Menjelajah waktu di Museum Bank Mandiri (Bag. 1)


Ternyata masih banyak tujuan wisata yang menarik dan murah meriah untuk mengisi liburan akhir pekan di seputaran Jakarta selain jalan-jalan ke Mal. Salah satunya adalah Museum Bank Mandiri yang terletak di kawasan kota tua Jakarta, tepatnya di jl. Lapangan Stasiun No 1, di seberang stasiun kereta api Kota (Beos).

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk sampai ke museum ini. Pengguna angkutan umum dengan moda KRL/Commuter Line bisa berhenti di stasiun kereta api Kota/Beos. Lalu keluar melalui pintu kiri, menyusuri trotoar dan turun ke terowongan bawah tanah. Ikuti petunjuk arah Museum Bank Mandiri. Bagi pengguna bus TransJakarta (Bus Way) caranya tidak jauh berbeda. Turun di tujuan akhir Kota (Beos), lalu turun ke terowongan bawah tanah dan ikuti arah ke Museum ini. Bagi pengguna kendaraan pribadi, kendaraan dapat diparkir di halaman Museum, walaupun sangat terbatas tempatnya. Seputaran museum ini dikenal sebagai tempat yang padat lalu lintasnya, sehingga selain diperlukan pemahaman arah dan orientasi jalan, perlu juga kesabaran menghadapi kemacetan lalu lintas.

Menurut sejarah, pada awalnya gedung ini merupakan gedung Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) atau Factorij Batavia, sebuah perusahaan dagang milik Belanda, yang kemudian berkembang menjadi perusahaan di bidang perbankan. Dibangun pada tahun 1929 dengan rancangan arsitek Belanda JJJ de Bruyn, A P Smits dan C van de Linde. Dibuka secara resmi pada tanggal 14 Januari 1933 oleh CJ Karel Van Aalst, Presiden NHM saat itu. Tahun 1960, NHM dinasionalisasi menjadi Bank Koperasi Tani & Nelayan (BKTN) urusan Ekspor Impor yang kemudian pada tahun 1968 berganti nama menjadi Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim). Tahun 1999 Bank Exim, BDN, BBD dan Bapindo dimerger menjadi Bank Mandiri.

Museum ini buka hari Selasa hingga Minggu, 09.00-16.00, Hari Senin/Libur Nasional tutup. Tiket masuk free untuk anak-anak sekolah dan Nasabah Bank Mandiri (bawa kartu Mandiri Anda). Bagi yang pertama kali berkunjung dan mencari tempat pembayaran tiket masuk di luar pintu, mungkin akan kecewa karena hanya menemukan ruang pos jaga Satpam dan ruang ATM Mandiri. Pengunjung harus menaiki sejumlah anak tangga, ‘memberi salam’ pada kedua patung penjaga berpakaian jaman kolonial dan melewati pintu masuk, untuk merasakan sensasi terbang menjelajah waktu kembali ke perbankan jaman kolonial dulu. Langsung terlihat ruangan sangat besar dengan plafon tinggi serta meja counter teller yang sangat panjang, hampir sepanjang lebar gedung dari kiri ke kanan, sekitar 122meter, dan ruang-ruang kerja terbuka di belakangnya. Setelah tersadar dari sambutan atmosfir perbankan kolonial, tepat di hadapan, di balik meja teller yang sengaja diberi terali besi, seorang penjaga menyapa ramah untuk melayani registrasi pengunjung dan pembayaran tiket masuk.

Sambil melakukan registrasi terasa meja teller buatan Belanda yang sangat kuat. Konon pada masanya ada puluhan hingga ratusan petugas yang melayani nasabah, terlihat dari adanya  garis pemisah, bekas pemasangan terali besi di setiap meja petugas.

Museum dengan arsitektur Art Deco Klasik ini memiliki lantai yang luar biasa cantik dan tetap terpelihara dengan sangat baik, berbentuk seperti mozaik, kotak-kotak bernuansa hitam keabuan, merah dan hijau yang membentuk motif tersendiri, yang semua diimpor langsung dari Belanda dan hingga kini masih orisinal. Bahkan di lantai atas, jika diperhatikan, di dinding dan plafon, tampak motif garis-garis keemasan yang bila diperhatikan lebih dekat merupakan mozaik keemasan, yang ukurannya jauh lebih kecil. Baik lantai dan hiasan di dinding dan plafon ini dikerjakan secara manual dengan tangan (hand-made).

Pada masa itu, layanan perbankan terbagi atas 3 counter yaitu untuk nasabah Belanda, nasabah perkebunan terutama gula/tebu dan nasabah beretnis China karena merupakan golongan mayoritas dalam perdagangan/ekonomi.

Di ujung sayap kiri, dipamerkan Buku Besar (Grootboek) yang mencatat laporan keuangan NHM. Persepsi bahwa Buku Besar adalah sebuah istilah dalam akuntansi saja tidak salah. Karena ternyata memang secara harafiah demikian. Bukunya memang sangat besar dilihat dari ukurannya. Yang pertama berukuran 38.5 X 49 X 17,3 dengan berat 20 kg berisi 1503 lembar berisi catatan tahun 1935-1936. Yang satu lagi, berada di ujung sayap kanan, berukuran 67 x 54 x 13 dengan berat 28kg. Kedua buku itu ditulis dengan tulisan tangan miring yang sangat rapi.

Selanjutnya menuju ruang Safe Deposit Box (SDB) yang berada di basement. (Sebenarnya lantai ini sejajar dengan tinggi jalan, bukan di bawah permukaan tanah). Seperti sekarang, kunci SDB dipegang oleh dua pihak, yaitu Nasabah dan Bank sehingga untuk membuka kotak diperlukan akses keduanya. Terdapat ruang-ruang privat untuk Nasabah saat menata barang-barang yang tersimpan dalam kotak tersebut. Terdapat berbagai ukuran box yang dapat disewa oleh Nasabah. Khusus Nasabah yang memiliki emas batangan dan perlu tempat penyimpanan, Bank menyediakan ruang khusus untuk melakukan penyimpanan emas batangan.

SDB tersimpan dalam ruangan yang aman (secured), yang dalam istilah perbankan disebut Khasanah atau Vault dalam bahasa Inggeris atau Kluis dalam bahasa Belanda. Yang unik adalah Pintu Khasanah-nya, memiliki kunci kombinasi 2 orang, artinya harus 2 orang yang berbeda dan masing-masing memegang kunci untuk menutup/membuka pintu. Selain itu, pintu ini bisa diset dengan setting waktu. Hebat sekali mengingat teknologi yang digunakan pada masa itu. Pintu ini asli dipesan dari Belanda dan beratnya sangat ringan (5 ton saja J )

Yang menarik adalah teknologi penggunaan kaca cermin miring pada dinding yang digunakan sebagai pemantau keamanan khasanah. Orang yang mengakses jalan di samping khasanah dapat langsung terlihat melalui cermin tersebut.

Dari ruang SDB, melalui sebuah pintu kombinasi lagi, sampai pada ruang Khasanah Uang (Main Vault). Disini tempat penyimpanan uang yang diterima oleh Kasir. Tersedia meja petugas jaga dengan telepon putar. Khasanah Uang ini sangat  luas dengan lemari-lemari uang menempel di sekeliling dinding. Di belakang meja petugas terdapat lemari arsip catatan keluar masuknya uang tunai. Seyogyanya khasanah, maka ruang-ruang ini tidak memiliki jendela sedikitpun, hanya ada lubang-lubang ventilasi yang pengaturan aliran udaranya diolah dari 3 menara gedung ini. Teknologi serupa umum digunakan di gedung-gedung buatan Belanda pada masa itu, seperti pada gedung Lawang Sewu di Semarang.

Di lantai yang sama dipamerkan pula peti-peti yang digunakan untuk mengangkut uang, dari yang paling kuno dengan logo NHM pada peti berbentuk seperti tandu, hingga yang terkini yang beroda. Di lantai yang sama, terkait fungsinya sebagai museum, di dinding terpampang Surat-Surat Berharga yang berlaku pada masa itu, seperti Saham, Obligasi dan lain-lain. Semua tertulis dalam bahasa Belanda atau China. Sayang penerangannya kurang sehingga tidak dapat terbaca dengan jelas.

Lalu apa yang terlihat pada ruangan lain di lantai basement itu? Baca lanjutannya

Iklan

Satu pemikiran pada “Menjelajah waktu di Museum Bank Mandiri (Bag. 1)

please... do let me know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s