Candi Ijo, Mungil Mempesona


Dalam Lebaran tahun lalu, datang kesempatan tidak terduga untuk mendatangi Candi Ijo, di selatan Prambanan, Yogyakarta. Pada awalnya tidak ada rencana untuk melihat Candi Ijo, namun karena masih ada waktu sebelum mengejar pesona matahari tenggelam di Candi Ratu Boko, maka kendaraan diarahkan ke Candi Ijo.

Untuk sampai ke Candi Ijo, ikuti saja jalan menuju Candi Ratu Boko, sekitar 5 kilometer berbelok ke kanan jika berangkat dari Jogja menuju Solo saat sampai di perempatan besar Prambanan atau mengarah ke Wonosari. Jangan berhenti pada parkir bawah Candi Ratu Boko, teruskan saja seakan hendak ke pelataran Candi Ratu Boko. Kemudian ikuti arah ke Candi Ijo di sebuah perempatan dimana arah Candi Boko dan Candi Ijo saling berlawanan (Candi Ratu Boko ke kiri, sedangkan Candi Ijo ke kanan). Yang mungkin perlu diperhatikan adalah cukup sempitnya jalan menuju Candi Ijo, berbukit kapur, memiliki tanjakan yang cukup terjal.

Candi Ijo secara resmi terletak di Bukit Ijo, Desa Sambirejo, Prambanan, Sleman Yogyakarta dengan koordinat GPS S7°47’2.2″ E110°30’44.2″. Ketika meninggalkan area Candi Ratu Boko, jalan mulai menanjak dan semakin tinggi. Walaupun namanya Bukit Hijau, namun dimana-mana terlihat pohon-pohon yang coklat kering. Mungkin karena desa itu termasuk daerah yang kurang subur ditambah pengaruh musim kemarau yang berkepanjangan. Walaupun demikian, semakin tinggi perjalanan, pemandangan indah semakin menjanjikan karena Candi Ijo berada di ketinggian sekitar 400-an meter di atas permukaan laut dengan pemandangan lepas ke sekitarnya.

Ada berbagai rasa ketika sampai di kompleks Candi Ijo yang mempesona. Sebenarnya Candi Ijo ini terdiri dari 11 teras berundak, tetapi yang telah utuh direstorasi secara lengkap adalah teras teratas, teras ke 11 yang paling sakral (suci), yang terdiri dari Candi Utama dan 3 buah Candi Perwara (pengiring) serta pagar keliling dan 8 buah lingga patok. Teras di bawahnya masih dalam proses restorasi dengan adanya tumpukan bebatuan membentuk bangunan Candi yang belum sempurna. Puzzle luar biasa untuk para arkelog. Teras-teras di bawahnya semakin tidak jelas terlihat, walaupun dari jalan raya kadang bisa terlihat batuan Candi.

Sebagai pengunjung, perlu menuliskan nama dan tujuan pada buku tamu di penjaga dan memberikan donasi seikhlasnya karena belum dikenakan retribusi untuk masuk. Kemudian melalui sebuah undakan atau tangga untuk mencapai teras teratas pelataran Candi Ijo. Candi Ijo ini seperti berlian, Mungil tetapi sungguh indah, sungguh mempesona, dengan pemandangan luar biasa mengitarinya.

Candi Ijo, yang diperkirakan dibangun pada abad 9, merupakan Candi Hindu, ditandai dengan berbagai symbol-simbol Hindu di dalamnya. Di setiap candi terdapat hiasan Kala Makara. Ada relief yang menggambarkan sosok perempuan dan laki-laki yang sedang melayang. Mungkin sebagai simbol upaya untuk mengusir roh jahat namun bisa juga menggambarkan Dewa Siwa dan Dewi Parwati yang ada dalam konsep Hindu tentang awal mula kehidupan. Selain itu terdapat perangkat Lingga-Yoni yang merupakan representasi sifat laki-laki dan perempuan (yang berarti kesuburan). Bahkan keberadaan tiga Candi perwara ini pun merupakan cermin adanya masyarakat yang memuja Hindu Trimurti: Brahma, Wisnu dan Siwa.

Candi Utama menghadap arah Barat, dengan hiasan Kala besar di atas pintu masuk. Di dalamnya terdapat perangkat Lingga – Yoni ukuran besar, sekitar 1 meter. Di ujung Yoni bagian bawah, terdapat hiasan kepala naga dan kura-kura yang konon menurut cerita terlibat dalam pembentukan semesta. Perangkat LIngga – Yoni yang berada di dalam Candi Utama ini merupakan salah satu perangkat Lingga Yoni yang terbesar di Indonesia. Selain itu, ada banyak arca/relief yang seharusnya mengisi ceruk-ceruk di Candi Utama yang bermahkotakan Kala, namun sepertinya untuk kepentingan kepurbakalaan, benda-benda tersebut untuk sementara masih disimpan di Museum.

Candi Perwara yang terletak paling utara memiliki homa yaitu tempat api pembakaran untuk melakukan pengorbanan. Di sisi belakang dinding candi terdapat lubang-lubang udara, seperti pada Stupa Borobudur, yang berguna sebagai ventilasi saat pembakaran. Biasanya Homa mencerminkan adanya pemujaan Hindu Brahma. Dalam Hindu, Brahma merupakan Dewa Pencipta yang juga dikenal sebagai Dewa Api. Di dalam Candi Perwara yang ditengah terdapat arca Nandi, sapi betina yang menjadi kendaraan Dewa Siwa, yang juga merupakan lambang kekayaan dan binatang yang tidak kenal rasa takut. Kemudian di Candi Perwara terakhir di ujung Selatan, terdapat Yoni tanpa Lingga. Pasangan Lingga-Yoni ini biasanya menunjukkan pemujaan terhadap Dewa Siwa.

Pemandangan indah dari Candi Ijo tidak diragukan lagi, karena dapat melihat alam sekitar secara lepas tanpa hambatan, dengan udara yang cukup sejuk di sore hari. Di kejauhan tampak Bandara Yogyakarta dengan pesawat-pesawat yang sedang mendarat atau lepas landas. Kebersihan lingkungan Candi yang tetap terjaga dengan baik, menjadikan tempat ini nyaman dikunjungi oleh wisatawan.

Tentu saja, apabila bangunan-bangunan candi di teras-teras di bawahnya telah selesai direstorasi seluruhnya ditambah lengkapnya informasi sejarah yang melatarbelakangi, tempat ini akan semakin luar biasa. Bayangan pelataran demi pelataran dengan bangunan Candi di setiap pelatarannya dan undakan-undakan cantik yang menghubungkan tiap pelataran di saat Matahari pagi atau sore yang menyinari, tentu saja merupakan pemandangan yang sungguh mempesona. Semoga batuan-batuan yang merupakan warisan sejarah dunia ini tidak dibiarkan terbengkalai begitu saja, lapuk dan hilang dimakan usia.

Iklan

Satu pemikiran pada “Candi Ijo, Mungil Mempesona

please... do let me know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s