Kala Sakit Menghampiri, Rasa Syukur Kian Menderas


Bila memang saatnya telah tiba, sehebat-hebatnya kita menjaga kesehatan, tetap saja sakit itu akan datang berkunjung. Kali ini bukan karena banyaknya penjaga kesehatan yang ditugaskan di tubuh, melainkan karena diri sendiri yang memperkenankan bahaya masuk.

Laksana kuda Troya, dengan suka hati saya menyambut begitu banyak sambal dan teman-temannya ke dalam tubuh. Dan tanpa disadari, pasukan ‘musuh’ menyerang dengan mudahnya pada saat lengah. Alhasil, tubuh dikalahkan oleh diare sehingga kekurangan cairan. Minum air dan oralit pun tidak mempan lagi, minum obat biasa pun tidak membawa perbaikan. Menyerah kalah, dengan tertatih saya pergi ke dokter setelah sekian puluh kali keluar cairan dari atas dan bawah tubuh. Dokter berkata dengan santainya bahwa untuk mengembalikan kondisi tubuh, sebaiknya dibantu dengan cairan infus, itu artinya menginap di rumah sakit. Duh!

Jadilah, namun selain kondisi perut dan isinya yang tidak nyaman, hampir tidak ada yang salah dengan kondisi tubuh lainnya. Kecuali, mungkin sedikit rasa sakit akibat infus. Dua kali obat antibiotik yang dimasukkan melalui selang infus, dua kali harus meringis menahan sakit. Tes alergi yang pedih karena dilakukan di bawah kulit terasa tidak ada apa-apanya. Bahkan di pengobatan antibiotik yang kedua, saya hanya bisa diam menggigit bibir berusaha mengalihkan rasa  pedih.

Rasa itu menjalar sejalan dengan perjalanan obat melalui pembuluh darah, mulai dari pergelangan, lengan bawah menuju siku, lalu ke lengan atas. Setelah itu tidak lagi terasa karena antibiotik itu sudah habis dan harus secepatnya dikembalikan ke ke kemasan cairan infus sehingga tidak ada celah udara yang sempat memasuki selang. Mungkin karena adanya pengalihan fokus pikiran ke ‘tidak boleh udara dalam selang’, maka rasa sakit telah terabaikan dengan sendirinya.

Kemudian ketika para sahabat yang datang berkunjung telah kembali ke griya atau tempat aktivitasnya masing-masing, mata menatap layar televisi gelap yang sengaja dimatikan. Terpekur dalam keheningan yang begitu dalam sehingga terbersit keinginan kuat untuk membuka dialog denganNya. Namun di dalam diri ini berkecamuk, terjadi pertempuran pertimbangan, hati bertanya dengan lugasnya, ada berapa banyak orang yang lebih sakit dari saya yang masih bisa berdiri dan melaksanakan ritual secara normal? Namun akal dengan tangkas menjawabnya, bahwa tidak memungkinkan melaksanakan ritual dengan keadaan normal. Panjang selang infus tidak mencukupi hingga bersujud, selain itu rasanya tidak mungkin harus membagi beban tubuh yang besar ini ke punggung tangan kiri dimana infus diletakkan ketika bersujud. Pada akhirnya, saya memilih mengambil kemudahan itu, namun sebelum memulainya, tentu saja memohon pengampunan untuk itu.

Sajadah telah tergelar di depan kursi yang saya duduki dan begitu niat terucapkan, secara tiba-tiba diri ini diserang rasa dari dalam yang sulit dikendalikan. Ada begitu banyak rasa syukur yang membuncah di dada ketika menyadari dan memahami, saya masih diberikan sakit yang ‘tidak ada apa-apanya’ sehingga masih memungkinkan secara sadar membuka dialog dengan Yang Maha Kuasa, sementara ada orang lain yang tidak mendapatkan kesempatan itu karena mungkin kondisinya tidak memungkinkan seperti, koma misalnya. Semua itu membuat airmata  menderas turun.

Berkah apa lagi yang saya dustakan? Bahwa saya masih diberikan waktu untuk mendirikan sholat, masih diberikan kesempatan mengisi hidup dengan lebih baik, meminta pengampunan dan melakukan pertobatan, sementara orang lain mungkin tidak lagi sempat karena ajal telah menjemput atau tipuan duniawi yang lebih memukaunya. Bahwa saya masih memiliki kekuatan fisik dan lengkap untuk mendirikannya, walaupun dengan duduk. Di luar sana, ada banyak orang lain hanya melakukannya dalam posisi rebahan dengan anggota yang mungkin tidak dapat lagi bergerak. Ya Allah, begitu banyak kemudahan telah saya dapatkan. Airmata terasa terus menderas ketika lamat-lamat terucapkan puji dan doa. Saya masih memiliki tempat yang baik dan nyaman untuk melaksanakannya, tanpa tekanan musuh, tanpa ketakutan dan masih takkan terhitung limpahan berkah lainnya. Padahal ada banyak orang yang tidak lagi memiliki tempat yang baik untuk mendirikan sholat, ada banyak orang yang melakukannya dibawah keterpaksaan dan ketakutan. Ya Allah, begitu banyak kebaikan dan kemudahan yang ada di dalam hidup selama ini. Semoga semakin banyak orang yang menyadari dan mensyukuri limpahan tak terhingga dari Sang Khalik.

Seusai ritual yang melimpahkan kesejukan ruhani, sembari melipat pakaian sholat, saya berjalan kembali ke tepi ranjang dengan perasaan damai dan tenang luar biasa. Yang Maha Baik senantiasa memberikan kejutan-kejutan manis ke dalam kehidupan saya dengan cara yang unik, tidak bosan-bosan mengingatkan diri mengenai peran dan keterlibatanNya dalam setiap peristiwa yang terjadi di dalam keseharian.  Saya hanya mencoba terus melangkah, menuruti dan mengikuti jalan yang baik ini. Dan hari ini, dalam keadaan sakit pun, saya mendapatkan pembelajaran yang luar biasa bernilai.

 


Iklan

2 pemikiran pada “Kala Sakit Menghampiri, Rasa Syukur Kian Menderas

please... do let me know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s