Mukena yang sering terabaikan


Saya baru saja melepaskan mukena (pakaian untuk shalat) ketika seseorang menyentuh bahu saya untuk bermaksud meminjamnya. Saya tersenyum padanya dan sesegera mungkin melepaskannya kemudian menyerahkannya sehingga ia bisa lebih cepat mendirikan shalat. Saya menyerahkan tempat untuknya dan mundur ke belakang.

Sambil menunggunya selesai, saya memperhatikan keadaan sekeliling. Di atas sajadah-sajadah yang terhampar, cukup banyak yang sedang mendirikan shalat dengan mengenakan mukena berbagai warna dan motif. Kebanyakan putih berhias bordir dan renda, tetapi banyak juga dengan warna-warni. Di pojok ada sejenis loker terbuka tempat menyimpan mukena, tetapi isinya kosong. Mungkin mukena yang disediakan itu sedang dipakai semua.

Karena isi loker yang kosong itulah, pikiran saya terbang kembali ke masa lalu ketika sebuah pembelajaran langsung datang menghampiri dan memukul saya dengan telak.

Saat itu saya sedang liburan sekolah dan diajak oleh sahabat saya bersama ayah ibunya ke tempat peristirahatannya nun jauh di selatan kota Garut, di sebuah pantai berpemandangan indah Pameungpeuk. Perjalanan yang cukup jauh membuat harus berhenti untuk mendirikan sholat karena waktunya telah masuk. Ayah sahabat saya yang hidupnya berkecukupan itu tidak berhenti di masjid besar, namun beliau mendatangi mushola yang kecil namun bersih dan terasa sejuknya.

Selesai mengambil wudhu, saya yang tidak membawa mukena saat itu dan selalu mengandalkan mukena selalu tersedia di mushola, terkesiap  karena mukena tidak tersedia. Dengan sendirinya saya hanya sebagai penonton sholat berjama’ah yang sedang didirikan, kemudian setelah itu saya harus meminjam mukena sahabat saya. Kemudian, karena tindakan tidak membawa mukena, mereka harus menunda perjalanan karena harus menunggu saya shalat. Jangan tanya rasa malunya, sudah diajak, disuruh menunggu lagi karena sebuah ketidakpedulian! Yang lebih telak adalah ketika ayah sahabat saya itu bertanya, tanpa maksud menegur, kok bisa tidak bawa mukena?

Pertanyaan retorik dari ayah sahabat saya itu menjatuhkan secara telak. Untuk diri saya sendiri, saya membawa pakaian ganti lebih dari satu tetapi saya sama sekali tidak membawa mukena sepotongpun. Bagi saya, mukena itu sebuah symbol pakaian yang digunakan untuk berkomunikasi dengan Maha Pecipta. Sehingga bila saya tidak peduli membawanya, maka artinya saya tidak peduli dengan komunikasi kepada Maha Pencipta. Rasanya saya jatuh berguling-guling dari gunung yang paling tinggi ke lembah yang paling dasar. Sungguh saya belajar dengan pengalaman itu.

Apalagi sekarang ini tersedia mukena dari bahan yang sangat halus dan cantik sehingga bisa dilipat sampai hanya sebesar kepalan tangan dan tentunya tidak banyak memakan tempat dalam tas. Tidak perlu lagi tergantung pada ketersediaan mukena di musholla atau masjid, tidak perlu lagi menunggu orang lain yang bersedia meminjamkan, Tidak perlu lagi memasang rasa malu terhadap orang karena meminjam dan tidak perlu lagi mengenakan mukena yang tidak diketahui kebersihannya yang pada akhirnya bisa mengganggu ibadah.  Sejak itu mukena selalu menjadi bagian yang harus ada dalam tas saya.

Iklan

3 pemikiran pada “Mukena yang sering terabaikan

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s