Candi Warisan Dunia di Batujaya, Karawang


Candi Jiwa, Batujaya, Karawang

Walaupun 5 bulan lalu Harian Kompas telah memberitakan adanya Candi di daerah Batujaya, Karawang dan lokasinya cukup terjangkau dari Jakarta, namun karena 1001 alasan kesibukan professional, maka akhirnya minggu lalu bisa mengunjungi situs percandian Batujaya ini.

Sebelumnya hanya sempat googling untuk mencari petunjuk arah yang aman menuju Batujaya dengan kendaraan pribadi. Ternyata cukup mudah, ambil jalan tol Cikampek, keluar di Gate Karawang Barat/Rengasdengklok km46, lalu ikuti petunjuk arah Candi Jiwa, Batujaya. Tol Keluar Karawang Barat ini setelah Bekasi, Cibitung dan Cikarang. Sebenarnya rute ini memutar jauh, tetapi mudah diikuti, karena menurut peta Jawa keluaran Periplus, ada jalan yang lebih singkat melalui Cikarang atau bagi yang mengenal Bekasi dan sekitarnya, mungkin bisa melalui Babelan. Sebenarnya Kompleks candi ini berada di dua desa, Desa Segaran Kecamatan Batujaya dan Desa Telagajaya, Kecamatan Pakis Jaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Berangkat santai dari Jakarta sampai di gerbang tol Karawang Barat sekitar jam 10.00. Tidak jauh dari gerbang tol, di kiri jalan, ada petunjuk arah, kecil tapi cukup terlihat – Candi Jiwa, Batujaya 50km (CMIIW).  Selanjutnya, melewati beberapa bangunan besar dan megah, lalu menaiki jalan layang, hingga bertemu pertigaan cukup besar (mungkin jalan lama Pantura) dan berbelok ke kiri. Mengikuti lalu lintas beberapa saat, hingga ada petunjuk arah Candi Jiwa Batujaya di median jalan di sebuah perempatan kecil, yang menunjuk ke kanan. Sebenarnya rute menuju Candi Jiwa ini melalui Rengasdengklok. Jadi cari petunjuk ke kota Rengasdengklok.

Di perempatan tadi banyak Angkot berhenti, yang membuat lalu lintas tersendat. Perlu kesabaran sedikit. Mengikuti jalan, kita ketemu jalan yang bercabang, pilih yang kanan (lurus), tetap ikuti petunjuk arah Candi Batujaya. Sekitar jam 11.00  sampai di Rengasdengklok, ditandai dengan adanya pasar tradisional yang macet. Jalan terus, hingga bertemu dengan pertigaan cukup besar, berbelok ke kanan (sesuai petunjuk arah) dan melewati kios-kios yang banyak menjual petasan. Mungkin untuk keperluan perayaan di Vihara yang terletak tidak jauh dari situ. Di perempatan, sebelum jembatan, berbelok ke kiri menyusuri sungai kecil sepanjang 15 – 20 km untuk sampai ke Batujaya. Udara panas tengah hari, membuat banyak anak terjun dan berenang di sungai itu. Kelihatannya asik sekali.

Di Batujaya, kita harus berbelok ke kanan dan menyeberang sungai kecil itu. Jalan semakin sempit. Memasuki jalan desa sekitar 200 meter dari pinggir jalan/jembatan, kita akan sampai tepat di gang menuju Candi. Sebenarnya ada tempat parkir cukup luas di sebuah bangunan baru yang belakangan diketahui adalah museum Candi Batujaya, tetapi sepertinya kendaraan sedan akan kandas saat melintasi jalan masuknya.

Berjalan 100meter ke dalam gang ke arah Candi, kita akan sampai pada tempat pendaftaran. Tidak ada harga tiket masuk yang terpampang, tidak ada orang yang menyambut, kecuali hamparan panen padi yang sedang dijemur di jalan setapak. Sambil menunggu kehadiran seseorang untuk melapor masuk ke situs purbakala, saya membongkar ransel untuk mencari topi karena terik matahari yang luar biasa. Untunglah, beberapa saat kemudian seorang perempuan muda dengan senyum terkembang, bernama Erha, menemui kami dan bersedia menjadi pemandu.

Erha, adalah cucu perempuan pak Kaisim, yang saat itu sedang sholat Jumat. Biasanya Pak Kaisim yang memandu siapapun yang mau mengenal lebih jauh mengenai kompleks Candi Batujaya. Kami beruntung bisa bicara dengan pak Kaisim sepulangnya dari kompleks Candi dan mendengarkan banyak cerita dari seorang penjaga situs purbakala, yang amat membanggakan.

Candi Blandongan, Batujaya, Karawang

Menurut pak Kaisim, kompleks Candi Batujaya, mulai ditemukan keberadaannya sekitar tahun 1980-an, ketika dilakukan penelitian di Cibuaya, sekitar 1 jam berkendaraan dari Batujaya. (Ada banyak patung purbakala yang ditemukan di Cibuaya itu, salah satunya: Patung Wisnu Cibuaya setinggi 4 meter tersimpan di Museum Nasional Jakarta). Ketika dilakukan penelitian di Cibuaya, penduduk lokal yang kebetulan mengetahui situasi di Batujaya, menyampaikan kepada tim peneliti bahwa di Batujaya terdapat lebih banyak gundukan-gundukan tanah (dalam dialek lokal: unur) daripada di Cibuaya. Dan setelah dilakukan penelitian lebih dalam, memang ditemukan unsur kepurbakalaan di Batujaya. Tahun 1992 Pemerintah Indonesia menyediakan dana untuk meneliti lebih dalam terhadap kompleks Candi Batujaya ini. Hingga kini sedikitnya dalam area 5 km persegi terdapat 24 candi yang belum seluruhnya dipugar. Hanya ada 2 Candi utama yang dapat dinikmati wisatawan, yaitu Candi Jiwa dan Candi Blandongan. Kompleks candi kuno ini merupakan peninggalan Kerajaan Taruma pada abad 5 Masehi. Bahkan dari penelitian Perancis, ditengarai candi-candi ini dimulai dari abad 2 Masehi. Jika ini benar, maka kompleks Candi Batujaya ini merupakan yang tertua di Jawa bahkan di Indonesia.

Jika menurut sejarah, awalnya kompleks Candi ini dibangun di dekat pantai atau sungai, namun saat ini lokasi Candi Jiwa dan Candi Blandongan berada di tengah-tengah persawahan rakyat. Bisa jadi karena adanya pergerakan geologis yang aktif. Kompleks Candi ini memiliki pemandangan mengagumkan dengan sawah yang tampak menguning, siap panen, apalagi katanya, jika sore hari menjelang matahari terbenam, langit tampak keemasan bercampur biru. Sangat indah. Namun saat ini, yang tampak hanyalah sekumpulan orang yang tengah memanen di petakan sawah tak jauh dari Candi. Itupun luar biasa bagusnya.

Candi Jiwa, merupakan Candi Buddha yang dibangun dari batu bata merah yang masih asli dua lapisan terbawah. Candi ini berbentuk persegi 19 X 19 meter, dengan ketinggian sekitar 1 – 1.5 meter, tanpa relief atau ukiran. Pada bagian atas, terdapat struktur seperti bunga teratai (padma) dan tapak stupa. Kaki Candi berada sekitar kedalaman 1 meter di bawah permukaan tanah. Arsitekturnya simetris. Minimalis, mungkin begitu pendapat orang belakangan ini.

Jalan Setapak ke Candi Jiwa dan Blandongan

Setidaknya sudah 2 tahun terakhir berturut-turut Candi Jiwa ini menjadi tempat ibadah untuk umat Buddha saat Waisak. Ribuan umat Buddha dari Jakarta, Banten dan Jawa Barat memenuhi tempat ini untuk upacara puja bakti Waisak.

Dari Candi Jiwa menuju Candi Blandongan hanya bisa diakses melalui jalan setapak. Angin segar pasti akan terasa apabila datang pada pagi hari sebelum jam 10 atau sesudah jam 3 sore, mengingat terik matahari yang menyengat pada siang hari. Saya tidak tahu pasti siapa yang membuat jalan setapak ini, pemerintah atau swadaya umat Buddha bersama masyarakat, namun jalan setapak ini sangat membantu untuk mengakses Candi. Untuk mengakses tempat lain, belum ada jalan setapak kecuali menyusuri pematang sawah.

Berbeda dengan Candi Jiwa yang telah dipagar besi terbuka, sekeliling Candi Blandongan masih ditutup oleh lembaran seng sebagai pagar pengaman dengan gembok yang terkunci, untuk alasan keamanan. Saya tanya kepada pemandu apakah memang ada penjarahan barang purbakala sehingga harus dikunci sedemikian rupa. Perempuan pemandu itu tertawa sambil menjawab, bahwa area itu perlu dikunci agar tidak menjadi lokasi orang pacaran.

Candi Blandongan, selain lebih besar dan lebih megah karena berukuran 25 X 25 meter, menurut saya lebih cantik daripada Candi Jiwa. Candi ini dapat didaki hingga ke puncak dan memiliki lebih banyak sentuhan seni. Ada lebih banyak variasi peletakan batu bata di Candi Blandongan sehingga tidak hanya membentuk format sisi datar. Ada beberapa batu di dekat kaki Candi sebelah timur dan barat yang memiliki guratan tertentu, yang saat ini belum dapat diartikan maknanya. Setiap sisinya, terdapat tangga simetris untuk naik ke area puncak.

Candi-candi perwara di sekitar Candi Blandongan belum direkonstruksi, hanya teridentifikasi dari tanah bekas galian candi. Reruntuhan batu bata asli juga masih teronggok di sekitar Candi, terbengkalai begitu saja.

Yang cukup menarik adalah adanya cerita-cerita mistis seputaran Candi. Cerita-cerita ini biasanya memang menghias situs-situs kuno sebagai bagian dari budaya lokal. Salah satunya yang sempat disampaikan adalah konon ada naga yang bersinar terang melilitkan tubuhnya disekeliling Candi Jiwa dengan didampingi oleh seorang pendeta agama berjubah keemasan yang berdiri di pojok Candi. Selain itu, konon terdengar sebuah kereta kencana lengkap yang berhenti di pinggir Candi dengan keagungan seorang ratu di dalamnya.

Pemandangan Sawah sekitar Candi Batujaya

Masih banyak gundukan tanah yang di dalamnya terdapat batuan candi yang masih perlu tindakan dan perhatian lebih lanjut. Seperti sebuah batu andesit datar yang menghujam ke dalam tanah, oleh karenanya disebut dengan Unur Lempeng (Unur=Gundukan Tanah dan Lempeng=Datar). Konon, sudah puluhan orang bersama-sama mencoba mengangkat batu tersebut, namun batu itu tidak bergerak sedikitpun.  Selangkah dari situ merupakan tempat ditemukannya kerangka manusia yang utuh dengan bekal kuburnya,  dan wadah tembikar di kepala dan di kaki.  Berdasarkan pengukuran penelitian, tinggi badannya mencapai 190cm. Di bagian pergelangan tangannya terdapat gelang emas dengan aksara Pallawa dalam bahasa Sansekerta.

Kompleks candi Batujaya ini benar-benar luar biasa. Awal bulan ini, Candi Batujaya didaftarkan ke UNESCO sebagai salah satu World Heritage. Dan dari sumber lokal pun, katanya, UNESCO bersedia mendanai hingga milyaran rupiah untuk pelestarian kompleks Candi ini. Semoga menjadi kenyataan.

Namun bagaimana dengan rencana industri ekonomis yang mungkin bertentangan dengan langkah pelestarian budaya terkait jati diri bangsa ini? Sejauh ini diketahui bahwa dalam waktu dekat PT Pertamina akan melakukan pengeboran minyak di Kecamatan Pakis Jaya, sekitar 2 km dari kompleks Candi Batujaya. Padahal di Pakis Jaya pun masih ada gundukan tanah yang berisi batuan candi yang belum direkonstruksi. Apakah kompleks candi yang luar biasa ini dapat dipertahankan keberadaannya, dilanjutkan penelitiannya demi nilai jati diri bangsa bahkan menjadi salah satu warisan dunia yang harus dijaga? Semoga saja.

Iklan

17 pemikiran pada “Candi Warisan Dunia di Batujaya, Karawang

  1. saya bangga dgn di temukannya komplek percandian di Batu Jaya Karawang,walau bgaimanapun harus di pertahankan,untuk menunjukan harga diri bangsa dan negara di mata Dunia

    Disukai oleh 1 orang

  2. Bagus ceritanya, terima kasih sudah mau berkunjung kesana.
    Memang benar masih ada situs lain yg blm diekskavasi
    Situs itu tertutup karena banjir besar yg melanda, saat meluapnya sungai citarum

    Disukai oleh 1 orang

  3. tolong bantu kami untuk mempromosikan situs ini karna situs ini adalah awal pradaban nusantara dan pusat perdagangan dunia pada waktu itu juga kota internasional pada jaman nya seharus nya kita bangga…!!! dgn situs ini karna situs batu jaya ini sbagay bukti bahwa bangsa kita sudah ada hubungan dgn bangsa asing brdasarkan dgn temuan temuan yg ada di situs batu jaya ini dan juga kelbihan situs ini adalah bkn hanya 1 tetapi puluhan sbuah komples tmpt beribadatan yang

    Suka

please... do let me know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s