Pilihan: Memelihara atau Ikut Merusak Bangunan Maha Karya?


Dalam liburan Lebaran kemarin ini, saya mengunjungi tempat wisata yang terkenal di sekitaran Yogyakarta yaitu Candi Borobudur dan Candi Ratu Boko. Kekaguman saya yang berlebih pada bangunan-bangunan bersejarah mungkin telah membuat saya begitu hidup di dalamnya. Yang dilihat melalui mata di kepala ini tidak hanya bangunan fisik semata, melainkan juga  bagaimana proses pendiriannya, kehidupan dahulu kala yang saling berinteraksi di dalamnya dan kemegahan yang tercitra darinya, yang melintas dalam bayangan pikiran seakan film yang sedang diputar. Itulah sebabnya saya sering duduk diam memandangi dan menikmati Candi.

Kali ini saya mengunjungi secara khusus ke Candi Borobudur dalam arti, mengkhususkan waktu untuk menikmati sebuah mahakarya dari generasi pendahulu kita. Saya datang lebih awal dan menginap disekitaran Candi Borobudur. Menikmati sengatan matahari siang menjelang sore, mengejar saat matahari tenggelam di ufuk barat dan menikmati munculnya kembali Sang Mentari di awal pagi hari.

Di hari lain menjelang sore, saya berkesempatan mengunjungi Candi Ratu Boko dan dua Candi kecil lainnya di sebelah selatan Prambanan. Dari ketinggian Candi Ratu Boko yang berada di perbukitan, saya begitu menikmati saat-saat matahari tenggelam dengan langit kuning keemasan mewarnai ufuk barat, luar biasa indahnya. Saya bayangkan manusia-manusia jaman dahulu juga menikmati keindahan alam ini dengan kearifan yang dimilikinya saat itu.

Namun…

Pada saat yang sama, ada seorang remaja muda dalam kehebohan kelompoknya, dengan santainya menorehkan sesuatu di dinding Candi Ratu Boko. Dari jarak sekitar 50 meter dari posisinya berada, kulit ini seakan tercabik berdarah seiring dengan torehan si remaja yang tertawa-tawa. Saya mengambil fotonya, lalu berseru kepadanya untuk mencoba menghentikannya dari kejauhan namun dia tetap tak bergeming. Kelompoknya pun tidak merasa perlu untuk menghentikan kegiatannya itu. Candi Ratu Boko pun tak lepas dari penodaan.

Ketika menyadari bahwa upaya penghentian saya dari perusakan itu dianggap angin lalu oleh mereka, saya panjatkan doa dalam kesedihan di lantai gapura. Ternyata doa saya dikabulkan langsung saat itu juga. Seorang petugas keamanan Candi mendatangi saya dan menanyakan perusakan itu. Saya tidak tahu darimana ia dapatkan informasi, tetapi saya menyambut dengan gembira kedatangannya yang tepat waktu. Saya sampaikan kejadiannya dan membiarkan ia melihat dari kamera saya. Kemudian petugas itu mencari dan mendatangi si remaja muda itu dan menggiringnya ke dinding tempat ia menorehkan sesuatu itu dan memerintahkan si remaja muda itu untuk membersihkan dengan tangannya sendiri. Saya menyaksikan si remaja muda itu mau bertanggung jawab atas perusakan yang ia lakukan dan membersihkan sampai diperkenankan pergi oleh petugas keamanan. Lalu dimana teman-teman kelompoknya? Mereka hanya tertawa-tawa melihat temannya menjalani hukuman, berkata dengan lantangnya, mereka akan pura-pura tidak mengenalnya. Teman-teman yang menjerumuskan!

Di tempat lain keesokan harinya, di Candi Borobudur, telah terpampang jelas di depan tangga naik bahwa level Arupadhatu (area stupa) sedang dalam pembersihan dari abu vulkanis Merapi, sehingga area stupa tersebut dilarang untuk dinaiki dan dijelajahi. Larangan tersebut dilakukan dalam dua bahasa, bahasa Indonesia dan bahasa Inggeris. Seharusnya bagi yang bisa membaca aksara latin, bisa bahasa Indonesia atau Inggeris, mampu mengetahui bahwa ada sebuah larangan.

Namun, seorang dewasa dari bangsa Indonesia sendiri, yang saya yakin, lulus sekolah, bisa membaca dengan jelas, bahkan bisa mengerti bahasa Indonesia dan bahasa Inggeris, berkemampuan berlebih (karena punya kamera DSLR yang mahal) tampak asik berjalan-jalan di area stupa, sama sekali tidak merasa bersalah dengan melanggar larangan (walaupun tahu dan membaca!), tampak asik mengambil foto-foto untuk kepentingannya sendiri.

Saya juga menyaksikan seorang wisatawan asing, yang saya yakin tidak buta huruf, bisa membaca larangan itu. Dia dengan santainya berjalan-jalan di area stupa, tidak merasa bersalah dengan melanggar larangan. Sementara orang-orang lain hanya berada di satu level di bawahnya, di area yang diperkenankan untuk diakses.

Di sisi lain, saya menyaksikan ada seorang Buddhist yang berdoa sambil berjalan mengelilingi pada level di bawah Arupadhatu karena ada larangan itu. Buddhist yang lain bersembahyang di depan sebuah stupa hanya dengan berdiri sambil menyentuh bagian luar stupa karena menghargai larangan itu. Mereka tidak bisa melakukan ibadah dengan kesempurnaan. Mereka, yang berkepentingan untuk beribadah di Borobudur, walaupun mengalami kendala tetapi tetap menghargai larangan itu. Sedangkan dua orang yang hanya untuk rekreasi, tidak menghargai larangan itu.

Lagi-lagi saya merasakan kulit saya tercabik berdarah dengan ketidakpedulian mereka berdua itu, sementara orang-orang lain, dari bangsa Indonesia sendiri maupun berbagai bangsa lain di pagi hari itu mencoba menghargai larangan itu, baik mengerti maksud aslinya ataupun tidak. Saya mencoba menghimbau hingga menegur mereka untuk mematuhi larangan itu tetapi lagi-lagi himbauan dan teguran itu dianggap angin lalu oleh mereka.

Ketidakpedulian mereka itu membuat keseimbangan rasa dalam diri ini terganggu, khusus terhadap mereka. Apakah kita ini terlalu permisif terhadap ketidakpedulian mereka? Ini bukan sekedar larangan kosong. Larangan ini dibuat ada maksudnya, untuk keberlangsungan Candi Borobudur di masa-masa mendatang! Ini merupakan peringatan akan adanya hak dari generasi mendatang untuk tetap bisa melihat kemegahan Candi Borobudur. Tidakkah mereka tahu, bahwa ada larangan memasuki area Stupa itu karena debu Merapi dalam ukuran mikro sangat korosif menghancurkan bebatuan Candi? Ada sekumpulan team yang harus membersihkan satu persatu bebatuan dan celah yang ada di antaranya dari debu vulkanis Merapi. Tidakkah pekerjaan mereka seharusnya dihargai? Semakin sering dipijak dan semakin berat tubuh manusia-manusia yang berjalan di atasnya, debu-debu itu akan masuk semakin dalam dan merusak. Bukankah pekerjaan itu semakin sulit? Dan karena sifat merusaknya dari debu vulkanis yang semakin dalam karena diinjak dan dijelajahi, bukankah mereka jadi bagian dari perusakan?

Tidak pedulikah mereka akan hal ini? Begitu bernilaikah foto-foto yang diambil oleh si orang Indonesia itu tanpa peduli keberlangsungan berdirinya obyeknya sendiri? Tidak berartikah fisik bangunan itu sendiri baginya dibandingkan sebuah foto yang dihasilkannya? Begitu pentingkah sudut pengambilan foto hingga ia mengabaikan larangan itu? Keseimbangan rasa ini terganggu, lebih-lebih kepada si fotografer, seorang bangsa Indonesia, yang telah turut ambil bagian dalam perusakan sebuah Maha Karya Dunia, sebuah Warisan Dunia (UNESCO World Heritage di Indonesia). Shame On You! Jika bukan bangsa sendiri yang menjaganya, siapa lagi???

Dan lagi-lagi saya mendapatkan bantuan dari Yang Maha Kuasa, yang langsung mengabulkan doa sedih saya. Petugas Keamanan Candi yang bertugas pagi, memergokinya dan menyuruhnya turun. Pemberitahuan juga disampaikan dalam bahasa Inggeris melalui pengeras suara. Mereka turun karena dipaksa turun oleh Petugas, laksana pesakitan. Mereka turun karena takut akan kewenangan petugas keamanan. Mereka takut karena orang lain, bukan karena menghormati dirinya sendiri. Betapa pengecutnya.

Mereka turun dengan rasa malu (masih adakah rasa malu itu?) karena disaksikan oleh cukup banyak orang. Entah apa yang dipikirkan oleh pasangan Jepang di sebelah saya, juga orang-orang lain, melihat mereka turun. Mereka terhukum oleh sikap mereka sendiri, karena terlihat canggung ketika menuruni area stupa yang tertutup itu. Si orang Indonesia melakukannya dengan cara melompat dari ketinggian 1.5 meter yang hasilnya barang-barang dalam tasnya berserakan jatuh. Si wisatawan asing keluar dari bentangan kayu yang memagari tangga dengan susah payah karena besar tubuhnya.

Bagi saya, menyaksikan kasus perusakan di dua bangunan bersejarah Indonesia dalam dua hari  berturut-turut, membuat saya terhenyak, menyadari hikmah besar yang tersirat di dalamnya, bahwa kita masih belum bisa menjaga dan memelihara apa yang diamanahkan untuk dijaga dan dipelihara. Kesadaran kita untuk menjaga dan memelihara masih sangat rendah. Padahal untuk mencintai, perlulah rasa untuk menjaga dan memelihara. Saya pernah dengar ada kata-kata orang bijak, belajar mencintai itu dimulai dari mencintai sebuah benda yang tak bernyawa, setelah itu barulah yang memiliki nyawa.

Iklan

please... do let me know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s