangat membangkitkan kenangan. Bagaimana Batavia tempo doeloe, situasi kuli angkut di Tg. Priok, situasi di sekitar Harmoni, Menteng dengan villa elitenya, mobil yang hanya satu-dua, sepeda-sepeda yang melintas, pribumi pengangkut hasil bumi yang istilahnya dikenal sekarang sebagai ‘nyekerman’ karena memang nyeker (tidak menggunakan alas kaki), trem yang hilir mudik, bahkan ada moment yang memperlihatkan orang yang naik trem tidak pada tempatnya, tentang Pasar, tentang kejernihan kanal dan sungai Ciliwung, tentang istana-istana baik di Batavia dan Bogor dan juga keindahan alam Parisj Van Java (Bandung) dan sekitarnya. Sejak dulu warga Belanda sangat mengagumi keindahan alam Indonesia. Bagaimana dengan kita sendiri?

Iklan

Satu pemikiran pada “Menjelajah waktu di Museum Bank Mandiri (Bag. 2)

please... do let me know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s